Legenda Pendekar Pedang

Legenda Pendekar Pedang
Legenda tiga kaisar naga V


__ADS_3

Pertemuan singkat itu menjadi awal cerita keduanya, di dalam kediamannya Ranzel terus di bimbingan oleh ibu angkatnya. Hanya membutuhkan waktu beberapa tahun, ia sudah mampu mengendalikan elemen es miliknya.


Walaupun dirinya sendiri yang mengajari Ranzel bagaimana cara bertahan dan menyerang, perempuan itu nampak tidak percaya melihat anak angkatnya sudah masuk ke tingkat setengah abadi di umur dua puluh tahun.


Kemampuannya sangat dahsyat, selama bertahun-tahun fokus dengan pelatihan, Ranzel tidak pernah bertemu dengan gadis berambut biru sejak pertemuan sikat mereka beberapa tahun lalu.


Setelah selesai berlatih Ranzel akan terus menatap keluar jendela pada malam hari, berharap dapat melihat gadis berambut biru walaupun sebentar. Namun, dia tidak kunjung melihat gadis itu selama berminggu-minggu menunggu.


Tibalah malam festival tahunan yang di adakan di dalam sekte dan meliputi ribuan murid sekte yang semuanya berkelamin perempuan. Di malam itu, di luar kamar Ranzel cahaya lampu dan kembang api menghiasi langit malam.


Perasaan Ranzel yang sudah mencapai puncak untuk bertemu gadis berambut biru, akhirnya pergi meninggalkan kamar untuk mencari ibu angkatnya.


Sesampainya di dalam ruangan yang biasa di gunakan matriak sekte untuk mengurus surat, Ranzel langsung bersujud di hadapannya. Matriak sekte yang sedang mengurus beberapa berkas terlihat kebingungan, melihat Ranzel bersujud ke arahnya.


"Nak ? apa yang sedang kau lakukan, apakah kau ingin mengatakan sesuatu ?? Atau kau takut tidur sendirian lagi,"Ucap perempuan itu dengan nada lembut.


"Ibu, aku ingin pergi keluar untuk mencari seseorang... Kuharap ibu memperbolehkan,"


"Tidak, kau tidak boleh keluar ! bukankah aku sudah memberitahu mu untuk tidak pernah keluar dari kediaman ini, karena kau adalah laki-laki !! aku takut kau akan mati seperti anak ku,"


"Aku mengerti, tapi aku juga ingin merasakan kebebasan dan juga, bukankah kemampuan ku sudah berada di puncak tidak ada yang mampu menandingi ku,"


"Tidak kau tetap tidak boleh, jika kau berani mengatakan ingin keluar ibu akan benar-benar membunuh mu,"


"Aku tidak peduli, aku tetap ingin keluar aku juga ingin merasakan hidup di alam bebas bukan di dalam sangkar seperti ini,"


"Apakah kau menentang ibu ! apa yang membuat mu ingin pergi keluar hingga rela mati, apakah ada sesuatu yang sedang kau kejar di luar sana ?


Ranzel terdiam beberapa saat, pikirannya kini hanya tertuju pada seorang gadis cantik berambut biru,"Benar ! dia adalah gadis berambut biru, aku tidak mengingatnya sama sekali...Tapi, aku merasa dia begitu berarti untuk ku,"

__ADS_1


"Gadis berambut biru ? maksud mu Luo Yi,"


"Ibu mengenalnya ?! Jadi namanya adalah Luo Yi," Tanya Ranzel dengan semangat.


"Tentu saja ibu mengenalnya, dia adalah orang yang menemukan mu saat hanyut di sungai...Dulu kau sangat lucu, tapi sekarang kau sudah mulai berani melawan ibu mu ini,"


Mata Ranzel melebar dia mengingat kejadian beberapa tahun lalu, dimana saat itu Luo Yi menggerakkan kedua tangannya seolah mencoba untuk mengatakan sesuatu.


"Apakah kau mencoba untuk mengatakan ini ? Batin Ranzel, perasaannya semakin kuat terhadap Luo Yi dia berlari ke luar ruangan tapi ibu angkatnya tidak mengejar dan hanya menatapnya dari tempat duduknya.


