
Tidak mau kehilangan kesempatan untuk bertemu kembali dengan Luo Yi, Ranzel melesat cepat menjadi siluet putih untuk mempercepat langkahnya menemui Luo Yi sebelum gadis itu menghilang di tengah kerumunan.
Pergerakan Ranzel yang tidak bisa di tangkap mata mampu membuat orang-orang yang kebetulan ada di sekitar tempat itu tidak sadar dengan kehadirannya, ia berjalan tepat di belakang Luo Yi hingga berhenti di tempat penjual daging.
Dengan langkah pelan Ranzel sedikit menabrak tubuh Luo Yi hingga hampir membuat gadis itu terjatuh,"Hei ! apakah kau buta ?? bukankah masih ada ruang untuk mu berjalan,"Luo Yi nampak kesal dengan Ranzel yang menabraknya, sangking kesalnya ia menarik pergelangan tangan Ranzel dengan kuat.
"Maaf nona apakah kau terluka ? aku kebetulan lewat dan tidak sengaja menabrak tubuh anda, untuk itu saya benar-benar minta maaf,"Ranzel membalik tubuhnya sehingga membuat Luo Yi yang tidak sengaja melihat wajahnya terdiam membeku.
Mulut gadis itu terkatup-katup melihat wajah Ranzel dan beralih menatap matanya,"Apakah kita pernah bertemu ?
Sudut bibir Ranzel sedikit terangkat dan berubah menjadi senyuman,"Benar kita pernah bertemu, Selamat datang kembali Luo Yi aku sudah menunggu mu,"
Jantung Luo Yi berdetak cepat dia terus memandangi wajah Ranzel di hadapannya dan perlahan sesuatu yang penting masuk ke kepalanya secara ajaib, hinga ia kembali mengingat kenangan singkat saat dirinya bersama Ranzel.
Air matan Luo Yi jatuh perlahan dan kemudian di susul dengan senyum lebar dari kedua sudut bibirnya,"Ya aku kembali... Terimakasi sudah menunggu ku selama ini, dirimu pasti kesepian,"
Di tengah keramaian jalan kota kedua insan itu kembali berpelukan setelah kehilangan satu sama lain selama ribuan tahun, tidak di sangka nasib keduanya tidak terlalu baik karena naga Wutien mulai terbangun.
"Kali ini aku akan benar-benar menghancurkan sepuluh benua,"
Semenjak pertemuan itu Ranzel dan luo Yun yang merupakan ikarnasi dari Luo Yi tinggal di satu atap yang sama di sebuah kota besar di daratan utama, hari-hari di lalui keduanya bersama dengan Luo Yun yang sudah mampu menahan elemen es milik Ranzel.
Saat ini kedua pasangan tersebut duduk di sebuah bukit di belakang kota sambil memandangi mata hari yang perlahan terbenam, senyuman yang terukir di wajah keduanya tidak pernah pudar hingga pada suatu hari Luo Yun jatuh sakit hingga menewaskannya Kembali.
Semua orang yang datang di acara pemakaman Luo Yun hanya dapat menggelengkan kepala melihat Ranzel yang terus duduk di depan makam gadis itu di saat hujan lebat dan petir yang menyambar ke segala arah.
Orang-orang yang kebetulan ada di pemakaman itu terus memanggil Ranzel agar berteduh namun pemuda itu hanya diam terduduk di depan makam Luo Yun nampak menggegam sekebat bunga.
"Aku akan menunggu mu kembali,"
__ADS_1
Setelah menyelesaikan perkataannya Ranzel berdiri dan berjalan meninggalkan tempat itu dengan pandangan haru semua orang yang tertuju kepada dirinya.
Walaupun tidak terlalu mengenal Ranzel karena pemuda itu sangat pendiam, namun semua orang yang tinggal dekat dengan kediamannya tau jika pemuda itu baru menikah dengan Luo Yun selama beberapa hari terakhir.
Karena penyakit langkah yang tidak memiliki penawar untuk menghilangkan penyakit itu, sehingga penyakit yang berada di tubuh Luo Yun perlahan menggerogoti tubuhnya dan pada akhirnya Luo Yun tidak lagi mampu menahan sakit di sekujur tubuhnya lebih lama dan meninggal di tiga hari setelah pernikahannya.
Dengan kepala merunduk dan wajah yang tidak pernah lagi tersenyum setelah melihat kematian Luo Yi ke dua kalinya, membuat Ranzel tidak ada lagi jalan hidup dan memutuskan untuk meninggalkan kota itu untuk selama-lamanya.
