
Dion pulang ketika waktu menjelang dini hari, dengan perasaan sedikit lega.
Dia setidaknya sudah melakukan pembalasan untuk orang yang terus menghina istrinya. Meski belum sebanding dengan penderitaan Luna yang berulang kali.
Dion bertemu dengan Beni di depan pintu. Beni bertugas menjaga Aluna saat Dion mengkhawatirkan istrinya ketika sendirian.
"Apakah Dia tidak ingin keluar rumah!"
"Tidak tuan, Dia sepertinya langsung tidur sejak pulang dari pesta." jawab Beni
"Baguslah, pulanglah sekarang," perintah Dion, meminta Beni untuk meninggalkan mereka berdua saja.
Saat membuka pintu, Dion melihat Aluna tidur di sofa ruang tamu, wajah terlihat berseri. Ada buku novel di tangannya.
Dion mendekati Aluna, bingung antara membangunkan terlebih dahulu atau menggendongnya langsung ke kamar, Dion takut Aluna akan merasakan punggungnya sakit keesokan harinya, jika terus tidur di sofa.
Dion memilih mengecup kening istrinya, lalu mengusap lembut wajahnya.
"Sayang, kau sudah pulang. Kenapa meetingnya lama sekali."
Aluna mengerjap. Berusaha melebarkan matanya yang merah karena sedikit terkejut dengan sentuhan bibir Dion yang amat dingin.
Maaf, karena ini meeting penting. Dion ikut duduk di sebelah Aluna dan memeluk istrinya, Dion merasakan tubuh Aluna hangat, sedangkan tubuhnya dingin karena dari luar rumah.
"Lepaskan pelukan ini, biar aku buatkan minuman hangat." Aluna hendak beranjak.
Dion menahan gerakan tubuh Aluna. "Tidak perlu sayang, aku akan membuatnya sendiri."
"Yakin bisa?" Aluna tak percaya suaminya mulai belajar memasak. untuk apa coba.
"Bisa, suamimu sekarang sudah pandai memasak, aku ingin seperti ini dulu. Tubuhmu sangat hangat." Dion mengeratkan pelukannya, merebahkan kepala di pundak sang istri, Aluna memejamkan mata dalam dekapan Dion.
Aluna membiarkan Dion memeluknya. Sepertinya Aluna ingin mengakhiri sandiwara ngambeknya saja, Aluna kasihan dengan Dion yang beberapa hari ini selalu gelisah tiap malam, selain itu juga takut dosanya akan terus mengalir karena mengabaikan kebutuhan suami.
"Sayang, kau pasti masih ngantuk, maaf sudah mengganggu tidurmu."
"Tidak apa-apa, aku memang sengaja menunggu, tapi aku malah ketiduran." Aluna mengusap matanya takut ada kotoran di sudut mata.
"Baiklah, Istriku, sekarang aku sudah pulang, mari kita tidur di kamar, disini sangat dingin."
Dion bangkit dari sofa dan segera merengkuh tubuh istrinya dalam dekapan lalu menggendongnya. Kaki Aluna terayun, sedangkan tangannya melingkar di tengkuk Dion.
Melihat wajah Aluna begitu dekat, Dion mengecup pipi dan kemudian merambat di bibirnya. Dion enggan melepas tautan bibirnya hingga sampai di kamar pengantin mereka.
Kamar yang selalu terlihat dengan suasana baru dan aroma baru setiap hari, saat Dion masuk selalu saja dibuatnya betah dan nyaman.
__ADS_1
"Sayang, aku suka nuansa baru di kamar ini." Dion melihat warna gorden, kelambu dan warna sprei hari ini sudah berubah dengan yang kemaren.
"Benarkah, Syukurlah, aku menggantinya saat pulang dari pesta."
Dion membaringkan istrinya di ranjang denhan hati hati, dan Aluna terus menatap Dion dengan tatapan sayu seolah memberi kode kalau gembok pembatas sudah dibuka dan Tiger sudah diizinkan masuk.
"Sayang, kau malam ini cantik sekali, kau menggodaku dengan lingeri ini."
"Ini pemberian mama, bukankah dia ingin aku memakainya di depan putranya yang mesum ini."
"Mesum sama istri sendiri tidak masalah, Tiger hanya bereaksi padamu saja," ujar Dion jujur.
"Syukurlah, berarti aku memang satu-satunya pawang untuk Tiger. Aku tak mau kau berpaling mencintai wanita lain."
"Ya, tentu hanya kau tempat Tiger berlabuh dan menjadi tempat ternyaman baginya, dan jangan pernah meragukan cintaku, hati ini sudah terkunci dengan kesetiaanmu." Dion mengungkung tubuh Aluna dan kembali menyesap bibir merah sang istri sebentar lalu melepaskannya. Sesaat mereka saling pandang dan melempar senyum.
"Apa aku sudah mendapatkan maaf?" Dion mengecup kening Aluna.
Aluna mengangguk sebagai pengganti untuk kata. 'Iya.'
