
"Dokter apakah sakitnya parah?" Tanya Enzo pada dokter.
"Tidak, istri anda butuh hiburan, sering sering ajak dia ke tempat yang disukai dan sering beri hadiah, intinya apa saja yang bisa membuat wanita senang."
"Maksud anda? Dia kurang piknik?"
"Bukan seperti itu, kalau aku lihat dari tatapan matanya, ada beban yang berat yang sedang dia pikul, ingin diselesaikan sendiri. aku memang bukan ahli psikiater, tapi yakin dugaanku benar," kata dokter yang menangani Aluna.
Enzo makin bingung, bagaimana bisa membuat Aluna cepat melupakan masalahnya, apalagi membuatnya bahagia, sedangkan dia tak ada hubungan apa-apa.
"Cara lain apa ada?" Tanya Enzo konyol.
"Tidak ada, sakit apapun jika kondisi pasien kita buat bahagia, akan sembuh lebih cepat, karena itu obat paling mujarab," tutur dokter lagi.
"Baiklah dokter, akun akan mencobanya." Enzo mengangguk.
Enzo memilih menunggu Aluna di luar ruangan, lelaki itu sesekali mengintip dari kaca pengintai saja, Enzo tidak mau Aluna melihat kalau masih ada di dalam ruangan itu.
Saat sendiri di dalam ruang rawat, Aluna mulai merasa kesepian, tak ada teman bicara. Aluna mengeluarkan ponsel dari saku dan melihat tampilan foto suaminya yang sedang duduk diatas potongsn kayu besar sambil tersenyum. Waktu itu Aluna sendiri yang mengambil gambarnya.
'Sayang, aku mencintaimu sangat tulus, tapi nyatanya kamu meragukan aku. Apakah kamu bahagia sekarang setelah aku benar benar pergi dari sisimu? Jujur meski kau sudah melukaiku sangat dalam. Tapi namamu belum bergeser sedikitpun dari hati ini, aku masih berharap kau akan menjemputku,ketika kau sudah tau ini salah paham.'
'Tapi jika kau tak akan menjemput ku dalam enam bulan, mungkin aku juga tak akan pernah pulang lagi. Aku akan menjalani derita ini sendiri, aku akan belajar untuk berdiri di bawah kakiku sendiri, mungkin takdir kita memang mencintai tanpa harus berdekatan.'
Aluna mencium ponselnya lalu memeluknya dan saat itu pula di pelupuk matanya sudah penuh airmata hingga mengalir membentuk lingkaran basah di bantal.
Enzo yang mengintip, sekarang dia melihat sendiri Aluna menangis, semua persis dengan yang diceritakan oleh Valen. Timbul rasa iba yang makin dalam pada diri Enzo, melihat wanita secantik Aluna menderita. Ya bagi Enzo Aluna cantik dan natural, tanpa dipoles berlebih pun dia tetap cantik dan tak membosankan untuk dilihat.
Luna memiringkan tubuhnya, membuat pandangan Enzo terhalang, Luna sepertinya menangis tergugu hingga tidur, Enzo bisa tahu dari pundak Aluna yang bergetar. Enzo sekarang sangat penasaran siapa lelaki yang ada dalam foto itu dan bagaimana rupanya, Enzo yakin itu mantan suaminya seperti yang dikatakan Tito kalau Aluna janda. Karena setahu Tito Aluna sudah bercerai dengan Adrian tanpa tahu telah menikah lagi dengan Dion, karena memang pesta pernikahan mereka belum dilangsungkan.
Enzo sangat hati-hati saat masuk ke ruang Aluna, takut langkah kakinya mengganggu tidur Aluna. Enzo sekarang melihat Aluna yang sedang tertidur dengan mata bengkak dan menindih sebuah ponsel.
__ADS_1
"Luna, apakah kamu sangat mencintai mantan kamu itu hingga kamu menjadi cengeng seperti ini." Enzo sangat hati-hati saat mengambil ponsel Aluna. Takut tertindih tubuhnya dan pecah. Sebelum menaruh di atas nakas, Enzo memencet salah satu tombolnya dan sekarang dia tahu foto Dion yang diyakini mantan suami Luna.
'Tampan juga, jadi ini wajah lelaki yang sangat Luna cintai? Tampan mana dia dan aku? Haha.' Gumam Enzo.
Luna menggeliat, dan membuka mata, dia melihat ponselnya ada di tangan Enzo reflek dia langsung bangkit dan merebut ponsel dari tangan Enzo.
