Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 151. Cinta membuat gila.


__ADS_3

Pelayan mengetuk pintu, rupanya dia mengantar baju untuk Aluna. 


"Nona, ini baju untuk anda, Pak Dion yang meminta anda memakainya. Dia langganan di toko kami"


"Baju, aku sudah memakai baju." Aluna bingung, tadi Dion memuji baju yang dipakai, sekarang dia membawakan baju ganti. 


Pelayan tersenyum. "Saya hanya melakukan tugas, tadi Pak Dion yang menyuruh untuk memberikan pada anda langsung."


"Oh, begitu ya? Terimakasih." Aluna menerima baju yang yang katanya pembelian Dion itu. 


Aluna segera melihat baju pesanan Dion. Rupanya baju itu warna putih tulang, tak ada bedanya dengan baju pesta pada umumnya, hanya saja bahannya yang halus dan ada beberapa butir mutiara menghiasi bagian Dada yang belahannya terlalu rendah. 


Aluna bingung baju itu untuk apa, Dion tak mengatakan apa apa padanya, jika memang hari ini special.  Dan yang jadi masalah lelaki itu sedang marah dengannya sekarang. 


Aluna memutuskan untuk memakai baju dengan hiasan mutiara asli itu. Setelah melekat apik di tubuhnya Aluna segera mematut dirinya di depan cermin. 


"Baju ini sangat indah, Dia memang ahlinya dalam memilih pakaian yang aku suka," puji Aluna yang merasa bersalah telah membuat Dion sedih.


Aluna Lalu mengambil tas kecil yang selalu dibawa kemanapun pergi. Segera membuka dan mengeluarkan alat make-up dari dalamnya.


Aluna memoleskan lipstik warna merah muda di bibirnya dan juga sedikit perona pipi. Setelah yakin dengan penampilan sore ini. Aluna segera mencari keberadaan Dion.


Tok! tok!


Aluna mengetuk sebuah daun pintu yang bisa menghubungkan dirinya dengan banyak ruangan di dalamnya.


Ketukan pintu Aluna tak mendapat sambutan, setelah Aluna memutar gagangnya, ternyata pintu tidak terkunci. 


"Sayang! Sayang!"


Aluna memanggil Dion dengan suara merdunya. 


Sepi sekali, Aluna menatap di atas meja ada hidangan spesial yang aromanya menggugah cacing cacing di perut Aluna untuk segera berdemonstrasi.


Aluna menatap sedih hidangan yang ada di atas meja, lalu berlari mencari Dion ke tempat lain, ruang olahraga tak luput dari penyisiran netra Aluna. 


Aluna kecewa dengan dirinya sendiri, bagaimana bisa dia sebodoh ini sekarang. 

__ADS_1


"Sayang! Sayang! Maafkan aku!"


Aluna tak patah semangat, dia kembali berlari ke arah menuju kolam renang, tapi disana dia hanya mendapati air yang sangat jernih berwarna biru, tenang. Tak ada tanda tanda Dion ada di dalamnya. 


Panik mulai menghantui Aluna, sambil mengangkat gaun panjangnya dia terus menyusuri setiap ruang yang belum dia lihat. 


Hingga penyesalan akan ucapannya tadi  menyakiti diri sendiri semakin dalam. Aluna putus asa, dia yakin Dion marah dan meninggalkannya sendiri di penthouse ini. 


Aluna tiba-tiba teringat ada satu ruang yang belum dia buka, Aluna yakin Dion ada di dalamnya. 


Aluna segera melangkahkan kakinya menuju kamar yang terakhir, di dalam hatinya terus berdoa berharap ada Dion di dalamnya. Aluna berjanji jika itu sebuah kenyataan, dia akan memeluk dan tak melepas suaminya hingga berjam-jam, dan akan mengucap kata 'maafkan aku' hingga ribuan kali. 


Ceklek! 


Aluna kecewa, di tak menemukan lelaki yang membuat jantungnya terus berpacu kencang saat menatap dirinya itu. 


Aluna, kali ini benar-benar ingin berteriak sekencang mungkin, tapi boneka-boneka dengan banyak karakter di depannya membuat dia berpikir lain, apakah tujuan Dion kesini memberinya kejutan. 