"Aku sudah tak sabar lagi ingin membuka pintu untuk tiger, dia menyiksaku siang dan malam."
"Bisa nggak Tiger, suruh puasa lagi." Aluna menggoda suaminya tatapan manja. Jemarinya menggelitik dada bidang Dion.
"Nggak bisa Honey, Tiger sudah penuh dan sesak. Dia harus segera bertemu dengan sarangnya untuk mengeluarkan bibit unggul sebanyak banyaknya." Dion mengusap rambut Aluna.
"Biarin, istri sendiri." Dion membuka kemejanya dan melempar ke sembarang tempat.
Dion merobek lingerie satu kali pakai yang katanya hadiah mama, hanya dengan satu sentakan. "Kraak."
Aluna memejamkan mata ketika pelindung tubuhnya telah porak poranda.
"Jahat, kau merobek hadiah dari Mama."
"Dia diciptakan memang untuk dirobek, Honey"
Aluna yang masih lugu soal lingerie, wanita itu tentu tak tahu kalau ada baju sekali pakai, pasti menurutnya hal itu akan sangat boros sekali.
"Apa kau ingin minum mengulangi malam panas kita seperti yang kemaren?" Goda Dion.
"Please jangan ingatkan itu lagi." Aluna malu, ingin rasanya menyembunyikan wajahnya di dasar laut hingga tak terlihat lagi oleh Dion.
Dion mulai mengecup seluruh wajah Aluna hingga nyaris tak ada yang terlewat. "Aku malu, aku pasti sangat jelek karena baru bangun tidur
"Kau tetap cantik. Apapun dan bagaimanapun rupa istriku dia akan yang paling cantik."
__ADS_1
Mendengar penuturan Dion seketika wajah Aluna menjadi berseri, wanita itu merasakan bagaikan mimpi dicintai boleh Dion sedemikian rupa.
Dion mencari remote yang mengontrol setiap benda canggih yang ada di kamarnya.
Setelah menemukan benda kecil itu, Dion segera membuat AC menjadi dingin tanpa sepengetahuan Aluna dan mematikan lampu utama.
Aluna yang mulai kedinginan dia segera memeluk Dion dan Dion memperdalam ciumannya.
"Kenapa kamar ini menjadi sangat dingin."
"Tenang saja, aku yang akan membuatmu merasakan kehangatan sepanjang malam ini."
Ah, Dion memang selalu bisa saja menjawab apapun yang diucapkan Aluna.
Aluna dan Dion malam ini melakukan ritual suami istri dengan penuh cinta dan kehangatan.
Dion berharap semoga akan kembali hadir generasi Sunderson yang segera tumbuh di rahim sang calon mama.
Selain Dion, Nenek juga berharap Aluna segera hamil, nenek ikut sedih saat mendengar Aluna kehilangan bayi dan mendengar keretakan hubungan cucunya.
Tapi mendengar Aluna kembali, keluarga sangat bersyukur dan senang. Sampai sampai mereka menggelar pesta kecil di rumah besar.
Mereka sudah tak sabar ingin kembali berkunjung menemui Aluna, tapi masih menunggu Jessica yang sedang ujian semester akhir Diar mereka bisa lebih lama menginap.
Setiap melakukan penyatuan, Dion terus saja mampu membuat Aluna terbang menuju langit ke tujuh.
Tiger yang telah puasa sekian lama, Begitu semangat menghujam milik Aluna yang basah hingga tubuh Aluna terguncang hebat.
Tenaga Dion memang tak tertandingi jika soal ranjang. Dia bahkan mampu mengulang permainan hingga berulang kali tanpa berhenti.
"Sayang apa kau suka aku bermain tempo pelan atau cepat?" Bisik Dion di telinga Aluna.
"A-ku su-ka semuanya," kata Aluna dengan suara terbata.
Dion tersenyum dengan jawaban istrinya yang cenderung menjadi penurut saat di ranjang. Wajah seksinya selalu mampu membuat Dion terhipnotis dan ingin memberikan sesuatu yang lebih dan berbeda.
Musik mengalun merdu seirama dengan gerakan Dion. Ketika musik slow Dion memperlambat tempo gerakannya. Ketika musik mengalun cepat Dion mulai mempercepat tempo gerakannya.
"Sayang aku ingin keluar," kata Aluna yang tak bisa menahan lebih lama lagi.
"Oke kita keluar sama-sama sayang." Dion mempercepat gerakannya dan akhirnya ronde pertama dalam permainan ini selesai.
Tubuh Dion ambruk menindih Aluna dan keringat mengucur lebih deras dari pori pori. Dinginnya AC pun tak mampu mengalahkan laju aliran keringat mereka.
Dion mengecup kening Aluna dan membiarkan senjatanya tetap menancap untuk sesaat. Setelah tak ada lagi tetes tetes bibit unggul yang keluar, Dion segera mencabut dan terlentang di sebelah Aluna dengan rasa puas yang tiada tara.
__ADS_1