
Pagi harinya terlihat Fang Ling masih tertidur di atas dahan pohon, karena baru dapat pulang ketika sudah tengah malam.
Karena matahari sudah akan tepat di atas puncak, Mu Yang mendarat di halaman rumah Fang Ling dan membawa sebuah bunga kecil di tangannya.
Dengan bunga itu Mu Yang berharap jika perasaannya akan di terima Fang Ling, namun gadis cantik itu masih tidak tau jika pemuda yang di sukai-nya kini menjadi buta.
Perasaan takut, khawatir, dan rasa suka bercampur menjadi satu, hal ini juga membuat Mu Yang menjadi gugup dan hampir saja menyerah.
"Tidak, aku yakin aku bisa mendapatkan hatinya... Ayolah Mu Yang kau pasti bisa !"
Agar tidak terlalu gugup Mu Yang menyemangati dirinya sendiri, iapun berjalan menghampiri Fang Ling yang masih tertidur pulas di atas dahan pohon persik.
Setelah berada cukup dekat dengan Fang Ling, Mu Yang hendak memanggil nama pemuda itu namun dia sudah terbangun dan berposisi duduk.
"Ada apa senior Yang ? tidak biasanya kau mendatangi rumah ku sepagi ini,"Ujar Fang Ling dengan menghadap ke depan, sehingga Mu Yang hanya dapat melihat punggungnya.
Tubuh Mu Yang menggigil, wajahnya berubah merah padam hingga nafasnya menjadi berat.
"Fang Ling, aku menyukaimu ! aku sangat menyukaimu,"Ujar Mu Yang sambil menyodorkan sebuah bunga ungu ke arah Fang Ling.
"Apa kau yakin ? tapi, kurasa senior Yang tidak mengetahui keadaan ku karena sudah keluar kamar terlebih dahulu,"
Jantung Mu Yang berdetak lebih cepat, hal ini menjadikannya khawatir jika Fang Ling sudah menolak perasaannya.
"Maksudmu ? bisakah kau menghadap ke arahku, dengan begitu aku bisa memerhatikan wajahnya mu,"
Tanpa berkata-kata Fang Ling membuka matanya dan menghadap ke arah Mu Yang,"Kini aku buta, apa kau yakin ingin menjadi pasangan ku ?"
Ketika melihat sepasang mata silver di hadapannya membuat jantung Mu Yang semakin berdetak kencang, waktu terasa berhenti begitu ada kekurangan di wajah seorang pria yang sangat ia Kagumi.
Kali ini Mu Yang mengerti dengan perasaannya sendiri, dia tau jika yang selalu membuat jantungnya berdetak lebih cepat saat melihat Fang Ling di karenakan kesempurnaan di wajahnya.
Namun hal-hal yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat seketika berhenti begitu melihat kecacatan pada kedua mata indah milik Fang Ling.
Mu Yang hanya terdiam karena hal itulah yang terus di lakukannya jika berhadapan dengan Fang Ling, entah kenapa kini pikirannya tidak tenang bagaimana harus melindungi pasangannya yang buta.
Apalagi Mu Yang berencana memamerkan Fang Ling kepada semua teman-teman yang selalu menghinanya, namun kali ini keindahan itu sudah hilang dan di gantikan dengan kecacatan.
Hatinya dan batin Mu Yang berakrobat seolah sangat ingin menjauhi Fang Ling, namun karena merasa terbebani jika harus mendapatkan pasangan cacat iapun menuruti kemauan hatinya.
Tidak perlu di jelaskan Fang Ling sudah tau apa yang di pikirkan gadis itu, dia tidak langsung mendengarkan perkataannya karena sedari awal sudah mengetahui sifat Mu Yang.
__ADS_1
Fang Ling kembali membelakangi Mu Yang dengan perasaan yang sedikitpun tidak ada kekecewaan,"Jangan katakan... Aku mengerti, jadi tidak ada gunanya kau selalu mengikuti orang buta ini,"
"Bu-bukan begitu, maaf,"
Kata 'Maaf' Hanya itu yang dapat Mu Yang katakan, diapun kembali terbang meninggalkan kediaman Fang Ling dan membuang perasannya jauh-jauh serta tidak lagi berharap bisa dekat dengan Fang Ling.
Beberapa jam setelah kepergian Mu Yang, Fang Ling masih duduk di atas dahan sambil membayangkan suasana yang di lihatnya.
Sunyi dan jauh dari keramaian, disitulah kedamaian yang Fang Ling dapatkan untuk beberapa saat.
"Sebaiknya aku bergegas ke kediaman Mu Tong, akan sangat berbahaya jika aku ketinggalan,"
Dengan menggunakan pakaian berwarna putih bercorak hitam dan penutup mata berwarna putih seperti tali, Fang Ling terbang ke kediaman Mu Tong agar tidak di tinggal rombongan.
Karena sudah hapal setiap letak rumah-rumah di sekte naga langit, tanpa kesulitan yang berarti Fang Ling telah sampai di depan halaman luas milik keluarga Mu.
Diapun dapat merasakan ada beberapa tetua yang sudah berkumpul di halaman rumah, mereka nampak senang dengan kehadiran Fang Ling.
