
Bosan karena sudah menunggu Fang Ling Kembali cukup lama, Xian Guo memilih untuk duduk di bawah pohon besar tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Sambil menunggu kepulangan Fang Ling, Xian Guo terlihat sedang memperbaiki sesuatu di bagian dadanya yang dimana terdapat perban di bagian tersebut.
Sreeek
Sesuatu di balik semak bergerak tidak beraturan, Yang membuat Xian Guo langsung saja menyiapkan sikap waspada dengan mengeluarkan sebilah pedang dari elemen air.
Tatapan Xian Guo terus terpaku ke arah semak yang bergerak tidak jauh dari tempatnya beristirahat, perlahan dari dalam semak Fang Ling keluar dengan membawa beberapa ayam hutan di tangannya.
Tentunya ayam hutan itu di dapatkan nya dari dalam cincin dimensi, karena tidak mau melihat Xian Guo begitu terkejut ia memilih mengeluarkan ayam hutan itu di dalam perjalanan kembali.
Setelah tau jika yang datang adalah Fang Ling, langsung saja Xian Guo kembali duduk sambil memasang wajah datar dan acuh tak acuh.
Pinggiran bibir Fang Ling sedikit terangkat, dia mengambil sebuah daun lebar dan meletakkan ayam yang sudah di bersihkan itu di atas daun tersebut.
Fang Ling kembali berdiri dan mengambil ranting dan daun kering cukup banyak, karena lokasi mereka berada di dekat pohon, Fang Ling tidak kesulitan saat mencari bahan-bahan yang di perlukan.
Setelah semua ranting dan daun kering sudah terkumpul, Fang Ling mengambil dua buah batu berukuran segenggam tangan dan menghentak kedua batu tersebut hingga menciptakan percikan api cukup besar.
Tidak membutuhkan waktu lama, Api unggun yang di buat Fang Ling langsung saja menyala dan menghangatkan tubuh mereka dari suhu yang terbilang dingin.
Dengan tatapan datar Xian Guo terus memperhatikan apa yang di lakukan Fang Ling. Saat Fang Ling akan menatapnya, dia akan memalingkan wajahnya.
Setelah api menyala Fang Ling Kembali berjalan memasuki hutan dan kembali dengan membawa sebuah sarang madu, dan beberapa tanaman hijau.
Sebelum membakar ayam hutan itu, Fang Ling mengoleskan setiap bagian tubuh ayam tersebut dengan madu yang di dapatkan nya dari dalam hutan.
Setelah semua ayam sudah di olesi dengan madu, Fang Ling menusuk ayam itu dengan menggunakan ranting panjang dan membakar semua ayam itu di atas api yang di buatnya.
Agar ayam yang di bakar matang dengan merata, Fang Ling terus membolak-balik ayam tersebut sehingga aroma yang begitu harum keluar dari masakannya.
Xian Guo yang lupa membawa bekal makanan, Hanya sesekali melirik ayam yang di bakar Fang Ling dan Kembali membuang muka jika Fang Ling beralih menatapnya.
__ADS_1
Tentunya Fang Ling tau apa yang sedang di pikirkan Xian Guo, dirinya sengaja membuat makanan dalam jumlah cukup banyak untuk melihat bagaimana ekspresi pemuda cantik itu menahan lapar.
Setelah ayam yang di bakar sudah setengah matang, Fang Ling menaburkan dedaunan yang awalnya sudah di cincang halus ke atas ayam bakar.
Wewangian dari masakan Fang Ling semakin kuat dengan campuran bahan-bahan yang digunakan nya untuk memasak, membuat Xian Guo hampir kehilangan akal karena lapar.
Dengan jahil Fang Ling mengipas angin ke arah Xian Guo, sehingga aroma yang begitu kuat dan harum masakannya masuk ke hidung Xian Guo yang begitu ramping.
Untuk menjaga ketahanan hasratnya agar tidak mencekik Fang Ling dan membawa lari makanannya, Xian Guo menutup hidungnya dengan ujung telunjuk sambil mengeluarkan wajah acuh tak acuh.
Setelah masakannya matang dengan sempurna Fang Ling mengambil satu potong ayam dan memakannya secara perlahan, sambil duduk menghadap ke arah Xian Guo.
"Guo kecil, apakah kau tidak mau merasakan masakan ku ? Fang Ling hampir tidak dapat menahan rasa ingin tertawa, saat Xian Guo menatap nya dengan wajah kesal.
Xian Guo hanya mendengus dan kembali membuang muka sampai Fang Ling selesai makan dan menghabiskan satu potong ayam utuh.
