
Rintik hujan mengiringi kematian Wing Muvhien, sedangakan Fang Ling terlihat membakar jasadnya menggunakan api suci hingga jasad itu berubah menjadi abu berwarna hitam.
"Sebaiknya kau memiliki cukup uang untuk membayar semua prajuritku yang mati selama perang,"
Fang Ling kembali menggunakan jubah tempurnya dan terbang ke arah Utara. Dia terbang dengan sangat cepat hingga dalam sekejap mata, Fang Ling sampai di benteng yang dibangun aliran hitam pasukan Wing Muchien.
Benteng itu berbentuk bundar, terbuat dari kayu dengan diameter yang lumayan besar. Di dalamnya juga terdapat banyak bangunan, dari yang kecil sampai yang besar dan sangat mewah.
Juga terlihat benteng itu berada di tengah-tengah hutan lebat, sehingga dapat di katakan jauh dari pemukiman warga sekitar.
Merasa tertarik dengan bangun paling mewah berwarna hitam di bawahnya, Fang Ling terbang menurun dan berjalan memasuki bangunan tersebut.
Terdapat beberapa ruangan di dalam bangunan mewah itu, tapi Fang Ling mencari yang lain.
Dia mencari tempat penyimpanan uang. uang itu akan digunakan sebagai kompensasi bagi keluarga yang di tinggalkan, serta kerugian bagi sekte-sekte yang telah membantu.
Tapi selama keluar masuk ruangan, Fang Ling tidak menemukan tempat penyimpanan uang yang di carinya. Hingga saat akan keluar, telinga Fang Ling tidak sengaja mendengar suara langkah kaki di dalam ruangan itu.
Tidak jauh dari tempat Fang Ling berdiri, seorang wanita paruh baya bersembunyi di balik tembok sambil memperhatikan Fang Ling dari sebuah celah.
"Kuharap dia tidak menemukan ku,"
Wanita paruh baya itu nampak sangat ketakutan, dia sangat berharap jika Fang'Ling tidak dapat menemukannya.
Hingga berselang beberapa detik saat perempuan itu berkedip, Fang Ling tiba-tiba menghilang dari ambang pintu. Sontak saja, perempuan itu langsung terkejut, hingga di belakangnya Fang Ling tiba-tiba muncul.
"Mencari ku ?
Perempuan itu berteriak sejadi-jadinya, ia terkejut sekaligus ketakutan. Perempuan itu mencoba melarikan diri, namun Fang Ling menarik tangannya.
"Jangan seperti ini, aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu...Jika kau jawab dengan jujur akan ku biarkan kau hidup lebih lama,"
"Kau mengerti kan ?
Tatapan Fang Ling menjadi dingin, membuat perempuan paruh baya yang melihatnya semakin ketakutan dan akhirnya mengangguk.
"Bagus...Aku jamin pilihanmu kali ini tidak salah, nona...Jadi di mana ruang harta di tempat ini ?
Pertanyaan Fang Ling membuat perempuan paruh baya itu terdiam, dia nampak ketakutan hingga akhirnya berbicara.
"Maaf, tuan. Aku tidak bisa mengatakannya...Jika aku melanggar, maka Tuan Wing Muchien akan memenggal kepala ku,"
"Kumohon ampuni nyawa ku, tuan,"
Perempuan itu malah bersujud ke arah Fang Ling. Hal ini membuat Fang Ling merasa pusing.
"Kau ini apa-apaan, aku bertanya dan kau malah bersujud...Aku tidak berniat membunuhmu, jadi berdirilah,"
Perempuan itu langsung berdiri. Dia nampak sangat ketakutan namun juga mencoba untuk tetap sopan agar tidak menyinggung pendekar di hadapannya.
Fang Ling melepaskan genggaman tangannya agar tidak menakuti perempuan di hadapannya, lalu Fang Ling menghilangkan jubah tempurnya.
__ADS_1
Entah kenapa, perempuan di hadapan Fang Ling langsung berjongkok dan hendak menyentuh adik kecil Fang Ling. Namun serangan itu langsung di tangkal Fang Ling, dengan melompat kebelakang.
"Nona ! jangan permainkan aku !! Aku hanya bertanya dengan mu, kenapa susah sekali bagimu untuk menjawab,"
Perempuan paruh baya itu kembali berdiri, dia menatap Fang Ling dengan tatapan kasih sayang seorang ibu dan entah kenapa Fang Ling merasa ada yang aneh dengan perempuan itu.
Memang perempuan itu jauh lebih cantik dan molek dari perempuan lain, tidak hanya itu. Penampilannya juga tidak seperti pelayan, hingga Fang Ling menyimpulkan sesuatu.
"Kau di culik oleh Wing Muchien ?
Perempuan itu kemudian langsung menangis, dia duduk dan merangkul kedua lututnya.
"Benar, aku adalah salah satu tahanan Wing Muchien...Aku berasal dari kerajaan teratai perak, sudah sangat lama aku berada di tempat ini...Selama itu juga aku selalu memuaskan hasrat Wing Muchien,"
Mendengar cerita itu tanpa sadar Fang Ling mengepal kuat tangannya, dia terlihat sangat murka. Ternyata di hadapannya saat ini adalah ibu dari Sin Yintian, seharusnya dia tidak langsung membunuh Wing Muchien.
"Binatang itu ternyata seperti ini...Martin !!!
Fang Ling berteriak keras, hingga di sampingnya muncul sebuah retakan dimensi. Martin keluar dari tempat itu dengan membawa jiwa Wing Muchien bersamanya.
