Legenda Pendekar Pedang

Legenda Pendekar Pedang
LPP.Melindungi hak orang lain


__ADS_3

Suasana di tempat wahana buah persik terlihat sangat ramai, banyak orang yang menunggu giliran untuk memanah buah persik langsung dari pohonnya. Tidak aneh jika banyak yang menggemari wahana satu ini, karena persik adalah lambang kebahagiaan.


Masih berada di sekitar area pohon persik, pertemuan Fang Ling dan Lin'Tong menjadi pengalaman sendiri bagi keduanya.


Lin Tong mengusap dagu."Lalu apa yang di lakukan iblis rubah di sini..? Apa Ling'er juga mau mencoba wahana pohon persik.??"


Fang Ling melirik ke arah Yen Siulan yang sedang berdiri di samping, gadis itu berlari di sekitar Fang Ling mencoba menangkap bunga persik yang gugur, setelah gagal gadis itu berjalan kembali menghampiri Fang Ling.


Sambil memeluk Yen Siulan dengan sebelah tangan, Fang Ling menatap Lin'Tong dengan raut wajah biasa."Aku datang kemari untuk mengajak gadis ini bermain, kebetulan sekali hari ini ada begitu banyak wahana. Lalu bagaimana dengan tetua Tong, apa yang anda lakukan di sini..?"


Lin Tong menatap ke arah istrinya yang sedang bermain panah buah persik."Istriku sangat menyukai wahana ini sebab dulu sebelum menjadi suami istri kami berdua bertemu dia sini."


Fang Ling menangkap bunga persik yang jatuh dan memberikannya kepada Yen Siulan, lalu kembali menatap Lin'Tong di depan."Ternyata wahana ini terdapat kesan dan kenangan tersendiri bagi tetua, anda sangat beruntung mendapatkan istri sebaik istri anda sekarang."


Lin Tong tersenyum."Ling'er masih saja sopan seperti dulu, paman masih ingat kedatangan mu satu tahun yang lalu. Dulu kau hanyalah anak kecil bertumbuh kurus, tetapi lihatlah sekarang, kini anak kurus itu berubah menjadi pria yang ketampanannya membuat iri dewa..Jika di dunia ini ada yang beruntung maka dia adalah gadis di samping mu."


Fang Ling mengangkat sebelah tangan."Paman di mana saudara Lin'Yung..? Sudah lama sejak terakhir kali kami bertemu."


"Ah..Anak itu, sekarang dia berada di rumah. Entah mengapa sejak kembali pulang tengah malam dari paviliun harimau putih, ia terus berada di dalam selimut dan tidak mau keluar."


Fang Ling tersenyum tidak enak sambil menggaruk kepala."Kurasa dia sedang tidak enak badan, mungkin lain kali aku akan berkunjung untuk melihat keadaannya."


Istri dari tetua Lin Tong menghampiri suaminya dengan membawa sekeranjang penuh buah persik."Suami ku, aku sudah selesai ayo kita pulang, aku ingin membuatkan sup untuk Yun'er."


Lin Tong menggaruk kepala karena masih banyak yang ingin ia katakan kepada Fang'Ling, tetapi tidak ada pilihan lain selain mengikuti kemauan istrinya."Ba-baiklah mungkin lain waktu kita kembali berbincang, sekarang paman akan pulang."


Fang Ling menangkup tangan lalu membungkuk."Tentu saja tetua Tong, kita akan bertemu kembali."


Lin Tong dan istrinya berjalan meninggalkan Fang Ling dan Yen Siulan, meski umur mereka sudah hampir mencapai 48Tahun, tetapi keromantisan keduanya terpancar layaknya pasangan muda.


"Siapa pemuda tampan itu suamiku..?"


"Ah, dia adalah murid dari teman terdekat ku. Namanya Fang Ling, dengan julukan si iblis rubah."


"Kenapa dia di juluki seperti itu..?


Sambil berjalan bersama Lin Tong menceritakan awal kisah kedatangan Fang'Ling sampai kini ia di juluki iblis rubah, tetapi sebenarnya Fang Ling sendiri tidak tau jika iblis rubah adalah julukan untuk dirinya.


Begitu tetua Lin Tong tidak lagi terlihat, Fang Ling menatap Yen Siulan di samping."Nah Siu'er, sekarang kau bebas bermain."

