Legenda Pendekar Pedang

Legenda Pendekar Pedang
LPP.Bencengkrama


__ADS_3

Setelah mengembalikan kota hitam milik tetua Yu Lang. Fang Ling dan Yen Siulan berencana langsung pergi ke pasar untuk bermain, Yen'Siulan menjelaskan kepada Fang Ling jika hari ini banyak permainan dan wahana di pasar.


Di dalam perjalanan Yen Siulan nampak asik berbincang dengan Fang Ling, mengenai sesuatu yang ingin ia lakukan.


"Jika sudah sampai di pasar aku ingin bermain saring ikan, lalu bermain lempar buah persik, lalu membeli kincir angin, lalu masih banyak lagi."


"Wah, Siu'er aku ragu kita bisa dengan leluasa bermain."


Dari tempat-nya sekarang Fang Ling dapat melihat pasar yang berjarak sudah tidak jauh di depan, banyak orang di tempat tersebut bahkan jauh lebih ramai dari hari-hari biasa.


"Tenang saja Gege, aku adalah anak dari patriak Yen Chun..! Tidak ada yang bisa menghalangi ku."Yen Siulan berkata dengan semangat.


"Kurasa kali ini Siu'er tidak akan bisa menjadi tamu kehormatan dengan menggunakan nama Patriack Yen Chun. Topeng rubah sepenuhnya menutupi jati dirimu, sehingga orang-orang tidak bisa mengenal Siu'er kecuali kamu melepaskan topeng itu."


Yen Siulan nampak kehilangan semangat."Tapi jika aku membuka topeng ini maka hubungan kita akan ketahuan, di sisi lain aku juga ingin bermain banyak permainan."


Fang Ling tersenyum melihat sikap Yen'Siulan yang masih berada di belakang punggung-nya."Tenang saja, kakak akan mengatasi masalahmu."


"Sungguh.!! Tapi bagaimana caranya..?"Yen Siulan terlihat sangat penasaran.


Di atas udara tepat berada di atas kepala Fang Ling muncul sebuah lingkaran Holow merah, lingkaran itu turun dan membakar tubuh Fang Ling hingga mengubah hujud-nya menjadi kaisar naga form human mode.


"Bagaimana menurutmu..? apakah kakak sudah terlihat garang dan di takuti.??"Fang Ling terlihat sangat percaya diri, ia yakin dengan hujud form human normal mode kaisar naga api dirinya akan di takuti.


Yen Siulan menunjukan ekspresi kebingungan sekaligus terkejut."Gege..Rambutmu tetap berwarna hitam, hanya bagian ujung rambut yang berwana merah seperti api..Ada apa dengan tubuh mu akhir-akhir ini.?? tidak seperti dirimu yang dulu saat berubah."


Fang Ling langsung syok dan terkejut. Kemudian ia bergumam di dalam hati.


"Apa-apa ini..? Apa mungkin DNA Ranzel tidak hanya memperkuat elemen es ku, tapi juga semua elemen yang ada pada tubuhku..Karena hal itu juga perlahan-lahan tubuhku di paksa bermutasi menjadi jauh lebih kuat untuk mengimbangi kekuatan yang sekarang sudah semakin kuat."


"Kekuatan ini sangat berbahaya jika tidak segera dilatih dan mengontrolnya. Jika saja tiba-tiba kekuatan ini anjlok, kekuatan tersebut akan meledak akibat tubuhku tidak di latih untuk menahan-nya.."Perhatian Fang Ling teralihkan kepada Yen Siulan, ia tidak mau membuat gadis itu kecewa karena sudah berjanji akan menghabiskan waktu bersama hari ini.


"Mungkin latihannya besok saja, biarlah hari ini Yen Siulan merasa senang."Batin Fang Ling.


Sementara Yen Siulan nampak khawatir dengan keadaan Fang Ling, sebab sejak memberitahu perubahan pada tubuh Fang'Ling, pemuda itu terdiam untuk waktu yang lama.


"Gege, jika kamu merasa ada yang aneh dengan tubuhmu, lebih baik kita batalkan saja janji tadi karena kesehatan mu lebih penting dari kemauan ku."