"Maaf Tuan Enzo. Ini benda pribadi saya." Luna meraih ponselnya dari tangan Enzo dan menggenggam erat. Kecanggungan kembali menyelimuti diantara berdua.
"Kamu menindihnya tadi, aku hanya ingin meletakkan diatas nakas, sebelum layar LCDnya pecah" ujarnya Enzo.
Tapi Aluna tadi jelas melihat dia menatap benda pipih miliknya agak lama.
"Terimakasih, kenapa anda tidak pulang? Pekerjaan anda paati sangat banyak."
"Aku sebenarnya ingin pulang, tapi entahlah, aku khawatir kondisi kamu aja." Enzo bingung harus bilang apa, tanpa sadar dia menggaruk tengkuknya.
"Habis ini aku pulang, aku sudah pesankan makanan untukmu, sebentar lagi Tito akan menjagamu disini." Enzo melihat jam di ponselnya. Dia tahu jam kantor sudah akan selesai.
"Maksud anda?" Aluna kaget dengan ucapan Enzo.
"Aku melihat sendiri, kamu suka sekali menangis disaat sendirian. Apa itu namanya bukan kelainan?" kata Enzo yang sengaja membuat Aluna geregetan.
Aluna menarik bibirnya membentuk segaris senyum, sebenarnya dia malu ketahuan sering menangis. "Bukankah wanita memang hanya bisa menangis saat ada masalah.
Enzo mengelus rambut Aluna berusaha menghibur sebisanya. "Sudah jangan menangis. Jika dia tak baik untukmu kenapa harus kau tangisi. Jika dia bahagia tanpamu kenapa tidak kau coba untuk bahagia tanpanya.
"Anda benar." Kata Aluna disertai anggukan kepala.
Lelaki itu lalu duduk di dekat Aluna, bukan malah pergi seperti katanya tadi. Aluna merasa tidak enak merepotkan bos barunya yang katanya dingin dan angkuh, tapi menurut Aluna Enzo justru lelaki yang hangat.
Benerapa menit kemudian Tito datang, dia membawa banyak makanan sesuai keinginan Enzo. Aluna tercengang melihat makanan di tangan Tito.
__ADS_1
"Luna ayo makanlah, bos kita sedang memintaku membawa banyak sekali makanan untukmu."
"Tito, mslansn sebanyak itu untuk apa, sayang makanannya kalau nanti mubazir, lagian aku sudah dapat rangsum dari rumah sakit."
"Baiklah Luna, tapi untuk menghargai tuan Enzo yang sudah peduli, kamu harus memakannya." Tito melirik ke arah Enzo yang duduk di sofa, agak jauh dari ranjang Aluna, lelaki itu sedang membaca berkas yang baru saja dibawakan oleh Tito di sofa.
Aluna ikut memandang ke arah Enzo. Aluna jadi kasihan dengan lelaki itu, demi dirinya Enzo harus mengerjakan pekerjaan di rumah sakit. Untung ruang VIP luas, nyaman dan tenang.
"Makan sendiri atau disuapi?" tawar Tito.
"Makan sendiri." Aluna bersandar dan meminta kotak bubur sum-sum dari tangan Tito.
"Luna, biarlah aku bantu." Tito mengambil lagi.
"Tidak Tito, aku bisa sendiri," kata Luna tak mau merepotkan.
Rupanya Enzo tak suka Tito dan Aluna terlalu akrab. Dia segera memanggil Tito dan mengatakan berkas yang dibawa keliru.
Tito tidak percaya terpaksa dia meninggalkan Aluna dan bergabung dengan Enzo di sofa. Tito mulai memeriksa berkas demi lembar dan ternyata tak ada yang salah.
"Sudah benar semua, Tuan."
"Benarkah? Bukannya ini berkas yang sudah lama." Kata Enzo pura-pura tak tahu. Padahal dia tadi memang bohong, Enzo hanya ingin Tito tidak mendekati Aluna lebih dari rekan kerja.
Malam telah tiba, Aluna sudah mengantuk, baru saja akan menyuruh Enzo pulang lelaki itu malah tidur di sofa dengan sangat nyenyak. Aluna hanya menggeleng kepala. "Tuan-tuan, anda orang kaya, apa tidak mual dengan aroma rumah sakit." gumam Aluna yang juga akan mulai tidurnya.
__ADS_1