
Pagi hari kemudian Fang Ling terbangun dengan posisi kepala berada di dada gadis pemilik rumah makan, hal ini adalah kejadian biasa bagi Fang Ling.
Fang Ling mengangkat tubuhnya dan duduk bersila memandangi gadis di sampingnya.
Tidak berselang lama kemudian gadis pemilik rumah makan itu terbangun, diapun menguap dan duduk bersila berhadapan dengan Fang Ling.
"Ah... Selamat pagi, tuan,"Ujar gadis itu sambil mengucek mata dan sesekali menguap,"Bagaimana dengan tidur mu ? apakah nyenyak ??"
Dengan keadaan canggung itu Fang Ling hanya mengangguk,"Selamat pagi, aku baik-baik saja...Nah nona, aku ada sedikit hadiah perpisahan untuk mu,"
Tubuh Fang Ling yang segar karena mendapatkan istirahat yang cukup membuatnya kembali bersemangat, iapun berdiri dengan di ikuti gadis pemilik rumah makan itu.
"Hadiah apa yang tuan maksud ?"Tanya gadis itu nampak kebingungan.
Fang Ling tersenyum kecil, dia mengeluarkan satu kristal es yang setara dengan seratus koin emas dari balik pakaiannya.
"Ini adalah uang untuk membayar makanan dan tempat tinggal selama satu malam, aku sangat berterimakasih"Fang Ling menyerahkan kristal itu kepada gadis di hadapannya, nampak gadis itu terdiam dan tidak dapat berkata apa-apa.
Dengan kristal di hadapannya, gadis itu dapat hidup mewah tanpa berkerja hingga dia mati sekalipun. Namun benda itu terlalu berharga untuk sesuatu yang bisa di dapatkan oleh seorang pria buta.
"Kristal ini pasti satu-satunya harta yang di milikinya, dia mungkin merasa kasihan kepada ku karena cerita tadi malam,"Batin gadis itu.
Walaupun tawaran di hadapannya nampak sangat menggiurkan, gadis itu menolak mentah tawaran itu karena menduga jika kristal itu lebih di butuhkan Fang Ling ketimbang dirinya.
"Kau menolak ini ?"Tanya Fang Ling.
Gadis manis pemilik rumah makan itu mengangguk nampak sama sekali tidak menyesal dengan pilihannya.
Dari gerak gerik gadis itu Fang Ling sudah dapat menebak apa yang sedang di pikirkan nya, hal inilah yang membuat Fang Ling sangat senang.
"Kau sangat murah hati, percaya atau tidak hanya sedikit manusia yang tidak di butakan oleh harta di dunia ini,"
Fang Ling tersenyum cerah, dia mengibaskan tangannya dan menjatuhkan puluhan kristal es dari udara kosong ke lantai rumah makan itu.
Hal itu membuat gadis pemilik rumah makan merasa sangat terkejut, dia menatap kristal-kristal di bawah kakinya. Saat akan bertanya kepada Fang Ling, pemuda itu sudah menghilang dari pandangannya.
"Siapapun tuan, aku akan mengingat mu dan menceritakan kisah ini ke anak-anak ku dan seterusnya,"Gadis itu tersenyum bahagia, dia menangis karena tidak lagi perlu hidup susah.
Sedangkan di atas langit Fang Ling melesat cepat dengan mengepak keempat sayapnya menuju ke benua teratai perak segera untuk menyelesaikan masalah.
__ADS_1
Dengan bantuan dari teknik langkah naga petir, tubuh Fang Ling perlahan di selimuti hawa keunguan dan berubah menjadi siluet yang dapat bergerak dengan sangat cepat.
Hanya dalam beberapa jam kini Fang'Ling masuk ke kawasan benua ke tiga (pasir-mati) diapun menurunkan tinggi terbangnya untuk melihat keadaan benua itu lebih seksama.
"Ah...aku lupa jika aku buta"
Baru ingat jika dirinya buta, Fang Ling mengabaikan apa yang ada di bawah dan kembali fokus terbang ke benua teratai perak yang sudah tidak jauh.
Tidak berselang lama kini Fang Ling sudah hampir sampai di kota Nagano, diapun memilih untuk mendarat cukup jauh dari gerbang kota agar tidak menarik perhatian orang-orang.
Setelah mendarat Fang Ling menyusuri jalan setapak untuk menuju ke pintu gerbang kota Nagano, dari kejauhan dia sudah bisa merasakan ada beberapa orang yang sedang berjaga di depan gerbang.
