
Merasa jika yang di katakan Fang Ling adalah kebenaran, apalagi pemuda itu memperlihatkan sebuah giok yang menyebutkan lokasi sekte elang emas semakin membuat semua tetua itu senang.
"Tapi bagaimana jika mereka tidak mau membantu kita ?"Pria muda di awal pembicaraan bertanya.
"Tidak mungkin mereka tidak mau, jika mereka diam saja itu sama saja dengan membiarkan sekte mereka hancur karena juga berletak di benua teratai perak,"
Perkataan Fang Ling kembali membuat beberapa tetua itu menjadi tenang, tapi mereka masih meragukan jika sekte itu mau membantu.
"Junior, aku tau kau sangat yakin dengan mereka, namun sekte elang emas terkenal sangat tertutup apalagi dengan masalah politik,"Pria sepuh di hadapan Fang Ling nampak khawatir.
Fang Ling terdiam beberapa saat sebelum tersenyum kecil,"Jangan khawatir, jika mereka tidak mau tinggal hancurkan saja sektenya,"
Mendengar perkataan yang keluar dari mulut Fang Ling membuat semua tetua itu terkejut, mereka tidak menyangka jika pemuda itu bisa mengeluarkan kata seperti itu.
"Junior bercanda kan ?"Pria sepuh itu kembali berkata mewakili semua tetua yang juga ingin menanyakan hal serupa.
"Tentu saja aku bercanda, tidak mungkin aku bisa menghancurkan sekte mereka tanpa alsan jelas... Namun, mengenai bantuan dari mereka tetua sekalian tidak perlu ambil pusing karena aku sendiri yang akan mendatanginya,"
"Jika junior sudah berkata seperti ini, maka kami semua hanya bisa berharap jika masalah junior berjalan dengan lancar,"Ujar tetua sepuh itu.
Fang Ling mengangguk menanggapinya. Tidak berselang lama dari dalam kediaman keluarga Mu, Shin Hye berjalan keluar menggunakan pakaian putih seperti sedang berkabung.
Langsung saja saat pria sepuh itu berjalan menghampiri mereka, semua tetua termasuk Fang Ling menangkupkan tangan sembari membungkuk memberi hormat.
"Selamat datang tetua Shin"
Kata semua tetua termasuk Fang Ling serempak, semua orang itu kembali tegak lurus begitu di perintahkan oleh Shin Hye.
Merasa jika pembicaraan dan usul dari Fang Ling sangatlah penting, pria sepuh yang berusia sama dengan Shin Hye berjalan menghampiri pria itu dan membisikkan sesuatu tentang rencana Fang Ling.
Wajah Shin Hye berubah serius begitu mendengarkan perkataan salah satu tetua, dia menatap Fang Ling lebih dalam lagi untuk memastikan sesuatu.
"Apa kau yakin dengan rencana mu nak ? Jika kau berhasil, maka kita akan benar-benar terbantu dengan adanya dukungan dari sekte terbesar di benua teratai perak,"
"Aku yakin tetua, maka dari itu aku meminta ijin dari mu untuk langsung pergi ke kediaman kenalanku, jadi kita tidak membutuhkan waktu lama untuk berputar-putar karena putri raja juga membutuhkan bantuan anda,"
Melihat keyakinan Fang Ling dalam berbicara dan fakta jika putri raja juga sangat membutuhkan pertolongan membuat Shin Hye menyetujui dan mempercayai pemuda itu.
"Jika kau bersikeras seperti ini, maka aku juga tidak bisa apa-apa, tapi kau harus menyusul kami secepatnya setelah kau selesai,"Ujar Shin Hye.
__ADS_1
Fang Ling membungkuk memberi hormat kepada semua tetua yang berada di tempat itu, setelahnya dia langsung terbang cepat ke benua kedua.
Memang benar Yung Qian tinggal di benua kedua namun tidak di sekte elang emas, entah apa yang terjadi namun plakat di tangan Fang Ling dengan jelas menyebutkan kediaman Yung Qian berada di kota Nagano.
Kota Nagano sendiri masih berada di kawasan benua teratai perak, tapi lebih tepatnya juga berada di perbatasan benua ketiga (gurun mati).
"Haiss...Kenapa dia malah memilih tinggal di dekat perbatasan benua ketiga gurun mati, pasti banyak tindakan kriminal di sana,"
Fang Ling yang tipe seseorang yang tidak tahan melihat ketidak adilan akan sangat terbebani di kota itu, hal ini juga menyangkut pedagang dari benua ketiga yang semuanya kriminal.
Jika saja kota itu sudah tercemar bandit maka tidak ada pilihan lain bagi Fang Ling menghancurkannya, karena pemimpin dari benua teratai perak juga sudah mati.
