
Pelayan menyerahkan ponsel mahal itu pada Aluna. Aluna menerima dengan ragu.
Dion mengamati wajah berkacamata dengan rambut sedikit pirang alami itu dengan tersenyum. Yang membuat Dion tertarik adalah tahi lalat kecil yang nyaris tak terlihat dengan jarak dua meter, di dagu agak ke kiri.
"Aku tak bisa menerima semua ini, aku mohon urungkan saja, aku tak biasa menerima pemberian orang dengan cuma-cuma." Aluna meraih tangan Dion, kembali menyerahkan ponsel yang harganya fantastis menurut Aluna.
Aluna cepat-cepat mengangkat kakinya menjauh, tapi dengan sigap Dion meraih tangan Aluna dan menariknya mendekat. Tubuh mereka menempel ketat dan netra saling bertemu pandang.
Menyadari ini tak boleh dilakukan oleh wanita beristri, Aluna segera menjauhkan diri.
"Niat tulus seseorang jangan diabaikan, kau telah membuat aku kecewa Nona, padahal aku hanya ingin kenal denganmu saja. Siapa tahu kita bisa berteman."
"Pak Dion, anda tak pantas dekat dekat dengan wanita rendah seperti saja, anda hanya akan mempermalukan diri sendiri. Tak ada keuntungan yang anda dapatkan."
Aluna menurunkan pandangannya ke kaki pria itu, sepatunya warna hitam mengkilat dan celana rapi, semua barang mewah. Disampingnya ada asisten yang selalu patuh dengannya.
"Kenapa kau merendahkan dirimu? Dan apa menurutmu aku tak pantas bergaul dengan wanita sederhana?"
Lelaki itu malah membalikkan ucapan, Aluna jadi tak enak hati, matanya mengerjap berulang kali sambil melihat wajah tampan dan bersih milik lelaki di depannya, dia bukan pria indo asli, Aluna yakin dia juga blasteran sama seperti Adrian Alexander suaminya.
"Bagaimana? Apa kau masih mau menolak?" Tanya Dion lagi.
"A-ku aku … Maaf." Aluna memaksa pergi. Pengawal akan mengejarnya. Tapi Dion memberi isyarat supaya dia menghentikan langkahnya.
"Biarkan saja, dia gadis istimewa. Dia tak akan mau jika kita memberinya dengan cuma-cuma."
"Tuan apa anda menyukainya? Atau karena tahilalat itu?
"Entahlah, gadis itu berbeda, dia seperti kucing kecil yang menggemaskan, aku senang saat bertemu dengannya."
"Bawa barang ini, kirimkan ke alamat mansion Adrian. Seperti yang kita tahu, dia bekerja disana." Titah Dion. Segera dilaksanakan oleh Jimi.
Sepanjang perjalanan Dion hanya diam saja menikmati perjalanannya pulang. Dia tak percaya gadis miskin menolak pemberian yang menurutnya akan jarang didapatkan. Dion bertekad dia akan tetap membuat Aluna menerimanya.
"Kita kemana lagi, Bos?"
"Kita antarkan paket ini ke rumah Adrian, tapi usahakan tak ada orang tau."
"Baik Bos."
"Tulis namanya untuk Aluna, karena aku tak mau barang itu salah orang."
__ADS_1
"Siap."
Diki begitu patuh dengan perintah Dion. Dia sudah bekerja bertahun-tahun dengan Dion Alexander, bahkan orang tua Diki dulu juga bekerja untuk keluarga konglomerat itu.
Paket datang lebih dulu sebelum Aluna sampai, Dion sempat melihat gadis itu tadi mampir untuk membeli cilok di pinggir jalan. Dion sekarang juga tahu kesukaan gadis itu.
****
Luna sudah tiba di Istana Adrian, dia segera memarkirkan sepeda di tempat semula. Bergegas dia membersihkan tangan dan kakinya, lalu masuk ke dalam melewati ruang tamu.
Sampai di ruang tamu dia melihat Adrian dan Angel sedang berduaan. Angel terlihat sedang menyandarkan kepalanya di bahu Adrian. Sedangkan tangan Adrian merengkuh pundak kekasih.
Tanpa sepatah kata Aluna segera masuk, dia tak ingin mengusik sedikitpun dia pasangan mesum itu. Apalagi Angel terlihat sudah melotot ke arahnya saat baru datang tadi.
