Legenda Pendekar Pedang

Legenda Pendekar Pedang
Legenda tiga kaisar naga III


__ADS_3

Kelima perempuan cantik itu langsung mengerumuni bayi tersebut, hingga mereka baru sadar jika bayi itu memiliki rambut putih dengan wajah cemerlang, memancarkan kekuatan dan semangat tinggi dari wajahnya itu.


"Di sangat tampan, apa yang harus kita lakukan. Bukankah sudah jelas jika sekte ini tidak akan menerima seorang laki-laki,"Kata seorang perempuan tersenyum pahit, begitu mengerti jika bayi itu tidak akan di terima di sektenya.


"Kak, bukankah dia masih kecil ?? Akan sangat kasihan jika kita membiarkannya di sini,"Kata lagi seorang perempuan mempunyai rambut sebahu, nampak tidak tega melihat bayi di hadapannya.


"Aku mengerti apa yang kau rasakan adik, tapi... Hukum tetaplah hukum, kita tidak bisa membiarkannya di sini,"Tambah seorang perempuan cantik berwajah tegas berambut merah panjang.


Seorang perempuan berambut biru yang menemukan bayi itu terlebih dahulu nampak terdiam membisu, dia tegak berdiri dengan membawa keranjang yang berisi bayi di dalamnya. Sontak ke empat temannya terkejut, melihat apa yang di lakukan gadis itu.


"Apa yang ingin kau lakukan kak ??Mau kau bawa kemana bayi itu ?" Kata perempuan rambut sebahu dengan wajah khawatir ikut berdiri bersama teman-temannya.


Gadis berambut biru itu hanya diam sambil menggelengkan kepalanya, karena dia bisu sedari lahir namun tidak membuatnya di jauhi orang-orang karena parasnya yang sangat cantik.


"Hei ! Jangan bilang kau ingin membawa bayi itu ke sekte ? apakah kau gila, patriak akan mencambuk mu habis-habisan jika dia melihat bayi itu bersama mu,"Tegas perempuan berambut merah.


Gadis berambut biru itu menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap semua temannya, ia melakukan beberapa gerakan isyarat. Isyarat itu berkata jika dia akan baik-baik saja dan lebih mengkhawatirkan keselamatan bayi ini dari-pada dirinya sendiri.


Keempat gadis itu hanya diam karena mengetahui sifat temannya itu, yang suka menolong hingga tidak mementingkan dirinya sendiri. Setelah berpikir beberapa saat, keempat gadis itu berlari ke arah temannya dan berjalan bersama.


"Jika kau di hukum, mari kita di hukum bersama-sama. Karena kami juga yang menemukan bayi itu bersama mu,"


"Benar kak, kau tidak perlu menanggungnya sendirian. Kita sudah lama berteman, sehingga jika ada masalah seperti ini kita juga tetap akan bersama,"


"Aghhh, kalian tidak memberikan ku pilihan lain, aku juga akan ikut,"


Mendapatkan dukungan dari semua temannya, gadis berambut biru itu merasa sangat senang hingga tidak sadar jika dirinya sudah berada di kawasan sekte. Terlihat, semua bangunan di luar ataupun di dalam ruangan, di penuhi oleh perempuan-perempuan cantik.

__ADS_1


Karena bayi itu berada di dalam keranjang, perempuan-perempuan lain yang berlalu-lalang tidak sadar jika isinya adalah bayi laki-laki. Dengan langkah tergesa-gesa ke-lima gadis tersebut membawa bayi itu ke sebuah bangunan besar berwarna merah.


Setalah memasuki pintu besar dari bangunan megah berwarna merah itu, terlihat di dalamnya di penuhi dengan barang-barang berharga yang terbuat dari giok ataupun kayu ukiran.


Ke-lima perempuan tersebut terus berjalan hingga mereka berhenti di depan sebuah pintu yang di baliknya adalah patriak mereka. Secara perlahan pintu itu di buka, memperlihatkan sebuah meja kayu dan terlihat seorang perempuan paru baya sedang duduk memperhatikan kertas yang di pegangannya.


Terlihat perempuan yang sedang duduk itu mempunyai paras cantik berwajah bulat, layaknya seorang gadis berumur 20thn lebih sedikit.


