Legenda Pendekar Pedang

Legenda Pendekar Pedang
Berlayar


__ADS_3

Pelayan tersebut nampak sedang memeriksa sesuatu di tangannya saat seseorang akan memasuki kepal tersebut, membuat Fang ling sedikit bingung karena tidak banyak tau apa yang harus di lakukannya.


Pelayan laki-laki tersebut mengulurkan tangannya seolah sedang meminta sesuatu saat giliran Fang ling untuk menaiki kapal.


"Tuan, apakah anda memiliki tanda pengenal atau plakat ijin masuk," kata pelayan itu dengan mengulurkan tangan kanannya.


Seketika Fang ling tersenyum kecil karena tau apa yang harus di lakukannya, ia mengambil plakat yang di berikan Hong Ju dari balik pakaiannya dan memberikan plakat itu kepada pelayan di hadapannya.


Seketika wajah pelayan tersebut di penuhi keringat dan sangatlah pucat, saat memperhatikan plakat yang di berikan Fang ling kepadanya.


Dengan tangan gemetaran pelayan itu menatap Fang ling,"Tu-Tuan silakan masuk, aku sendiri yang akan mengantar tuan ketempat yang telah di sediakan,"


Fang ling dan Shun Jing mengangguk berjalan mengikuti pelayan tersebut menaiki sebuah tangga lebar yang di gunakan untuk menaiki kapal Tersebut.


Walaupun tidak tau apa yang bisa di lakukan plakat tersebut hingga membuat pelayan tersebut ketakutan, Fang ling hanya mengerti satu hal yaitu Hong Ju sangat di segani semua orang.


Setelah berada di atas anjungan kapal, Fang ling dan Shun Jing melihat tempat itu di penuhi dengan orang-orang yang berkerja untuk mengangkut barang-barang ke atas kapal.


"Tuan, ini adalah anjungan kapal, sekaligus tempat semua barang di simpan dan area untuk para penumpang berada di lantai dua dan tiga," Jelas pelayan tersebut dengan sopan.


Setelah cukup lama berada di area anjungan kapal, Fang ling dan Shun Jing kembali mengikuti arahan pelayan di depan mereka yang menuju kesebuah tangga di bagian tengah kapal.


Tangga tersebut berbentuk spiral dan nampak sangat megah dengan di hiasi macam-macam pecahan batu berkilau yang sangat Bagus.


Dengan tatapan yang tertuju pada sekelilingnya, Fang ling nampak terkagum-kagum melihat lantai dua yang begitu indah dengan lantai mengkilap seolah sudah di poles.


"Tuan, lantai ini gunakan untuk makan ataupun pertujukan tarian dan dansa, anda dapat menikmati pertunjukan yang di langsungkan pada malam hari," Jelas Kembali pelayanan tersebut dengan fasih.


Fang ling dan Shun Jing hanya dapat mengangguk sambil memperhatikan sekitarnya yang di penuhi dengan orang-orang dari kalangan atas.


"Pelayan,berapa lama untuk sampai di pulau gunung tengkorak ? tanya Fang'ling.

__ADS_1


Pelayan tersebut berbalik ke arah Fang ling dengan sopan dan berkata,"Tuan,kita akan sampai besok pagi karena kita akan baru memulai perjalanan pada sore hari,"


Setelah puas melihat-lihat kemegahan lantai dua, mereka kembali berjalan menaiki anak tangga berbentuk spiral untuk menuju ke lantai paling atas.


Di lantai tiga terdapat banyak pintu kamar yang berjejer sepanjang lorong kapal, namun pelayan itu baru berhenti saat berada di pintu kamar paling ujung.


Pintu tersebut berbeda dengan pintu kamar yang sudah di lewati Fang ling dan Shun Jing, karena pintu di hadapan mereka di hiasi dengan emas murni.


Pelayan itu memberikan sebuah terbuat dari emas kepada Fang ling dan berkata,"Tuan, ini adalah kunci kamar anda, jangan sungkan untuk memanggil pelayan jika anda memerlukan sesuatu,"


"Baiklah, terimakasi," kata Fang ling sambil menerima kunci pemberian pelayanan di hadapannya.


