Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 197. Belum terlambat.


__ADS_3

Area 18+( Bocil skip aja)


"Sabarlah Sayang, aku akan segera memberimu kenikmatan yang sudah kau tunggu." Seringai licik terlihat jelas dari bibir Enzo. 


Aluna merasakan miliknya sudah sangat basah, jantungnya berpacu sangat cepat tak terkendali, belum lagi hawa panas menjalar di sekujur tubuhnya. 


Enzo mulai mengungkung tubuh Aluna, Aluna yang sudah dilanda rasa tersiksa luar biasa segera mengalungkan kedua tangannya di tengkuk Enzo. 


Enzo sengaja membiarkan Aluna yang akan mengendalikan permainan ini, dia sudah lama membayangkan bagaimana jika tubuh indah itu mengambil kendali sebuah permainan hebat dan meliuk liuk di atas tubuhnya. 


Enzo terus membelai rambut Aluna, sisi baiknya terbersit rasa bersalah telah melakukan hal kotor seperti ini, tapi sisi lain lebih mendominasi. Tak ada cara lain yang bisa buat Aluna melupakan Dion, dan Dia tak mau terlambat hingga Dion akan membawa Aluna pergi. 


Enzo menurunkan


baju tipis yang dikenakan Aluna hingga sebatas perut, kini tubuh atasnya terekspos dengan jelas, hanya kaca mata kuda yang menutupi dua titik sensitifnya. 


Enzo mulai menciumi wajah Aluna dengan lembut, hingga ciuman itu turun ke leher. Aluna terus saja menggeliat dan merancau tak tahan, dengan kedua tangan terus mengalungi leher Enzo


Nafas hangat Enzo menerpa wajah ayu Aluna, membuat gejolak di dada semakin meletup-letup. 


"Akhh …." Pekik Aluna yang terdengar sangat seksi di telinga Enzo.


Enzo hendak mencium bibir Aluna. Aluna sedikit membuka bibirnya, memberi kesempatan emas untuk Enzo memperdalam ciumannya. 


Saat bibir mereka nyaris bersentuhan, Enzo mendengar seseorang sedang menendang pintu dengan amarah yang membuncah. Andai tidak marah, tak mungkin pintu itu akan terbuka dengan sekali tendangan. Rupanya dua orang telah mengambil ancang-ancang dan mendobrak secara bersamaan. 


"Hah !!" Enzo terperanjat, tak percaya orang yang berdiri di depannya sudah menatapnya tajam seolah ingin memangsa. Tangan mengepal, urat-urat di tangan dan leher terlihat begitu menonjol. Mata bulat sempurna dengan warna merah itu sangat menakutkan.


Enzo segera meraih celana yang berserakan di lantai dan memakainya. Saat Dion sedang menatap istrinya yang sedang mengenaskan, hingga mengeluarkan air mata. Aluna terus menggelinjang dan mengerang. 


Dion langsung tahu jika Aluna sedang dalam pengaruh obat, dia tahu kalau istrinya sedang tersiksa. 


Amarah Dion semakin memuncak, andaikan ada handuk basah dilempar di kepalanya mungkin akan mengeluarkan asap karena saking panas dan emosi.


Tanpa rasa kasihan Dion memukul pelipis Enzo tiada kira-kira. Darah segar langsung mengucur deras dari bekas pukulan Dion.


Setelah Enzo terjerembab dan menahan rasa sakitnya. Dion membuka jaket kulit warna hitam yang menempel di tubuhnya dan langsung melempar pada Aluna. 

__ADS_1


"Binatang! apa yang telah kau lakukan pada istriku, aku tak akan pernah mengampunimu seumur hidup. Beginilah cara laki-laki sejati jika ingin mendapat cinta wanita? Memalukan!" Dion menarik kerah Enzo dan membenturkan tubuh ke dinding dengan berulang.


