Legenda Pendekar Pedang

Legenda Pendekar Pedang
Jeritan hening rakyat kecil


__ADS_3

Keadaan semakin memanas takalah Yen Siulan tidak segan-segan maju dan menyerang Shun Jing menggunakan sebilah pedang.


Kedua gadis itu melompat ke tempat yang luas, pertarungan antara keduanya pun tidak terhindar lagi. Keduanya melakukan serangan terbaik, hingga membuat daerah di sekitarnya meledak-ledak.


Tebasan demi tebasan pedang Yen Siulan lakukan untuk melukai Shun Jing. Tapi, Shun Jing mampu menyambut semua serangan itu dengan baik namun dia tidak berpikir untuk melukai Yen Siulan.


"Angin penghalang, area di perluas...Area angin tingkat tinggi !!


Tiba-tiba Yen Siulan berhenti menyerang, dia membentuk segel tangan dan meletakkannya di tanah. Kemudian sesuatu tidak terlihat melingkari area Shun Jing berdiri.


"Apa-apaan ini ?


Shun Jing nampak kebingungan. Pasalnya saat akan melangkah maju sesuatu yang tajam hampir mengenai. Untungnya saat itu dia langsung melompat, akibatnya pipi Shun Jing tergores karena terserempet angin tajam milik Yen Siulan.


Dengan perasaan sedikit kesal, Shun Jing memperhatikan Yen Siulan yang masih berlutut di tanah untuk mempertahankan segel tangannya.


Jika saja konsentrasi Yen Siulan terganggu maka segel tangannya akan melemah, begitu juga dengan area angin yang mengurung Shun Jing.


Tatapan mata Yen Siulan nampak tajam, pada saat ini dia benar-benar berniat membunuh Shun Jing. Entah karena alasan apa, dia nekat melakukan hal berbahaya seperti ini.


Tapi yang jelas, jika Shun Jing tidak melawan ganjarannya dia akan mati.


Shun Jing mencoba untuk tidak terbawa emosi, diapun berlutut di tanah dengan manancapkan dua pedang hydra.


"Area racun hydra, perluas,"


Tiba-tiba dua pedang hydra milik Shun Jing mengeluarkan hawa gelap yang menekan area angin Yen Siulan.


Merasa tekanan yang keluar dari kekuatan Shun Jing sangat besar, wajah Yen Siulan nampak tertekan. Untuk menetralisir tekanan itu, Yen Siulan memperkuat segel tangannya dengan menggunakan tangan lain sebagai bantuan.


Beberapa saat berlalu, dua segel penahan dan penyerang nampak saling mengadu hawa siapa yang paling kuat. Hingga secara berkala, segel tangan Yen Siulan mulai menghilang begitu juga dengan area angin yang mengurung Shun Jing.


Srrriiingg


"Apa !


Segel tangan Yen Siulan langsung menghilang. tiba-tiba Shun Jing telah berdiri di hadapannya dengan menodongkan sebilah pedang hydra ke arah lehernya.


"Sebaiknya kau hentikan saja tindakanmu. Atau, kau memilih terluka ?

__ADS_1


Dengan keadaan yang masih berlutut di tanah, Yen Siulan nampak sangat kesal, dia menatap tajam Shun'Jing. hingga saat Shun Jing menurunkan kewaspadaannya. Yen Siulan mengambil segumpal tanah dan melemparkannya ke wajah Shun Jing.


Spontan Shun Jing merasa perih di bagian matanya, diapun berjalan mundur hingga sesuatu membuatnya terjatuh.


Saat membuka kembali matanya Shun Jing terkejut melihat Yen Siulan sudah berdiri di hadapannya dan nampak menodongkan pedang ke arah lehernya.


"Bagaimana ? masih mau meremehkan ku, putri ular ??


Wajah Shun Jing awalnya nampak terkejut. tidak berselang lama kemudian, dia tersenyum penuh kemenangan membuat Yen Siulan kebingungan.


"Yakin sekali ya,"


Yen Siulan terlihat kebingungan, diapun terkejut melihat dua pedang Hydra milik Shun Jing telah siap menembus perutnya jika di perlukan.


"Kau !


Shun Jing tersenyum mengejek.


"Bagaimana ? strategi kunci kemenangan. Dasar bocah tanah,"


Shun Jing dan Yen Siulan sama-sama masih saling menodongkan senjata, hingga mereka berdua di kejutkan dengan suara tepuk tangan.


Fang Ling sama sekali tidak berniat memisahkan, untuk melihat jalan apa yang keduanya pilih.