Merasa kasihan dengan pria cantik itu, Fang Ling berjalan kembali ke api unggun dan mengambil satu potong ayam utuh untuk di berikan kepada Xian Guo.
Dengan secepat kilat Xian Guo mengambil ayam yang diberikan Fang Ling dan menghilang dari pandangannya, dengan bersembunyi di balik pohon tidak jauh dari tempat Fang Ling.
"Bahkan berterimakasih saja tidak,"Fang Ling kembali duduk di depan perapian sambil menikmati masakannya yang biasa di buat, jika dirinya melakukan perjalanan jauh seorang diri.
Dari balik pohon tidak jauh dari tempat Fang Ling duduk, Xian Guo duduk bersender di balik pohon dengan menghilangkan hawa keberadaan nya, agar Fang Ling tidak tau keberadaannya.
"Terimakasih,"gumam pelan Xian Guo, hingga nyaris tidak terdengar oleh telinga.
Perlahan Xian Guo menggigit Ayam yang ada di tangannya, dan merasakan sensasi yang begitu lembut dan manis saat mulutnya mengunyah ayam tersebut.
Merasakan begitu nikmat, Xian Guo memakan ayam itu dengan sangat lahap hingga ke potongan terakhir. Seolah-olah dirinya baru kali ini memakan makanan yang begitu enak.
Setelah perutnya sudah terisi penuh, Xian Guo perlahan mengintip Fang Ling dari balik pohon dan menemukan jika pemuda itu sudah tertidur dengan posisi duduk dan memeluk sebilah pedang.
Dengan cepat Xian Guo melompati dari dahan ke dahan dan berhenti di dahan pohon yang sama dengan Fang Ling yang di gunakannya untuk bersender.
__ADS_1
Setelah mengubah posisinya agar merasa nyaman, Xian Guo mulai menutup matanya dengan mengeluarkan hawa yang mampu merasakan kehadiran orang lain sejauh satu kilo meter untuk perlindungan.
Secara tidak terduga sudut bibir Fang Ling sedikit terangkat, karena dirinya tidak dapat tidur jika tidak ada dada atau paha perempuan.
Di alam bawah sadarnya, Fang Ling kembali tersadar dan langsung saja berdiri untuk melihat ketiga kaisar naga yang terlihat sedang memainkan catur tanpa sehelai benang yang menutupi tubuhnya.
Dengan hidung memancurkan darah, Fang Ling dapat melihat dengan jelas lekuk tubuh ketiga kaisar naga yang tidak manusiawi dan begitu indah.
Karena ada sesuatu yang akan di perbincangkan, Fang Ling kembali sadar dan memerintahkan kepada setiap kaisar naga untuk memakai pakaian.
"Rapat kabinet akan di mulai,"Fang Ling duduk bersama dengan tiga kaisar naga di sebuah meja bundar yang terbuat dari batu giok berwarna hitam.
Di tengah-tengah meja terdapat beberapa bidak catur yang sudah di mainkan ketiga kaisar naga, Fang Ling tersenyum kecil melihat bidak putih yang sudah berada di ujung tanduk.
"Siapa yang memainkan bidak hitam ? tanya Fang Ling kepada ketiga kaisar naga di hadapannya.
"Aku tuan," Kaisar naga kegelapan berdiri dengan wajahnya yang khas dan secerah giok paling sempurna.
"Aku akan mengambil alih bidak putih, jika kau bisa mengalahkan ku...aku akan mengusap kepala mu,"Kata Fang Ling.
Seolah mempunyai telinga kucing, kaisar naga kegelapan menggerakkan rambutnya dan nampak berusaha agar tidak kalah dalam permainan catur yang pasti akan di menangkan dirinya.
Fang Ling menggerakkan bidak putih yang merupakan bidak terkahir dari kelompok bidak putih, kebelakang sebanyak dua langkah dan berhasil selamat dari serangan bidak hitam yang berasal dari segala arah.
Langkah demi langkah bidak, akhirnya Fang Ling Berhasil memakan satu bidak hitam hanya dengan menggunakan satu bidak, membuat kaisar naga kegelapan kepusingan menangkap pergerakan bidak Fang Ling yang begitu teratur.
setelah beberapa jam bermain, Kaisar kegelapan keluar dengan memakan kekalahan dan kekecewaan, karena tidak jadi di elus oleh Fang Ling.
"Ayo,malam masih panjang... berusaha untuk mengalahkan ku,"kata Fang Ling, membuat tiga kaisar naga begitu bergairah dan tertantang.
Bersambung.....
__ADS_1