Legenda Pendekar Pedang

Legenda Pendekar Pedang
Ah Bai vs siluman ular II


__ADS_3

Brak Brak Brak


Kekuatan Ah Bai yang setara dengan pendekar di tingkat Pengembangan Roh, mempunyai kemampuan yang sama-sama unggul dengan siluman ular, terlihat keduanya saling menyerang dan mengigit.


Dengan kuat Ah Bai melakukan cakaran ke atas tepat mengenai bagian rahang siluman ular, hingga membuat ular itu mundur cukup jauh dan berbalik menyerang Ah Bai dengan menggunakan ekornya


Ah Bai menahan serangan itu dengan meyilangkan kedua tangannya dengan sekuat tenaga, hingga saat serangan itu mengenainya, Ah Bai terpental dan terbaring di atas air.


Walaupun jauh lebih unggul dengan siluman ular tersebut, tetap saja Ah Bai hanyalah seekor anak harimau yang masih belum mengetahui semua kemampuannya.


Di saat Ah Bai masih terbaring dengan kedua tangan gemetaran akibat serangan yang mengenainya, siluman ular mulai mendekatinya dan hendak menerkam kepala Ah Bai.


Namun dengan kemampuannya yang memukul asal-asalan, Ah Bai mampu menahan mulut ular itu dengan menahannya, menggunakan tangan kosong dan mencakar wajah ular itu dengan tangan kanannya.


Akibat cakaran Ah Bai, wajah siluman ular itu nampak tergores dengan luka cukup dalam akibat cakar Ah Bai yang begitu tajam dan berbahaya.


Melihat lawannya sedang lengah, Ah Bai dengan cepat meraung dan menerkam tubuh ular itu dengan menghempasnya ke permukaan air yang berdiamater setinggi lutut Ah Bai.


Serangan itu justru menguntungkan siluman ular, dengan kuat siluman itu melilit tubuh Ah Bai hingga membuatnya tidak dapat bergerak.


Tidak hanya melilit siluman ular itu juga mengigit tubuh Ah Bai beberapa kali, sehingga Ah Bai yang menerima semua serangan itu meraung keras dan mencengkram tubuh ular itu dengan kuat.


Akibatnya Siluman ular terpaksa melepaskan lilitannya akibat tubuhnya hampir robek karena di cengkram Ah Bai, Siluman itu kembali menebas ekornya ke arah Ah Bai dengan kuat.


Karena sudah tau jika menahan serangan itu dengan menggunakan tangan kosong akan sangat berbahaya, Ah Bai merunduk dan melompat ke arah siluman ular dengan mengigit tubuhnya.


Entah ke berapa kalinya ular itu kembali terhempas ke permukaan air dan mencoba kembali melilit tubuh Ah Bai, namun serangan itu sudah di tangkal Ah Bai dengan mencekam ekornya.


Pertarungan keduanya yang saling menyerang membuat gelombang air semakin kuat, sehingga hewan-hewan yang mempunyai tingkatan lebih rendah dari Ah Bai dan siluman ular menjauh dari tempat yang menjadi pusat pertarungan.

__ADS_1


Di saat Ah Bai mengangkat tangannya hendak mencakar kepala siluman ular, ular itu sudah menyerangnya terlebih dahulu dengan menggunakan ekornya yang kuat dan tajam.


Akibatnya serangan siluman ular mengenai bagian dada Ah Bai, hingga membuat dadanya mengeluarkan darah kemerahan akibat luka yang cukup dalam di karenakan serangan itu.


Setelah kembali bangkit Ah Bai tidak langsung menyerang, ia mengamati seluruh bagian tubuh siluman ular di hadapannya yang sudah terluka parah akibat serangan Fang Ling.


Dengan kuat selayaknya seekor hewan ganas, Ah Bai kembali menerkam dan mengigit bagian tubuh siluman ular dan mengangkat tubuhnya dengan sekuat tenaga.


Dengan kuat Ah Bai menghempas tubuh ular itu di sebuah pulau kecil hingga membuat pulau tersebut hancur, menciptakan gelombang air yang cukup kuat, karena dapat membuat perahu Fang Ling terombang ambing.


Saat akan menghempas kembali tubuh ular itu, bagian punggung Ah Bai di gigi oleh siluman ular hingga membuatnya terjatuh dengan posisi terungkup.


Ah Bai mencoba untuk kembali berdiri, namun punggungnya di hantam oleh ekor siluman ular hingga membuatnya kembali terhempas dengan kuat.


