
Dion, papa minta kamu cari wanita yang terbaik untukmu dalam satu tahun ini, kalau tidak ada, papa yang akan pilihkan jodoh untukku. Apa kata teman papa kalau kalah dengan mereka, mereka semua sudah memiliki cucu, bahkan ada yang sudah banyak cucunya.
"Papa mau cucu? Mudah Pa, adopsi aja anak di panti, terus angkat jadi cucu kan beres," ujar Dion enteng.
Dion papa tidak bercanda Nak, usia orang tidak ada yang tahu. Papa tidak mau kalau mati tanpa melihat cucu."
"Aduh Papa, jangan dong. Jessika nggak mau tanpa papa. Papa harus selalu bersama kami." Jessica merapatkan tubuhnya dan membaringkan kepalanya di dada Davit yang sedang menopang satu kakinya di paha. Davit mencium kening putrinya.
"Manja," ledek Dion yang melihat adik perawan nya nemplok pada Papa.
"Biarin, bilang aja ngiri kalau papa lebih sayang Jessika daripada Kakak."
Davit tersenyum sambil mengelus kedua putranya di kanan ada Dion dan di kiri ada Jessica. "Papa sayang kalian berdua. Dan Mama."
Usai makan kue tart spesial ulang tahun Dion. Mereka merasakan kenyang. Dion juga merasa tubuhnya lengket, dengan gegas dia melepas jas yang ia pakai dan segera mandi, lalu tiduran sambil menelepon Aluna.
"Hei, kamu belum tidur?" Dion melihat Luna yang malam ini terlihat cantik, Aluna melepas kacamatanya, karena sudah bersiap tidur dan usai membersihkan wajah.
Tapi seperti biasa sebelum kantuk menyerang lebih akut, dia masih betah duduk di depan kamar, di sebuah kursi rotan sambil memandangi rembulan.
Seakan soal bapak yang dia rindukan sedang menunggunya di atas rembulan sana.
"Belum, aku baru selesai kerjakan pekerjaan rumah dulu. Tapi malam ini Bibi Imah sudah melakukan banyak, jadi aku cuma kebagian sedikit."
"Oh, kalau begitu tubuhmu pasti capek, bekerja di rumah dan perusahaan. Ayolah Lun, terima tawaranku, kerja padaku, aku bisa membantumu."
"Aku masih punya banyak hutang, aku belum bisa Pak Dion."
"Katakan padaku cepat! Berapa hutangmu aku akan membayarnya."
Ah, bodoh sekali Luna, kenapa harus bilang hutang. Dion sudah pasti akan mengatakan hal seperti itu.
"Hutang ini tidak bisa dibayar dengan uang, aku hanya butuh bekerja beberapa bulan, dan aku akan tetap menjalaninya."
"Oh, baiklah Luna, tapi aku mohon padamu, katakan padaku jika kesulitan uang."
__ADS_1
"Terimakasih, Pak Dion."
Mereka berdua akhirnya mengakhiri panggilan ketika Aluna sudah dua kali menguap.
"Ya sudah sampai ketemu besok." Dion mengingatkan kalau besok ada janji membawa Gemoy ke rumah sakit hewan.
***
Angel dan Adrian sedang berkemas untuk liburan besok. Sekarang Adrian bingung dengan aturan yang dibuat sendiri.
Dia menyesal, telah memerintahkan Tito untuk membuat aturan kalau OG tak boleh ikut. Padahal Adrian masih membutuhkan jasa Luna untuk menyiapkan keperluannya yang tak mungkin bisa dilakukan Angel.
"Kenapa Rian? Seharusnya kamu happy kita akan liburan." Angel menangkap sesuatu yang aneh pada diri Adrian. Sejak pulang kerja Adrian tak lagi hangat, bahkan wajahnya terlihat bete.
"Angel aku ingin tahu alasannya kenapa kamu harus semena-mena dengan karyawan di kantor?"
"Maksud kamu apa Rian?"
"Jangan pura pura Angel, aku mempunyai bukti kamu telah mengunci Aluna ketika dia ada di ruang OG."
"Oh jadi sekarang kekasihku ini peduli dengan OG di perusahaannya. Bukankah tingkatan CEO dan OG bagai langit dan bumi. Kenapa kau sibuk ikut campur?"