"Aku menyerah, dosa orang ini terlalu banyak...Bahkan raja Yaman menyuruh ku untuk menyerahkan jiwa ini kepada mu, Jadi kau ingin melakukan apa kepadanya ?
Melihat kebetulan itu membuat Fang Ling tersenyum puas, dia menatap Martin dengan tatapan penuh makna.
"Kebetulan sekali, hidupkan dia kembali...Dia akan mati lagi setelah aku memberikannya pada Sin Yintian, gadis itu yang akan menyiksanya,"
Martin menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah jangan di pikirkan, Martin... Sekarang lakukan apa yang aku katakan,"
"Tunggu di sini...aku akan segera kembali,"
Martin Kembali masuk ke dalam portal. Sedari tadi, ibu Sin Yintian hanya terus memperhatikan percakapan kedua orang itu dengan tubuh menggigil.
"Jangan takut, dia tidak akan melukaimu... Kemari-lah, katakan dimana tempat penyimpanan harta,"
Ibu Sin Yintian nampak ragu, dia berdiri dan nampak masih ragu,"Tapi...
"Bukankah Anda sudah lihat jika Wing Muchien sudah mati... Mungkin nanti dia akan kembali hidup, dengan begitu kau bisa menyiksanya sepuas yang kau mau,"
Ibu Sin Yintian mengangguk,"Aku akan mengantarmu ke tempat itu,"
Setelah yakin jika Wing Muchien tidak akan lagi melukainya, Ibu Sin Yintian menuntun Fang Ling keluar ruangan itu dan pergi ke sebuah tempat terpencil di benteng tersebut.
Tempat tersebut berupa bangunan berdiameter sangat kecil, di lantainya terdapat sebuah pintu. Ibu Sin Yintian membuka pintu itu, langsung cahaya keemasan keluar dari dalam ruangan rahasia di bawahnya.
Karena ruangan itu cukup dalam, Fang'Ling menggendong ibu Sin Yintian dan melompat memasuki ruangan rahasia di bawahnya.
Apa yang di lakukan Fang Ling membuat Ibu Sin Yintian menjadi sangat malu mengingat kejadian tadi, apalagi pemuda itu tengah telanjang dada.
Taaap
__ADS_1
Fang Ling mendarat dengan selamat, dia menurunkan ibu Sin Yintian yang wajahnya sudah merah padam.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh, aku tidak menginginkan hal seperti itu... Berhentilah berpikir jika kau perempuan kotor dan lupakan semua yang di lakukan Wing Muchien kepada mu,"
"Satu lagi...Jika hari ini kau merasa sangat kotor, cobalah untuk ingat... Bahwa, setiap pajar adalah awal baru bagi mu,"
Fang Ling tersenyum, sedangkan Ibu Sin Yintian terdiam dan membeku dengan posisi berdiri karena dia merasa kini bebannya menghilang.
Kedua pundaknya terasa ringan, namun dia masih malu untuk pulang mengingat dirinya menjadi budak nafsu bagi Wing Muchien selama bertahun-tahun.
"Jangan mengkhawatirkan hal itu, tidak ada yang tau... Mungkin hanya Sin Yintian, tidak mungkin dia tidak mau menerima ibunya sendiri,"
Ibu Sin Yintian kembali menjadi tenang, dia menatap Fang Ling dengan lembut. Kali ini tidak ada nafsu, melainkan tatapan seorang ibu kepada anaknya.
"Terimakasih, anak muda...Siapa nama mu ?
"Namaku Fang Ling,"
Setelah mengatakan itu, Fang Ling berlari melihat ruangan tanah yang sangat luas. Tempat itu di penuhi dengan koin emas yang menggunung, bahkan tidak lagi terhitung jumlahnya.
Langsung saja Fang Ling mengambil semua orang itu dan memasukannya ke dalam cincin dimensi. Cincin itu menghisap semua koin emas hingga tidak tersisa sedikitpun.
Emas yang awalnya menggunung kini tidak tersisa sama sekali. Di tengah-tengah itu, Martin tiba-tiba muncul di retakan dimensi dengan membawa Wing Muchien yang kembali hidup bersamanya.
"Raja Yaman akan menandai mu karena telah meminta dia untuk di hidupkan kembali...Dia tidak lagi mampu berkultivasi,"
Fang Ling menciptakan sebilah pedang, dia memberikan pedang itu kepada ibu Sin Yintian.
"Balaskan rasa sakit yang kau rasakan kepadanya...Ku sarankan untuk membunuhnya secara perlahan-lahan,"
Walaupun sedikit ragu, Ibu Sin Yintian terlihat sangat marah mengingat penderitaan yang di rasakan nya selama bertahun-tahun.
Ibu Sin Yintian mengambil pedang yang di berikan Fang Ling, dia menebas adik kecil Wing Muchien hingga pria itu hanya dapat menjerit.
"Bajinga* ! kau harus membayar semua yang kau lakukan kepadaku,"
Melihat apa yang di lakukan ibu Sin Yintian saat menebas adik kecil Wing Muchien, entah kenapa Fang Ling dan Martin juga ikut merasakannya.
"Sialan, dia sangat gila...Kenapa ku menghidupkannya kembali bodoh,"Bisik Martin.
"It-itu, kupikir tidak adil jika Ibu Sin Yintian tidak menyiksa sendiri Wing Muchien, mengingat pria itu sudah melakukan hal tidak senonoh kepadanya,"
Dengan beringas karena terpancing emosi, Ibu Sin Yintian menebas-nebas tubuh Wing Muchien hingga dia puas dan pria itu juga sudah mati dengan tubuh hancur tersayat pedang.
Jangan lupa tiga hal :
Vote
komen
like
__ADS_1
Mohon bantuannya 🐾🐾