"Junior Fang, Selamat datang. Hahaha, seperti biasanya kau lagi-lagi sangat membuat kami kagum,"
Seorang tetua berumur kisaran 30-thn nampak menyambut kedatangan Fang Ling dengan baik, hal itu juga di lakukan oleh beberapa tetua lainnya.
"Kau ini tau sekali bagaimana caranya merendah,"Pria yang berbicara di awal dengan Fang Ling nampak tertawa kecil,"Kami sudah tau dengan kemampuan junior, jadi tidak perlu merendah seperti itu,"
"Baik Tetua, apa yang kita tunggu sekarang ? lalu, bagaimana cara kita ke kerajaan benua teratai perak,"Tanya Fang Ling sopan agar tidak menyinggung pendekar-pendekar itu.
Seorang tetua sepuh berpakaian serba putih berjalan selangkah lebih dekat dengan Fang Ling, dia tersenyum kecil melihat pemuda di hadapannya.
"Kita sedang menunggu tetua Shin, jika mengenai alat transportasi untuk perjalanan, mungkin kita akan terbang agar bisa sampai lebih cepat,"
"Lebih Cepat ? apakah terjadi sesuatu di kerajaan hingga kita harus datang lebih cepat ??"Tanya Fang Ling.
Pria sepuh itu tersentak mendengar pertanyaan Fang Ling yang langsung ke inti, diapun berpikir jika pemuda itu tidak akan sadar untuk waktu yang lama.
"Kau ini ternyata sangat suka berterus-terang,"Pria sepuh itu memainkan janggutnya yang panjang dan putih sambil tersenyum penuh makna.
"Benar yang junior katakan, memang ada masalah di kerajaan karena putri tertua di kerajaan itu sedang sakit parah dan membutuhkan bantuan dari tetua Shin untuk mengobatinya,"
Mendengar penjelasan dari pria sepuh di hadapannya membuat Fang Ling teringat akan sesuatu, yaitu tahun ini raja dari kerajaan teratai perak tumbang di medan perang dan putri tetua di kerajaan itu akan segera di nobatkan untuk menduduki kursi kosong.
Tapi putri yang di maksud sedang sakit parah, hal ini juga membahayakan tahtanya sebagai putri pengganti kaisar, karena jika tidak ada pengganti tahta maka kerajaan akan pasrah membiarkan sekte aliran hitam yang mendudukinya.
__ADS_1
Namun hal itu tidak akan terjadi karena sekarang Shin Hye akan menyelamatkannya, sesuai dengan ingatan pertama Fang Ling, awal dari keselamatan putri kaisar dari sakit yang di deritanya melambungkan nama Shin Hye hingga di panggil dewa obat.
"Jadi mengenai sang putri... Apakah tidak ada penggantinya sebelum sang putri kembali sembuh ? bukankah peperangan ini harus di pimpin seseorang, sedangkan sang putri sakit keras,"Kata Fang Ling sambil mengusap dagu.
Semua orang tersentak dan tidak mengira jika Fang Ling akan berpikir sejauh itu, apalagi yang di katakan nya sangat akurat tanpa kesalahan.
"Be-benar, itulah yang menjadi masalah saat ini karena kita akan berperang tanpa pemimpin,"Ujar pria sepuh di hadapan Fang Ling.
Fang Ling menaikan alisnya,"Berperang tanpa pemimpin ? apakah kau sedang mencari mati, situasinya saja tidak tau apalagi strategi yang musuh gunakan,"
"Lalu apa yang dapat junior katakan sebagai usulan ? kita memang tidak di untungkan saat ini, kita membutuhkan ahli strategi dan pemimpin bermata elang,"Kata lagi pendekar sepuh.
"Pemimpin bermata elang...Itu mengingatkan aku pada sekte elang emas di benua teratai perak, aku juga mengenal anak dari pemilik sekte itu,"
Perkataan Fang Ling membuat beberapa tetua itu sangat terkejut sampai-sampai membuka mulut lebar-lebar, mereka tau pasti jika sekte elang emas adalah sekte besar tertutup dan Fang Ling mengenal anaknya.
"Ju-Junior jangan bercanda, apakah kau benar-benar mengenal anak dari sekte itu ?? jika memang benar, itu akan menjadi kesempatan emas bagi kita dengan membiarkannya menjadi pemimpin perang,"Lanjut pria sepuh itu dengan wajah mengharapakan jika perkataan Fang Ling benar.
Fang Ling mengeluarkan plakat giok hijau dari balik jubahnya, dia memperlihatkan giok itu kepada tetua dia hadapannya.
"Tidak hanya mengenalnya, aku juga pernah bertarung dengan pemuda itu dan menyelamatkan nyawa kekasihnya,"
Jangan lupa tiga hal :
1.Vote
2.Like
3.Komen
Pemaksaan, siapa saja yang tidak mau akan di bantai Fang Ling
Mampir juga ke novel teman aku, judulnya :
•Legenda dewa pohenix
•Legenda dewa kematian
•Pendekar pedang abadi
Bersambung
__ADS_1