Legenda Pendekar Pedang

Legenda Pendekar Pedang
Kota otaru


__ADS_3

Di ujung jalan mulai terdengar suara keramaian kota, dari hawa kehidupannya kota itu termasuk kota besar namun Fang Ling tidak tau di benua mana.


"Tuan, seratus langkah di depan ada gerbang kota yang di jaga beberapa penjaga,"


Fang Ling mengangguk. Dia terus berjalan sambil menghitung langkahnya agar tidak salah perhitungan dan menyebabkan masalah yang tidak di butuhkan.


Dua orang penjaga di depan gerbang nampak terkejut melihat sosok putih berjalan mendekat.


Namun mereka langsung kembali berpikir jernih begitu melihat kaki Fang Ling masih menyentuh tanah.


"Ku kira dia hantu, untung saja selama berkerja kita tidak pernah melihat sesuatu seperti itu,"Ujar seorang penjaga sambil menghela nafas panjang dan terlihat memegang tombak.


"Hei, dia sepertinya buta,"Kata seorang lagi penjaga yang berdiri di samping penjaga di awal.


Kedua pendekar itu terdiam cukup lama, mereka memperhatikan pakaian Fang Ling dari bawah kaki hingga tertuju pada penutup matanya.


Di saat Fang Ling mulai mendekat, seorang penjaga dengan sopan menghampirinya dan membatu Fang Ling untuk berjalan ke gerbang.


"Nona, apa yang kau lakukan malam-malam begini ? dan lagi kau buta, kau ingin kemana ? mungkin kami bisa membantumu,"


Penjaga itu tidak sadar jika yang ia bantu adalah seorang laki-laki, namun untuk mendapatkan informasi Fang Ling terpaksa harus melakukan sesuatu kepada penjaga bermuka dua itu.


"Aku ingin beristirahat karena sangat lelah, tubuhku lengket apakah kalian bisa membantu ku ?"Fang Ling menekan suaranya sendiri agar terdengar seperti suara perempuan.


Seketika wajah penjaga yang memapah Fang Ling memerah dan berubah menjadi tatapan genit, dia melirik ke tulang selangkang Fang Ling yang sangat putih.


"Jangan khawatir nona, di dalam kota ada post penjaga...Kau bisa menggunakannya untuk beristirahat,"Penjaga itu menyentuh punggung leher Fang Ling.


"Terimakasih tuan, tapi bisakah aku bertanya ?"Kata Fang Ling dengan suara yang masih di tekan agar bisa masuk ke dalam kota tanpa ketahuan.


Sebelum sempat penjaga yang memapah Fang Ling berbicara, seorang lagi penjaga tiba-tiba berjalan di samping kanan Fang Ling dengan tatapan tertuju pada dada.


"Jangan hanya bertanya kepada dia, aku juga bisa menolong mu nona...Jadi, kau bisa bertanya banyak hal dengan ku,"Ujar penjaga di kanan Fang Ling.


Merasakan tubuhnya terus di sentuh membuat Fang Ling sangat emosi, namun agar tidak terjadi kesalahan karena kini dia berada di benua lain, mau tidak mau dia harus menahan hasrat membunuhnya.


"Tuan apa nama kota di depan ?? sepertinya sangat ramai, aku akan sangat senang jika kalian mau mengatakannya,"


Penjaga di samping kiri Fang Ling memegangi pantatnya, darah Fang Ling serasa mendidih hingga hampir saja mengeluarkan pedangnya.


"Nona saat ini kita berada di luar kota otaru benua ke empat, di dalam nanti kami akan menyiapkan keperluan nona untuk membersihkan tubuh,"Kata penjaga di samping kiri Fang Ling.


Mendengar jika dirinya berada di kota otaru di benua empat (Embun malam) Fang Ling merasa senang karena sempat mengira dirinya berada di benua tiga (Pasir mati).


Gerbang di hadapan Fang Ling di buka, seketika penglihatan Fang Ling kembali di dapatkan karena lampu terang yang berada di dalam kota.


Walaupun tidak terlalu jelas namun kali ini Fang Ling sudah dapat menggambarkan tempat di hadapannya yang sangat ramai.


Kedua penjaga itu membawa Fang Ling ke sebuah post penjaga yang tidak terlalu besar dan berdekatan dengan gerbang keluar kota.

__ADS_1


Salah seorang penjaga membuka pintu post dan masuk lebih dulu sebelum di susul Fang Ling dan seorang temannya, setelah beberapa detik masuk Fang Ling kembali keluar dengan baju bersih dari darah walaupun di penuhi lumpur.


"Semoga jiwa kalian di berikan kesempatan untuk berinkarnasi,"Fang Ling berjalan meninggalkan post menuju ke keramaian kota untuk mencari sebuah penginapan.


Sesuai dengan namanya, kota ini selalu di basahi embun di malam hari hingga sangking banyaknya sampai terlihat seperti gerimis.


Akibatnya kotoran di pakaian Fang Ling mulai luntur dan kembali bersih, diapun tetap berjalan hingga di ujung jalan terdengar suara keributan.


Di ujung jalan terlihat seorang anak kecil sedang di pukuli oleh pria buncit, anak itu hanya bisa duduk pasrah sambil memegangi roti kotor hasil curiannya.


Orang-orang yang kebetulan lewat berhenti untuk melihat, namun karena merasa jika itu urusan korban pencurian mereka hanya melihat tanpa ada niat membantu.


