Legenda Pendekar Pedang

Legenda Pendekar Pedang
Retakan dimensi


__ADS_3

Setelah tau jika jamur itu bernama jamur tiram awan yang biasanya di masak dengan sayur-sayuran, Fang Ling mengambilnya dan memasukan jamur tiram awan ke dalam keranjang.


"Ada lagi, menurut ku jamur tiram awan ini sangat mudah di temukan,"


Fang Ling menoleh ke atas, kiri dan kanannya dan menemukan lebih banyak jamur tiram awan di tempat yang sama, diapun mengambil semua jamur itu hingga tidak menyisakan apapun.


Setelah tempat pertama Fang Ling menemukan jamur tiram awan habis, dia melanjutkan pencarian dari dataran tinggi ke dataran tinggi lain hanya untuk mengumpulkan jamur yang kini sudah hampir memenuhi keranjangnya.


"Tempat ini sangat mudah menemukan jamur tiram awan, tapi kenapa jenis jamur lain tidak ada ? padahal di buku ini terdapat banyak jenis jamur namun aku hanya menemukan jamur tiram awan hingga hampir memenuhi keranjang,"


Merasa sangat kebingungan karena sedari tadi hanya menemukan jamur tiram awan, Fang Ling terbang ke lokasi yang cukup jauh, letaknya masih berada di area timur namun cukup jauh dari rombongan lain yang sedang mencari jamur.


"Semoga saja di tempa ini aku menemukan sesuatu yang langka,"Ujar Fang Ling, diapun mulai terbang dari gunung ke gunung lain untuk mencari jamur di tempat itu.


Beberapa jama sudah di lalui Fang Ling dengan hasil yang sangat mengecewakan, karena sedari tadi dirinya hanya dapat menemukan jamur tiram awan, bahkan sangking banyaknya membuat Fang Ling malas untuk mengambilnya.


Merasa habis kesabaran Fang Ling mengacak-acak rambutnya sambil mengerang kesal, dia terbang tak sentuh arah dan tersesat di suatu tempat yang masih berada di kawasan timur.


Setelah pikirannya kembali terkontrol Fang Ling baru sadar jika dirinya sudah terbang sangat jauh hingga kini berada di luar area sekte naga langit, bahkan dia bisa melihat tiga benua sekaligus di tempatnya saat ini walaupun sedikit buram karena iklim di tempat itu sedang bersalju karena berdekatan dengan benua delapan (salju abadi).


"Aku harus segera kembali, akan sangat berbahaya jika malam tiba karena aku sedikit tidak paham dengan area timur untuk kembali pulang,"


Karena hari sudah mulai gelap Fang Ling memutuskan untuk terbang kembali ke sekte naga langit, namun dirinya tiba-tiba terhenti begitu mendengar suara jeritan di bawah yang berada di jurang perbatasan benua delapan (Salju abadi).


Jurang itu berbentuk melengkung karena sekte naga langit berada di dalam kawasan tiga benua sekaligus, merasa ada yang tidak beres dengan suara jeritan yang sempat di dengarnya, Fang Ling mencoba untuk memperhatikan keadaan di bawahnya.


"Itu !!"Mata Fang Ling terbelalak begitu sadar jika di bawahnya sedang terjadi kejar-kejaran yang melibatkan seorang perempuan bergaun putih berekor sembilan, dengan ratusan pria yang mengejarnya sambil berteriak dan mengacuhkan senjata.


"Si-Siluman rubah ekor sembilan ?! Apa yang sebenarnya terjadi di empat alam, kenapa hewan suci seperti mereka bisa berkeliaran di sepuluh benua,"


Tiba-tiba Fang Ling merasakan kepalanya begitu sakit begitu mengingat apa yang terjadi di empat alam saat ini, diapun terbang cepat ke bawah menyusul siluman rubah untuk bertanya langsung dengannya tentang apa yang terjadi.


Dari atas langit Fang Ling berubah menjadi siluet ungu berkat bantuan langkah naga petir, dia melesat cepat dan menciptakan ledakan dan gejolak petir sesaat tubuhnya menghantam tanah tepat di depan ratusan orang yang mengejar siluman rubah.

__ADS_1


"Berhenti !!


Seorang pria bertubuh besar dengan sebilah kapak besar di tangannya berteriak untuk memerintahkan anak-anak buahnya berhenti, dia menatap kabut tebal yang di hasilkan Fang Ling dengan tatapan tajam.


Setelah kabut asap itu menghilang dari dalamnya sepasang mata odd bersinar terang memancarkan hawa intimidasi tersendiri, Fang Ling menatap ratusan orang di depannya dengan tatapan seperti serigala kelaparan.


