Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 194. Lelaki Ambisius.


__ADS_3

Sampai di negara asing Aluna dan Enzo segera menuju Apartemen. Ternyata Enzo sudah membeli sebuah apartemen di negara asing sejak jauh hari. Membuat mereka langsung bisa istirahat. 


Mereka berdua tinggal di sebuah apartemen yang sama, hanya saja kamar yang berbeda.


"Luna istirahatlah, kamu pasti lelah." Enzo mengelus rambut hitam Aluna. Lelaki itu lalu membuka kamar yang akan menjadi kamar Aluna selama di luar negeri.


"Anda juga, Tuan." Kata Luna lemah lembut. Menatap manik mata biru milik Enzo sambil tersenyum. 


Aluna lalu masuk dan mengunci pintu dari dalam, setelah mandi dia tertidur sangat pulas.


Enzo merupakan sosok yang baik, Aluna sayang pada Enzo seperti seorang adik pada kakaknya.


 Ketika bangun tidurnya Aluna segera keluar Apartement, dia pergi ke supermarket untuk membeli buah dan sayur segar untuk dimasak, menurut Aluna masak sendiri lebih sehat dan sesuai selera. 


Tiga puluh menit Aluna sudah kembali, dia melihat kamar Enzo masih tertutup rapat, Aluna memakai celemek, lalu memasak udang krispi dan sayur bayam beserta sambal. Menurut Aluna ini komposisi makan siang yang pas, Aluna juga berharap Enzo akan suka. Anggur dan aneka buah potong juga Aluna siapkan. 


Setelah semua rampung, Aluna segera mandi dan memakai baju sederhana namun berkesan sopan. Tubuhnya segar dan wangi. Masakannya juga sedap. 


Aluna lalu membangunkan Enzo. Tapi lelaki itu tak kunjung menjawab. Karena sebenarnya Enzo di dalam sedang  menelepon Tito, supaya dia tak menceritakan pada siapapun kedatangannya ke negara asing ini. Tito tak ingin liburannya cepat terganggu, apalagi jika Dion tahu pasti dia akan mengacaukan semuanya. 


Saat Enzo memutar kenop pintu, Aluna segera bersembunyi dibalik dinding di dekat pintu. Ketika Enzo keluar, Aluna sengaja membuat Enzo terkejut. 


Tapi suara Luna sama sekali tak membuat Enzo terkejut melainkan lelaki itu malah gemas. 


Enzo dengan sigap mengangkat tubuh Aluna, Aluna meronta minta turun, tetapi Enzo tak menurutinya. "Turunkan aku. Lepaskan. Aku hanya ingin membangunkan Anda supaya tidak terlambat makan siang. 


"Siapa suruh membuat aku terkejut."


"Aku memanggil anda karena aku sudah masak untuk makan siang." kata Aluna berulang kali.


"Terimakasih, kau sangat baik sekali, baby." Kata Enzo sambil melihat menu makanan orang kampung di meja makan.


Aluna segera mengambilkan nasi dan sayur bayam di piring Enzo. Enzo menyipitkan matanya melihat sayur murah itu.


"Dikit aja, aku masih kenyang." Enzo takut nanti tidak habis dan membuat Aluna kecewa. 


Aluna mengambilkan secentong nasi, udang krispi dan tempe goreng ke piring Enzo.


Enzo memandangi masakan Aluna yang jauh dari kata mewah. 


Aluna tahu jika Enzo tak selera dengan masakannya, Aluna hanya bisa tersenyum. "Maaf kalau nggak suka, ini memang menu makanan orang susah, tapi ini menu sehat lho."


Enzo mulai menyendok makanan dan memasukkan ke mulutnya, dan benar sekali, walaupun sederhana, tapi masakan Aluna terasa nikmat. Kalau bukan pintar memasak pasti rasanya akan sangat buruk. Apalagi itu hanya olahan daun bayam. 

__ADS_1


Satu suapan masuk ke mulut Enzo. Dengan cepat dia menyuapkan satu sendok lagi dan berulang ulang. "Enak sekali, aku suka. Apa boleh nambah?" 


"Boleh banget." Aluna senang Enzo menikmati makan siangnya. 


Lelaki itu menyodorkan piringnya, Aluna segera mengambilkan nasi dan sayur bayam sebanyak tadi. Enzo kembali menikmatinya hingga habis.


 Usai makan, Enzo mengelap bibirnya dengan tisu, lalu dia menyibukkan diri dengan memandangi Aluna makan saja.


Tiba tiba ponsel Enzo yang ada di atas meja terus berdering. 


"Hallo Tito ada apa lagi?" tanya Enzo, lalu berdiri dan berjalan menjauh dari Aluna.


"Dion Sunderson datang ke apartemen, dia sudah menemukan persembunyian Aluna selama di ibukota."


" Biarkan saja, apapun yang terjadi jangan pernah katakan jika aku sudah membawa Luna pergi. Aku akan terus berjuang untuk mendapatkan cintaku Tito."


"Tapi Tuan, langkah ini salah. Tuan Dion akan murka," kata Tito lagi.


"Jangan ingatkan aku soal salah atau benar, kamu cukup lakukan apa yang aku perintahkan," kata Enzo keras kepala. 


Tito hanya menggeleng. Tak percaya majikan barunya telah terjerat oleh pesona Aluna. 


"Lakukan semua sesuai perintahku, dan ingat! Jika Dion tahu aku disini semua pasti kamu yang membocorkannya," imbuh Dion lagi.