Aluna mendekati boneka paling lucu, dengan bentuk beruang. Ukurannya juga paling besar, sekitar tiga kali lipat dengan yang lain


Aluna mengangkat boneka paling besar dengan hati-hati, dia gemas dan memeluknya. 


'Terima kasih sudah bersedia menikah dengan Papi. Jika anda bahagia, maka peluk temanku yang cantik berwarna kuning,'


Aluna meletakkan kembali boneka besar di tempat semula, setelah yakin posisinya benar Aluna segera mencari boneka berwarna kuning berbaju merah. 


Boneka Pooh diambil oleh Aluna, dia berusaha mencari petunjuk selanjutnya, Aluna membolak balik, nyaris kecewa karena tak mendapat petunjuk. Ternyata petunjuknya ada di kantong  punggung boneka. 


'Apa yang anda cari disini? Sayang sekali  anda belum beruntung. Coba cari di tempat lain.'


Aluna makin tak sabar, dia mengambil satu persatu boneka dan berharap ada yang memiliki petunjuk seperti dua boneka tadi, tapi sayangnya semua tak ada yang memberi petunjuk seperti dua boneka tadi. 


Aluna duduk merosot dilantai, dia menangis sesenggukan. Tak ada yang siapapun disisi, Dion benar benar pergi meninggalkannya. 


Saat Aluna tertunduk lesu, larut dalam kesedihan, tiba tiba hidungnya mencium aroma maskulin yang tak asing. Aroma tubuh yang sangat dia sukai. 


"Hai, kucing kecil. Kenapa kau menangis?" Suara yang familiar, membuat dunia yang tadinya hampir runtuh dalam sekejap, reruntuhan itu membentuk payung cinta  yang mengayominya. 

__ADS_1


Aluna segera berbalik, dia menatap lelaki di depannya dengan mata berkaca kaca, dengan tanpa malu Aluna langsung memeluknya. 


"Kau pergi dalam diam, kau jahat, tak pernahkah memikirkan perasaanku?


"Pergi? Aku tadi hanya mandi dan mempersiapkan diri."


"Tapi tadi kamu marah?"


"Marah? Siapa yang marah."


"Jadi tadi tidak marah?" Aluna memeluk tubuh suaminya dengan ketat, dia tak mau kehilangan Dion meski dalam sedetik.


"Aku tidak bisa marah, aku hanya kecewa, tapi setelah lama merenung, aku kembali sadar, istriku terlalu baik. Aku haris memberi banyak kepercayaan."


Aluna menempelkan kepalanya di dada lelaki yang berpakaian rapi dan wajahnya secerah mentari.


"Apa aku boleh minta sesuatu?" Pinta Aluna. 


"Katakan saja." 


"Tolong jangan pernah pergi meski aku dalam keadaan paling bodoh sekalipun. Aku ingin terus bersama seperti ini, jauh darimu aku bisa gila " 


"Siapa yang bisa pergi dari wanita secantik bidadari ini."  Dion menarik dagu istrinya. Tak sabar mengecup bibir merah itu. Dion mengambil sapu tangan didakunya dan menghapus airmata Aluna. 


"Kau rupanya benar benar menangis. Cengeng," ledek Dion.


"Aku terlalu takut," jawab Aluna. 


"Aku ingin hari ini kita menghabiskan waktu berdua saja, kita akan memadu kasih sambil melihat kota indahnya kota ini dari atas," pinta Dion. 


Aluna tersenyum, menatap manik mata biru milik Dion yang membingkai di iris matanya yang hitam. 


Belum apa apa kupu kupu di perutnya sudah kembali beterbangan, menggelitik, tak sabar Aluna ingin segera  menghadiahi Dion dengan tespek berisi garis dua. Jika tadi sempat berpikir belum ingin hamil karena Adrian masih sakit, sepertinya itu kebodohannya. 


Dion regera menggendong tubuh Aluna ala bridal style  lalu  menurunkannya di dekat jendela kaca, Aluna bisa memandang pemandangan indah di sekitar dari puncak perusahaan Dion. 


Dion memeluknya dari belakang dan berulang kali mengecup tengkuknya. 

__ADS_1


Aluna merasakan bulu romanya berdiri, ada sensasi geli dan nikmat bercampur menjadi satu. Pandangan Aluna kini tak fokus lagi pada keindahan kota. Dia hanya fokus dengan apa yang dia rasakan.


.


__ADS_2