
"Aaaaaaa, Sial kenapa selalu gadis si*lan itu yang selalu mendapatkan kebahagiaan, kenapa aku tak pernah menang melawan gadis kampung itu. Tidaaaaaak … Dion adalah milikku, akan ku rebut dia kembali. Wanita itu tidak akan pernah bisa memiliki apa yang sudah pernah menjadi milikku." Angeline menusuk nusuk bantal yang ada di kamarnya hingga busa didalamnya berhamburan kemana mana.
Setelah puas menusuk bantal, Angeline kembali meneguk wine yang diminta pada pelayan.
Lalu melempar gelas bekas minumnya ke dinding, pecahan gelas berhamburan kemana-mana. ini bukan sekali dua kali Angeline selalu menghancurkan benda yang ada di dekatnya.
"Angel, apa yang telah kami lakukan Nak?" Lasmi yang mendengar keributan, dia segera menghampiri kamar putri semata wayangnya.
"Pergi jangan mendekat, pergi." Angeline mengusir Lasmi dan menodongkan pisau buah tepat di jantung wanita itu. Lasmi sudah biasa mendapat perlakuan kasar dari Angeline, setiap gadis itu mendapat masalah. Saat marah Angeline seringkali lepas kontrol. tak jarang dia mendorong Lasmi hingga tersungkur. Namun Lasmi tetap memaafkan karena dia selama ini selalu menganggap Angeline adalah sosok pengganti untuk putrinya yang ia tinggalkan.
"Bibi! Bibi tolong." Lasmi meminta tolong pada Bibi karena Angeline terlihat tidak main-main dengan ancamannya.
"Sudah kubilang pergi, atau aku akan melenyapkanmu sama seperti Luna." Angeline menunjukkan bantal yang sudah porak poranda diatas ranjang. "Angeline sekarang mulai sadar kalau wajah ibu kandungnya begitu mirip dengan wajah Aluna.
"Nya, kita pergi saja, sepertinya Nona Angeline sedang marah besar. Ayuk nya. Nanti dia malah melukai tubuh anda." Bibi menarik Lasmi tapi Lasmi masih terus bertahan.
"Tapi Bi, bagaimana kalau dia melukai dirinya sendiri?" Lasmi khawatir Angeline kalap.
"Tidak mungkin, nya, dia lagi mabuk. Bibi juga sudah tambahkan obat tidur di dalamnya mungkin satu jam lagi dia akan tidur," kata Bibi yang takut pada Angeline setiap kali marah. menurut bibi lebih baik menjauh daripada celaka.
Lasmi menuruti ajakan bibi, dia keluar dan meninggalkan Angeline sendiri "Iya Bi, mungkin aku sudah salah mendidik dia selama ini, aku dan suamiku terlalu memanjakan dia hingga dia menjadi seperti ini sekarang. Harusnya dulu aku ajarkan dia ilmu agama dan tata cara menghormati orang tua, supaya dia tak jadi seperti ini," sesal Lasmi meratapi kemalangan dirinya.
Seketika Lasmi kembali teringat Aluna yang begitu santun, ramah, dan baik hati. Gadis itu selalu berbicara lemah lembut pada setiap orang.
__ADS_1
"Mungkin ini karma untukku Bi, aku dulu menelantarkan suami yang jelas jelas mencintaiku dan menelantarkan anak yang tak pernah aku susui semasa bayi."
"Tak usah menyalahkan diri anda Nona, Anda sudah merawat Nona Angeline dengan baik, jika saat ini dia seperti ini itu pasti karena perangainya yang buruk." Bibi berusaha menghibur Lasmi yang duduk bersimpuh di bawah pintu kamar Angeline dan air mata terus berlinang di pipinya.
"Nyonya, mari aku antarkan anda ke kamar." Lasmi berjalan sempoyongan dengan dipapah oleh Bibi. Dia meratapi dirinya yang sedang dalam penyesalan amat dalam seorang diri di kamarnya.
Setelah lebih tenang Lasmi duduk di tepian ranjang, segera melihat foto Luna dan suaminya di galeri. Sungguh membuat hati Lasmi tenang.