__ADS_1


Fang Ling tersenyum lembut untuk menghibur Yen Siulan."Tenang saja..! Ini bukan apa-apa, Siu'er tidak perlu merasa khawatir."


Yen Siulan menghela nafas."Baiklah, katakan kepadaku jika Gege merasa ada yang tidak nyaman."


Setelah berjalan selama 5 menit sampailah Fang Ling dan Yen Siulan di depan pasar, di sana nampak sangat ramai oleh pemuda pemudi sekte pedang bambu, karena hari ini libur mungkin mereka ingin menghabiskan waktu bersama dengan pasangan masing-masing.


Fang Ling berjalan memasuki pasar yang sangat padat dan di penuhi oleh orang-orang, tetapi karena wajah Fang'Ling terlihat gahar orang-orang di bagian depan segera memberikan jalan saat melihat-nya.


"Ternyata karisma gahar di mode ini masih tetap terjaga, dengan begini akan mudah bagiku untuk melakukan sesuatu."Batin Fang Ling.


Yen Siulan celingak-celinguk menoleh ke kanan dan kiri mencari sesuatu yang ingin ia lakukan lebih dulu, pilihan Yen Siulan jatuh pada permainan memukul boneka tikus tanah.


"Gege aku mau bermain permainan itu lebih dulu.."Yen Siulan menunjuk ke arah salah satu kedai permainan, sementara Fang Ling hanya tersenyum dan mengikuti kemauan-nya.


Kedai yang di maksud Yen Siulan ternyata sudah di singgahi oleh beberapa pasangan muda, mereka tersenyum sinis melihat Yen Siulan di gendong seperti anak kecil. Tetapi senyuman sinis yang mereka tunjukkan tidak bertahan lama ketika Fang Ling menatap mereka dengan dingin, seketika orang-orang itu lebih memilih pergi dari pada harus berurusan dengan Fang Ling.


"Eh..? Kenapa mereka pergi menjauh, padahal kita tidak melakukan apa-apa. Menurutmu apa yang membuat mereka terlihat ketakutan Gege..?"


Fang Ling bersikap pura-pura tidak tahu."Kurasa mereka sudah lelah bermain, tetapi lihatlah sisi positifnya, kita tidak lagi perlu mengantri."


Fang Ling berjongkok dan menurunkan Yen Siulan dari gendongan punggung-nya. Karena sangat bersemangat, Yen Siulan segera berjalan ke depan kedai permainan.


Begitu melihat Yen Siulan dan Fang'Ling berjalan mendekat ke kedai miliknya, seorang pria berumur 30tahunan menyuguhkan senyuman terbaiknya.


"Tuan dan nona, siapa di antara kalian berdua yang ingin mencoba tantangan dariku."Pemilik wahana itu tersenyum menantang.


Yen Siulan mengangkat tangan."Aku akan mencoba tantangan mu, tetapi sebelum itu bisakah paman menjelaskan permainan ini..?"


Pria pemilik wahana tersenyum penuh makna."Tentu saja.. Permainan ini di namakan palu boneka. Nona akan di berikan satu palu karet untuk memukul sebuah boneka tikus tanah, boneka itu akan muncul satu dari sepuluh lobang yang di sediakan. Tetapi nona tidak boleh memukul boneka bebek, jika pukulan anda mengenai boneka bebek, maka satu dari tiga kesempatan nona akan hilang."


Pria itu masuk ke dalam kedai dan kembali dengan membawa sebuah boneka beruang berukuran besar."Jika nona bisa memukul semua boneka tikus tanah tanpa mengenai boneka bebek selama lima menit, maka nona berhak mendapatkan boneka ini sebagai hadiah."


Yen Siulan mengangguk mengerti dan berkata dengan yakin."Aku akan mencoba..!"


Pemilik kedai itu tersenyum, iapun memberikan sebuah palu karet berukuran sedang kepada Yen Siulan."Nona memiliki semangat yang bagus, sekarang silakan mencoba."


Yen Siulan menerima palu pemberian dari pemilik wahana, iapun berdiri di depan sebuah meja yang memiliki sepuluh lobang di atas-nya.

