Legenda Pendekar Pedang

Legenda Pendekar Pedang
Sungai kematian IV


__ADS_3

Berjam-jam sudah di lalui rombongan Fang Ling tanpa hambatan yang berarti kecuali semak belukar yang tumbuh di tepian sungai dan tidak sedikit dari cabangnya menjulur ke sungai, hingga membuat jalur air itu terlihat seperti jalan yang tidak layak di lalui.


Semenjak melanjutkan perjalanan setelah membunuh empat ekor hiu, perut Fang Ling terus berbunyi dengan sangat kerasa membuat Xiao Bai dan Xiao Qing tertawa jika mendengar suara guntur dari perut Fang Ling.


Walaupun begitu lapar tidak mungkin bagi Fang Ling untuk berhenti ataupun singgah di tepian sungai karena hutan yang terlalu rindang, akibatnya tidak ada ruang untuk Fang Ling duduk sampai-sampai untuk menyenderkan perahunya juga sangat susah.


Merasa sangat lapar Fang Ling berpikiran untuk membuat api di atas perahu namun dirinya tidak melakukannya karena tau jika itu adalah ide gila, dengan perut yang terus berbunyi Fang Ling hanya dapat mengigit bibir dan berharap jika di ujung jalan terdapat lahan hutan kosong untuk di gunakannya berisitirahat.


Benar saja tak butuh waktu lama harapan Fang Ling di kabulkan, terlihat di depan atau tepatnya di kanan perahu terdapat lahan kosong yang berdiameter cukup lebar dan muat untuk mengisi lima orang sekaligus, tapi tetap saja lahan kosong itu di kelilingi semak belukar.


Takut jika perahunya akan di dorong arus lebih jauh dan meninggalkan lahan kosong, Fang Ling melompat dan menarik perahunya ke tepi lahan kosong dan tidak lupa dirinya mengikat ujung perahu itu dengan tali yang di ikatkan di sebuah pohon kecil.


Perahu Fang Ling akhirnya bersender di tepi lahan kosong, di atas perahu terlihat Xiao Qing dan Xiao Bai sedang tertidur pulas bersama dengan Ah Bai yang juga tidur di anjungan perahu.


Melihat teman-temannya kelelahan dan tidur dalam keadaan lapar membuat Fang Ling merasa bersalah karena tidak bisa merawat mereka dengan baik, Fang Ling melompat ke atas perahu untuk mengangkat tubuh Xiao Qing dan meletakkannya di lahan kosong yang di tumbuhi rumput halus dan pendek.


Setelah Xiao Qing berhasil di pindahkan Fang Ling kembali mengangkat tubuh Xiao Bai dan meletakkannya di samping Xiao Qing, setelah kedua gadis itu selesai di pindahkan kini hanya tersisa Ah Bai yang tertidur di anjungan perahu.


Sudut bibir Fang Ling sedikit terangkat begitu melihat Ah Bai tertidur sangat lelap hingga lupa jika dialah penyebab Fang Ling terjun bebas dari air terjun, dan bisa saja mati jika dirinya tidak kehilangan kendali untuk membantai hiu-hiu yang ada.


Fang Ling berjalan perlahan ke atas perahu dan begitu sampai di tempat Ah Bai tidur, Fang Ling langsung mengangkat dan melemparnya ke sungai, alhasil Ah-Bai hanya menatap Fang Ling dengan kedua pasangan mata menyimpan-dendam.


Dengan lancar Ah Bai dapat berenang kembali ke tepian tidak seperti kebanyakan mamalia berkaki empat yang biasanya takut dengan air, pada umumnya makhluk suci berjenis harimau atau macan dan lain sebagainya, memiliki kemampuan untuk berenang sedari lahir seperti yang di lakukan Ah Bai.


Melihat kemampuan Ah Bai yang mampu berenang dengan baik sedikit membuat Fang Ling terkesan, Fang Ling dan Ah Bai berjalan bersama ke tempat Xiao Qing dan Xiao Bai tertidur dan setelah sampai di tempat itu Fang Ling mengeluarkan dua buah batu dari udara kosong.

