
Pernyataan Fang Ling bersama dengan Yen Siulan yang kompak dengan mengatakan jika mereka adalah pasangan, tidak membuat semua orang di keluarga Yen terkejut.
Yen Siulan terlihat bingung sebab kali ini ibunya yang di kenal cerewet hanya diam tidak berkata, biasanya perempuan paruh baya itu akan menentang semua yang di inginkan Yen Siulan.
"Ibu, kenapa sekarang kamu tidak marah ?"Dengan perasaan bingung Yen Siulan menatap ibunya yang duduk di samping Yen Chun.
Ibu Yen Siulan bernama Yen Mu, perempuan paruh baya berambut hitam pekat dengan wajah terlihat garang.
Dengan wajah ketus tanpa ekspresi, Yen Mu menatap Yen Siulan."Jadi kamu berharap ibu marah ?
Yen Siulan tersenyum canggung."Tentu saja tidak, hanya saja ibu sedikit aneh karena kali ini tidak marah. Lalu bisakah ibu memberikan alasan mengapa tidak marah setelah aku membawa seorang pria, lalu mengatakan jika kami berpasangan."
Yen Mu menatap Fang Ling dan Yen Siulan bergiliran."Apakah harus ada alasan ? Kalian berdua sangat serasi, jika melihat kalian berdua semua orang juga akan segera mengerti ada sesuatu di antara kalian."
Fang Ling menggaruk kepala."Apakah sejelas itu ?
Yen Chun tersenyum."Tentu saja ! Siapa saja yang melihat kalian berdua, maka mereka akan langsung berpikir jika kalian adalah dua pasangan karena terlihat sangat serasi."
Yen Siulan menunduk dengan wajah memerah seraya bermain dengan jarinya."Lalu apa ayah dan ibu boleh kami berpasangan ?
Yen Chun mau membuka mulut dan mengiyakan perkataan Yen Siulan. Tetapi suara geplakan meja terdengar lebih dulu, membuat kata-kata Yen Chun terhenti di ujung tenggorakan.
Semua orang menatap ke arah sumber suara keras tadi.
Ternyata suara keras tadi di karenakan Yen Kian menggeplak meja, dia terlihat sangat marah jauh lebih marah dari sebelumnya.
"Jika kamu berani mengikat suatu hubungan kepada cucu ku, maka kau juga harus siap mengangkat pedang dan berduel denganku !"
Fang Ling sontak kaget."Tuan, eh. Kakek, aku tidak mungkin melawan mu."
Fang Ling merasa tidak mungkin melawan Yen Kian, bukan karena tidak sanggup melainkan karena menghormati agar tidak menyinggung Yen Kian.
Tetapi Yen Kian malah salah menafsirkan perkata Fang Ling, sehingga dia menganggap perkataan Fang Ling adalah bentuk dari meremehkan.
"Kenapa tidak ? Owh, kamu sedang meremehkan ku karena aku sudah akan mati di makan usia ?!
Fang Ling menjadi bingung untuk mengambil langkah, sementara Yen Siulan yang sadar segera mengambil alih.
"Kakek, apakah kamu mau melihat cucu kesayangan mu ini sedih ?"Yen Siulan berkata manis, sambil membuat raut wajah manja.
Yen Kian yang awalnya sangat murka perlahan kembali tenang, ia tersenyum lembut ke arah Yen Siulan."Tentu saja tidak, semua yang kakek harapkan untuk Siu'er adalah hal baik."
"Nah kakek, jika begitu kamu harus setuju dengan hubungan kami. Gege ini memiliki sifat yang sangat baik, serta memiliki kemampuan tinggi. pasti tidak akan membuatmu kecewa."
Yen Kian terdiam sambil beralih menatap mata Fang Ling, kedua mata odd pemuda itu sudah cukup membuat Yen Kian merasakan hawa kuat terpancar dari tatapan Fang Ling.
Yen Kian menghela nafas panjang."Jika siu'er merasa keputusan ini baik untukmu, maka kakek tidak ada pilihan lain selain menyetujui-nya."
__ADS_1
Yen Siulan tersenyum bahagia."Terimakasih ! Kakek memang yang paling baik."
Yen Kian tersenyum puas melihat cucu kesayangannya tertawa bahagia, sudah lama sekali dia tidak melihat Yen Siulan sebahagia ini.
