Legenda Pendekar Pedang

Legenda Pendekar Pedang
Tantangan


__ADS_3

Setelah merasakan kemampuan Fang'Ling, semua pendekar senior yang berada di tempat itu berlari keluar karena tidak mau mencari gara-gara lagi, kini di tempat itu hanya menyisakan beberapa murid senior yang bisa menahan kemampuan Fang Ling.


Han Dong tertawa lantang, diapun mencaci semua pendekar senior yang lari ketakutan seolah mereka semua takut dengan dirinya.


"Sudah ku katakan untuk tidak mencari gara-gara, untung saja adik Fang berbaik hati untuk memaafkan kalian, jika itu aku mungkin kalian akan binasa,"


"Kau berkata seolah-olah kaulah yang paling hebat, apakah kau lupa ? jika bukan karena adik Fang, mungkin sekarang kau sedang di rawat,"Tian Meng berkata sambil menatap Han Song datar.


Melihat postur tubuh Tian Meng membuat Fang Ling kebingungan sebab pemuda itu terlalu kecil dan rapuh untuk di katakan seorang pria, namun dia berdada datar terlihat seperti papan iris dengan wajah mungil, hal itulah yang membuat Fang Ling bingung.


"Senior Tian, bisakah aku melakukan sesuatu kepada mu ?"Fang Ling sedikit memajukan mukanya dan mengelus dagu dengan tatapan misterius.


"Eh ? melakukan apa ??"Tian Meng berkata dengan nada bergetar begitu menyadari tatapan Fang Ling yang tertuju pada dadanya,"Dasar mesum !! baru saja bertemu kau sudah mau melakukan hal yang tidak senonoh kepadaku,"


Plaaakk


Akhirnya sebuah tamparan mendarat di pipi Fang Ling, Tian Meng meninggalkan Fang Ling dan Han Dong sambil menyilang kan tangannya untuk menutupi dadanya.


"Bukan itu maksudku, aku hanya bingung kamu laki-laki atau perempuan, karena ketika melihatmu entah kenapa rasanya sedikit aneh,"Fang Ling mencoba untuk menjelaskan kesalahpahaman itu, namun Tian Meng sudah berjalan jauh dan tidak menggubris perkataan Fang Ling.


Han Dong menyentuh tangan kiri Fang'Ling dengan sikutnya,"Hei adik Fang, Tian Meng sangat tidak suka ketika orang-orang bertanya jika dia perempuan atau laki-laki, karena sebenarnya dia itu perempuan berdada datar, karena itulah setiap orang melihatnya akan mengira jika dia laki-laki,"


Fang Ling mengangguk,"Ternyata begitu, tapi...Sekarang hanya ada kita berdua, bagaimana jika kita pergi saja ke altar tetua karena sepertinya sudah siang hari dan tempat ini sudah sepi,"


"Jangan takut adik Fang, selama kau berada di dekatku tidak ada yang bisa membahayakan mu, jadi santai saja,"Han Dong menepuk pundak Fang Ling sambil tertawa lantang.


"Benarkah ? Lalu kejadian apa yang terjadi beberapa menit yang lalu ??"Fang Ling menatap Han Dong dengan tatapan meremehkan.


"Pepatah mengatakan, yang berlalu biarlah berlalu, jadi tidak ada gunanya kita mengingat hal lalu karena kini kita di hadapankan dengan pilihan,"Han Dong berkata bijak untuk menutupi rasa malunya mengingat ia hampir di pukul di hadapan seorang junior.


"Benarkah ?? aku ragu kau bisa hidup tenang jika aku dan senior Hian Ceng tidak ada, karena sepertinya senior lain menyimpan dendam kepadamu,"


Seketika bulu kuduk Han Dong berdiri membayangkan amarah teman-teman seangkatannya,"Tenang saja, aku ini lumayan kuat dan bisa menjaga diri,"

__ADS_1


Di tengah-tengah pembicaraan Fang Ling dan Han Dong seorang perempuan bertubuh Milf berjalan menghampiri mereka dengan sapu tangan di pundaknya, dia adalah pemilik tempat makan itu.


"Adik berdua sekalian, kalian harus segera pergi ke altar tetua karena pemilihan akan segera di lakukan,"Perempuan itu berkata dengan tatapan mata tertuju pada adik kecil Fang Ling.


Melihat tatapan genit wanita itu membuat bulu kuduk Fang Ling berdiri, dia langsung mengucapkan terimakasih kepada pemilik rumah makan itu dan menyeret Han Dong pergi meninggalkan tempat itu.


"Apa yang kau lakukan adik, kita belum makan sama sekali,"Han Dong menatap rumah makan di hadapannya dengan kerah baju di seret Fang Ling.


