Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 54. Rencana Adrian.


__ADS_3

Berhari-hari Aluna dikurung di sebuah rumah kosong. Tak ada satupun keluarga yang menjenguknya. Aluna yakin Adrian sangat membencinya berkaitan dengan  kesalahpahaman beberapa hari lalu. 


Tapi Aluna masih bersyukur, mahkotanya tak direnggut oleh pria durjana itu. Andaikan saja Tito terlambat sedikit saja Alina pasti sudah kehilangan kegadisannya. Dalam hatinya yang paling dalam Aluna sudah menganggap Tito seperti saudara laki-lakinya.


Seperti biasa, pagi ini yang datang juga seorang pelayan. Dan itu bukan Imah.  Tak diberi kesempatan untuk menjelaskan semuanya, membuat Aluna sangat bersedih. 


"Bibi apakah anda setiap hari bertemu dengan Pak Adrian."


"Tentu, kenapa Nona?"


"Apakah bibi pernah mendengar dia menyebut, atau membicarakan namaku saat aku ada disini?"


Bibi terlihat bingung. Antara harus berkata jujur dan bohong.


"Jawab yang jujur Bi, meski menyakitkan?"Aluna menatap manik mata pelayan di depannya.


"Nona Rindu? Nona sebenarnya mencintai tuan Adrian?"


"Gimana ya Bi aku jelasinnya." Netra Aluna menerawang ke atas memandang langit langit gudang, kelopaknya menahan agar butiran kristal itu tak jatuh "Dia itu kadang baik, kadang juga dingin, aku percaya dia pasti sekarang sedang salah paham saja, Nanti setelah aku jelaskan semuanya dengan kepala dingin pasti dia akan memaafkan aku."


"Nona sangat baik, tapi Tuan Adrian kenapa tak bisa melihatnya, kenapa harus wanita jahat itu yang akan dijadikan istrinya dan dia sayangi." Bibi menyeka air mata miliknya sendiri, yang terjadi dengan kata-kata dan kesabaran Aluna.


"Kenapa dia tak pernah kesini? Bibi percaya kan aku tak mungkin melakukan semuanya? Aku tak pernah menggoda lelaki itu."


"Gimana ya Non, Tuan Rian sudah percaya dengan Angeline, dia bahkan akan bertunangan minggu ini. Dan bulan depan akan dilangsungkan pernikahan.


"Apa Bi?"melebarkan matanya hingga hampir membentuk lingkaran penuh. "Bertunangan? Menikah?"


"Iya Nona, dan dia sangat sibuk dengan persiapan pernikahan itu." Wanita yang lebih muda dari imah itu ikut bersedih melihat Aluna yang sedang shock berat. 


"Tuan akan menikah lagi, dan bagaimana dengan nasibku. Bahkan sekalipun aku tak diizinkan untuk memberi penjelasan. Apa ini adil?"


"Nasib anda sangat buruk Nona, kalau saya di posisi anda sekarang mungkin sudah tak sanggup lagi. Aku lebih baik pergi mencari kebahagiaan diri sendiri, daripada harus tersiksa setiap hari. Tak jadi suami orang kaya tak masalah buat saya.


'Pergi? Bagaimana aku bisa pergi, jika mansion ini telah dijaga sangat ketat.' batin Luna.  


"Bi tolong sampaikan pada Tuan Adrian supaya sekali saja menemuiku pada hari ini?"


"Akan saya sampaikan, Nona."


"Terima kasih, Bi."


"Sama-sama Nona, saya akan pulang dulu sampai ketemu nanti sore."


Aluna mengangguk bibirnya membentuk lengkungan ke atas.

__ADS_1


"Dihabiskan makanannya. Lihatlah anda kurus dan  mata anda sudah seperti panda," hibur Bibi yang mulai melihat cekungan di sekitar mata Aluna.


Bibi mulai mengemasi rantang bekas makan Aluna yang kemarin dan menggantinya dengan yang baru. Setelah itu dia langsung pamit. Majikannya akan marah jika kepulangannya terlambat beberapa menit saja.


Aluna pagi ini sudah sangat lapar, makanan baru datang sekitar jam sepuluh, sedangkan dia sendiri sudah terbiasa sarapan pagi. Setelah hobi pergi dia langsung menghampiri rantang, ingin segera melahap isinya. 


Aluna membuka rantang stainless  bersusun empat, yang biasanya tiap kotak isinya berbeda, Nasi, sayuran, ikan, dan buah potong. 


Tapi hari ini berbeda, saat membuka rantang, Aluna sudah mencium aroma tak sedap dari dalamnya. 


Aluna makin penasaran, dia membuka satu persatu tiap susun, melihat isinya semuanya barang busuk. Seketika tangis Aluna pecah. Tak percaya isinya semua barang busuk. Bahkan diatas ikan dan nasi sudah ada belatungnya.


"Hoek Hoek!" Melihat barang menjijikkan itu seketika perut Aluna menjadi mual. Aluna segera menutup hidung dan membuangnya di tong sampah.


"Makanan basi, kenapa dia memberiku makanan basi apakah keluarga itu ingin meracuniku." Aluna meremas ujung roknya, tangannya mengepal,  Ingin sekali dia marah ketika perutnya sudah keroncongan minta diisi, tapi nasi yang dikirim oleh bibi malah sudah basi. 


