Legenda Pendekar Pedang

Legenda Pendekar Pedang
LPP.Naik tangga


__ADS_3

Keadaan pada saat ini menjadi semakin memanas tatkala pria yang mengaku-ngaku sebagai pemilik wahana pohon persik menantang Fang Ling untuk bertarung.


Deretan penonton mengelilingi lokasi yang sepertinya akan ada pertarungan di sana, mereka terlihat lebih banyak mendukung pria yang mengaku sebagai pemilik pohon persik daripada mendukung Fang Ling.


Sementara Fang Ling yang sudah berusaha untuk tetap sabar dan tidak mempermasalahkan hal ini nampak mulai marah.. Jika berada di posisi ini semua orang juga akan emosi seperti Fang Ling sebab ia mengetahui siapa sebenarnya pemilik pohon persik ini.


"Kau akan membuat dirimu sendiri menyesal.."Gumam Fang Ling nyaris tidak terdengar.


"Apa yang kau katakan dasar anak bodoh..? Sekarang angkat tinjumu dan lawan aku, semua orang menantikan pertarungan kita."


Fang Ling tidak segan-segan memukul pria itu tepat di perut-nya.. Di mata penonton pukulan Fang Ling terlihat sangat pelan namun sebenarnya yang terjadi adalah pukulan Fang Ling terlalu cepat sampai membuat pria yang ia pukul terpental dan menghantam pohon persik.


Pukulan sebelumnya hanyalah pukulan normal tanpa menggunakan kekuatan sama sekali, sehingga nyawa pria yang terpukul masih dapat tertolong walau hampir bertemu Martin.


Semua orang menatap Fang Ling dengan perasaan takut, mereka juga menilai apa yang sudah di lakukan Fang Ling sudah melewati batas.


"Dasar monster..! Dia hanya mencari uang, tapi kenapa kau malah memukulnya.!!


"Benar..! Aku lihat sendiri bagaimana cara dia memukul seseorang yang lebih tua darinya..Ia seperti tidak memiliki hati.!!


"Aku juga melihat pemuda itu mengambil buah persik dengan cara curang, di tambah dia tidak mau membayar..!"


Semua orang memaki dan mengencam perbuatan Fang Ling, mereka berpikir jika Fang Ling sudah kehilangan akal sehat namun apa yang di lakukan Fang Ling untuk membenarkan masalah membuat orang-orang terdiam.


Fang Ling menatap ke arah semua orang lalu berkata dengan lantang..!


"Kalian adalah manusia dengan ras paling bodoh yang hanya menilai dari satu sisi opini tanpa tau yang salah dan yang benar..Mungkin di mata kalian aku adalah orang jahat yang memukul pria lebih tua dariku, tetapi menurutku pukulan itu belum seberapa dibandingkan dengan kejahatan yang di lakukannya..Andai kalian tau siapa sebenarnya pemilik pohon ini, maka kalian akan menganggap ku sebagai pahlawan..!


Fang Ling menatap semua orang yang mengelilinginya, tatapannya pun tertuju pada pria tua yang sudah sangat rentan bahkan untuk berdiri saja ia harus menggunakan tongkat.


"Kakek, kau pasti tau siapa pemilik pohon persik ini kan..?"Kata Fang Ling.


Kakek itu membenarkan perkataan Fang Ling lalu berkata."Kau pemuda yang sangat pintar dan berani mengambil tindakan..Pohon persik ini bukan milik pria tadi, melainkan milik seorang nenek tua temanku yang selaku kalian abaikan kehadirannya meski kalian selalu melihat nenek itu duduk di bawah pohon ini."


Tiba-tiba dari kerumunan terdengar suara makian dengan nada membentak.


"Kakek tua..! Darimana kau tau jika nenek itu masih hidup, karena orang-orang yang seumuran mu sudah lama mati.!!"


Kakek itu malah tersenyum lembut mendengar perkataan kasar tersebut."Jauh sebelum kau lahir, aku sudah lama hidup..Jika kau menganggap perkataan ku adalah pembualan maka kau tidak akan bisa menilai suatu kebenaran..Jika saja saat itu suami dari wanita pemilik pohon ini tidak melakukan peperangan, maka saat ini kau tidak akan merasakan yang namanya hidup enak."