Di atas awan Fang Ling terus terbang dengan mengandalkan kemampuannya dalam memproyeksikan gambaran di sekitarnya agar tidak tersesat.
Fang Ling menutup matanya dengan kain memiliki alasan untuk menjaga kedua mata agar tidak kering begitu terpapar udara.
Walaupun buta Fang Ling sebenarnya bisa melihat dengan cara berbeda. Jika manusia melihat dan bisa menentukan warna alami sehingga dapat menganggumi pemandangan.
Pernyataan itu berbeda dengan orang buta, mereka tidak bisa membedakan warna namun bisa melihat dengan jelas tapi dalam bentuk polos (tida memiliki warna) kecuali putih.
Hal itu membuat Fang Ling mampu bersikap biasa saja seolah tidak buta karena memang masih bisa melihat walaupun tidak ada warna selain putih.
Matahari mulai terbenam namun Fang Ling masih berada di area benua empat, iapun mempercepat terbangnya atau akan benar-benar berbahaya.
"Akhhhh ! sial aku benar-benar buta sekarang !!
Matahari tenggelam dan menghilang begitu juga dengan pengelihatan Fang Ling yang juga menghilang.
Karena berada di udara Fang Ling sama sekali tidak bisa memproyeksikan apapun di sekitarnya, iapun terjatuh dengan posisi santai dan berharap jika tubuhnya jatuh di sebuah keramaian.
"Kehidupan ! ini jelas-jelas energi kehidupan yang sangat banyak !!..Aku akhirnya selamat,"
Di saat tubuhnya mulai terjatuh dan menembus awan, Fang Ling merasakan energi kehidupan yang sangat banyak menandakan di bawahnya terdapat kota besar entah di benua mana.
Di saat tubuhnya berada di ketinggian sepuluh kaki Fang Ling langsung mengaktifkan jubah tempur. Ledakan besar terjadi hingga membuat tanah hancur begitu tubuh Fang Ling mendarat.
Dengan keadaan buta total Fang Ling meraba tempat dirinya mendarat,"Ini tanah, aku jatuh terlalu jauh dari kota yang sempat aku rasakan saat masih berada di udara,"
Di tengah-tengah kebingungannya Fang Ling merasakan energi kehidupan berada beberapa meter di belakang, iapun bangkit berdiri namun kembali terjatuh karena menginjak sesuatu.
__ADS_1
Dengan keadaan terungkup Fang Ling meraba sesuatu di tanah berharap mendapatkan potongan kayu, namun entah karena sial atau apa dia tidak menemukannya.
"Pedang kaisar es, Kemari-lah !"
Merasa putus asa Fang Ling memanggil pedang legendaris kaisar es, di atas langit terlihat pedang itu terjatuh dan menancap cukup jauh di hadapan Fang Ling.
Dengan keadaan konyol Fang Ling kembali meraba pedang itu namun tidak berhasil, iapun frustasi dan mengutuk pedang kaisar es yang jatuh terlalu jauh.
"Tuan, maju sepuluh langkah ke depan dan berhati-hatilah karena banyak lumpur,"
Tiba-tiba di pikiran Fang Ling terdengar suara perempuan, hal ini tidak membuat Fang Ling terkejut karena itu adalah suara kaisar naga es.
Fang Ling berjalan sepuluh langkah seperti yang di katakan kaisar naga es, diapun meraba kedepan dan berhasil memegang ganggang pedang.
"Bantu aku ke kota di sekitar sini, dan berbicara saja di dalam pikiran ku agar tidak mengejutkan orang-orang,"Perintah Fang Ling.
"Baik tuan"
Setelah itu Fang Ling menciptakan sarung pedang dari elemen es, sarung itu bukanlah sarung biasa karena bisa menyembunyikan kekuatan pedang kaisar naga es, hal ini juga dilakukan agar tidak kelihatan terlalu mencolok.
Dengan pedang kaisar es yang tersarung rapih di pinggangnya, Fang Ling mulai berjalan ke kota dengan bantuan koordinasi kaisar naga es yang hanya dapat di dengan oleh dirinya.
"Hari ini cukup melelahkan dan sedikit sial, apa aku akan menemukan sesuatu yang menarik di kota itu ? entah kenapa ada hal menarik di sana,"
Jangan lupa tiga hal :
1.Vote
2.Like
3.Komen
Pemaksaan, siapa saja yang tidak mau akan di bantai Fang Ling
Mampir juga ke novel teman aku, judulnya :
•Legenda dewa pohenix
•Legenda dewa kematian
__ADS_1
•Pendekar pedang abadi
Bersambung