
"Kalian sembunyi saja di sini, kurasa mereka tidak akan tau posisi rumah ini karena berada jauh dari rumah lain,"
Seorang perempuan yang di selamatkan Fang Ling tadi berdiri, dia memandang Fang Ling dengan tatapan mengkhawatirkannya.
"Lalu, bagaimana denganmu ?"
"Aku akan menyelamatkan penduduk yang lain, kalian sembunyi saja dengan baik hingga aku kembali membawakan sesuatu untuk kalian,"
Apa yang di katakan Fang Ling sontak saja membuat orang-orang terkejut, mengenai hal yang akan di bawa pemuda itu saat dia kembali. Namun, berselang beberapa lama Fang Ling menghilang memasuki udara kosong.
Di hutan belakang gunung, gadis yang awalnya bersama Fang Ling nampak tengah terpojok. Di belakangnya terdapat jurang, sedangakan di depannya lima orang yang tadi mengejar nampak mengeluarkan pedang.
Kelima orang itu nampak berniat membunuh gadis itu, salah satu dari mereka melangkah maju membawa sebilah pedang biasa dengan niat membunuh yang terpancar di kedua matanya.
"Mau lari kemana lagi, Ha ? Kau kira, kau bisa terus berlari dari kami...Sekarang, temui raja Yaman !
Pria itu mengangkat pedangnya dan langsung menebas ke arah perempuan di hadapannya, hingga pedang itu mengenai sesuatu yang keras.
"Kau harus gunakan pedang yang lebih kuat dari ini, karena pedang ini tidak akan bisa melukai ku,"
Pedang itu tepat mengenai batang leher Fang Ling. Namun entah karena apa, pedang itu tidak mampu memotongnya seolah sedang di hadapkan pada sesuatu yang sangat keras.
Sempat terkejut dengan kedatang Fang Ling yang tiba-tiba. Pria itu kembali menebas leher Fang Ling, hingga menciptakan percikan api saat menyentuh kulitnya.
"Kau bisa melakukanya lagi, jika mau. Tapi, jika bisa melihat kecepatanku,"
Tiba-tiba Fang Ling menghilang dari hadapan pria pertama, dia kembali muncul di hadapan pria yang berdiri paling belakang.
"Kena, selamat tidur,"
Dengan cepat Fang Ling memukul leher pria itu hingga dia pingsan, kemudian Fang Ling kembali menghilang dan muncul lagi di salah satu orang, Pria itupun bernasib sama dengan pria sebelumnya.
Hanya dalam waktu singkat, empat orang sudah tumbang dan menyisakan seorang pria yang hampir membunuh gadis yang bersama Fang Ling.
Pria terkahir itu nampak ketakutan, tangannya bergetar hebat hingga menjatuhkan pedang. Tiba-tiba, Fang'Ling berada di hadapan pria itu dan langsung mencekiknya.
"Apa kau bisa melihat kecepatanku ?
Pria yang di hadapkan dengan kematian itu nampak tidak dapat berbicara, karena memang sedang di cekik. Bahkan, cekikan Fang Ling tidak main-main karena bisa membuat tulang leher pria itu berbunyi.
__ADS_1
"Percaya atau tidak, aku bisa mematahkan leher mu dengan mudah,"
"Aku akan memberikan mu dua pilihan, mati...atau kau mau memberitahu ku dimana kalian menyembunyikan warga lain, setelah itu aku akan melepaskan mu,"
Fang Ling melonggarkan sedikit cekikanya agar pria itu bisa berbicara, walaupun sempat kesulitan untuk bernafas diapun akhirnya berkata.
"Orang-orang itu berada di bawah kaki gunung. Di tempat itu terdapat sebuah rumah besar, di sanalah mereka di sembunyikan,"
Mendengar hal itu, sang gadis nampak mengingat sesuatu,"Disitu tidak ada rumah, karena semuanya telah di jadikan lahan pertanian,"
Fang Ling menatap mata pria itu dengan ekspresi wajah tersenyum, seolah membunuh bukanlah sesuatu yang mengerikan baginya.
Melihat hal itu langsung saja wajah pria itu menjadi sangat pucat, dengan tubuh tidak berhenti bergetar.
"Tu-Tuan,"
"Ah-Sampaikan salamku kepada martin,"
Karena tidak kunjung apa yang di katakan nya di jawab, Fang Ling terlihat murung. Diapun mencekik kuat leher pria itu hingga patah dan membuang mayatnya ke dalam tebing.