Semua orang terdiam, perkataan pria tua itu menang benar adanya sebab perkataan tadi juga di benarkan oleh pria berumur tua yang pastinya tau betul apa yang sudah terjadi di sekte pedang bambu jauh sebelum yang lain.

__ADS_1


Seketika pria tadi yang memaki sang kakek menuai apa yang dia tanam, semua orang marah dan memukul pria itu ramai-ramai.


Sedangkan Fang Ling terlihat berjalan menghampiri pria yang mengaku sebagai pemilik pohon persik. Pria itu sudah terlihat tidak berdaya, tulang punggungnya patah bersamaan dengan tubuhnya menghantam pohon persik.


Fang Ling mencangking kerah baju pria itu lalu melemparnya ke kedai miliknya. Seketika kedai itu hancur, sementara pria tadi tergeletak tidak berdaya dengan tubuh penuh luka.


Karena masih memiliki hati dan merasa hukuman pria itu sudah setimpal dengan masalah yang ia buat, Fang Ling kembali berjalan menghampiri pria itu lalu menyembuhkan semua lukanya.


Saat tubuh pria itu kembali normal tanpa luka sedikitpun, ia langsung mencoba menyerang Fang Ling yang berjongkok di sampingnya menggunakan sebuah belati. Tentunya serangan itu bukan apa-apa bagi Fang Ling, ia dengan mudah dapat menahan tangan pria itu dengan menggenggam pergelangan tangannya dengan kuat sampai belati yang pria tersebut genggam terjatuh.


Pria itu meringis kesakitan dengan posisi masih terbaring serta satu tangannya di genggam oleh Fang Ling."Lepaskan aku kepar4t, apakah aku harus pergi dan membunuh semua anggota keluarga mu..?"Pria itu berkata dengan maksud mengancam, tetapi Fang Ling malah tersenyum kecil.


"Kau boleh saja melakukan itu, tapi semua keluarga ku sudah mati."


Semua orang terdiam termasuk pria yang mengaku sebagai pemilik pohon persik. Mereka tidak menyangka jika pria muda seperti Fang Ling sudah menopang beban berat di umurnya yang masih mudah, meski begitu ia tetap menjalin kehidupan dengan selalu tersenyum.


Fang Ling melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan tangan pria tadi."Lain kali berusahalah mencari pekerjaan dengan lebih jujur, aku tau itu tidak mudah tetapi hal tersebut menjamin kebaikanmu."


Fang Ling berdiri menghadap ke arah semua orang."Lihatlah apa yang di dapatkan pohon persik ini ketika kalian memanahnya..? Bidikan kalian dalam memanah tidak selalu akurat, jika sudah begitu anak panah melesat dan akan merusak pohon ini.. Seharusnya pohon persik sebesar ini susah untuk di temukan, juga pohon ini menyimpan banyak kenangan indah bagi orang lain, akan sangat di sayangkan jika pohon ini hancur secara perlahan dikarenakan perbuatan bodoh kalian."


"Yang pria muda itu katakan adalah kebenaran.!! Menurutku kita harus berhenti merusak pohon ini dan merawatnya mulai dari sekarang."Seorang pria berbadan besar berjalan mau dan berkata dengan lantang, membenarkan perkataan Fang Ling.


Semua orang bersorak setuju dengan perkataan pria sebelumnya, merekapun berbondong-bondong membersihkan sampah serta mencabut anak panah yang tertancap di bagian batang pohon.


"Kenapa hari ini orang begitu rajin..? Kejadian apa yang kulewatkan ketika aku tidak ada."Yen Siulan menatap gerombolan orang di belakang Fang Ling, lalu beralih menatap Fang Ling.


Fang Ling hanya tersenyum."Mungkin mereka sudah meninggalkan sifat buruk dan beralih menjadi pribadi yang lebih baik untuk masa depan sekte."


Yen Siulan mencubit pipi Fang Ling."Gege berbicara seperti pria dewasa..Ummm, aku sudah membawa apa yang Gege minta."


Fang Ling mengibas udara kosong, dengan ajaib belasan buah persik jatuh dari udara dan masuk ke keranjang di tangan Yen Siulan.


"Kurasa kita sudah cukup bermain, apa sekarang sebaiknya kita pergi ke kediaman Siu'er..?"


Yen Siulan tersenyum senang."Tentu saja..! Ayah dan ibu juga harus tau dengan hubungan kita, kuharap mereka mau menyembunyikan hubungan ini."