Beberapa penjaga gerbang nampak waspada melihat kedatangan Fang Ling, dua dari mereka menghampirinya dengan masing-masing membawa sebilah pedang.
"Pendekar apa yang kau lakukan di gerbang kota Nagano ?"Seorang penjaga menghadang Fang Ling.
"Aku ingin masuk ke kota Nagano, apa aku harus di perlakukan congkak seperti ini,"Fang Ling berkata sambil mengeluarkan sedikit hawa membunuh, membuat semua penjaga ketakutan.
"Maaf jika tingkah saya menyinggung pendekar, anda akan di persilakan masuk jika memiliki liontin indentitas,"Kata penjaga yang menghadang Fang Ling dengan sekujur tubuh bergetar.
Fang Ling merogoh liontin pengenalannya dan tidak sengaja menjatuhkan giok tempat tinggal Yung Qian, penjaga itu memungutnya dan nampak sangat ketakutan.
Tubuh pendekar di hadapan Fang Ling bergetar hebat lebih parah ketimbang saat di ketakutan dengan hawa membunuh dari Fang Ling.
Tanpa banyak pikir Fang Ling langsung mengiyakan perkataan penjaga itu, hal ini membuat sang penjaga semakin menghormati Fang Ling.
"Maaf membuat tuan lama menunggu, silakan masuk,"
Penjaga itu mempersilakan Fang Ling masuk ke kota Nagano, sifatnya seketika berubah menjadi sangat sopan ketika mengetahui jika Fang Ling adalah kerabat dari Yung Qian.
Fang Ling merasa sangat senang karena sempat mengira akan ada pertumpahan darah di depan gerbang kota. Diapun berjalan menyusuri jalan kota Nagano.
"Tidak ku sangka jika dia akan di takuti seperti ini, pantas saja kota ini jauh dari kata di penuhi tindakan kriminal karena di dalamnya terdapat sangkar harimau,"
Dengan perasaan senang dan kagum Fang Ling tidak menyangka jika kita yang di kenal dengan tindakan kriminalnya kini sangat berubah.
Kota Nagano menjadi sangat tentram dengan adanya seorang yang di takuti, hal ini semakin memperkuat Fang Ling percaya jika Yung Qian memiliki sifat sesosok pemimpin perang.
Walaupun memiliki kemampuan tinggi Fang Ling tidak berniat menjadi pemimpin, karena dia lebih suka membunuh dan melakukan apapun seorang diri.
__ADS_1
Di jalan kota yang ramai Fang Ling langsung mengarah ke alun-alun kota karena di tempat itulah tempat tinggal Yung Qian.
Sepanjang jalan tidak ada tindakan kriminal yang terjadi dan terasa sangat tentram, hal ini membuat Fang Ling menjadi sangat senang.
Di sebuah rumah sederhana dan minimalis, seorang pemuda berwajah tegas berpakaian hitam dan putih sedang duduk di teras rumah memandangi seorang bocah kecil bermain bola.
"Ayah ayah lihat aku bisa melakukan ini"
Dengan ekspresi datar Yung Qian memperhatikan anaknya, diapun hanya bisa mengangguk begitu anaknya berbicara.
Bocah kecil itu nampak memperlihatkan beberapa gerakan bersama bolanya, namun bola itu tidak sengaja tertendang dan meluncur ke gerbang keluar kediamannya.
Dengan polosnya bocah itu mengejar bola yang menggelinding, diapun terdiam saat bolanya membentur kaki seseorang.
"Tuan siapa ?"Bocah itu mengambil bola dan beralih menatap Fang Ling yang tersenyum ke arahnya.
Merasakan energi yang sangat kuat Yung Qian berdiri untuk menyusul anaknya, namun di depan terlihat seorang pemuda sedang berdiri menghadap ke arahnya dengan berpakaian putih.
"Apa kabar mu Yung Qian, lama tidak bertemu...Kau sudah menjadi lebih hebat dari yang aku ingat,"
Jangan lupa tiga hal :
1.Vote
2.Like
3.Komen
Pemaksaan, siapa saja yang tidak mau akan di bantai Fang Ling
Mampir juga ke novel teman aku, judulnya :
•Legenda dewa pohenix
•Legenda dewa kematian
•Pendekar pedang abadi
Bersambung
__ADS_1