__ADS_1


Tidak lupa Fang Ling dan Ah Bai mengumpulkan ranting dan dedaunan kering sebanyak mungkin karena malam hari di dalam hutan apalagi di tepi sungai akan sangat dingin saat malam hari, untuk itulah mereka berdua mengumpulkan sebanyak mungkin ranting pohon.


Setelah di rasa cukup barulah Fang Ling membuat sebuah api unggun berukuran besar untuk menghangatkan tubuh Xiao Bai dan Xiao Qing, Fang Ling berjalan kembali ke arah perahu dan mengambil satu ekor hiu yang masih segar dan membawanya kembali ke tempat api unggun yang sudah hidup.


Dari udara kosong Fang Ling mengeluarkan satu pedang yang dimana hanya pedang itulah yang masih tersisa dan satu buah tombak, diapun mulai mengiris dan memotong daging hiu dengan ukuran tidak terlalu besar.


Fang Ling meletakan potongan daging itu di atas sebuah daun lebar agar tidak kotor, Fang Ling berdiri dan berjalan ke pinggiran hutan untuk mengambil sebuah ranting pohon yang akan di gunakan untuk menusuk potongan daging hiu agar mudah saat di bakar.


Tidak membutuhkan waktu lama apa yang di cari Fang Ling langsung di dapatinnya dengan mudah karena berada di kawasan hutan yang pastinya mudah untuk mencari ranting pohon.


Satu persatu potongan daging itu di tusuk ke sebuah ranting pohon hingga semua daging itu habis, Fang Ling berdiri untuk segera meletakan dan membakar semua daging hiu di pinggir api unggun agar dapat matang dengan sempurna.


Seterusnya semuanya selesai Fang Ling duduk bertumpu pada kedua tangannya, sesekali dia menatap Xiao Qing dan Xiao Bai yang tidur di sampingnya, cukup lama Fang Ling memperhatikan kedua gadis itu hingga dirinya merasa ada yang aneh kepada mereka karena tidak kunjung terbangun dan posisi yang sedikit berbeda saat Fang Ling membawanya.


"Tu-Tuan,"Kata Xiao Bai terlihat kesulitan untuk berbicara.


"Xiao Bai !! apa yang terjadi kenapa kalian di basahi keringat ?? " Fang Ling berlari ke arah Xiao Bai yang baru saja memanggilnya, terlihat tubuh Ah Bai di penuhi keringat dingin dengan wajah pucat seolah di racuni, begitu juga dengan Xiao Qing yang memiliki gejala sama.


"Hati-hati....dia... sangat... cepat,"Kata Xiao Bai lemah dan tidak terlalu jelas.


"Apa ?? Belum sempat berbicara sekelebat bayangan hitam menyerang Fang Ling dari dalam semak, beruntung Fang Ling dapat menghindari serangan itu dengan anggaran menggunakan energi dari kristal siluman hiu yang terbatas.


Dari dalam semak sepasang mata memancarkan cahaya merah berjalan mendekati Fang Ling, karena hari sedang terang bulan cahaya dari bulan menyinari tubuh makhluk itu, mata Fang Ling hampir keluar begitu tau jika yang menyerangnya adalah siluman macan air.


Siluman macan air adalah spesies yang sangat berbahaya dan hidup sendiri, cairan ungu yang menetes dari kedua taringnya sangat berbahaya karena dapat membunuh pendekar di tingkat pembentukan inti dengan sangat mudah.

__ADS_1


Terlihat penampilan dari siluman itu sangat mengerikan, tubuhnya hijau seperti di tutupi lumut dan terdapat empat insang di belakang telinganya, ekornya berbentuk kipas dengan empat kaki yang ramping memungkinkannya untuk bergerak sangat cepat.


Tidak gentar walaupun di hadapannya adalah kematian Fang Ling tetap berdiri tegak sambil mempersiapkan diri untuk menyerang dan bertahan,"Sepertinya kau salah memilih lawan, kurasa kita berdua akan imbang dalam pertarungan ini. Tapi, semua orang tau hanya pemenang-lah yang dapat keluar hidup-hidup,"



Jangan lupa tiga hal :


1.Vote


2.Like


3.Komen


Pemaksaan, siapa saja yang tidak mau akan di bantai Fang Ling


Mampir juga ke novel teman aku, judulnya :


•Legenda dewa pohenix


•Legenda dewa kematian


•Pendekar pedang immortal


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2