"Kau selalu mencuri roti dariku !! maka jangan salahkan aku jika terlalu keras menghukum mu,"


Pria buncit itu berkata dengan nada tinggi sambil mengacungkan sebuah cambuk, diapun hendak mencambuk tubuh anak itu namun sesuatu menghentikan cambuknya saat berada di udara.


"Berhenti...apa yang akan kau lakukan pada anak kecil ini ?"Tanya Fang Ling dengan tangan kanan menggegam ujung cambuk dari serangan pria buncit di hadapannya.


Pria itu tersentak untuk beberapa saat, diapun segera tertawa melihat keadaan Fang Ling yang buta dan hendak menolong seorang anak kecil.


"Orang buta cepat minggir ! jangan halangi aku untuk menghukum anak itu karena sudah mencuri roti di kedai ku,"


"Apa yang kau ributkan ?! kau ingin menghukum seorang anak kecil untuk mengambil kembali roti berlumpur lumpur itu ?!"


Fang Ling berkata dengan nada mengejek, dia menoleh kebelakang dan sedikit tersenyum kepada anak kecil yang berlindung di belakang pakainya.


"Jangan melakukan sesuatu yang kelak akan merugikan mu sendiri,"Fang Ling berkata dengan nada dingin, ia menyalurkan elemennya dari ujung cambuk hingga membuat tubuh pria di hadapannya menjadi kristal es dalam waktu singkat.


Semua orang ketakutan dan mundur beberapa langkah, Fang Ling menggendong anak kecil yang bersembunyi di belakangnya.


Dengan santai Fang Ling melempar sebuah batu kristal dari elemen es ke hadapan pria buncit yang sudah membeku. Fang Ling menyentuh pundak pria itu membuat es yang menyelimuti pria itu pecah berkeping-keping.


Merasa sesak nafas pria buncit itu terduduk lemas, ia melihat sebongkah kristal biru di hadapannya dengan wajah gembira dan keserakahannya.


Di tengah keramaian dan di guyur rintik hujan Fang Ling berjalan pelan menyusuri jalan sambil menggendong seorang anak kecil berambut putih.


"Siapa namamu nak ? dan sampai kapan kau akan memegang roti kotor itu,"


Anak kecil di gendongan Fang Ling hanya diam, dia tidak menghiraukan perkataan Fang Ling dan hendak memakan roti kotor di tengahnya.


"Kau ini keras kepala sekali,"Fang Ling merebut roti kotor di tangan anak kecil itu dan membuangnya ke tepi jalan,"Nah, jika kau lapar bantu aku mencari penginapan,"


Lagi-lagi anak kecil di gendong Fang Ling hanya diam tidak bersuara, dia hanya menunjuk jalan dan kembali di jelaskan oleh kaisar naga es kepada Fang Ling.


Fang Ling mengikuti petunjuk hingga kini dia berdiri di depan sebuah penginapan mewah berlantai tiga, diapun langsung masuk dengan pakaian basa kuyup.


Dari dalam penginapan seorang perempuan muda bertubuh Milf datang menghampiri Fang Ling dengan membawa sebuah handuk bersamanya.


"Selamat datang...Gunakan ini untuk mengeringkan tubuh mu,"Pemilik penginapan itu tersenyum lembut ke arah Fang Ling sambil menyodorkan sebuah handuk putih.

__ADS_1


"Aku buta, bisakah kau mengeringkan anak ini dan membelikannya pakaian baru ?"Tanya Fang Ling sambil menyerahkan anak kecil yang di bawanya kepada perempuan milf di hadapannya.


Wajah perempuan itu berubah bingung, diapun menggendong anak yang di berikan Fang Ling dengan sopan.


"Ta-tapi tuan,


Mengerti kemauan perempuan itu, Fang Ling langsung mengeluarkan sebuah kristal es dari balik jubahnya dan menyerahkan kristal itu kepada perempuan di hadapannya.


"Dengan itu apakah aku bisa mendapatkan sebuah kamar dan makanan hangat ?"Tanya lagi Fang Ling.


Mata perempuan itu berbinar-binar memandangi kristal biru di tangannya, iapun menyimpan Kristal itu di belahan dadanya agar aman.


"Dengan ini tuan bisa melakukan aku semau mu, bahkan aku juga bisa di jadikan selimutmu,"Ujar perempuan itu dengan wajah merona.


"Jangan bermain-main, kau urus anak itu dan antar dia lagi setelah selesai ke kamar ku,"


Perempuan itu sangat kecewa, diapun hanya mengangguk dan memanggil anaknya untuk mengantar Fang Ling ke kamar terbaik di penginapannya.


Dari meja administrasi seorang gadis muda bertubuh Milf datang dan terkejut melihat wajah tampan Fang Ling, diapun menggesekkan pahanya dengan wajah memerah.


"Ada apa ibu ?"Tanya gadis itu dengan tatapan masih tertuju pada wajah Fang Ling.


"Antarkan tuan ini ke kamar terbaik,"


Gadis itu mengiyakan perkataan ibunya, diapun menuntun Fang Ling ke kamar yang akan di gunakan pemuda itu untuk bermalam.


Dari belakang Fang Ling mengikuti gadis itu dengan perasaan yang campur aduk, dia merasa tatapan kedua pemilik penginapan itu sama seperti perempuan pemilik kantin di sekte naga langit.


"hiiii mengerikan"


Jangan lupa tiga hal :


1.Vote


2.Like


3.Komen


Pemaksaan, siapa saja yang tidak mau akan di bantai Fang Ling


Mampir juga ke novel teman aku, judulnya :


•Legenda dewa pohenix


•Legenda dewa kematian


•Pendekar pedang abadi


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2