"Apa? Apa yang ingin kamu katakan? Aluna special?" Angel seperti menunggu Adrian jujur kalau Aluna adalah istrinya.
Dengan begitu apa yang dia ketahui tak lagi ada keraguan. Tapi tak masalah Adrian bungkam, membuat dia masih berkesempatan untuk selalu disisinya dan menjalankan rencananya.
"Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan Aluna? Dia ketakutan, terus pingsan semalaman dan nyawanya tak tertolong. Apa kamu mau masuk penjara? Kamu lupa CCTV sudah di pasang di setiap ruangan perusahaan!" Adrian berkata dengan nada tinggi.
"Maaf, aku tak perduli! Aku hanya ingin menghancurkan wanita itu, karena si buruk rupa itu, kamu berani menyebut namanya, kamu berubah tak menghargai cintaku lagi."
"Berubah? Aku berubah darimana?! Coba kau jelaskan?! Aku masih kekasihmu sampai saat ini."
"Sudahlah kamu tak mengerti keinginan seorang wanita, kau terlalu bodoh Rian!"
"Bodoh? apa kau butuh uang! aku sudah transfer uang ke rekening pribadi kamu setiap bulan, uang dariku sudah bisa kamu buat beli apapun yang kamu inginkan."
__ADS_1
"Bukan uang, aku ingin yang lainnya. Sudahlah kamu tak pernah mengerti!" Angel membanting kursi hingga roboh dan meninggalkan Adrian. Lalu pergi keluar mansion dan naik mobil dengan kencang.
Angel menghubungi Frengky fotografer yang selalu menjadi teman curhatnya.
"Frengky, gue butuh teman, gue kesel banget sama Adrian," ujar Angel saat bicara di telepon.
"Ya, aku akan temani kamu, Sayang. Kemanapun yang kau mau." Frengky langsung setuju dengan keinginan Angel. dia selalu menertawakan Angel ketika sedang bertengkar dengan kekasihnya. Sebagai lelaki Frengky tahu Angel tulus mencintai Adrian.
"Dimana? Cepat katakan tempatnya aku akan kesana," bentak Angel. Membuat Frangky menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Oke sebentar aku berpikir dulu. Bagaimana kalau ke rumahku saja? Aku sendirian sekarang, Aku bisa fokus menghiburmu.
"Baiklah, aku kesana sekarang."
Angel dengan kasar membelokkan mobilnya ke rumah Frengky. Salah satu perumahan sederhana di kota Surabaya, berlantai dua yang terlihat lebih sederhana daripada sekelilingnya.
Sebelum Angel datang Frangky lebih dulu membeli minuman dan aneka makanan yang bisa dia nikmati saat mendengar curhatan Angel. Setelah mendapat yang ia cari Frengky segera putar balik dan menunggu mobil Angel datang.
Frengky segera menyambut Angel dengan senyum menawan. Fotografer itu memperlakukan Angel bagaikan ratu. Ya Frengky tetap mencintai Angel meski cintanya tak pernah terbalas.
Angel memeluk Frengky dan wanita itu menangis dalam dekapan dada bidang teman kerjanya itu.
"Menangis lah sayang, aku akan mendengar keluh kesah mu."
"Frengky aku sakit hati dengan Adrian, kamu tahu dia menghianatiku. Padahal selama ini aku selalu mendukung dan berada di pihaknya."
"Ya, aku tahu kamu bekerja keras untuk itu. Dan aku juga tahu kamu terlalu dalam melibatkan urusan cinta dengannya dalam bisnis," ujar Frengky sambil membimbing Angel pada sebuah sofa panjang di ruang tamu.
"Kau bilang tadi berhianat, apa dia selingkuh."
"Lebih dari selingkuh, tapi kamu bisa aku percaya Kan? tolong jaga rahasia ini, anggap kita belum tahu apa-apa. Aku ada rencana untuk wanita yang berstatus menjadi istrinya itu." Angel mulai memainkan kancing kemeja Frengky.
"Aku akan membantumu," ujar Frengky sambil melepas dekapannya pada Angel dan menuang minuman yang ia beli pada gelas bertangkai. lalu mengambil satu untuk Angel.
Minumlah, mungkin kau butuh sedikit untuk menenangkan hatimu.
__ADS_1
Angel dengan senang hati menerima minuman dari Frengky lalu meneguknya hingga tandas.
*happy reading.