Fang Ling mengusap dagu nampak sedang berpikir."Tetua Yen'Chun, kurasa dia akan setuju tetapi ibumu...Aku tidak pernah bertemu dengannya."


"Tenang saja Gege, aku akan menceritakan banyak hal tentang ibuku, bagaimana kita berbicara sambil berjalan menuju ke bawah kaki gunung Ryuzen..?"


Fang Ling mengiyakan perkataan Yen Siulan.. Keduanya pun berjalan pergi meninggalkan pasar menuju gunung Ryuzen, sambil berbincang tentang banyak hal bersama sambil di iringi tertawaan.

__ADS_1


"Ibu memang pendiam dan suka menyimpulkan sesuatu sesuai dengan kemampuannya, terkadang aku juga kesal karena selalu di ceramahi oleh ibu.. Namun aku juga mengerti, apapun yang di katakan ibu semata-mata karena dia menyayangi ku."


"Siu'er memang pintar, jika ibumu hanya diam dan tidak memperlihatkan mu berarti Siu'er adalah anak pungut."


"Gege sedang bercand-kan..?"


"Tentu tidak, kakak berkata jujur karena Siu'er memiliki wajah yang tidak mirip seperti ayah atau ibumu."


Yen Siulan tersenyum mengalah."Jika aku tidak mirip dengan ibu ataupun ayah, lantas aku mirip seperti siapa..?


"Dewi nirwana bintang virgo."Gumam Fang Ling dengan jujur.


Yen Siulan terkejut dan penasaran."Gege bilang aku seperti siapa..?


"Tidak..Gege tidak berkata apa-apa."Fang'Ling celingukan seperti orang bodoh karena malu tertangkap basah karena sudah memuji kecantikan Yen Siulan.


Jawaban Fang Ling semakin membuat Yen Siulan penasaran."Bohong..! Tadi Gege memujiku cantik seperti dewi nirwana bintang virgo."


Fang Ling menutup wajahnya yang memerah karena malu."Jika Siu'er sudah tau mengapa harus di katakan."


Yen Siulan tersentak dan terdiam melihat wajah Fang Ling yang tersipu malu lalu bergumam di dalam hati."Ge-Gege tersipu..?! Ku kira manusia satu ini tidak memiliki banyak ekspresi, ternyata dia sama seperti pria lugu biasa."


Yen Siulan memeluk sebelah tangan Fang'Ling."Gege terlihat sangat aneh ketika malu."


"Benarkah..? Seharusnya aku tidak tersipu tadi."Fang Ling menggaruk kepala.


"Kenapa Gege berkata seperti itu..? Aku suka melihat Gege apapun yang sedang di ekspresi-kan, karena ekspresi apapun itu Gege tetap terlihat tampan."


Fang akan menjitak pelan kepala Yen Siulan. Merekapun berjalan menyusuri setapak kecil yang di kelilingi pohon berdaun kuning, jalan ini akan langsung menuju ke sebuah tangga menuju gunung Ryuzen.


Tangga ini berbeda dengan tangga pelatihan yang dulu Fang Ling gunakan, sebab tangga kali ini berada di bagian samping gunung Ryuzen.


Dari tempat ini Fang Ling dan Yen Siulan tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di depan tangga menuju bagian datar gunung Ryuzen.


Suasana tangga ini begitu sunyi karena di tumbuhi banyak pohon cemara berukuran besar, juga tangga yang menjadi jalan kali ini memiliki panjang menyamping lima meter dengan lebar setengah meter.


Setiap tangga yang berjarak satu meter selalu di tandai dengan gerbang kuil berwarna merah, gerbang itu berguna sebagian penanda berapa jauh seseorang sudah berjalan, sebab satu gerbang sama dengan satu meter perjalanan.


"Jika satu gerbang sama dengan satu meteran, lantas jika gerbangnya tidak terhitung seperti ini berarti berapa jauh jarak yang kita tempuh..?


Yen Siulan melompat ke atas punggung Fang Ling."Aku tidak tau, Gege harus menggendong ku sampai ke rumah."

__ADS_1


"Siu'er bercanda..! Meski aku mampu tapi jalan di depan sangat panjang, apalagi tangga-tangga itu memiliki jalur menanjak.."


__ADS_2