
Berselang beberapa lama pertandingan pertama dimulai begitu juga dengan perdebatan Fang Ling dan Mu Tong yang keduanya terlihat masih terdiam.
mencoba untuk tetap tenang Mu Tong tersenyum masam,"Bisakah Ling'er mengatakan alasan mengapa kau dan Lang Ming sama-sama ingin keluar dari sekte naga langit,"
Fang Ling melipat tangan di depan dada dan memperhatikan pertarungan di depan sambil tersenyum kecil,"Bukanlah sesuatu yang penting, aku yakin Patriack telah mengetahui masalahku,"
Wajah Mu Tong berubah tegang dengan wajah berkeringat,"Lalu bagaiman dengan perjanjian kita ? tidak mungkin kami memulai perang tanpa kalian berdua,"
"Mengenai hal itu, Patriack tidak perlu khawatir. Biarpun kami telah keluar dari sekte dan tidak terikat apapun, kami tetap akan membantumu,"
"Ah, syukurlah."Mu Tong bernafas lega,"Ku kira kalian berdua akan benar-benar melupakan kami, ternyata tidak begitu,"
"Tentu saja Patriack, walaupun kami sudah tidak ada ikatan di sekte naga langit. Kita tetap saja saudara, tidak mungkin kami melupakan saudara,"Lang'Ming tersenyum dengan menggegam tongkat hijau di tangan.
Mu Tong mengusap dagu sambil tersenyum penuh makna,"Jika begitu aku bisa tenang. Sekarang silakan nikmati pertandingan ini,"
Pertarungan pertama antara dua pendekar muda dari benua Bintang Virgo dan benua embun malam di mulai.
Jerit meriah semua orang terdengar menggema tatkala dua orang pria muda naik ke atas area pertarungan. Kedua pendekar itu terlihat serius, mereka saling memandang tajam.
Mu Tong menepuk pundak Fang Ling, pria itu tersenyum penuh makna,"Ling'er, kami tidak memiliki wasit yang kemampuannya setara denganmu. Jika tidak keberatan, mungkin Ling'er mau mengambil posisi itu,"
"Tidak masalah,"
Merasa tidak terbebani dengan permintaan Mu Tong, Fang Ling pun menjadi wasit kali ini. Dia berjalan naik ke atas arena, memancing semua perempuan menjerit semakin menjadi-jadi.
Dua gadis cantik yang tadi sempat memperhatikan Fang Ling terlihat duduk di tempat tunggu perserta. Mereka berdua nampak antusias, terutama gadis yang lebih tua karena begitu mengidolakan Fang Ling.
Sempat merasa kesabarannya hampir habis, Fang Ling berpikir tenang untuk mendinginkan pikirannya. Fang Ling berdiri di antara pendekar yang bertarung, dia tersenyum dingin ke arah kedua pendekar muda itu.
"Apa kalian telah mengetahui pertarungannya ?"Fang Ling sedikit menekan suaranya.
__ADS_1
Spontan kedua pendekar itu terkejut dengan tubuh menggigil, lalu keduanya saling berpandangan dan kembali menatap Fang Ling sembari mengangguk.
"Bagus...,"
Dari bawah arena seorang perempuan cantik memberikan sebuah kertas kepada Fang Ling, Fang Ling pun mengambil kertas itu dan membacanya.
Ternyata isi dari surat itu adalah nama dan asal dari pendekar yang akan bertarung hari ini.
"Ternyata begitu."Fang Ling menatap kedua pemuda di depan,"Kalian berdua berasal dari benua Bintang Virgo dan Embun Malam... Baiklah pertarungan di mulai,"
Fang Ling berjalan mundur cukup jauh agar tidak menganggu konsentrasi para perserta yang akan mulai bertarung.
Segera setelah di mulai kedua pendekar itu mengaktifkan jubah tempur dan melesat ke arah satu sama lain.
Keduanya saling mengeluarkan teknik tapak terbaik masing-masing. Suara Dentuman demi dentuman mulai terdengar tatkala pertarungan itu semakin memanas setiap menitnya.
Ratusan serangan telah di lancarkan masing-masing pendekar, hingga beberapa saat kedepan mereka melompat mundur dengan nafas terputus-putus dan wajah yang terlihat mulai kelelahan.
Harus Fang Ling akui pertarungan pendek itu cukup menghibur, bahkan ia selalu tersenyum puas saat pertarungan ini di mulai beberapa menit lalu.
Dari pukulan kedua orang itu keluar pancaran energi tidak berbentuk dari masing-masing elemen. Ledakan lumayan besar terdengar menggema saat kedua pancaran cahaya itu saling berbenturan.