"Nak, maafkan Bunda yang meninggalkanmu sejak kecil, dulu bunda sudah dibutakan oleh harta, sungguh dalam hati bunda hanya papa kamu yang bunda sayang." Kata Lasmi tersungging senyuman tipis di bibirnya.
"Andai dulu papa kamu bisa mencukupi kebutuhan bunda,belikan bunda baju bagus tiap bulan dan perhiasan, mungkin kita akan selalu bersama, Luna. Bunda dulu sangat menyukai semua barang barang mewah karena teman Arisan bunda selalu menghina bunda yang selalu tampil sederhana. Maafkan Bunda Luna, apakah jika bunda mengakui kalau bunda ini ibu kandungmu kamu bersedia memaafkan kesalahan bunda, Nak.
"Semenjak bunda pergi, kamu pasti menderita sekali, Nak. Tapi bagaimana kamu bisa ketemu dengan lelaki tampan baik dan kaya itu. Kamu sungguh beruntung, Nak."
Lelah menangis, Lasmi tertidur sambil memeluk ponselnya. dia tidur dalam ketenangan, seolah memeluk putrinya dalam dekapan.
***
Keesokan harinya Lasmi segera meminta pada Mang Udin untuk mengantarnya ke suatu tempat. Lasmi pernah sekali melihat menantunya itu keluar dari perusahaan mewah.
Sampai di perusahaan King Fashion, Lasmi segera menunjukkan foto yang ada di ponselnya.
"Pak, pak, apa anda tahu ini foto siapa?"
__ADS_1
Security mengambil ponsel dari tangan Lasmi, begitu melihat, langsung jelas kalau itu foto Dion Sanderson pemilik perusahaan. Sebagai pihak keamanan tentu security tidak begitu mudah memberikan identitas Bos pada semua orang. Bisa saja orang yang mencarinya itu adalah musuh bebuyutan atau orang yang sengaja ingin membuat Kekacauan di perusahaan.
"Maaf, aku tidak mengenalnya." Anda bisa cari informasi di tempat yang lain."
"Tolong Pak perhatikan sekali lagi, karena beberapa hari yang lalu aku sempat melihat wajah ini mirip sekali dengan seseorang yang bekerja di sini, Oh mungkin aku salah. Dia terlihat bukan seperti karyawan, mungkin dia CEO di perusahaan ini?" terang Lasmi berusaha mengatakan apa yang sudah dilihat.
"Saya tahu Pak, anda pasti mengira saya mata-mata musuh, tapi anda salah, saya ini ibu dari wanita yang ada di sebelah bos ini, dan aku sudah mencarinya bertahun tahun karena kami terpisah dalam sebuah bencana besar," bujuk Lasmi sengaja membuat drama agar terlihat semakin meyakinkan.
"Em baiklah, tunggu disini, aku akan menghubungi asisten bos, jika anda memang orang yang penting dalam hidupnya. Jadwal pertemuan bisa diatur. Tapi jika anda bukan siapa siapa, saya mohon maaf, mungkin anda bisa cari bos kami di luar jam kerja.
"Baiklah."
Mang Udin akhirnya memarkirkan mobilnya di jajaran mobil para karyawan.
Sedangkan Lasmi duduk di pos security menunggu kabar selanjutnya.
Lama menunggu Lasmi tetap sabar. Dia terus saja mengamati foto Aluna dan Dion sesekali melihat ke arah Lift, berharap CEO King Fashion yang dia cari segera terlihat dari pintu itu. atau seorang asistennya memanggil dirinya.
Nyonya, maaf jadwal CEO kami sedang sibuk dalam beberapa hari terakhir ini, dan untuk hari ini dia sedang cuti. Mungkin jika anda memang orang penting bagi mereka, anda bisa mencari tempat tinggalnya langsung. atau datanglah ketika dia tidak sedang sibuk.
"Oh, jadi tidak masuk ya, padahal aku sudah berharap sekali untuk bisa bertemu dia," lirih Lasmi.
Rasa kecewa terlihat begitu jelas di wajah Lasmi. Tadinya dia sudah berharap bisa bertemu dengan Suami Aluna yang kelihatan orang baik itu, dan dia juga berharap nanti lelaki itu akan mengantarkan dia pada putrinya, setidaknya dia bisa membantu menenangkan Aluna dan membujik menerima . Dia akan membantu Aluna
__ADS_1