"Kau sudah dewasa, aku sudah tidak mempunyai hak untuk mengurung mu lebih lama,"Kata Matriak sambil mengingat kenangannya bersama Ranzel selama beberapa tahun hidup bersama.


Dengan perasaan yang mengebul-ngebul layaknya seperti bara api, Ranzel keluar dari kediamannya dan membuat semua perempuan yang sedang merayakan festival terkejut.


"Aaahhh ! ada laki-laki !!"


Ribuan perempuan yang ada di tempat itu mengeluarkan pedang masing-masing dan mengarahkannya ke arah Ranzel, Pemuda itu tersenyum kecil sebelum tubuhnya menjadi butiran salju kemudian menghilang tertiup angin.


Tubuh Ranzel kembali muncul di atas atap bangunan, wajahnya pucat dengan tubuh di penuhi keringat dingin,"Pantas saja ibu melarang ku keluar kediaman,"Batin Ranzel sambil memperhatikan ratusan perempuan yang sedang mencarinya.


Langsung saja Ranzel bergerak cepat menuju tempat dimana dia dan Luo Yi pernah bertemu pertamakali, Karena tempat itu cukup jauh Ranzel membutuhkan waktu sedikit lama karena harus berhati-hati.


Dengan hati-hati Ranzel melompat dari atap ke atap lain untuk melewati barisan perempuan yang ingin membunuhnya, hingga di kejauhan mulai nampak gerbang sekte yang megah berukuran besar dan berwarna merah.


Tubuh Ranzel membeku di atas atap cukup jauh dengan gerbang sekte, dia melihat seorang perempuan berambut biru sedang duduk di sebuah kuris batu di hari yang begitu dingin.


Langsung saja Ranzel melompat dari atas atap untuk menghampiri gadis itu namun dia terjatuh karena menginjak genangan air, alhasil suara terjatuhnya membuat perempuan-perempuan yang mencarinya mendekat.


"Ada suara di sini ! ayo kita cari, jika tertangkap aku ingin bagian pahanya,"

__ADS_1


"Tidak, kita akan bagi sama rata, bagaimana jika kita memanggangnya ?


"Ide yang bagus !


Setelah ratusan perempuan bar-bar itu sampai di tempat Ranzel terjatuh, mereka tidak melihat apa-apa di sana dan menemukan sebuah jejak darah yang berjalan ke arah utara.


Dengan bodohnya ratusan perempuan itu mengikuti jejak darah yang mereka temukan, membuat Ranzel yang bersembunyi mempunyai kesempatan untuk keluar.


Dengan terpincang-pincang Ranzel berjalan ke arah Luo Yi yang masih duduk di kursi batu yang berada dekat dengannya. Setelah cukup dekat, Ranzel dapat melihat dengan jelas wajah pucat Luo Yi karena kedinginan.


Dengan cepat Ranzel berlari menghampiri Luo Yi dengan rasa sakit yang kini tidak di rasakan nya sama sekali, Ranzel membalut tubuh gadis itu dengan jubah miliknya.


"Apakah kau tidak apa-apa ? kau kedinginan, dimana rumah mu ?? Tanya Ranzel sambil menatap dua pasang mata hitam di hadapannya.


Luo Yi tidak menjawab dia hanya dapat menangis, perlahan ujung jarinya menyentuh wajah Ranzel dengan pandangan seduh.


Perlahan Luo Yi berjalan ke arah kuris dan mengambil selembar kertas dan kuas yang terus di bawahnya saat menunggu Ranzel kembali ke tempat ini. Terlihat gadis itu sedang menulis sesuatu, hingga ia menunjuk hasil tulisannya kepada Ranzel setelah beberapa saat menulis.


"Akhirnya kau kembali, aku sudah menunggu mu... Selamat datang kembali,"


Air mata Ranzel menetes dan berubah menjadi butiran salju indah, ia tidak menyangka jika gadis rapuh di hadapannya terus menunggu selama sepuluh tahun hanya untuk bertemu dengannya.


"Ya aku kembali, maaf sudah membuat mu menunggu lama... Mulai saat ini aku tidak akan pernah meninggalkan mu,"


Dengan tubuh bergetar hebat karena menangis, Ranzel memeluk gadis cantik di hadapannya yang telah menyelamatkan dirinya dari kematian.



Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2