"Jangan memuji dia, itu merendahkan aku Tito, aku tak mau kau mengatakan hal itu lagi."


"Ingat, Aluna tidak bahagia bersama suaminya, kau tahu hanya aku yang bisa membuat dia bahagia," kata Enzo sambil menatap Luna yang menunggunya di meja makan. Luna yang kebetulan menatap Enzo dari kejauhan, dia tersenyum. Enzo membalas senyumnya.


Aluna sudah tak sabar menunggu Enzo menjelaskan pekerjaan barunya di negara X ini. 


***


Di belahan bumi lain Dion sudah mendobrak apartemen kosong milik Enzo. dia berusaha mencari bukti kalau laporan dari anak buahnya tak salah, bahwa Aluna memang tinggal di apartmen ini.


Dion mulai menyusuri setiap sudut ruang apartemen dan benar sekali, Dion menemukan gelang emas milik Aluna yang terjatuh di ranjang 


Kenapa gelang ini terjatuh di ranjang? Apa yang membuat benda ini terjatuh disini, gelang emas ini sangat kuat, jika bukan sengaja ditarik, atau dilepas pemiliknya gelang ini tak akan pernah bisa terlepas.


Dion kembali beroperasi membuka lemari besar yang isinya penuh dengan baju milik Enzo.


'Apa yang dilakukan Aluna di apartment bersama laki laki yang baru dikenalnya itu? Apa ini ada hubungannya dengan pekerjaan Aluna yang baru, hingga dia bisa menjadi model bintang tamu di acara lelang itu? Apa mereka tidur bersama? tidak, pasti ini kebetulan saja Aluna memakai kamar Enzo untuk sementara waktu. Aluna pasti tak semudah itu mempercayai laki-laki. Aluna pasti bisa menjaga dirinya seperti menjaga kehormatan hingga aku yang merenggutnya.'


Kepercayaan Dion pada sang istri kembali diuji, begitu banyak cobaan dan ujian besar yang harus dia lalui, dari Aluna lebih memilih merawat mantan yang sakit, sekarang Aluna memilih karier dari pada memaafkan kesalahan Dion dan kembali pulang. 

__ADS_1


'Kali ini aku tidak akan melakukan kesalahan kedua dengan berprasangka buruk, hingga membuat dia semakin jauh dan tak mau kembali lagi padaku. Aluna pasti hanya ingin menghukum ku.' 


Dion mengambil gelang Aluna dan memasukkan ke dalam saku celananya. Dia bergegas keluar dan minta Beni untuk mencari tahu kemana Aluna pergi. 


Informasi sangat sulit di dapat, karena Enzo memang sudah merencanakan semua ini dengan rapi. Semakin menambah keyakinan Dion kalau Enzo mempunyai niat tidak baik pada Aluna. 


'Saat di cafe lelaki itu bilang kalau tak tahu keberadaan Aluna, tapi nyatanya aku menemukan bukti Luna tinggal di apartemen ini. Bahkan sisa makanan mereka berdua yang bungkusnya lupa dibuang saja belum basi. Itu artinya baru pagi buta tadi mereka pergi dari Apartemen ini.'


Dion dan anak buahnya benar-benar kehilangan jejak. Sekarang justru Dion khawatir kalau Aluna dalam bahaya. Dion tahu siapa Enzo. Lelaki yang tak akan menyerah sebelum apa yang dia inginkan tercapai. 


Luna, semoga kamu segera menyadari kalau lelaki yang kini bersamamu itu tidak pernah tulus membantumu, dia hanya ingin memisahkan kita. 


Saat keluar dari apartemen, Dion berpapasan dengan Tito. Lelaki yang wajahnya tak asing bagi Dion. 


Tito berusaha menghindari Dion, dia sadar betul posisinya bosnya di pihak yang salah. Tadinya Tito ingin menghilangkan jejak Luna di apartemen,  tapi tak tahunya Dion sudah sampai lebih cepat dari yang dia duga. 


Dion segera menghadang langkah Tito. "Katakan Tito! Kemana Lelaki bajingan itu membawa istriku?"


"Tidak tahu. Aku baru saja ingin menemui dia, itu sebabnya aku kemari."


"Bohong!!"


Prak!


Dion geram mengikuti permainan Enzo. Dia terpaksa menghajar siapa saja yang ada di pihaknya.


Dion menarik kerah Tito dan mendorong tubuhnya hingga menempel pada dinding. 


"Katakan atau kau ingin hancur hingga tak bisa melihat hari esok!"


"Aku tidak tahu," kilah Tito.


Plak! 


Kepala Tito terbentur dinding. Dion lalu menariknya dan melempar tubuh Tito ke lantai, Dion menginjak perutnya. 


"Aku tidak tahu, kau bunuh aku sampai matipun jawabannya aku tidak tahu." kata Tito yang begitu setia dengan bosnya. 


Dion tersenyum smirk, lalu dia mengangkat kaki dari perut Tito "Beni ikat dia dan bawa ke mobil, siapa tahu nanti dia akan berguna."


"Siap Bos." Beni yang sejak tadi hanya jadi penonton kekejaman Dion dia segera memborgol kedua tangan Tito. 


Mereka semua meninggalkan apartment dengan membawa Tito untuk di sandera. 

__ADS_1


Tito sudah pasrah dengan nasibnya, dia yakin jika hal buruk terjadi pada Aluna, mungkin esok hari tinggal namanya yang tersisa.


__ADS_2