__ADS_1


Wajah Yen Siulan nampak serius menunggu kemunculan boneka tikus tanah, saat boneka itu keluar dengan sangat cepat Yen Siulan segera memukul-nya, tantangan semakin lama semakin sulit karena laju keluarnya boneka tikus tanah dan boneka bebek semakin cepat dan membingungkan, tetapi Yen Siulan mampu memukul semua boneka tikus tanah tanpa kesalahan sedikitpun.


Melihat kemampuan Yen Siulan yang sangat cepat dalam berpikir membuat wajah pria pemilik wahan di basahi keringat, ia tidak mau membiarkan Yen'Siulan menang dengan mudah, karena itulah pemilik wahana diam-diam melakukan kecurangan dengan memperbanyak jumlah keluarnya boneka bebek daripada boneka tikus tanah.


Kecurangan pemilik wahana sudah Fang'Ling ketahui sejak awal, tetapi ia memilih diam sebab tau jika kecurangan seperti itu tidak akan bisa mengalahkan Yen Siulan dalam permainan-nya.


Meski sudah berusaha membuat Yen'Siulan gagal dengan berbagai cara, pemilik wahana itu di buat menyesal atas tindakannya yang telah melakukan kecurangan menyebabkan wahana tersebut terbakar akibat Yen Siulan memukul terlalu cepat.


"Ini bukan salah ku, boneka itu keluar terlalu cepat."Yen Siulan merebut boneka kemenangannya dari genggaman pemilik wahana, setelah itu Yen Siulan berjalan dengan riang menuju ke wahana selanjutnya.


Pria pemilik wahana itu hanya menunduk menyesal meratapi kerugian akibat hancurnya wahana milik pria malang tersebut. Ia juga tidak dapat menyalahkan Yen Siulan, sebab masalah ini datang murni dari tindakannya.


Fang Ling menepuk pundak pria itu dan memberikan sepuluh koin emas kepadanya."Lain kali cobalah untuk bersikap jujur."Setelah memberikan uang dan berkata seperti itu, Fang Ling berjalan pergi menyusul Yen Siulan.


Sementara pemilik wahana palu boneka terdiam dan berpikir bahwa dirinya bodoh, sejak awal Fang Ling sudah mengetahui kecurangannya tetapi pemuda itu tidak marah malahan memberikan uang lebih untuknya. Perkataan Fang Ling membuat hati pria itu tersentuh, iapun menangis meratapi kebodohan yang ia lakukan.


Yen Siulan menarik tangan Fang Ling dan berlari menembus kerumunan menuju ke wahana selanjutnya."Gege, wahana kali ini sangat ku sukai, ku jamin kau juga akan merasa begitu."


"Benarkah..? Kau membuatku penasaran Siu'er, tapi sebaiknya kita jangan berlari, takutnya akan menabrak dan melukai orang lain."


Yen Siulan melepaskan genggaman dari tangan Fang Ling tanpa menghentikan langkahnya."Tenang saja Gege, meski aku berlari aku tidak akan menarak...


Bruuuk


Lagi-lagi Yen Siulan menabrak seseorang namun tidak sampai jatuh, seseorang yang di tabrak Yen Siulan kali ini seorang pria yang Fang Ling kenal.


"Tetua Lin Tong, lama tidak bertemu."Fang Ling memberi hormat kepada Lin Tong.


Lin Tong memandangi wajah Fang Ling dengan perasaan bingung."Anak muda apa aku mengenal mu..?


Fang Ling menjentik jari seketika ia kembali pada hujud normal / asli."Aku adalah Fang Ling, pemuda dulu yang di bawa oleh guru Luo Tang."


Mata Lin Tong melebar."Kau Fang Ling..! Si iblis rubah, sudah lama semenjak terkahir kali kita bertemu, lihatlah sekarang kau sudah banyak berubah."


"Iblis rubah..? Siapa itu paman.?? Paman juga nampak semakin gagah."Fang Ling terlihat kebingungan.


Lin Tong tertawa lantang sambil menepuk pundak Fang Ling."Kau terlalu merenda nak, aku tidak sehebat itu.. Nak, semua tetua sudah mengetahui sepak terjang mu dalam dunia persilatan, karena itulah sekarang sekte kita begitu terkenal..Sekarang katakan kepada paman, apa yang kau lakukan di sini."

__ADS_1


__ADS_2