Enzo selalu ingin membalas, tapi Alkohol yang diminum mulai menyerang raganya, membuat gerakan Enzo dapat ditangkis oleh Dion dengan mudah. Dion juga lelaki ahli olahraga taekwondo, tubuhnya lincah gerakannya gesit Dion terkenal CEO ahli beladiri . 


Menembak Enzo langsung dengan pistol pada inti tubuhnya, sudah menjadi rencana Dion. Namun jika langsung membunuh tanpa membuatnya merasakan penderitaan terlebih dahulu adalah hukuman paling ringan. Dion tak sebaik itu. 


Dion kembali melipat kemejanya hingga sebatas siku. Lalu di kembali memberi tendangan bertubi-tubi di pinggang, bokong dan juga bahunya. Enzo sudah menderita luar dalam. Tubuhnya nyaris tak bisa bergerak, tubuh Enzo penuh dengan luka.


Setelah Enzo terkapar, Dion mengeluarkan pistol dan mengarahkan tepat di simbol lelaki Enzo. Enzo hanya bisa melotot. "Jangan, aku melakukannya atas dasar cinta, aku mencintai wanita itu dengan tulus."


Dion tersenyum smirk. Dia sadar cinta memang bisa saja buta. Tapi Aluna miliknya, Enzo kurang beruntung dalam kisah cintanya yang harus terpikat dengan wanita milik Dion Sanderson. 


"Sayang sekali wanita yang kau cintai itu milikku. Sampai darah penghabisan dia tak akan pernah aku lepaskan." Pistol mengarah tepat di tengah paha Enzo. Lelaki itu hanya bisa pasrah. Dulu dia tidak seperti ini, entah kenapa cintanya pada Luna begitu berbeda.


Dion menarik tuas dan melepaskan peluru pertama, saat peluru terlepas Dion memejamkan matanya. Begitu juga Enzo.


Doooor!!


Sebuah tangan lelaki memukul lengan Dion, pistol terjatuh dan peluru meleset dari sasaran. Tembakan Dion tidak mengenai senjata pamungkas Enzo namun mengenai betisnya.


Dion menatap tajam pada lelaki yang berani lancang menggagalkan rencananya. 


"Tidak Bos, aku hanya ingin menyelamatkan Anda dari masalah. Kita sedang berada di negara asing aku tidak mau anda berada dalam masalah besar karena melakukan pembunuhan dengan keji. Anda tahu pembunuh di negara ini, dia juga akan menerima hukuman mati," kata Beni yang amat takut bosnya menjadi pembunuh.


Beni tak mau ambil resiko. Dia ingin Enzo saja yang mendapat hukuman berat, tapi Dion bisa secepatnya kembali ke negara asal tanpa resiko. 


Keamanan yang dipanggil oleh Beni sudah datang. Dia segera meringkus Enzo yang babak belur. Karena amarah Dion yang menggebu.


Enzo terluka parah, dia perlu dirawat beberapa hari di rumah sakit tahanan.


Setelah Enzo dibawa pergi oleh aparat keamanan, Dion mengambil nafas lega.


Perhatian Dion kini teralihkan pada Aluna yang masih kehilangan kewarasannya. Aluna bahkan kini sudah melepas gaun merah yang melindungi tubuh putihnya. 


Aluna terus menggelinjang makin kepanasan seolah akan mati jika tidak mendapat pelampiasan. 


Dion menghampiri pintu lalu mengunci. Dion tak mau lagi ada yang melihat wajah seksi istrinya saat menginginkan belaian kasih sayang. 

__ADS_1


Dion melepas kemeja lalu menggunakannya untuk mengusap keringat di leher dan tubuh lainnya. Setelah kemeja itu basah Dion melemparnya di atas sofa. 


Kini tubuh sikpacknya semakin terlihat setelah bergulat. 


Dion mendekati Aluna lalu membungkukkan tubuhnya. Kedua tangannya menjadi penyangga supaya tubuh kekar itu tak menindih sang istri yang sedang menatap Dion penuh damba.