Dengan sekuat tenaga walaupun punggungnya terus di hempas oleh ekor siluman ular, Ah Bai berbalik menyerang dengan memukul wajah siluman itu, membuatnya terpental cukup jauh dan nampak tidak mampu berdiri.


Dengan cepat dan tidak mau kehilangan kesempatannya untuk mengunduh siluman itu, Ah Bai berlari menimbulkan gelombang air yang meledak-ledak.


Sesuatu yang kuat menerkam kaki Ah Bai hingga membuatnya kembali tersungkur saat jaraknya dan siluman ular, hanya terpaut beberapa meter yang seharusnya dapat di bunuh.


Setelah beberapa lama merasa ada sesuatu yang mengigit kakinya, Ah Bai baru sadar dan terlihat sangat terkejut melihat siluman buaya yang menyerangnya di malam hari kini sedang mengigit kakinya.


Dengan kedua tangannya Ah Bai memukul kepala siluman buaya itu, namun karena tubuhnya sangat kerasa pukulan, Ah Bai sama sekali tidak mempan di buatnya.


Tidak mau dirinya terus di serang oleh siluman itu, Ah Bai menggigitnya dan ternyata serangan itu berhasil membuat kepala siluman buaya terluka.


Setelah menemukan bagaimana cara untuk membunuh siluman buaya, tubuh Ah Bai kembali di lilit oleh siluman ular hingga membuatnya tidak dapat bernafas.


Siluman buaya yang awalnya mundur akibat kepalanya terluka di gigit Ah Bai, ia kembali maju dan mengigit kaki Ah Bai dengan kuat.

__ADS_1


Serangan kedua siluman itu benar-benar membuat Ah Bai kesulitan bahkan untuk bergerak saja sangat sulit, ia mencoba memutar tubuhnya namun lilitan yang menahannya masih tidak lepas.


Tidak kehabisan akal, Ah Bai mengoyak tubuh ular yang melilit lehernya hingga terpotong menjadi dua bagian dan membuat siluman ular benar-benar mati.


Di saat hanya tersisa siluman buaya yang masih saja mengigit kakinya, Ah Bai dengan kuat menendang kepalanya beberapa kali, namun siluman buaya itu masih tetap mengigit kakinya.


Karena merasa sakit, Ah Bai mengaum dan membuat dirinya tekejut karena auman nya mampu membuat sebuah gelombang yang menciptakan sebuah ledakan besar.


Dengan sekuat tenaga Ah Bai mengaum ke arah siluman buaya, membuat sebuah ledakan besar yang mengenai siluman itu. Karena ledakan yang sangat besar itu, Ah Bai juga iku terpental.


Gemuruh gempa sedang mengguncang tempat itu akibat auman Ah Bai, sehingga setiap hewan buas yang mendengarnya lari ketakutan.


Sedangkan perahu Fang Ling yang bertempat tidak jauh dari lokasi ledakan, terombang-ambing dengan gelombang air yang begitu kuat hingga membuat perahu itu juga bergoyang dengan kuat.


Di saat merasa jika siluman buaya sudah mati akibat ledakan itu, Ah Bai kembali di kejutkan dengan siluman buaya yang tiba-tiba menerkam tangannya.


Siluman itu kembali menyelam dan kembali muncul tepat di bawah Ah Bai, dengan menggunakan rahangnya yang sangat kuat, buaya itu mengigit kaki kanan Ah Bai hingga patah.


Menerima serangan itu Ah Bai terduduk sambil meraung kesakitan, ia menangkap rahang atas dan bawah buaya itu dengan kedua tangannya, dan membelah buaya itu menjadi dua bagian.


Seketika air di rawa itu menjadi merah karena bercampur dengan darah kedua siluman yang di bunuh Ah Bai, dengan terpincang-pincang Ah Bai berjalan menghampiri kedua mayat siluman itu dan mengambil kristalnya.


Setelah berhasil mengambilnya, Ah Bai perlahan kembali berubah ke bentuk aslinya dan berenang kembali ke atas perahu. Ia berjalan terpincang-pincang dengan membawa dua kristal siluman di mulutnya.


Setelah berada di atas perahu Ah Bai melihat tubuh tuannya terbaring lemas dengan wajah yang sangat pucat, terlihat luka di sekujur tubuhnya masih belum meregenerasi sama sekali.


Dengan cekatan Ah Bai memasukkan dua kristal yang di bawanya ke dalam mulut Fang Ling, secara perlahan kedua kristal itu membantu proses penyembuhan Fang ling.


Setelah selesai menyelamatkan tuannya, Ah Bai berbaring di atas tubuh Fang Ling menunggu tuannya kembali sadar dari pingsannya.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2