
300Ribu pasukan aliansi putih nampak kompak dengan menggunakan pakaian biru berpadu putih.
Semuanya terlihat antusias dalam berlatih. Dari menggunakan pedang, tombak atau bahkan panah.
Apapun jenis senjatanya, pasukan aliansi putih sudah sangat mahir dalam menggunakannya.
Pelatihan itu setiap harinya di awasi oleh tetua dari berbagai sekte. Mereka berbondong-bondong membantu untuk menyelamatkan benua teratai perak.
Jika saja benua teratai perak hancur, hal itu terlalu mengerikan untuk di bayangkan mengingat benua ini akan di pimpin aliran hitam.
Namun sekarang benua teratai perak memiliki kekuatan untuk bertahan dalam situasi hidup dan mati.
Bahkan kekuatan aliansi aliran putih saat ini membuat Sin Yintian sangat terkejut, dia tak dapat menahan tangisnya di hadapan Shin Hye dan Yung Felix.
"Tetua sekalian. Aku sungguh sangat berterimakasih dengan bantuan kalian, jika saja kalian tidak membantu. Entah apa yang terjadi pada benua ini,"
"Jangan menangis tuan putri, hal ini juga menjadi urusan saya untuk membantu...Jika saya diam saja melihat benua ini hancur,"
"Berarti aku juga menurunkan derajat sekte ku sendiri di hadapan musuh. Jika pemuda itu dan tetua Shin tidak menyadarkan ku, mungkin aku tidak berada di sini,"
"Kini di hadapan tuan putri ada 300Ribu pendekar campuran di tingkat pembentukan Jiwa ke atas,"
"Mereka semua adalah hasil dari strategi Fang Ling...huu ! aku tidak tau kenapa dia bisa berpikir sejauh ini,"
Yung Felix berkata sambil memandangi pendekar-pendekar yang berlatih di hadapannya.
Sedangkan Shin Hye hanya berdiri di samping Yung Felix nampak hanya diam sedari tadi.
Pria sepuh berperawakan bijak itu pemikirkan tentang Fang Ling yang masih melakukan pelatihan tertutup.
"Aku baru ingat...Kapan Fang Ling akan menyelesaikan pelatihan tertutupnya, sedangakan perang akan di lakukan dua hari kemudian,"
Mendengar gumam Shin Hye yang selalu memikirkan Fang Ling, membuat Yung Felix tertawa.
"Kau ini seperti orang tuanya saja, kadang aku heran dengan perhatian mu pada pemuda itu,"
"Aku serius tetua Felix, jika dia tidak selesai tepat waktu..Bagiamana dengan strategi yang akan di lakukan ?
Yung Felix terdiam sejenak, dia mengusap dagunya dengan tatapan tetap tertuju pada pendekar yang berlatih.
"Kita tetap menggunakan strategi bertahan... Tunggu sampai Fang Ling muncul barulah kita melakukan strategi tarik ulur,"
"Jika di tidak juga datang, apa kita akan menyerang seperti orang bodoh dengan mengandalkan keberuntungan ?
"Sifat mu sedikit berubah...apa Sifat berterus-terang Fang Ling sudah menular kepada mu,"
Yung Felix tertawa, sedangakan Shin Hye hanya menatapnya datar. Yang mana tatapan itu terlihat lucu bagi Sin Yintian yang memperhatikan perdebatan keduanya.
"Kau ini...Tidak ada yang bisa menebak apa yang di pikirkan Fang Ling, termasuk aku ataupun tetua Shin. Dia itu seperti Holow hitam hampa,"
"Walaupun begitu, dia tau apa yang di lakukannya...Jadi jangan terlalu memikirkan hal itu,"
Ceramah Yung Felix cukup membuat Shin Hye sedikit tenang, walaupun dirinya merasa sedikit ada yang aneh jika Fang Ling tidak ada.
___________________
__ADS_1
Di benteng yang berada di tengah hutan bagian Utara kerajaan. Seorang prajurit memasuki sebuah ruangan tahta.
"Tuan hamba datang membawa informasi yang harus di katakan saat ini juga,"
Prajurit itu berinisiatif untuk berlutut begitu menyadari jika ruangan itu saat ini di gunakan untuk rapat.
Pria paruh baya yang duduk di atas tahta menaikan sebelah alisnya yang tebal,"Informasi ? apa ini menyangkut mata-mata pribadi ku ??
"Benar tuan,"
Karena sudah menunggu informasi itu, pria paruh baya pemimpin aliran hitam menyuruh tamu-tamunya untuk meninggalkan tempat itu.
Kini di dalam ruangan mewah tersebut hanya ada seorang prajurit dan pria paruh baya yang duduk di atas tahtanya.
"Katakan informasinya,"
Dengan posisi yang masih berlutut dengan kedua tangan di antara perut, prajurit itu mengangguk.
"Kristal yang menandakan kehidupan mata-mata pribadi anda sudah hancur...Ijin untuk memberikan sisa-sisa kristal ini pada tuan,"
Wajah pria paruh baya di atas tahta nampak masam, dia merasa marah sekaligus terhina dengan tindakan kerajaan teratai perak.
