Legenda Pendekar Pedang

Legenda Pendekar Pedang
Rawa berbahaya II


__ADS_3

Karena serangan mahkluk itu yang terlalu tiba-tiba, Fang Ling kembali kehilangan lengan kanannya dan memutuskan untuk menolong anak harimau itu dengan cepat sebelum melompat kebelakang.


Makhluk yang menyerang Fang Ling perlahan merangkak keluar air dan perlahan tubuhnya terpapar cahaya bulan, barulah sosok makhluk itu nampak yang berupa seekor buaya hitam bertubuh besar dengan permukaan kulit yang terlihat sangat keras.


Dengan wajah datar Fang Ling menatap hewan Roh di hadapannya dengan tangan kanannya yang perlahan meregenerasi, sehingga dengan lincah ia melompat ke atas pohon tempatnya beristirahat.


Buaya itu terlihat menatap Fang Ling dengan mata yang memancarkan cahaya kemerahan, terlihat tidak mampu berdiam diri lebih lama di daratan sehingga secara perlahan buaya itu berjalan mundur dan kembali masuk air.


Setelah di rasa aman Fang Ling kembali melompat dari dahan pohon, ia berjalan kembali ke tepian rawa untuk mengambil kapaknya yang sempat terjatuh akibat tangan kanannya terputus.


Anak hewan Roh berupa harimau yang berada di gendongan Fang Ling juga ikut mengerang dengan tubuh gemetaran, membuatnya terlihat seperti bulatan bulu yang sangat lembut.


"Dimana orang tua mu ? Fang Ling mencoba untuk berbicara kepada hewan roh di gendongnya, karena terdapat beberapa jenis hewan roh yang mampu berbicara termasuk jenis harimau.


" Aung Aung " Anak harimau itu terlihat mengaum kecil seolah sedang berbicara, namun karena usianya yang terbilang sangat muda membuat Fang Ling tidak mengerti apa yang di katakan nya.


Dengan perlahan Fang Ling berjalan ke tempatnya beristirahat dan menurunkan anak harimau yang di bawanya di dekat perapian, karena anak harimau itu basah kuyup dan terluka di bagian kaki kanan akibat lilitan tali yang menjeratnya.


Tidak tega melihat anak harimau itu terbaring lemah dan berjalan dengan keadaan pincang, Fang Ling mengigit jarinya hingga mengeluarkan darah dan meneteskan darah tersebut ke bagian yang terluka terutama di bagian kaki harimau itu.


Setelah selesai mengobati anak harimau itu, Fang Ling merasakan pusing di kepalanya dan terasa otaknya seakan di aduk-aduk oleh sesuatu yang berputar.


"Sepertinya aku terlalu banyak mengeluarkan darah akhir-akhir ini, sehingga tidak sadar jika darah kaisar naga mulai habis dan membutuhkan waktu untuk kembali pulih,"Gumam Fang'Ling sambil sesekali mengusap wajahnya yang pucat.


Sambil menatap anak harimau yang berbaring di dekat perapian, Fang Ling kembali memakan makanan yang di masakannya sehingga membuat anak harimau yang awalnya berbaring langsung saja menghampirinya dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Apakah kau lapar ? " Fang Ling mengambil satu potong ayam utuh yang di masaknya dan memberikan ayam itu kepada anak harimau di hadapannya.


Dengan lahap anak harimau itu memakan ayang yang di berikan Fang Ling, membuatnya terlihat seperti bola bulu yang mencoba memakan makanan yang berukuran lebih besar dari tubuhnya.


Sedangkan Fang Ling hanya menatap anak harimau itu sambil memikirkan sebuah nama yang cocok untuknya," Aku akan menamai mu dengan panggilan Ah Bai,"


Seolah mengerti dengan apa yang di katakan Fang Ling, Ah Bai langsung saja melompat ke arahnya dan mengelus kan kepalanya ke tangan Fang Ling sambil mendengkur pelan.


"Hahaha sepertinya kau menyukai nama itu, baiklah mulai sekarang kau adalah hewan suci ku," Fang Ling menggores tangannya namun tidak mengeluarkan darah berwarna emas, melainkan seperti warnah merah darah pada umumnya.


Fang Ling mengoleskan darah itu ke dahi Ah Bai untuk mengikat kontrak bersamanya, Seketika sebuah cahaya putih berlambang lotus perak keluar dari tubuh Ah Bai dan kembali menghilang menandakan jika kontrak sudah selesai.