"Kenapa berhenti ? apa Kalian berdua berpikir aku akan melerai ? ... Maka kalian berdua akan menunggu sampai mati,"


Nada bicara Fang Ling nampak datar seolah-olah tidak perduli jika Shun Jing dan Yen Siulan benar-benar saling membunuh. Namun di balik itu semua, ada perasaan kecewa yang tidak kedua gadis itu ketahui.


Setelah puas melihat-lihat pertarungan Yen Siulan dan Shun Jing. Fang Ling berjalan santai memasuki istana untuk makan, mengingat makanan terkahirnya adalah buah apel sebelum ia melakukan latihan tertutup selama beberapa hari.


Seperti biasa aula utama terlihat sangat ramai di lalui orang-orang. Tapi kali ini lebih ramai dari biasanya, karena para penduduk dari beberapa desa masih tinggal di istana sebelum besok kembali ke desa masing-masing.


Kemudian Fang Ling melihat sebuah keramaian. Keramaian itu berada di sebuah taman lebar di bagian tengah kerajaan.


Sempat mencium aroma sedap di sana. Fang Ling memutuskan untuk menghampiri keramaian itu.


Saat sudah dekat ternyata keramaian itu adalah ratusan penduduk desa yang nampak sedang bersantai dengan duduk melingkari api unggun.


Di pinggiran api unggun pula, berjejer ayam, ikan dan banyak makanan lain. Tapi yang membuat Fang Ling tak tahan untuk meneteskan air liurnya, saat dia melihat kumpulan botol arak.

__ADS_1


Botol arak itu nampak berjejer rapi di dekat makanan-makanan lain. Menyadari kedatangan Fang Ling, seorang pria baya berpakaian lusuh memanggilnya.


"Nak, kenapa kau hanya melihat saja. Kemari, ayo bergabung dengan kami,"


Fang Ling langsung tersenyum cerah, dia berjalan menghampiri pria yang memanggilnya dan pria itu langsung memberikan sebotol arah kepadanya.


"Wah, ternyata anda berasal dari kerajaan ini... Tapi kami cukup yakin, jika tuan lebih merasa betah di sini,"


Walaupun berpenampilan telanjang setengah dada, Fang Ling masih tetap terlihat seperti orang bangsawan melihat hawa maskulin pekat darinya.


Di tengah-tengah itu, Fang Ling baru sadar jika semua orang di tempat itu adalah masyarakat kecil. Tidak sedikit ada wanita yang sedang mengasuh anak-anak mereka yang masih kecil.


Melihat hal itu Fang Ling merasa sedikit prihatin, dia sempat berpikir jika Sin Yintian tidak memberikan kediaman untuk orang-orang ini.


Tidak mau berburuk sangka karena tau jika Sin Yintian adalah gadis yang baik. Akhirnya Fang Ling memilih untuk bertanya kepada pria di sampingnya.


"Kenapa kalian tidak tinggal di kediaman yang telah di sediakan untuk pengungsi, tuan ?


Mendengar pertanyaan polos itu, sontak pria di samping Fang Ling tertawa.


"Ha Ha Ha, tempat itu sangat mewah. Kami tidak terbiasa tinggal di tempat semacam itu,


"Kami semua memutuskan untuk bersantai dulu di sini, sebelum kembali ke tempat itu. Lihatlah, semua makanan dan minuman ini adalah pemberian dari putri Sin Yintian, dia gadis yang baik,"


Mendengar penjelasan pria itu Fang"Ling merasa lega, tapi dia kembali kebingungan mengenai jumlah penduduk di tempat itu yang jika di jumlahkan tidak sampai seratus orang.


Satu desa kecil paling tidak memiliki dua ratus lebih penduduk, sedangakan jumlah orang-orang ini tidak sampai sebanyak itu hal inilah yang membuat Fang Ling bingung. Di tambah, banyak anak-anak dan orang tua yang terluka entah karena apa penyebabnya.


Di landa perasaan yang mengatakan jika semua orang itu adalah korban aliran hitam, akhirnya Fang Ling bertanya.


"Bukankah kalian dari desa yang sama...Kenapa jumlah kalian sangat sedikit, apa kalian adalah korban dari orang-orang aliran hitam ??


Baru saja Fang Ling menyelesaikan perkataannya, dia dan semua orang di kejutkan dengan suara jeritan histeris dari seorang perempuan muda di dalam kelompok itu.


Orang-orang di kelompok itu mencoba menenangkan perempuan yang awalnya menjerit. Sedangakan pria di samping Fang Ling nampak ragu untuk bercerita, tapi akhirnya diapun mau sedikit terbuka dengan pemuda di sampingnya.


"Cerita ini berawal dari beberapa hari yang lalu... Dimana kejadian itu, menciptakan trauma bagi rakyat desaku,"


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2