Perasaannya kini menuntunnya kembali ke sebuah tempat di ujung benua utama dimana tempat itu terdapat sebuah gunung raksasa dan sebuah desa kecil yang berada di bawah gunung tersebut.
Dengan kemampuannya yang dapat bergerak dengan sangat cepat Ranzel tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di desa yang di maksud, dia langsung saja mengubah penampilannya agar terlihat seperti rakyat desa biasa sehingga tidak membuat orang-orang di desa itu curiga dengan dirinya.
Setelah terlihat seperti orang-orang biasa Ranzel berjalan pelan ke arah desa itu namun karena wajahnya yang sangat mencolok membuat dirinya langsung di sambut ramah oleh penduduk desa.
Di tempat itu Ranzel hidup bersama dengan orang-orang desa, setiap harinya dia akan pergi ke sawah untuk menanam padi dan akan kembali ke kediamannya yang sederhana pada sore hari dan begitulah seterusnya.
Sepertinya semua penduduk lainnya Ranzel juga ikut dalam acara pemakaman itu, setidaknya dia sudah melihat sepuluh kali kematian di desa yang kini menjadi rumahnya dan perlahan membuat hati pemuda itu mengeras.
"Kenapa harus ada kematian ? kematian hanya membuat orang-orang yang di tinggalkan merasa sangat sedih, apakah kematian di buat hanya untuk itu ? lalu bisakah semua orang dapat hidup tanpa merasakan kematian ? " Batin Ranzel.
Dia merasa begitu marah dengan langit yang selalu merenggut orang-orang paling dekat bagi dirinya, untuk melupakan kekesalannya Ranzel akan menghancurkan sebuah pulau hingga kemarahan di dalam dirinya mereda dan kembali ke desa dengan kedua tangan terluka parah.
Tahun berganti tahun dan akhirnya semua orang yang di kenal Ranzel saat pertama kali datang ke desa itu meninggal, kini dia di kenal dengan sebutan pendekar abadi karena tidak pernah menua.
Saat dalam perjalanan pulang dari sawah Ranzel melihat tiga cahaya terang yang terpancar dari belakang bukit di atas gunung di belakang rumahnya, Merasa ingin tau Ranzel terbang untuk melihat apa yang ada di tempat itu.
Setelah berada tepat di atas ketiga cahaya itu Ranzel dapat melihat tiga buah pedang berwarna putih,merah dan hitam. Ranzel terbang mendekat dan merasakan hawa mengerikan dari ketiga pedang tersebut ketika jaraknya hanya di pisahkan beberapa meter.
Ranzel dapat menilai jika kekuatan ketiga pedang itu mampu mengalahkan kekuatan pedang kematian miliknya yang selama ini selalu di sembunyikan di bawah tempat tidurnya.
__ADS_1
Merasa jika itu adalah takdir Ranzel mengambil ketiga pedang itu dan langsung saja cahaya putih Keluar dari ketiga pedang di tangannya dan perlahan membalut seluruh tubuhnya.
Setelah beberapa saat cahaya yang membalut tubuh Ranzel menghilang dan meninggalkan tiga tato naga di bagian tubuhnya, setelah selesai melakukan kontrak dengan pedang-pedang itu Ranzel berjalan kembali kerumah dengan membawa tiga pedang di tangannya.
Secara mengejutkan ketika baru sampai di area desa Ranzel di kejutkan oleh sekumpulan anak-anak kecil yang berlari ke arahnya dengan wajah cemas dan terlihat begitu tegang.
"Ada apa anak-anak ? kenapa kalian berlari, dimana orang tua kalian ? tanya Ranzel sambil berjongkok dengan kedua lutut menyentuh tanah.
"Tuan, penduduk desa menemukan seorang bayi di pinggir hutan,"
"Benar tuan, bayi itu memiliki rambut biru,"
Mendengar penjelasan dari anak itu kedua mata Ranzel terbuka lebar dirinya langsung menggendong semua anak kecil itu dan berlari menuju tempat dimana anak kecil yang di maksud di temukan.
Setelah sampai di tempat yang di katakan anak-anak kecil, Ranzel melihat kerumunan warga desa dan langsung saja matanya melihat seorang bayi kecil berambut biru di gendongan seorang perempuan paruh baya.
"Luo Yi, akhirnya kita kembali bertemu,"
Mampir juga ke novel teman aku, judulnya :
•Legenda dewa pohenix
•Legenda dewa kematian
•Pendekar pedang immortal
Bersambung.....
__ADS_1