__ADS_1


Yen Siulan terlihat senang."Benarkah..!


Fang Ling mengangguk."Tentu saja, ayo kita temui pemilik wahana ini."


Yen Siulan menenteng tangan Fang'Ling, lalu keduanya-pun berjalan menghampiri seorang nenek tua pemilik wahana pohon persik. Nenek tua yang di maksud duduk di depan pohon persik dengan kertas putih sebagai lesehan.


Fang Ling berlutut di depan nenek tersebut dengan satu lutut menyentuh tanah."Nek, pasanganku ingin bermain dengan wahana ini. Berapa yang harus ku bayar..?"


"Tidak usah, kau di perbolehkan untuk mengambil buah persik sebanyak yang kalian mau."Nenek pemilik wahana tersenyum ramah.


"Tapi nek, jika kami tidak membayar lalu apa yang kau dapatkan..?"


Nenek itu terdiam lalu menatap Fang'Ling."Anak yang baik..Jauh sebelum kau lahir, pohon ini ku tanam bersama dengan pasangan ku, saat sudah sangat besar kami selalu duduk di bawah pohon ini sambil bercerita..Namun beberapa puluh tahun yang lalu, suamiku gugur di medan perang. Pria itu mengatakan kepadaku untuk menunggu kembali kehadirannya di bawah pohon persik ini, semenjak saat itu aku selalu menunggu di bawah pohon ini dan membiarkan orang-orang mengambil buah dari pohon ini secara gratis tetapi jangan sampai merusaknya.. Karena pohon ini adalah saksi pertemuanku dengan mendiang suamiku, kami berjanji untuk kembali bertemu di bawah pohon ini."


Fang Ling tersentak lalu tersenyum cerah."Begitu...Kau adalah wanita yang sangat setia yang pernah kutemui.. Lihatlah ke sana !"Fang Ling menunjuk ke arah kanan.


Wanita tua itupun menoleh ke arah yang Fang Ling tunjuk. Matanya yang keriput melotot, serta air mata segera membasahi wajahnya yang sudah tua dan rentan. Meski hanya ilusi buatan Fang Ling, tetapi wanita itu merasa sangat bahagia bisa melihat pasangannya lagi.


'Suamiku..'Batin nenek itu lirih, menatap bayangan suaminya yang tengah berdiri menatapnya sambil tersenyum dengan tubuh bercahaya.


Bayangan ilusi itu perlahan menghilang, meski sebentar nenek tersebut merasa amat sangat bahagia dan merasa sangat beruntung karena penantian lama ini ternyata tidak sia-sia.


Yen Siulan nampak bingung sebab tidak mengerti apa yang sudah Fang Ling lakukan sampai membuat nenek itu menangis bahagia.


"Gege, apa yang sudah kamu lakukan sampai membuat nenek Ciho pergi dari tempat ini setelah ratusan tahun tetap duduk di sini..?


Fang Ling tersenyum lalu berdiri."Mulai saat ini nenek itu tidak akan lagi duduk di tempat seperti ini, dia akan terus bersama dengan pasangannya dan melakukan banyak hal bersama untuk waktu yang lama dan sangat panjang."


Yen Siulan menarik hidung Fang'Ling."Kau ini selau saja mengeluarkan kata-kata yang membuatku bingung bila mendengarnya."


Sambil meringis Fang Ling berkata."Jangan salahkan tutur kata ku yang membingungkan, salahkan saja dirimu yang terlalu bodoh."


Yen Siulan semakin kesal, ia menarik hidung Fang Ling lebih kuat."Tadi Gege mengatakan jika aku bodoh..?


Sadar sudah salah bicara, Fang Ling segera panik dan berusaha membuat Yen Siulan tidak marah."Tidak Siu'er, kamu salah menafsirkan perkataan ku."


Tidak jauh dari tempat Fang Ling dan Yen'Siulan beberapa pasangan muda nampak memperhatikan Yen Siulan, mereka tidak lagi takut karena kini Fang Ling berada di hujud aslinya sehingga mereka bersikap lebih berani.


"Lihatlah gadis aneh itu..! dia menggunakan topeng rubah seperti orang bodoh. Apakah pria tampan itu tidak merasa bosan melihat tingkah pasangannya yang terlalu kekanak-kanakan..?