Begitu menyadari jika ada lima muridnya datang, perempuan tegas itu langsung menatap mereka tajam dan tidak sengaja melihat keranjang yang di bawa gadis berambut biru.


"Apa yang kau bawa ? sepertinya cukup berat hingga membuat mu berkeringat,"Kata perempuan itu dengan nada datar, bahkan membuat kelima gadis di hadapannya meneguk ludah dengan wajah berkeringat.


Merasa sedikit takut dan di dorong oleh perasaan kasihan terhadap bayi yang di temukan-nya, gadis berambut biru berjalan mendekati patriaknya dan meletakkan keranjang yang di bawanya di atas meja sebelum bersujud dengan di ikuti semua temannya.


Melihat semua murid-muridnya bersujud, perempuan tegas itu langsung saja membuka keranjang di hadapannya dan menemukan seorang bayi laki-laki di dalamnya sedang tertidur pulas.


"Ampuni kami patriak,"Kata keempat gadis itu serempak kecuali gadis berambut biru, dia hanya bisa bersujud dengan tubuh bergetar karena memiliki fisik yang rapuh.


Wajah patriak itu merah padam, dia turun dari kursinya dan memperlihatkan tingginya yang tidak lebih tinggi dari anak berusia sepuluh tahun, memiliki tubuh mungil dengan kemampuan tinggi.


"Jelaskan siapa bayi ini ? kalian tau apa hukuman melanggar peraturan di sekte ini kan ?! Bentak patriak itu terlihat sangat marah dengan wajah merah.


"Siapa saja yang melanggar peraturan sekte akan di hukum cambuk, seratus bahkan lima ratus jika melanggar peraturan berat,"Kata keempat gadis itu serempak dengan posisi yang masih bersujud di tempatnya.


"Benar ! kalian tau jika kalian sudah melanggar hukum berat dan akan di hukum lima ratus cambukan di punggung,"Kata patriak itu tegas, dengan memegang cambuk yang muncul dari udara kosong.


"Sekarang jelaskan siapa bayi itu !! Jika alasan kalian tidak kuat, maka kalian akan di hukum,"Kata lagi patriak itu dengan nada tinggi.

__ADS_1


Gadis berambut biru berdiri tegak, dia menceritakan semua yang terjadi dengan gerakan isyarat menggunakan kedua tangannya yang kurus. Begitu tau jika bayi itu adalah satu-satunya pengendali es yang seharusnya di bunuh, patriak sekte itu diam untuk beberapa saat.


"Sudah jelas jika bayi itu berasal dari desa es yang kebetulan memiliki sungai yang sama dengan sekte ku, apa yang harus aku lakukan,"Batin patriak itu, hingga telinganya mendengar suara rengekan bayi iapun berjalan menghampirinya.


Begitu melihat ke dalam keranjang, patriak itu menemukan bayi dengan kedua bola mata memancarkan hawa maskulin yang pekat bahkan mampu membuat dirinya terpana.


Tidak mau termakan oleh wajah bayi itu, dia mengambil pedangnya dan menghunus pedang itu ke jantung bayi di hadapannya, namun gadis berambut biru bergerak cepat dan menahan serangan itu dengan tubuhnya.


Alhasil pedang itu menembus perutnya hingga membuatnya seketika sekarat dengan keadaan berdiri, membuat patriak itu panik dan memanggil tabib perempuan untuk segera mengobati gadis berambut biru yang sekarat.


Saat gadis berambut biru di bantu oleh semua temannya keluar ruangan, kini hanya tersisa sang bayi dan gadis kecil berumur tiga puluh tahun yang memiliki kesalahan di otaknya.


Dengan langkah pelan, patriak itu berjalan menghampiri sang bayi untuk kedua kalinya dia menggendong bayi itu dengan tubuh kecilnya, membuat ia merasa kesulitan.


Merasa haus sang bayi meraba dada patriak itu yang memiliki dua dada berukuran besar, untuk ukuran tubuhnya yang kecil. Merasa kasihan karena juga pernah memiliki seorang anak, sang patriak berbaik hati memberikan sedikit air itunya kepada sang bayi.


"Sekarang namamu adalah Ranzel, kau akan menjadi pendekar yang sangat hebat di masa depan,"



Mampir juga ke novel teman aku, judulnya :


•Legenda dewa pohenix


•Legenda dewa kematian


•Pendekar pedang immortal

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2