Setelah memberikan kunci itu, pelayan tersebut memberikan hormat kepada Fang ling sebelum berjalan meninggalkan keduanya.


Fang ling membuka kamar di depannya dengan menggunakan kunci yang di berikan Pelayan itu kepadanya. Setelah di buka, kamar itu sangatlah luas dan juga sangat megah.


Di tengah ruangan Fang ling dapat melihat sebuah meja bundar yang terbuat dari batu mineral, meja tersebut biasanya di gunakan untuk tempat makan keluarga.


Juga terdapat beberapa ruangan seperti kamar mandi, ruangan out door, dan kamar tidur mewah yang di hiasi dengan kuncup bunga mawar berwarna merasa di setiap sisi kasur.


Wajah Shun Jing memerah karena merasa sangat kesal, dirinya melempar bantal ke wajah Fang ling dengan keras,"Dasar tidak tau sopan santun !


"Shutt, Ja-jangan berteriak, kau akan membuat orang mendengar kita," kata Fang'ling nampak sedang menahan diri agar tidak tertawa.


Shun Jing menarik tangan Fang ling hingga membuatnya Juga terjerembab ke atas kasur, dengan mulut penuh dengan kuncup bunga mawar.


"Dasar, apakah kau ingin ku hukum," kata Fang


Fang ling terbatuk-batuk saat merasakan rasa pahit dari kuncup bunga di dalam mulutnya, dirinya dengan cepat mengeluarkan kuncup tersebut dari mulutnya.


Melihat Fang ling yang terbatuk-batuk Shun Jing hanya tertawa terbahak sambil memegangi perutnya yang sakit, karena tertawa terlalu kencang.

__ADS_1


"kau..." fang ling merasa sangat kesal, dirinya menangkap kaki Shun Jing dan menariknya dalam pelukan.


Dengan kuat Fang ling memukuli bagian bawah Shun Jing, membuatnya menjerit dengan ujung kelopak mata mengeluarkan air mata.


"He-hentikan perut ku sakit, aw aw," Shun Jing berteriak kencang karena pantat nya yang di pukul Fang ling dengan kuat.


Setelah puas mengerjai Shun Jing, Fang ling melepaskannya dan berjalan ke arah jendela untuk memperhatikan keadaan kapal yang nampak masih bersender di tepian dermaga.


Fang ling beralih menatap Shun Jing yang terbaring lemas di kasur dengan nafas memburu, segera berkata,"apakah kau mau ikut dengan ku ?


"kemana ? apakah kau bisa menggendongku," kata Shun Jing lemas.


"Baiklah,"Fang ling berjalan ke arah kasur dan membopong Shun Jing di dadanya.


Dengan Shun Jing yang berada di dalam gendongannya, Fang ling berjalan keluar kamar untuk mencari udara segar karena merasa pengap saat berada di dalam kamar.


Sedangkan Shun Jing yang berada di dalam gendongan Fang ling hanya tertawa riang, merasa dirinya menjadi seorang spesial di mata Fang ling.


Setelah berada di luar kamar penginapan, Fang ling hanya dapat melihat lorong di bagian kanan dan kiri, dirinya memutuskan untuk berjalan ke arah kiri karena melihat cahaya terang.


Cukup lama menyusuri lorong tersebut hingga sampai di bagian dek kapal, Fang ling dapat melihat hamparan laut biru di hadapannya yang begitu indah.


Jika di lihat dek kapal itu di penuhi dengan meja dan kursi batu yang nampak di sediakan untuk para penumpang.


"Shun Jing, apakah kau baru pertamakali melihat lautan seindah ini...Jika iya, aku juga," kata Fang ling dengan mata tertuju pada lautan di hadapannya.


"Benar, semenjak aku keluar dari kota kabut, aku melihat banyak hal luar biasa yang tidak pernah aku pikirkan, salah satunya seperti saat ini," Shun Jing menatap lekat wajah Fang ling yang terpapar cahaya senja, terlihat seperti berlian yang mengkilap.


Jangkar kapal di naikan, suara hiruk pikuk orang-orang membuat suasana begitu damai dan kapal pun bergerak perlahan meninggalkan dermaga Shianli.


__ADS_1


Ilunstrasi Buaya


Bersambung......


__ADS_2