Legenda Pendekar Pedang

Legenda Pendekar Pedang
Padang pasir


__ADS_3

Hari kembali berganti pagi itu terlihat lebih cerah dari biasanya membuat kelompok Fang Ling kembali bersemangat begitu di ujung sungai mulai terlihat area ke lima yang berupa tanah gersang dan tidak jauh dari tempat itu juga terdapat Padang pasir.


Lima jalur sungai yang di temui Fang Ling di awal area empat kembali bersatu dan terlihat di pinggir daratan ratusan perahu juga sudah berjejer di rapih, melihat area lima adalah tanah gersang terbersit di benak Fang Ling untuk membawa air sebanyak-banyak nya, karena manusia lebih membutuhkan air daripada makanan.


Setelah perahu Fang Ling bersender di daratan langsung saja semua orang turun dari perahu itu dan meregangkan tubuhnya yang terasa kaku, saat sedang memperhatikan sekitarnya Fang Ling tidak sengaja melihat buah labu yang tumbuh liar di pinggir sungai.


Langsung saja Fang Ling mengambil dua buah labu berukuran besar dan membawanya ke tepi sungai untuk di bersihkan bagian dalamnya, setelah bersih Fang Ling mengisi tempat labu itu dengan air hingga penuh.


"Apa yang kalian lihat ?? apakah kalian masih marah karena aku sudah mengintip kalian berdua, bukankah soal itu aku sudah minta maaf ? sebaiknya kalian membantuku mengambil air sebanyak mungkin menggunakan labu yang ada,"Kata Fang Ling.


Kedua gadis itu hanya mendengus sambil memajukan bibirnya, mereka berdua berjalan ke tepi sungai dan mengambil beberapa labu berukuran besar untuk di jadikan tempat penyimpanan air, karena air sangat di butuhkan jika melewati rute lima yang berupa Padang pasir panas.


Setelah semuanya selesai total terdapat enam botol labu besar yang berisikan air, Xiao Qing dan Xiao Bai langsung berjalan meninggalkan Fang Ling begitu selesai dengan bagiannya dan membiarkan Fang'Ling yang membawa semuanya.


Melihat kedua gadis itu berjalan meninggalkannya Fang Ling tersenyum kecil dan memasukan semua botol labu yang ada ke dalam cincin dimensi, begitu selesai Fang Ling kembali berjalan ke arah perahunya dan memasukan tiga ekor hiu yang tersisa dan masih segar.


"Ah Bai Kemari-lah"


Dari balik semak Ah Bai Keluar dengan membawa seekor capung di mulutnya dan begitu di perintah oleh Fang Ling tubuhnya perlahan membesar dan berhenti saat tubuhnya sudah setinggi lima kaki, Fang Ling naik ke atas punggung Ah Bai dan mengarahkannya untuk menyusul Xiao Qing dan Xiao Bai.


Tidak membutuhkan waktu lama Fang Ling dan Ah Bai sudah menyusul Xiao Bai dan Xiao Qing namun terlihat kedua gadis itu tidak memperdulikan mereka, Ah Bai berjalan pelan di samping kanan kedua gadis itu sambil membusungkan dadanya agar mereka tertarik.


"Apa yang kau lakukan, apakah begitu cara mu untuk menarik perhatian hewan perempuan, jika benar itu tidak akan mempan untuk menarik perhatian manusia,"Kata Fang Ling dengan sedikit tertawa kecil.


Mendengar candaan Fang Ling tidak membuat Xiao Bai dan Xiao Qing tertawa seperti biasanya, kedua gadis itu merasa kesal sekaligus malu karena semua bagian tubuhnya sudah di lihat Fang Ling dengan sangat jelas di siang hari.

__ADS_1


Di atas punggung Ah Bai, Fang Ling merasa ada yang aneh di dadanya sehingga diapun mengeluarkan sebilah pedang dari udara kosong tanpa sepengetahuan Xiao Qing dan Xiao Bai, Fang Ling menggores dada bagian kirinya hingga mengeluarkan darah kehijauan yang merupakan sisa racun dari macan air.


Begitu semua racun sudah menghilang dari tubuhnya Fang Ling merasa kembali segar dan kembali bertenaga, merasa bersalah kepada Xiao Qing dan Xiao Bai Fang Ling mencoba untuk menyuruh mereka naik ke atas tubuh Ah Bai, namun kedua gadis itu selalu menolaknya.


Saat setelah masuk lebih dalam ke area lima Fang Ling merasa hawa semakin panas apalagi dia sedang telanjang dada, namun tidak bagi Ah Bai bulu-bulunya yang begitu tebal mampu mengatur suhu tubuhnya sendiri karena memiliki sedikit elemen es milik Fang Ling.