"Jika sudah begitu kakek akan pergi sekarang, ada urusan penting yang harus kakek lakukan."
Yen Kian bersama dengan istrinya pergi meninggalkan tempat tersebut, sementara dua saudara dan saudari Yen Chun juga ikut pergi karena selaku tetua sekte ada banyak urusan yang harus mereka lakukan.
Sementara Yen Chun dan Yen Mu nampak masih ada sesuatu yang harus di lakukan, sehingga hanya tinggal Fang Ling dan Yen Siulan di tempat tersebut.
Sebelum Yen Chun pergi Yen Siulan sudah mengatakan kepada ayahnya untuk menutupi hubungan dirinya dan Fang Ling dari semua orang. Yen Chun hanya mengangguk, sebagai ayah yang baik Yen Chun akan melakukan apapun untuk kebaikan Yen Siulan.
Setelah kepergian semua orang keadaan seketika menjadi sepi, agar tidak bosan Fang Ling dan Yen Siulan memutuskan untuk pergi jalan-jalan di sekitar altar di depan rumah.
Kali ini keadaan di altar besar berbentuk bundar tersebut nampak sepi, semua tetua pergi untuk bersenang-senang di pasar. Sehingga Yen Siulan tidak perlu menggunakan topeng, iapun juga leluasa berjalan ke sana kemari bersama Fang Ling tanpa harus takut ketahuan.
Seraya berjalan bersama, Fang Ling dan Yen Siulan juga bercerita mengenai banyak hal.
Yen Siulan melirik Fang Ling di samping."Gege, aku tidak menyangka jika kamu memiliki masa lalu yang kelam ."
"Ah, mengenai itu jangan terlalu di pikirkan Siu'er, sekarang Gege masih hidup dengan keadaan baik-baik saja."
"...."
Fang Ling melirik Yen Siulan."Kenapa diam ?
"Entah Siu'er, aku tidak yakin dengan perasaan ku kepada mereka. Jika mereka menyayangi ku, lalu mengapa mencoba membunuh ku saat itu ?
"Meski begitu mereka tetap orang tua mu, sudah seharusnya seorang anak berbakti kepada orang tua."
"Mungkin kamu benar, tapi setelah itu apa yang harus ku lakukan ? Bahkan keadaan mereka saja aku tidak tau."
Yen Siulan menghentikan langkah lalu menatap Fang Ling."Bagaimana kita pastikan ?
"Maksudmu ?
"Gege.. Kamu ini pura-pura tidak tau atau apa ? maksudku, bagaimana kita pergi ke kediaman mu dulu untuk memastikan keadaan orang tua mu."
"Memangnya apa yang kita dapat jika bertemu dengan mereka ? Mungkin sebelum itu, aku sudah lebih dulu kehilangan kendali dan membunuh siapa saja di sana."
Yen Siulan menjinjit dan menarik hidung Fang Ling."Gege tidak akan melakukan itu karena kamu adalah orang baik. Aku juga ingin bertemu dengan orang tua mu, sehingga mereka dapat melihat pasangan Gege yang cantik ini."
Fang Ling tersenyum seraya mengusap kepala Yen Siulan."Kamu terlalu yakin, janji hanya kali ini kita pergi ke sana."
Yen Siulan mengangguk."Baik aku janji, tapi kita harus benar-benar bertemu dengan orang tua mu."
Fang Ling mengiyakan perkataan Yen'Siulan, mereka berdua pun terbang menuju ke sebuah desa yang letaknya sangat terpencil serta lumayan dekat dengan hutan sebelum kota kabut.
__ADS_1
Hutan di bawah terlihat sangat lebat, setelah menempuh jarak yang membutuhkan waktu 5 menit Fang Ling dan Yen Siulan sampai di pinggiran desa kecil di bawah kaki gunung.
Fang Ling dan Yen Siulan mendarat tidak jauh di sekitar jalan masuk desa dan di lanjutkan dengan berjalan kaki. Desa yang di maksud hanya memikirkan rumah tidak lebih dari seratus dan beberapa cabang kepala desa, Fang Ling masih ingat krisis ekonomi yang melanda desanya berapa tahun yang lalu.