Aluna duduk bersandar dengan dinding sambil memeluk lutut, matanya merah karena tangisnya tak bisa ditahan lagi. Pikiran buruk terus menghantui, jika hari ini makanan basi bagaimana jika besok makanan beracun.


Sebenarnya tadi bibi sudah menyiapkan makanan enak seperti yang mereka makan hari ini juga. Tapi Chela dan Angel iseng menggantinya dengan makanan sisa yang akan bibi buang dan menaruh ke wadah yang sama dan tempat yang sama.


"Biar mampus tu Aluna, makan makanan basi." Tawa Chela menggema.


"Iya, siapa suruh dia menikah dengan Adrian."


"Kakak sudah tahu?" 


Chela mengangguk. Iya juga sih, kak Rian belakangan ini mulai menginginkan Aluna untuk menyiapkan segala keperluannya. Mungkin gadis kampung itu sudah pasang guna guna pada Kak Rian.


"Sudahlah, yang penting sekarang Kakak kamu sudah tak percaya lagi." 


Setelah idenya berhasil calon kakak adik somplak itu tertawa dengan girang. Sedangkan Adrian yang biasa mengecek makanan untuk Luna dia sedang kurang enak badan. Maq Adrian kembali kambuh karena sering telat dan malas makan. 


"Tuan, Nona Aluna meminta anda untuk datang ke mansion kedua."


"Kapan dia mengatakan seperti itu?


"Baru saja, Tuan."


"Baiklah aku akan kesana sekarang." Adrian segera bangkit meninggalkan tempat istirahat ternyaman, meski dalam kondisi kurang enak badan. Adrian sudah menunggu moment Aluna akan membutuhkan dirinya, dan hari ini akhirnya Aluna mencarinya juga. 


"Arga, Argo, antarkan aku pada Nona."


"Tapi Anda sakit tuan."


"Tidak apa-apa, aku masih kuat."

__ADS_1


Arga membukakan pintu untuk Adrian, sedangkan Argo menyalakan mesin, setelah Adrian siap mereka segera membawa Tuannya ke rumah kedua.


Adrian membuka pintu, dia melihat sosok istri sedang memeluk lutut. Adrian segera menghampiri Aluna. 


"Kenapa memanggilku kesini?"


"Pak Rian, kenapa anda tidak melepaskan aku saja, mana surat perceraian yang anda janjikan."


"Tidak ada, aku tak jadi menceraikan dirimu."


"Jika tidak cerai, kenapa anda membuat saya menderita, mengurung saya sendiri dalam rumah besar dan sepi seperti ini?"


"Apa kau masih merasa terkurung? Bukankah rumah ini besar dan kamu juga bebas melakukan yang kau inginkan  di dalamnya, anggap ini rumah sendiri, karena ini memang untukmu."


"Tapi daya butuh teman bicara dan butuh orang untuk berbagi cerita, aku ingin bekerja seperti biasa," ujar Aluna lagi memberanikan diri bicara. 


"Baiklah, nanti aku akan kirim asisten yang bisa menjadi teman dan melayani dirimu."


"Saya tidak butuh asisten saya butuh kebebasan, saya tidak mau lagi menjadi istri anda. Dalam permainan Istri rahasia ini"


"Belum saatnya, jika saatnya tiba aku akan membuatmu bahagia dan mengabulkan apapun yang kau inginkan. Dan tetaplah disini, jangan kemana mana karena aku tak mau ada orang melukai kamu lagi."


Aluna berdiri tubuhnya terhuyung, pasti karena efek belum sarapan, karena semalam pun dia juga tak makan karena nasinya dingin dan sayurnya juga keburu basi. 


Aluna terkejut lelaki bermata besar itu bicara demikian, seperti dia menyembunyikan sesuatu yang tak dia mengerti. 


Adrian menangkap tubuh Aluna, menariknya dalam dekap hangat, ini pertama kalinya Aluna merasa Adrian memeluknya dengan kelembutan. Aroma tubuhnya begitu memikat. Aluna memejamkan mata, begitu juga Adrian. 


Tapi setelah sadar lelaki dalam dekapannya akan menikah dengan wanita lain Aluna segera meronta. 


"Diamlah, biarlah seperti ini sebentar saja." Adrian enggan melepas dekapan Aluna.


"Lepaskan Pak, jika anda tak mau ceraikan saya, biarkan saya yang akan urus suratnya sendiri."


"Jangan nekat, kau tak bisa melakukan sendiri tanpa persetujuan dariku."


"Anda akan menikahi wanita cantik dan saya tak akan dibutuhkan lagi, buat apa hubungan semu ini dipertahankan."


"Hubungan semu dipertahankan karena setitik cinta sudah masuk dan merusak semua Ambisi. Dan pernikahan kedua dilakukan karena ambisi harus tetap berjalan untuk menggapai kesuksesan."


"Saya tidak mau, jangan libatkan saya dalam masalah anda."


"Semua sudah terlanjur, kamu sudah masuk dan menyelam dalam kehidupanku." Adrian pergi lagi, dia ingin sekali lebih lama di tempat yang belum diketahui oleh keluarganya itu. Sayang sekali Angeline sudah menghubunginya. 


"Pengawal jaga Nona dengan benar, jangan biarkan dia keluar, atau sembarang orang masuk, kecuali hanya orang yang sudah aku beri tugas khusus."

__ADS_1


"Siap Tuan." Pengawal mengangguk hormat.


__ADS_2