
Fang ling perlahan memasuki sebuah kegelapan tanpa ujung dengan pandangan yang hanya dapat melihat kegelapan yang begitu menyesakkan.
Sebelum mati, hal yang paling di ingat Fang ling adalah membunuh satu peradaban hingga dirinya merasa begitu berdosa dengan kematian orang-orang yang di bunuh nya.
Namun dengan hancurnya benua itu berserta isinya, Fang ling merasa jika dirinya mencapai sesuatu yang bisa di katakan berharga.
Dengan tatapan kosong, ia hanya meratapi nasibnya yang tidak pernah merasakan kehangatan dari seorang perempuan.
"Sungguh, apakah memohon suatu kebahagiaan adalah sesuatu yang salah ? Fang ling hanya tersenyum kecil dengan wajah yang sudah di basahi dengan air mata bercampur darah.
Baginya kebahagiaan adalah sesuatu yang sangatlah berharga dan sangat sulit untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia yang sudah hancur.
"Apakah akan benar-benar berakhir ?! Kehidupan yang di awali dengan kesengsaraan dan di akhiri dengan kesengsaraan pula...apakah ini adil untuk ku ?!
Fang ling merasa marah dan kesal dengan dirinya sendiri, ia merasa begitu bodoh karena menyia-nyiakan kesempatan untuk menjadi seorang pendekar hebat di usia yang muda.
__ADS_1
Selama memasuki dunia persilatan yang sangatlah berbahaya, Fang ling terus mencari sebuah kedamaian dan berharap ada kebahagiaan di ujung jalannya.
"Berharap ada kebahagiaan di ujung jalan ?! Hahah, aku benar-benar naif...dari awal aku sudah tau jika manusia seperti ku tidak mungkin mendapatkan kebahagiaan walaupun sesaat,"
penyesalan ? Fang ling mati di dalam sebuah penyesalan tidak berujung dan begitu besar, hingga membuatnya hampir gila jika mengingat hal itu.
Di dalam kegelapan Fang ling melihat sebuah cahaya keputihan berbentuk pintu yang perlahan mendekati tubuhnya, saat akan menghindar cahaya itu justru melahap tubuh Fang ling.
Perlahan Fang ling dapat merasakan rasa sakit kembali, tubuhnya seolah-olah tercabik-cabik di seluruh bagian tubuhnya.
"Argh aragh !
Di tengah-tengah kepedihan yang di rasakan Fang ling, dirinya mulai tidak sadarkan diri, namun tubuhnya menolak dengan kembali terhempas di sebuah tempat.
Dengan mata yang sudah di penuhi dengan air mata, Fang ling mulai dapat merasakan semua Indra tubuhnya sudah kembali normal.
__ADS_1
Dengan pelan dan bingung dengan apa yang sudah terjadi, Fang ling membuka mata dan menemukan dirinya sedang berbaring di bawah pohon. tidak jauh darinya terdapat sebuah perapian yang di buat oleh seseorang.
merasa janggal dengan apa yang sudah terjadi dengannya, Fang ling mencoba untuk duduk dan dapat ingatan dengan jelas jika kejadian ini sudah pernah di alaminya.
Di tengah-tengah berpikir, Fang ling kembali merasakan sakit di bagian kepalanya yang seolah-olah sedang di masuki sesuatu.
Sangking sakitnya, Fang ling menghempas kepalanya ke tanah sambil menjerit keras, hingga seorang pria paruh baya berambut hitam dan putih menghampirinya dengan wajah cemas.
"nak, apa yang sedang terjadi, apakah kau tidak apa-apa ? tanya orang itu sambil berjongkok di samping Fang ling.
Suara serak dan aroma maskulin yang tercium saat pria itu mendekati dirinya, Fang ling dapat ingatan dengan jelas jika suara dan aroma itu hanya ada di tubuh gurunya ' luo tang '.
Setelah rasa sakit yang ada di kepalanya berangsur-angsur menghilang, Fang ling membuka kedua matanya dan melihat orang yang sangat di kenalnya sedang berada di hadapannya.
air mata Fang ling membasahi wajahnya saat dirinya melihat dengan jelas jika gurunya masih hidup dan berada di hadapannya, namun saat akan memeluk gurunya Fang ling baru sadar jika tubuhnya menciut.
__ADS_1
"apa-apaan ini apakah aku berinkarnasi ?!
Bersambung....