"Kita akan makan lain kali, jika kita kembali mungkin saja kita yang akan di makan pemilik restoran itu,"Fang'Ling berkata dengan wajah pucat membayangkan tatapan genit wanita penggoda itu saat menatapnya.


Alhasil karena keduanya tidak jadi makan, Fang Ling dan Han Dong memutuskan untuk terbang ke altar tetua untuk melakukan pertemuan.


Berkat bantuan Han Dong yang tau pasti di mana tempat altar tetua, mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di tempat perkumpulan itu dan langsung di sambut dengan keramaian dari tetua maupun murid senior dan junior yang sudah duluan berkumpul di tempat itu.


Terdapat dua arena besar di tengah-tengah kerumunan itu dan juga sudah di isi oleh dua orang petarung di kedua arena itu.


"Jadi begini cara mereka memilih siapa yang akan mengikuti perjalanan ke kerajaan benua teratai perak,"Batin Fang Ling, dia menyaksikan pertarungan di atas area di depannya walaupun sedikit tidak jelas akibat adanya orang-orang yang menghalangi.


"Sangat lemah !! ayo siapa lagi yang berani melawanku di dalam pertarungan ini,"Pemuda bertubuh besar itu nampak sangat sombong dengan memamerkan kemenangannya.


Terlihat semua orang tidak ada yang menerima ajakan itu karena merasa takut melihat kemampuan tinggi pemuda berbadan besar itu, ketika tatap pemuda besar itu tertuju pada Fang Ling sudut bibir langsung terangkat.


"Kecoak ! bagaimana jika kau naik ke atas arena dan melawanku, jangan khawatir !! aku akan sedikit lemah lembut kepada seorang junior,"Pemuda itu berkata dengan nada merendahkan, bahkan para tetua yang melihat kejadian itu menggelengkan kepala.


Di tempat kursu penilaian terlihat Tiga kursi yang di tempati Mu Tong, Shin Hye dan seorang pria buncit yang wajahnya sangat mirip dengan pemuda sombong yang menantang Fang Ling.


"Anak ku memang sangat hebat, kelak akan menjadi kebanggaan sekte naga langit, seharusnya kalian bangga mendapatkan murid sehebat dia,"Ujar pria buncit itu sambil meninggikan kemampuan anaknya di hadapan Shin Hye dan Mu Tong.


Shin Hye tertawa mengejek,"Bangga ? seharusnya kau merasa prihatin karena anak mu sudah salah memilih lawan, ini sama saja dengan monyet menantang godzila untuk bertarung,"


Sontak pria buncit itu terkejut dia langsung menoleh ke arah arena tempat anaknya bertarung, terlihat pemuda bertubuh besar itu terkapar di lantai dengan kedua tangan patah.


"Apa ! sejak kapan orang itu sudah berada di atas arena,"Pria itu membuka mulutnya lebar-lebar begitu baru sadar jika Fang Ling sudah berada di atas arena.

__ADS_1


Keterkejutan ini juga melanda semua orang dan seluruh tetua yang berada di tempat itu, karena sempat melihat Fang Ling dengan mudah mematakan kedua tangan lawannya.


"Hanya bermulut besar saja sudah mengaku kuat,"Fang Ling tegak berdiri di atas arena memandangi pendekar lain, hingga membuat mereka semua tertunduk ketakutan.


Akhirnya karena tidak ada yang berani melawan Fang Ling, tetua berperut buncit yang anaknya telah di kalahkan Fang Ling turun tangan untuk menghadapinya.


"Berani sekali kau berlagak sok kuat, mari kita bertarung dan aku akan mengajarimu bagaimana memberikan rasa sakit hingga membuat lawan mu menyerah,"Bentak pria itu dengan suara lantang.


"Hoooaamm, Sungguh memalukan !! bukanya anak mu yang berlagak sok kuat, lihatlah apa yang terjadi dengannya sekarang ? ternyata sifat anaknya sangat mirip dengan ayahnya yang belagu, ternyata benar buah tidak jatuh terlalu jauh dari pohon,"


Keadaan langsung menjadi hening seketika begitu secara terang-terangan Fang Ling menghina seorang tetua di depan umum, hal ini membuat pria buncit itu menjadi murka dan terlihat sangat marah.


Sedangkan di atas kursi Shin Hye terlihat sangat terkejut dan bersemangat melihat pertama kalinya seorang junior menantang seorang tetua.


Jangan lupa tiga hal :


1.Vote


2.Like


3.Komen


Pemaksaan, siapa saja yang tidak mau akan di bantai Fang Ling


Mampir juga ke novel teman aku, judulnya :


•Legenda dewa pohenix


•Legenda dewa kematian


•Pendekar pedang abadi


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2