Aluna tak sabar ingin segera terlepas dari rasa yang menyiksa ini. Dia benar benar kehilangan rasa malunya. 


"Sayang, aku sudah datang, biarlah aku yang akan membantumu terlepas dari masalahmu sekarang." Dion tersenyum lalu melepas celana panjangnya. 


Dion juga membantu Aluna terlepas dari lilitan gaun merah dengan merobeknya lalu membuang di lantai. Lalu kembali mengungkung tubuh Aluna yang terasa begitu panas dan menggoda. 


Luna segera menarik tengkuk Dion dan menabrakkan bibirnya ke bibir Dion. Jemari Aluna terus memberi sentuhan lembut pada rambut leher dan punggung Dion. 


'Sayang, karena obat jahanam itu kau bisa seagresif ini. Aku bahkan seperti tak mengenalmu yang pemalu lagi.' ujar Dion dalam hati.


Aluna bahkan dengan berani melorotkan segitiga Dion dan memainkan tiger dengan tangannya. Dion yang lama tak berhubungan badan dengan wanita, jelas saja membuat tiger mengamuk kesetanan. 


Akhh! Pekik Dion dengan suara tertahan. Jemari Aluna saja sudah memberi kenikmatan yang tiada tara, bagaimana jika dengan bibir mungilnya. 


Dion memberi instruksi dengan mendorong kepala Aluna pada tiger, Aluna segera melakukannya dengan kasar. Aluna belum mahir dalam hal ini. Dion kesakitan karena gigi Aluna menyakiti tiger.


"Akkkh, kamu belum pernah belajar baby." Dion menarik tubuh Aluna yang sempat melorot, lalu mengecup pipi Aluna, kecupan Dion merayap ke bibir, semakin lama kecupan itu berubah menjadi luma*tan, suara de*sahan Aluna mulai terdengar lembut.


Aluna terus menggelinjang ketika jemari Dion mulai mer*mas bukit kembarnya bergantian, lalu melepaskan tautan bibirnya.


Kecupan Dion semakin turun kebawah, memberi tanda merah pada setiap jalan yang dilalui, kini bibir Dion sudah sampai di puncak himalaya, Dion menghisap dan menggigit kecil, jemarinya menelusup di area inti Aluna dan bermain main dibawah sana, membuat tubuh Aluna begitu ringan dan seakan terbang seperti layang-layang diatas langit ke tujuh.


Dion membuat posisi Aluna terlentang, kedua tangannya mengunci  tubuh Aluna yang sudah tak sabar menunggu aksi selanjutnya dari Dion. 


Bagian inti Aluna semakin basah hingga membasahi perisai yang masih menempel. "Kau sangat basah baby."


Dion melepas kain segitiga berenda milik istrinya dengan menarik kedua tali di sisi kanan dan kiri, setelah semuanya mendapat kebebasan Dion membuka kaki Aluna lebar dan siap membuat tiger bersarang di tempatnya.


Tiger rupanya benar-benar berubah menjadi monster yang mengerikan, bahkan pintu gerbang yang sudah biasa dia lewati mendadak menjadi sempit, tiger masih kesulitan masuk, Dion tidak patah semangat dia terus mendorong tiger hingga berhasil menerobos masuk sepenuhnya. 


Dion memeluk Aluna dan mengecupnya, sungguh yang dia rasakan saat ini lebih indah dari malam pertama yang pernah dia lalui. Dion terus saja memompa hingga lelah dan Aluna terus saja memberikan belaian lembut dan sesekali tubuhnya meliuk ke atas dan kesamping. Semakin lama suara Aluna  terdengar semakin merdu di telinga Dion. 

__ADS_1


"Honey, maafkan aku, jangan hukum aku lagi, aku tak bisa hidup tanpamu." Sambil terus memompa tubuh Aluna Dion terus membelai rambutnya dan memberi kecupan bertubi pada pipi dan keningnya. Sesekali Dion menambah jumlah warna merah di dada dan leher Aluna. 


__ADS_2