Aluna juga sempat mendengar kalau mereka menyebut nama sebuah pantai terkenal di indonesia, dia akan jalan-jalan ke pantai terkenal itu ketika liburan tiba.
Aluna hanya bisa bersabar, dia tak mau sakit hati apalagi cemburu, hanya saja dia mulai memiliki tekad untuk berubah, Aluna sadar wanita cantik sangat dihargai dan dipuja.
Yang dikatakan bapaknya waktu itu mungkin salah, kalau lelaki akan mencintai wanita dengan apa adanya, buktinya dia saat ini sama sekali tak dianggap oleh suaminya. Bahkan dia malu mengakui istri dalam keadaan ketika tak ada seorangpun.
Aluna merebahkan diri
'Dion, Alexander. Mereka sepupu, tapi tak pernah akur. Padahal harta sangat melimpah, apakah orang kaya kebanyakan begitu, menganggap harta adalah teman, sedangkan sesama saudara menjadi tak saling membutuhkan, atau ada sesuatu lebih besar yang tak diketahui.'
****
Entah jam berapa netra Aluna terpejam, yang jelas tidurnya malam ini dengan bibir tersenyum. Imah mengartikan kalau Nonanya sedang bahagia.
Imah yang datang ke kamar menemani selimut juga ikut tersenyum, dia juga senang sebelum tidur Nona mudanya sudah minum jus wortel buatannya.
Setelah selesai membenarkan selimut, Imah menurunkan kelambu dengan satu tarikan saja. Kelambu sudah turun dengan perlahan, Imah tinggal merapikan.
Imah keluar kamar, saat di depan kamar dia melihat Adrian yang membawa satu bungkus paket untuk Aluna.
Rupanya Angel sudah pulang, hingga pria itu mulai mencari keberadaan Aluna.
"Tuan, apa itu?"
"Menurutmu ini apa?"
__ADS_1
"Coba saya lihat Tuan." Imah menggoyang-goyang pelan benda berbentuk persegi itu.
"Oh ini! saya tahu Tuan. Ini pasti ponsel, Nona Aluna membelinya tadi."
"Ponsel, jadi ponselnya rusak."
"Benar Tuan, pas jatuh ponselnya pecah."
Adrian penasaran, dia langsung membukanya. Adrian terkejut ponsel seharga lima belas juta itu ada dalam genggamannya.
"Maksud kamu Aluna tadi beli ini, terus diantar oleh kurir? Begitu?"
"Saya tidak tau Tuan, tadi pamit ingin beli ponsel. Besok pagi biar saya tanyakan."
"Ya, Tanyakan padanya dapat uang dari mana dia. Aku tak percaya ini murni dia beli sendiri."
Adrian pergi dengan kemarahan yang besar, dia sudah menduga Dion yang membelikan Aluna benda mahal itu.
Adrian segera masuk ke kamar, malam ini dia sudah tidur. Bahkan berulang kali dia mendesah lalu duduk.
Setelah dia meneguk segelas air barulah tenang. Kegelisahan Adrian berasal dari Aluna, hanya tak percaya Aluna dan Dion bisa akrab secepat itu.
'Apa istimewanya Aluna, sampai Dion berulang kali seperti sengaja menemuinya. Bukankah, mereka tak pernah kenal sebelumnya.'
****
Pagi sekali seluruh keluarga berkumpul. Seperti biasa Aluna harus mondar mandir menyiapkan kebutuhan sarapan keluarga ditemani oleh bibi.
Kali ini Adrian lebih banyak diam, tak ada sedikitpun dia membuka pembicaraan. Adrian kesal, Aluna bandel di beritahu. Sudah dilarang dekat dengan Dion masih saja bertemu dengan Dion.
Chela melihat Aluna membawa ponselnya membuat mata gadis itu langsung berbinar.
"Wow, sekarang ponsel kita bisa samaan ya? Kak Rian gimana sih, masa adik dan OG ponselnya sama."
"Rian, benar kamu belikan ponsel untuk Aluna?"
"Apa yang kalian bicarakan? Kita bahas yang lain saja aku malas."
"Rian, jawab dulu. Mama tanya? Apa kamu mulai menyukai Aluna? Buktinya kamu belikan dia ponsel." Selena ikut bertanya.
"Mama ngomong apa sih? tidak! ya tidak! Aluna dapat ponsel itu dari pacar gelapnya."
__ADS_1
" Hah?" Chela hanya bisa melongo.