"Anak kecil sebaiknya kau menyingkir dari jalan kami !! atau kau akan...


"Atau apa ? mau membunuh ku ?!"Kata Fang Ling, pria berbadan besar itu nampak sangat kesal karena merasa sudah di permalukan di hadapan semua anak-anak buahnya.


"Jangan salahkan aku anak kecil, malam ini kau akan mati !!, angkat senjata kalian ! kita cincang dia,"


Secara bersamaan ratusan orang itu mengacuhkan senjata dan mengaktifkan jubah tempur, setelah merasakan kekuatan Fang Ling mereka tidak berani menyerang sendirian dan memutuskan untuk menyerangnya secara bersamaan.


Melihat ratusan orang itu mulai berlari mendekat Fang Ling menciptakan tiga pedang dari elemen yang berbeda, dia menatap orang-orang di hadapannya dengan memancarkan hawa membunuh pekat yang membuat pergerakan mereka menjadi lambat.


"Tu-Tuan ! kaki ku mati rasa dan semakin lama semakin berat !


"Benar tuan, aku merasa sudah tidak kuat untuk bertahan lebih lama lagi


"Tetap bertahan ! lawan kita hanya sendirian, sekuat apapun dia kita tatap unggul dengan jumlah,"Kata pria pembawa kapak dengan nada lantang.


beberapa meter di belakang Fang Ling gadis rubah yang menjadi kejaran ratusan orang itu nampak khawatir dengan keadaan Fang Ling, namun pemuda itu malah mengangkat dua jarinya.


"Dua menit ! akan aku selesaikan dalam dua menit !!


Setelah mengatakan itu Fang Ling berubah menjadi siluet ungu dan melesat cepat ke arah ratusan lawannya, setelah itu terdengar suara jeritan yang memekakkan telinga.


Suara jeritan itu tak bertahan lama sebelum kembali hening dan di gantikan dengan suara jangkrik dan hewan malam lainnya, di bawah sinar bulan yang sangat indah Fang Ling berdiri di atas tumpukan mayat yang terpotong dengan tubuh di selimuti darah.


"Tidak ada warna yang lebih indah dari warna darah,"Fang Ling tersenyum kecil, dia berjalan menghampiri gadis rubah dengan wajah tertutup darah.


Terlihat gadis rubah itu menggigil ketakutan, kedua kakinya bergetar sebelum terjatuh ke tanah begitu Fang Ling mulai berjalan mendekati dirinya.

__ADS_1


"Ja-jangan mendekat ! ku peringkat kau untuk tidak macam-macam,"Gadis rubah itu menjadi semakin panik ketika dia dan Fang Ling hanya berjarak beberapa meter, sangking paniknya dia menodongkan ranting kecil ke arah Fang Ling.


"Jangan katakan jika kau berniat untuk membunuh ku dengan ranting kecil itu,"Fang Ling mengusap wajahnya untuk menghilangkan noda darah yang menempel, seketika gadis rubah terdiam memandangi sepasang mata odd di hadapannya.


Sinar bulan yang terang memancarkan sesuatu yang ajaib hingga membuat wajah Fang Ling terlihat cemerlang dengan kedua mata bersinar memancarkan kekuatan dan kesombongan.


"Hei, kenapa hewan suci seperti mu bisa ada di ini ? ku kira hanya hewan suci kaum harimau taring es yang sudah berada di sini,"


Fang Ling meraih tangan kanan gadis rubah dan menggenggamnya, namun sesuatu terjadi begitu tangan Fang Ling tidak sengaja menyentuh sebuah gelang permata yang ada di tangan gadis rubah.


"Apa ?!"Mata Fang Ling melebar begitu gelang di tangan gadis rubah mengeluarkan cahaya biru, cahaya itu semakin lama semakin membesar hingga membuat langit menjadi mendung dengan petir yang saling bersahutan.


Menyadari hal berbahaya akan menimpa nya, gadis rubah itu mendorong Fang Ling dengan kuat,"Jangan mendekat !! pergilah, selamatkan diri mu dan jangan perduli kan aku,"


Sontak Fang Ling terkejut begitu melihat langit di atasnya mulai terbelah, belahan itu semakin lama semakin lebah hingga seorang pria muda nampak keluar dari celah dimensi itu dengan mengendarai seekor pegasus.


"Di-dia !! salah satu jendral iblis,"


Jangan lupa tiga hal :


1.Vote


2.Like


3.Komen


Pemaksaan, siapa saja yang tidak mau akan di bantai Fang Ling


Mampir juga ke novel teman aku, judulnya :


•Legenda dewa pohenix


•Legenda dewa kematian

__ADS_1


•Pendekar pedang abadi


Bersambung


__ADS_2