__ADS_1


Ocehan salah seorang gadis di belakang tidak sengaja tertangkap oleh telinga Yen'Siulan yang tajam, ia sama sekali tidak berniat bertarung namun berencana membalas cemohan gadis tadi dengan cara yang berbeda.


Yen Siulan melepaskan cubitan-nya pada hidung Fang Ling, lalu membuka sedikit topeng rubah seraya menjinjit."Gege, mendekat kepadaku. Aku ingin mengatakan sesuatu."


"Hu..? Ba-baiklah."Fang Ling mendekatkan wajahnya ke wajah Yen'Siulan. Tiba-tiba Yen Siulan mengecup pipi Fang Ling, yang di mana kejadian itu dengan jelas di lihat oleh beberapa wanita yang mencemooh Yen Siulan, sehingga hal tersebut membuat semua wanita itu tambah kesal.


Fang Ling yang terbawa suasana dan tidak mengerti dengan tujuan Yen Siulan, malah memebalas dengan mengecup bibir Yen Siulan dari bagian luar topeng..Meski ciuman Fang Ling hanya mengenai topeng, tetap saja hal itu menambah kesan romantis yang membuat kelompok gadis tadi pergi karena kesal.


Meski berhasil mengusir kelompok wanita usil tadi dengan cara halus, tetap saja apa yang tadi sudah di lakukan Fang Ling membuat gadis manapun meleleh melihat tingkah polos-nya.


"Gege, apa kau tau apa yang sudah kau lakukan..?"Yen Siulan menutup wajahnya yang memerah dengan topeng rubah.


"Tidak."Ucap Fang Ling.


"Dasar bodoh..! Aku sudah tidak mau bermain, aku lapar dan ingin pulang.. Bagaimana dengamu..?"


"Aku akan ikut denganmu, tapi sebelum itu aku ingin mengambil beberapa bingkisan untuk ayah dan ibumu sebelum kita ke sana..Jadi bisakah Siu'er membantuku dengan membawa sebuah keranjang buah..?"


Yen Siulan mengangguk."Tentu saja, aku akan segera kembali."


Yen Siulan pergi mencari sebuah keranjang buah seperti yang di katakan Fang Ling, meski ia sendiri tidak tau untuk apa keranjang tersebut.


Sementara Fang Ling melihat ke arah pohon persik berukuran sangat besar di hadapannya, entah berapa waktu untuk merawat sebuah pohon persik tumbuh sampai sebesar ini.


Fang Ling melirik ke arah gerombolan buah persik yang tergantung berdekatan."Buah persik itu juga berukuran sangat besar, semoga ayah dan ibu Yen Siulan menyukainya."


Dengan menggunakan akal Fang Ling lebih memilih terbang daripada harus memanah, entah mengapa semua orang memaki Fang Ling karena menurut mereka apa yang di lakukan Fang Ling justru melanggar peraturan, karena untuk mengambil buah dari pohon persik ini maka harus menggunakan panah.


Saat Fang Ling sudah membawa banyak buah persik di dalam pelukannya. Fang'Ling pun turun, saat kakinya baru menyentuh tanah iapun langsung di hampir oleh seorang pria paruh baya bertubuh biasa-biasa saja.


"Hei kau.!! Jika kau ingin mengambil buah persik di pohon ini maka harus membayar dan menggunakan panah..Sekarang bayar dua kali lipat untuk kesalahanmu."


Fang Ling menatap pria itu dengan raut wajah biasa dan terkesan acuh lalu berkata."Aku tidak mau bayar."


"Apa.!? Anak muda aku tidak sedang bermain-main, semua orang di sini marah kepada mu karena kau sudah melanggar peraturan. Tapi kau malah bilang tidak mau bayar.!!


Fang Ling tidak memperdulikan bentakan pria itu dan mencoba bersikap sabar."Jika aku tidak mau bayar, apa yang akan kau lakukan..?


Pria itu di samping Fang Ling melipat lengan pakaian-nya lalu memperlihatkan otot-otot tangan-nya."Anak kurang ajar sepertimu memang harus di beri pelajaran dari orang yang lebih dewasa."

__ADS_1


__ADS_2