Hingga saat cahaya itu mulai redup, area pertarungan di selimuti debu tebal hingga dari dalam terlihat dua bayangan pendekar dengan salah satu dari mereka telah terkapar di atas lantai.
Fang Ling tersenyum puas,"Pemenang pertama pada pertandingan kali ini adalah pendekar dari benua Embun Malam,"
Semua penonton terdiam, mereka sulit menerima jika benua Embun Malam yang memiliki jumlah Qi alam lebih sedikit dari benua Bintang Virgo, justru bisa memenangkan pertarungan ini.
Tapi apa yang mereka lihat saat ini bukanlah sesuatu yang di buat-buat. Pendekar dari benua Embun malam itu menang dengan usahanya sendiri.
Awalnya sorakan terdengar begitu pelan, hingga satu persatu orang mulai bersorak sampai menggema hanya untuk mengapresiasikan kemenangan pemuda yang berasal dari benua Embun Malam tersebut.
__ADS_1
Fang Ling tersenyum, ia menghampiri pemuda pemenang pertandingan itu yang nampak sudah sangat kelelahan.
"Kau sudah berhasil memenangkan pertandingan ini. Kembalilah ke kursi perserta untuk menunggu giliran mu lagi,"Fang Ling menepuk pundak pemuda itu, seketika membuat tenaga pemuda itu kembali seperti sediakala.
Rasa terkejut sekaligus tidak percaya terlihat jelas terukir di wajah pemuda pemenang itu. Dia memberi hormat kepada Fang Ling sebelum berjalan meninggalkan area pertarungan, sementara lawannya di gotong oleh beberapa orang ke kursi perserta.
"Baiklah semuanya, kita akan melanjutkan pertandingan ini,"Fang Ling melirik kertas di tangannya,"Baiklah, pertarungan kedua ini akan di lanjutkan oleh putri dari kerajaan benua Salju Abadi dan tuan muda dari keluarga cabang benua Pasir Mati,"
Alis Fang Ling terangkat naik, dia sempat terkejut dengan kandidat kedua yang berasal dari benua Pasir Mati.
"Tidak heran jika benua Pasir mati mengirim kandidat dan dapat masuk ke sekte naga langit dengan leluasa. Karena Mu Tong ataupun Shin Hye tidak tau masalah mengenai benua Pasir Mati saat ini,"Gumam batin Fang Ling.
Berselang beberapa saat dua orang pendekar naik ke atas arena. Satu dari dua pendekar itu adalah laki-laki berkulit sawo matang, dengan mata berwarna keemasan dan menggunakan pakaian berciri khas dari benua Pasi Mati.
Sementara perserta satunya adalah gadis cantik bergaun biru yang sebelumnya sempat memperhatikan Fang Ling. Ia sebenarnya memiliki paras cantik nan dingin dengan wajah sedikit pucat dan bibir berwarna biru muda.
Semua penonton nampak terdiam begitu dua sosok pendekar muda itu naik ke atas arena. Apalagi mereka sangat mengenal sosok gadis cantik dari benua Salju Abadi itu sebagai tuan putri dari kerajaan besar yang sudah sepatutnya di hormati semua orang di tempat itu tanpa terkecuali.
Gadis itu tidak pernah tersenyum ataupun mengeluarkan ekspresi wajah. Namanya adalah Yu Niang si taring macan es yang dapat membunuh tanpa mengedipkan mata.
Tidak kalah sangarnya pemuda yang berasal dari benua Pasi Mati itu di kenal sebagai seorang assassin mematikan, keluarganya di kenal sangat penting di ibu kota kerajaan karena cara mereka dalam membunuh.
Pemuda berperawakan sombong dan sangat percaya diri itu di kenal dengan panggilan Murad si pedang dari gurun menantikan.
Merasa cukup janggal dengan pertarungan kali ini dan beberapa penonton yang dari awal nampak hanya berdiam diri tanpa sepatah katapun. Akhirnya Fang Ling memulai petarungan itu, iapun cukup yakin tidak akan ada hal buruk terjadi kepada semua orang selama dia selalu waspada.
"Pertarungan ini memiliki peraturan yang pastinya sudah kalian ketahui, ku harap juga begitu. Baiklah, pertarungan di mulai,"
Segera Murad mengambil dua pedang pendek yang memiliki bentuk melengkung. Sementara Yu Niang menciptakan sebilah pedang dari elemen es yang memiliki warna lebih pucat dari elemen es spesial yang di miliki Fang Ling.
Slassss
__ADS_1
Braaaaak
Bersambung....