"Bagiamana kita tau tempat mereka menyembunyikan penduduk lain,tuan ? Sedangakan semua orang itu pingsan,"
"Tidak masalah, aku tetap bisa menemukan mereka dan lagi aku sudah lelah dan ingin segera tidur,"
Fang Ling menciptakan ratai Holow, kemudian mengikat kaki empat pria yang telah pingsan. Setelah semuanya selesai di ikat, Fang Ling mengikatkan ujung ratai lain ke kaki kanannya sendiri.
Dengan mudah tanpa beban sama sekali, Fang Ling berjalan menyusuri hutan karena kini dia berada di belakang gunung. Dapat di rasakannya, jika orang-orang desa di simpan di suatu tempat di gunung ini.
Sedangkan di samping Fang Ling. Sang perempuan nampak sedikit ketakutan dengan cara Fang Ling membunuh dan memperlakukan orang yang pingsan dengan menyeretnya.
"Kau merasa kasihan dengan orang-orang ini ? Harus kau ingat, mereka telah membantai dan memperlakukan wanita seumuran mu seperti pelacu*
"Seharusnya kau marah,"
Walau apa yang di katakan Fang Ling memang benar. Tapi, tetap saja gadis itu terlihat tidak tega karena kelima orang itu tidak pernah menyentuhnya atau temanya sama sekali.
Setelah berjalan beberapa saat sampailah Fang Ling di depan sebuah rumah besar di tengah hutan, di dalam itu terdapat orang-orang desa yang di kurung.
Ternyata tempat itu tidak di jaga sama sekali, tapi Fang Ling merasa ada yang janggal dengan hal itu. Diapun melepaskan ikatan rantai seorang pria yang di seretnya, pria itupun Fang Ling lempar ke halaman rumah di hadapannya.
__ADS_1
Seketika terdengar suara ledakan, saat tubuh pria itu menyentuh tanah di halaman rumah tersebut.
Boooooom
Tubuh orang itu hancur berkeping-keping akibat jebakan yang di tanam di dalam tanah. Kemungkinan besar, jebakan itu mengelilingi rumah karena itulah orang-orang di dalam rumah tidak ada yang berani keluar.
Fang Ling berjongkok, diapun memperhatikan seluruh halaman rumah itu yang di tanam sesuatu yang mudah meledak.
"Ternyata ini alasannya tempat ini tidak di jaga sama sekali, senjatan ini bernama bubuk peledak,"
"Lalu bagaimana cara kita ke sana tuan ?"Ujar sang perempuan di samping Fang Ling.
Karena berpengalaman dalam menangani perkara seperti ini, Fang Ling cukup membuat sesuatu yang bisa menutupi tanah yang di kubur bubuk peledak.
Setelah berpikir beberapa saat Fang Ling mendapatkan hasil yang memuaskan, dia berencana untuk membekukan tempat ini agar aman untuk di lewati.
Fang Ling menyentuh tanah dengan ujung telunjuk, seketika area halaman rumah itu membeku berserta hewan-hewan yang kebetulan lewat.
"Ayo, ikuti aku,"
Dengan santai Fang Ling berjalan di tanah yang sudah di lapisi dengan es yang cukup tebal, sehingga Fang Ling dapat berjalan di atasnya dengan aman.
Setelah menaiki beberapa anak tangga rumah,Fang Ling membuka pintu rumah itu dan menemukan puluhan orang di dalamnya.
Orang-orang itu nampak ketakutan, mereka baru dapat tenang saat melihat gadis yang datang bersama Fang Ling.
"Cuan An, kau masih hidup,"
Nampak seorang nenek yang sudah tua dan rentan, memanggil sebuah nama. Secara spontan, gadis di samping Fang Ling berlari menghampiri nenek itu.
"Nenek, kau di sini...Jangan takut, pendekar itu datang untuk menyelamatkan kita,"
"Benarkah, An kecilku ?
Fang Ling yang berdiri di ambang pintu tersenyum ke arah semua orang.
"Benar, aku datang untuk menyelamatkan kalian,"
Semua orang di dalam rumah itu nampak sangat senang, mereka semua berjalan menghampiri Fang Ling dan mengucapkan terimakasih kepadanya.
__ADS_1
"Tidak masalah. Sepertinya, kita memiliki tamu. Kebetulan sekali, aku sudah sangat tidak sabar memukul seseorang,"
Bersambung....