Krisis ekonomi ini ada sangkut pautnya dengan pemerintah yang tidak becus, karena itu pula Fang Ling menyimpan dendam tersendiri bagi pemerintah dan politik di benua.
Keadaan sangat kacau pada saat itu, namun kali ini tidak ada bedanya dengan yang dulu. Fang Ling dan Yen Siulan masih dapat menemukan beberapa orang duduk di pinggir jalan dengan kondisi tubuh kurus kering.
Bahkan juga terdapat mayat membusuk yang di biarkan tergeletak di pinggir jalan, di duga orang itu mati karena kelaparan. Yen Siulan merasa sangat miris, ia tidak pernah berpikir jika keadaan masa kecil Fang Ling seburuk ini.
Fang Ling menggenggam tangan Yen Siulan, sambil tersenyum melirik ke arahnya."Jangan terkejut Siu'er, kehidupan inilah yang ku rasakan selama beberapa tahun. Sangat berbeda denganmu yang hidup dengan rasa nyaman, kamu harus bersyukur."
"Kenapa bisa sampai seperti ini ? Apakah gara-gara aliran hitam ??
Fang Ling langsung menepis anggapan Yen Siulan."Tidak, justru hal seperti ini terjadi karena kebodohan pemerintah. Pada dasarnya, orang rendah seperti kami hanya di pandang sebelah mata dan tidak di anggap keberadaan-nya."
"Apakah karena hal tersebut Gege membenci politik ?"
Fang Ling tersenyum."Bisa di katakan seperti itu."
Setelah berjalan-jalan lumayan jauh dan akhirnya sampai di tengah-tengah desa, keadaan lagi-lagi sangat sepi nyaris tidak ada orang sama sekali.
Fang Ling berjalan bersama Yen Siulan menuju ke rumahnya dulu. Setelah sampai, rumah Fang Ling nampak hancur dan rata dengan tanah sampai-sampai hanya tertinggal atapnya saja.
"Kenapa rumah ini hancur ? Apakah sudah lama tempat ini di tinggalkan oleh penduduk lain."Batin Fang Ling.
Fang Ling mulai merasa bingung sebab hanya dapat melihat beberapa orang di desa ini bahkan tidak sampai lima orang. Fang Ling juga menduga-duga jika sebagai orang sudah mengungsi ke kota, tetapi jarak kota terdekat dan desa ini terpaut perjalanan selama seminggu menggunakan kuda.
Tidak mungkin orang-orang di desa ini pergi ke kota kabut, sebab hal itu sama saja dengan mencari mati karena hampir semua orang di desa kabut adalah pembunuh.
Di tengah-tengah penyelidikan, Fang Ling dan Yen Siulan mendengar suara barang jatuh dari belakang. Ternyata benda jatuh tadi adalah anak kecil, anak itu pingsan karena dehidrasi dan kelaparan.
Yen Siulan segera berlari menghampiri anak kecil yang tergeletak di depan, jiwa keibuan Yen Siulan mulai terlihat saat dia dengan lembut membopong tubuh kecil anak tadi.
Yen Siulan berjalan menghampiri Fang'Ling."Gege, anak ini masih hidup. Dia adalah anak laki-laki, aku akan merawatnya."
"Kamu yakin ? Merawat anak tidak sama dengan merawat anak ayam Siu'er."
"Tentu saja aku yakin Gege, dia akan di terima menjadi murid sekte. Jika kita membiarkan dia sendirian di sini, maka dia akan mati. Kebetulan sekali, anak ini memiliki kualitas kemampuan yang cukup hebat untuk seorang bocah berumur enam tahun."
Fang Ling memperhatikan keadaan anak di gendongan Yen Siulan, anak itu memiliki kulit putih tidak berbusana serta bertubuh ringki.
Fang Ling mengusap kepala anak kecil tersebut, seketika keadaan anak kecil itu menjadi lebih baik."Ayo pulang Siu'er, tidak ada gunanya berlama-lama di sini."
Yen Siulan nampak terkejut."Lalu bagaiman dengan ayah dan ibumu ? Kita belum menemukan mereka."
"Aku akan menyelidiki masalah ini lain hari, kurasa mereka sudah pindah beberapa bulan yang lalu."
__ADS_1
Setalah selesai mempertimbangkan kondisi di desa, akhirnya Fang Ling dan Yen Siulan terbang kembali ke sekte pedang bambu.