
Hari pernikahan sudah ditentukan. Keluarga Dion yang sedang berbahagia segera menuju gedung resepsi. Penghulu sudah menunggu beserta wali dan saksi.
Aluna yang sudah berdandan cantik bagaikan bidadari menunggu Beni. Sopir sekaligus asisten kepercayaan Dion itu yang bertugas menjemputnya.
Hampir satu jam Aluna menunggu kedatangan Beni, tapi lelaki itu tak kunjung datang. Rupanya mobil yang dinaiki Beni bannya pecah. Beni juga terkejut, mobil bagus milik majikannya Kenapa bisa sampai bannya pecah.
Terpaksa Beni harus mengganti terlebih dahulu pada bengkel yang paling dekat, sedangkan Beni menghabiskan beberapa menit untuk menunggu montir datang.
Di saat yang sama Adrian datang ke rumah Aluna, lelaki itu ingin memberikan sebuah hadiah pernikahan langsung pada Aluna sendiri. Dia tidak mau Dion tahu hadiah pemberiannya untuk mantan istri itu.
Aluna menerima hadiah dari Adrian dengan senang hati, bunga mawar dari Adrian itu digenggamnya erat , Aluna bahkan sempat menghirup satu kali karena tergoda dengan warnanya yang cantik.
"Terima kasih Pak Rian, bunganya sangat cantik." kata Aluna memuji.
"Iya, bunga yang cantik untuk orang secantik kamu," jawab Adrian dengan bahagia, karena Aluna menghargai pemberiannya.
"Luna, aku melihat Beni tadi, mobilnya sedang di bengkel, apa dia yang akan menjemputmu," kata Adrian lagi.
"Benar Pak Rian. Oh jadi karena itu dia terlambat datang," gumam Aluna.
"Iya, Dia meminta tolong padaku supaya mengantarkan kamu, Beni takut Dion akan marah padanya, karena terlambat menjemputmu."
Luna sebenarnya ragu apa benar Beni meminta tolong padanya, tapi acara ijab tinggal setengah jam lagi, Luna tidak mau keluarga Dion kecewa.
"Ayolah Luna, aku akan mengantarkanmu lebih cepat, daripada kamu harus menunggu Beni," ungkap Adrian yang terlihat serius.
"Tapi, Pak Rian."
"Luna." Adrian terlihat serius.
"Baiklah aku ikut bersama anda saja, tapi kenapa Mama dan Chela tidak ikut, apa dia tidak ingin datang ke pesta pernikahanku."
__ADS_1
"Dia sudah tiba disana dengan mobil lain, aku berangkat dari rumah Angeline."
Luna akhirnya memilih menerima tawaran Adrian, Luna yakin Adrian sudah move-on karena dia juga sudah menikah. Sejak kemarin bertemu di butik Adrian tidak lagi menunjukkan kemarahan yang berlebihan. Lagi pula bersikap baik pada mantan tidak ada salahnya, toh hubungan suami istri yang berakhir masih bisa menjadi seorang sahabat.
"Luna, apakah kamu sangat bahagia akan menikah dengan Dion?"
"Kenapa anda bertanya seperti itu? Tentu aku sangat bahagia. Pak Dion sangat baik, dia terlihat bertanggung jawab, selain itu dia juga sangat mencintai Aluna."
"Tapi kamu mencintainya?" Tanya Adrian Lagi.
Adrian menatap ke arah Aluna, berharap dia bisa dengar langsung jawaban dari bibir mantan istrinya itu.
"Iya, jelas aku mencintai calon suamiku. Aku tidak mau melakukan kesalahan kedua dengan menikahi lelaki yang takencintaiku."
'aku mencintaimu Luna, kamu saja yang tak pernah mengerti, semua yang kulakukan selama ini untuk melindungimu dari Angeline, aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan jika aku dan kamu bersatu.'
Adrian memandang Aluna dengan penuh penyesalan, rasanya dia tak rela wanita disampingnya dimiliki oleh orang lain, Aluna sangat tampan, dia juga baik, penyayang, pasti akan jadi ibu yang bait untuk anak-anaknya kelak.
Sedangkan di gedung resepsi semua sudah menunggu kedatangan mempelai wanita. Penghulu juga panik karena akan menikahkan beberapa mempelai lagi di hari ini.