Merasa kesal karena Xiao Qing dan Xiao Bai selalu mengacukan dirinya, Fang Ling menarik kera baju Xiao Qing dan Xiao Bai dan meletakan kedua gadis itu di belakang tubuhnya agar tidak terlalu kepanasan, melihat sikap lembut Fang Ling Xiao'Bai dan Xiao Qing hanya diam tidak mengeluarkan sepatah katapun.


Setelah satu jam lebih melakukan perjalanan kelompok Fang Ling memasuki tanah tandus dengan retakan mengeluarkan uap yang sangat panas, terlihat pakaian-pakaian pendekar yang gagal masih berada di tempat itu dan tidak meninggalkan apapun selain pakaiannya menandakan jika uap yang keluar dari retakan di dalam tanah sangatlah berbahaya.


Agar tidak salah langkah Fang Ling menutup matanya dan memusatkan indar pendengarannya untuk merasakan kapan dan di mana uap panas akan keluar, begitu tau jika ada uap panas berada di depannya, Fang Ling menyuruh Ah Bai untuk melompat ke kanan, alhasil dengan instruksi Fang Ling, Ah Bai selamat dari uap panas yang langsung meledak keluar jika dirinya tidak bergerak cepat.


Telinga Fang Ling tidak sengaja mendengar suara retakan tanah yang terus merambat dari belakang tubuh Ah Bai, dengan cepat Fang Ling memerintahkan Ah Bai untuk berlari cepat hingga dari belakang satu persatu retakan mengeluarkan ledakan uap panas yang seolah mengejar Ah Bai.


Saat ledakan uap panas hampir mengenai bagain belakang Ah Bai, dengan cepat dia melompat hingga terjerembab di atas Padang pasir dengan selamat walaupun penumpangnya juga ikut terpental menabrak Padang pasir.


Fang Ling melangkah untuk memulai perjalanan dengan berjalan kaki dan tidak bisa menaiki Ah Bai karena postur kaki miliknya tidak cocok untuk berjalan di medan berpasir, saat baru beberapa jengkal melangkah di area padang pasir, Fang Ling merasakan sesuatu yang tidak baik di depan.


"Tuan, apakah angin bisa meniup pasir dalam jumlah yang sangat banyak, coba lihat di depan kenapa gumpalan debu itu semakin dekat ke arah kita,"Kata Xiao Bai untuk pertama kalinya berbicara.


Mendengar Xiao Bai berbicara kepadanya, Fang Ling langsung menoleh ke arah depan untuk memastikan yang di katakan Xiao Bai karena setahunya jika ada gumpalan debu dalam jumlah banyak maka badai pasir akan segera muncul.


Benar saja saat Fang Ling mencipitkan matanya dia melihat gumpalan debu yang begitu besar hingga menyentuh langit, terlihat gumpalan debu itu bergerak cepat ke arahnya, dengan sigap Fang Ling memerintahkan Ah Bai untuk kembali ke hujud suci miliknya.


Walaupun ragu untuk kembali ke hujud aslinya karena belum mampu mengendalikan emosi, Ah Bai tetap melakukan itu karena di perintahkan Fang Ling, perlahan tubuhnya membesar dengan kedua mata memancarkan hawa membunuh yang sangat kuat.

__ADS_1


Dengan sekuat tenaga Ah Bai mencoba untuk tetap mengendalikan hujud nya agar tidak kehilangan kendali, Fang Ling menepuk kaki Ah Bai dan seketika hewan itu merasa sangat tenang seolah sudah mampu menguasai dirinya sendiri.


"Tu-Tuan ! debu itu semakin dekat apa yang harus kita lakukan !! Teriak Xiao Qing dan Xiao Bai ketika melihat gumpalan debu itu bergerak sangat cepat ke arah mereka.


Fang Ling memerintahkan Ah Bai untuk duduk terentang dengan dua tangan bagian depan menutup wajahnya agar tidak kemasukan pasir, dengan cepat Fang Ling menggendong tubuh Xiao Bai dan Xiao Qing hingga saat badai pasir mulai menerjang, Fang Ling melompat dan berlindung di balik tubuh Ah Bai.


"Apakah ini adalah ulah dari makhluk itu ? jika benar sepertinya aku akan kembali terluka," batin Fang Ling sambil memikirkan sesuatu yang sangat mengerikan dan hanya dapat di temui di Padang pasir.



Jangan lupa tiga hal :


1.Vote


2.Like


3.Komen


Pemaksaan, siapa saja yang tidak mau akan di bantai Fang Ling


Mampir juga ke novel teman aku, judulnya :


•Legenda dewa pohenix


•Legenda dewa kematian

__ADS_1


•Pendekar pedang immortal


Bersambung.....


__ADS_2