"Ijin di berikan, Kemari-lah...aku ingin melihat pecahan kristal kehidupan itu,"
Prajurit tersebut bangkit dan berjalan sepuluh langkah ke hadapan pria paruh baya di atas tahta.
Dia mengeluarkan kantong kulit dan memberikan kantong kecil itu pada pria paruh baya.
Segera pria paruh baya itu membuka kantong kulit di tangannya, ia tak tahan untuk tidak emosi melihat pecahan kristal di dalamnya.
"Dia sudah mati... Tubuhnya di bakar hidup-hidup terlihat dari kristal kehidupannya yang gosong,"
Kristal kehidupan sendiri adalah kristal yang menandakan pemiliknya hidup atau mati dengan keadaan kristal itu sendiri.
Jika kristal itu berwarna cerah dan bersinar remang-remang, menandakan jika pemiliknya sedang baik-baik saja.
Sedangkan jika Kristal itu pecah dan kehilangan sinarnya, maka menandakan jika pemilik kristal itu sudah meninggal.
Jika kristal itu hancur dengan cara tersayat, kemungkinan pemiliknya mati dengan tubuh terpotong-potong.
Kini terlihat kerut kesal yang semakin jelas di wajah pria paruh baya pemimpin dari aliran hitam yang memiliki nama Wing Muchen.
"Dia mengandung anak ku ! Siapa yang membunuhnya ?!
Karena emosi Wing Muchien mencangking kera baju prajurit di hadapannya.
"Maaf tuan hanya itu yang aku tau... Mengenai siapa yang membunuhnya aku tidak tau,"
Wing Muchien menurunkan prajuritnya itu dengan melepaskan cangkingannya, ia terlihat sangat depresi dan marah.
"Apa ada perintah lagi tuan, hamba akan melakukanya untuk menenangkan tuan,"
Prajurit itu nampak kembali berlutut, terlihat sangat menghormati tuannya.
Wing Muchien mengangkat sebelah tangannya,"Tidak...Kau sudah menjalankan tugas dengan sangat baik, sekarang keluar dan katakan pada 100panglima untuk menyiapkan segala keperluan perang,"
__ADS_1
Dengan wajah tegang bercampur terkejut, prajurit itu bangkit berdiri,"Tuan apakah ini...
"Benar. Kita akan menyerang esok hari, cepat katakan pada 100panglima ku mengenai hal ini,"
"Baik tuan,"
Prajurit itu memberikan hormat kepada Wing Muchien sebelum meninggalkan tempat tersebut.
Wing Muchien kembali duduk di atas tahtanya dengan keadaan yang masih marah kepada kerajaan teratai perak.
"Awas saja, aku tidak akan menyisakan kalian hidup-hidup...ini semua karena tahta dan kekuasaan, sekaligus balas dendam untuk mata-mata ku,"
____________________
Di halaman depan kerajaan, terlihat Yukimura Sanada sedang melatih ratusan pendekar pengguna tombak.
"Tahan tangan kanan kalian pada bagian depan tombak ! tatapan lurus ke depan... Perlihatkan pada ku sikap dasar dalam menggunakan tombak,"
Perintah Yukimura langsung di ikuti Ratusan pendekar yang mendengarkan suaranya dengan jelas.
Dengan tatapan tegas Yukimura Sanada berjalan di sela-sela barisan ratusan pendekar, mencari kesalahan yang tidak sengaja mereka buat.
Yukimura Sanada berdiri di hadapan barisan ratusan pendekar pengguna tombak, alis-alisnya terangkat naik.
"Kalian ini pengguna tombak atau pengguna tiang cucian pakaian ?! Gerakan kalian terlihat seperti perempuan hamil besar,"
"Lambat ! lemah ! banyak celah !! itulah kesalahan kalian semua,"
Dengan perasaan kesal yang terukir jelas di wajahnya, Yukimura menghampiri seorang pendekar muda di hadapannya.
"Kau seperti perempuan yang datang bulan...Apa kau tau kesalahan yang kau buat ?!
Bentak Yukimura Sanada melihat ekspresi kesal yang terpancar di wajah laki-laki di hadapannya.
"Tidak tuan !
"Bahkan kesalahan sendiri kau tidak tau,"
Yukimura Sanada merampas tombak pemuda di hadapannya, dia melompat kebelakang dalam jarak beberapa langkah.
"Kalian semua ! lihat baik-baik gerakan yang akan ku peragakan,"
Semua pendekar menunjukkan pandangan mereka tertuju pada Yukimura Sanada yang berada di depan.
Sebelum memulai gerakan dasar tombak Yukimura mengambil nafas dalam-dalam, dia kembali mengeluarkannya setelah beberapa saat.
"Di dalam seni tombak ! kecepatan dan kekuatan menjadi kunci kemenangan,"
lupa tiga hal :
1.Vote
2.Like
3.Komen
__ADS_1
Pemaksaan, siapa saja yang tidak mau akan di bantai Fang Ling
Bersambung....