"Aku belum sampai, ban mobil bagian belakang pecah."
"Kok bisa? Bukankah beberapa hari lalu kau baru menggantinya dengan yang baru."
Aku sendiri heran Bos, mungkin ini disebut kendala, sabar Bos, prosesnya cepat ini juga hampir selesai.
"Baiklah cepat bawa Aluna kesini, tapi harus tetap hati-hati, aku tak mau Aluna lecet sedikitpun, mengerti!"
"Siap Bos."
Begitu montir selesai memasang ban baru, dia segera menuju perumahan sederhana. Beni terkejut rumah nampak sepi dan hanya Bibi yang menjaga rumah.
__ADS_1
"Mas Beni, emangnya belum tahu kalau Nona Aluna sudah berangkat dengan Den Adrian?"
"Lhoh, gimana ini? Kok malah sama Pak Rian." Beni langsung panik, terkejut dan gugup bercampur jadi satu.
"Kenapa Mas, kaget? Bukannya anda yang meminta pada Den Adrian supaya memberi tumpangan pada Nona Aluna karena mobilnya masih harus ganti ban?" Tanya bibi panjang lebar.
Dion menggeleng. "Tidak, andai saja yang nyuruh pasti saya langsung balik, tidak usah kesini lagi."
"Ya Tuhan, bagaimana ini … bagaimana kalau Nona Aluna diculik Den Adrian, bagaimana dengan den Dion pasti akan marah sekali."
Tanpa ba-bi-bu lagi, Beni langsung mengemudikan mobilnya menuju jalanan hitam dengan kecepatan tinggi. Berharap masih bisa bertemu Aluna, mumpung belum jauh. Beni tidak bisa membayangkan amarah Dion saat tahu calon istrinya dibawa kabur oleh mantan suami.
Sedangkan Aluna mulai merasakan matanya mengantuk. "Pak, kenapa tiba tiba aku jadi mengantuk sekali ya. Padahal ini masih pagi, tidak biasanya aku tidur di pagi hari.
"Tidak apa apa kamu tidur Luna, nanti kalau sudah sampai aku akan bangunkan kamu lagi."
Aluna sungguh dia tak ingin tidur, tapi matanya sama sekali tak bisa dibuka. Aluna tak mengerti apa penyebabnya.
Saat kepala Aluna tak mampu lagi tegak, Adrian segera merebahkan di dadanya. Satu lengan untuk mengemudi dan satu lengan untuk memeluk tubuh Aluna.
'Maafkan aku Aluna, untuk sementara waktu aku akan membawamu pergi sangat jauh hingga kau tak tahu dimana, orang-orangku akan menjaga dan melindungimu dengan aman, aku tak akan bisa melihatmu dengan lelaki lain, tunggu sebentar saja aku akan membereskan urusan dengan Angeline dan keluarganya, setelah itu aku akan kembali membawamu dan kita menikah.'
Dion kau tak akan pernah bisa memiliki Luna, dia milikku, Adrian. Kau tak akan memisahkan wanita yang kucintai dariku. Senyum smirk terukir dari bibir Adrian, lelaki itu segera bergerak cepat menuju dermaga, disana akan ada dua wanita dan lima lelaki yang akan membawa Aluna sebuah pulau yang terletak di negara asing.
Dion yang menerima telepon dari Beni dia segera berlari keluar, dia juga meminta beberapa pengawalnya untuk berpencar. Lima mobil hitam segera melaju menyusuri jalanan. Tak lupa dia juga meminta bantuan polisi untuk mencari dan sebagian ada yang memantau setiap CCTV yang ada di jalan.
Dion kali ini benar-benar marah, andaikan bertemu sekarang juga dia akan menghajar Adrian dengan tangannya sendiri.
Dion merasa Adrian telah melampui batas. Bisa-bisanya dia membawa wanitanya pergi di detik pernikahan.
"Bedebah, kepa**t. Beraninya dia menghancurkan hari bahagiaku, berani saja dia menyakiti Aluna. Akan aku buat perhitungan dengannya hingga titik darah penghabisan."
__ADS_1
"Dion, tahan emosi, jika kamu menghadapi semua dengan amarah, takutnya bukannya malah mengambil langkah cerdas, tetapi malah salah jalan," ujar Davit mengingatkan putranya.