Setelah selesai melakukan kontrak bersama Ah Bai, Fang Ling akhirnya benar-benar kehabisan tenaganya, karena tubuhnya terus terluka dan meregenerasi yang dimana membutuhkan tenaga berjumlah besar untuk melakukan itu.


Karena kehabisan semua tenaganya Fang Ling tidak sadarkan diri, meninggalkan Ah Bai yang terus mengaung hingga ia tertidur di dalam pelukan Fang Ling karena merasa nyaman.


Singkatannya matahari mulai menampakkan diri, cahayanya yang hangat dan menyilaukan merambat ke wajah Fang Ling hingga membuatnya perlahan membuka mata.


"Ah, sepertinya aku ketiduran," Fang Ling bergerak dan memindahkan Ah Bai dari pangkuannya ke atas sebuah batu, sehingga membuatnya merasa tidak nyaman dan juga ikut terbangun.


Karena di area itu terdapat seekor siluman buaya yang kemungkinan kulitnya begitu keras, sehingga tidak mungkin kapak yang terbuat dari batu bisa menembus atau menggores kulitnya.


Di karenakan hal itu, Fang Ling memutuskan untuk membuat perahunya mempunyai sebuah penutup di bagian atasnya dan memasukan pengayuh di pinggiran perahu.


Dengan begitu Fang Ling dapat bergerak dengan leluasa tanpa menimbulkan suara percikan air yang berlebihan, agar siluman buaya tidak menyadari kehadirannya dan tidak menyerang.

__ADS_1


Ah Bai yang sudah menjadi hewan kontrak Fang Ling hanya bermain dan sesekali mengaung jika melihat sesuatu yang bisa terbang, bahkan ia terlihat asik berlarian mengejar kupu-kupu.


"Ah Bai, Kemari-lah,"Ucap Fang Ling.


Dengan tubuh bulat dan gemuk, Ah Bai berlari dan melompat ke arah tuannya hingga ia berhenti di hadapan Fang Ling dengan tatapan polos.


Melihat Ah Bai begitu penurut Fang Ling hanya tersenyum kecil karena mendapat teman seperjalanan, ia mengangkat Ah Bai dan meletakan nya di atas kepala.


"Ah Bai berhati-hatilah," Dengan Ah Bai yang Berbaring di atas kepalanya, Fang Ling mendorong perahunya hingga ujung perahu itu menyentuh air secara perlahan hingga seluruh bagian perahu mengapung di atas air.


Secara perlahan dan berhati-hati, Fang Ling mulai menaiki perahu itu bersama Ah Bai yang masih di atas kepalanya, ia mulai mengayuh perahunya ke arah matahari terbenam.


Menurut peta jika sudah berada di rute kedua yang berupa rawa, semua pendekar hanya akan menemukan beberapa pulau kecil untuk beristirahat, karena membutuhkan beberapa hari untuk melewati rawa tersebut.


Untungnya Fang Ling masih memiliki beberapa ayam hutan yang bisa di konsumsinya bersama Ah Bai setelah berhasil melewati area rawa, dimana Fang Ling masih tidak tau ada hewan apa saja yang akan menyerangnya.


Untungnya perahu yang di gunakannya terbuat dari pohon pinus, sehingga bentuknya yang bundar dapat mengelabuhi siluman yang melihatnya, karena terlihat seperti sebuah pohon hanyut.


Secara perlahan Fang Ling terus mengayuh perahunya agar tidak menarik perhatian siluman yang terasa sedang mengelilingi perahunya.


Walaupun dapat mengelabuhi siluman dengan bentuk perahunya, tidak sedikit hawan-hewan busa yang justru tertarik dengan benda yang hanyut, di antaranya adalah ular dan ikan-ikan pemakan daging manusia, bahkan mampu memakan seekor gajah.


Merasa ada sesuatu yang membentur perahunya, Fang Ling langsung saja mengehentikan pergerakannya dan mengubah posisinya menjadi berbaring dengan tatapan ke langit.


Secara mengejutkan dari arah kiri perahu, seekor ular hitam berukuran sangat besar lewat di antara perahu terlihat jika siluman itu tertarik dengan perahu Fang Ling yang memiliki ukuran sedang.

__ADS_1



Bersambung.....


__ADS_2