
Raja berserta semua keluarga dan ratusan prajuritnya pergi meninggalkan kediaman Yen Chun tanpa membawa apapun kecuali rasa malu. Meski merasa sudah tidak ada muka untuk menatap orang, setidaknya kejadian ini hanya di ketahui oleh keluarga Yen Chun dan keluarga kerajaan yang ada pada saat itu.
Rasa kesal dan amarah terukir jelas di wajah sang raja, namun ia tidak dapat berbuat apa-apa untuk melakukan tindakan terhadap Fang Ling dan memilih untuk menelan rasa malu dan amarah tersebut hanya untuk dirinya.
Fang Ling sendiri tidak terlalu memikirkan hal tersebut, ia hanya bertidak sewajarnya saja karena memang sejak awal sang raja lah yang membuat dirinya sendiri di permalukan akibat di kendalikan rasa sombong dan berpikir dialah yang paling di hormati karena bergelar sang raja dari satu benua.
Tetapi umumnya orang bijak akan berpikir, jika satu benua bukanlah apa-apa jika tidak adanya sekte putih.
Setelah kepergian sang raja bersama dengan semua pengikut-nya, Semua keluarga Yen pada saat bersamaan menatap ke arah Fang Ling. Mereka menaruh rasa simpati, terkejut sekaligus tidak menyangka jika Fang Ling berani berdebat dengan raja.
Karena itu juga Yen Siulan semakin yakin jika Fang Ling memang sangat mencintainya. Meski berwajah dingin dan tidak bersahabat sama sekali, Fang Ling adalah malaikat bertopeng iblis.
Alih-alih merasa bangga, Fang Ling malah merasa bersalah karena sudah membuat keributan di depan semua orang, apalagi di pertemuan pertamanya dengan keluarga besar Yen. Pasti akan membuat image serta membuat dirinya di pandang buruk oleh keluarga Yen Siulan.
"Ma-maafkan aku, kurasa kali ini bukan waktu yang tepat untuk berbicara setelah apa yang aku lakukan tadi."Fang Ling menunduk.
Semua orang memandang kagum Fang'Ling, hingga Yen Chun berkata."Nak, yang kau lakukan tadi bukanlah hal biasa namun luar biasa.!!"Yen Chun berjalan menghampiri Fang Ling, lalu menepuk pundaknya."Aku masih tidak bisa melupakan bagaimana ekspresi kaisar Dong saat di permalukan olehmu, Kemari-lah dan duduk bersama kami."
Yen Chun mengajak Fang Ling untuk duduk di meja bundar keluarga besar Yen, sementara Fang Ling hanya mengikuti apa yang di katakan Yen Chun dan duduk berdampingan dengan Yen Siulan.
Yen Chun duduk dengan posisi berhadapan dengan Fang Ling, ia nampak sangat bersemangat untuk mendengarkan cerita Fang Ling.
"Sudah lama sekali sejak terakhir kali kita bicara, bagaimana jika Ling'er menceritakan sedikit rencana mu kedepannya setelah perjalanan mu yang sudah mengukir sejarah persilatan."
"Mengukir sejarah..! Bisakah kau menceritakannya lebih jauh..?
Ayah dari Yen Chun nampak terkejut. Pria sepuh tersebut bernama Yen Kian, Patriack dari sekte pedang bambu sebelum hak tersebut ia jatuhkan kepada anak tertuanya Yen Chun.
Yen Chun mendongak ke arah ayahnya di kenan."Ayah bercanda..! Karena anak ini, reputasi sekte kita melesat seperti siluet hingga di kenal sebagai sekte terbesar di benua daun wangi."
"Chu'er, ayah bertanya apa, kau jawab apa..Tidak jelas bertanya denganmu, lebih baik aku bertanya kepada yang bersangkutan."
Yen Kian menatap Yen Siulan."Nah nak, bisakah kau menceritakan apa saja yang kamu lakukan sampai mampu membuat sekte ini menjadi begitu terkenal..?"
Adik laki-laki bungsu Yen Chun bernama Yen Erlang menepuk dahi."Ya ampun ayah, dia itu cucu mu..Anak dari anak mu yang bernama kak Yen Chun, sementara yang di maksud kak Yen Chun tadi adalah pemuda di samping keponakan Yen Siulan."
__ADS_1
Yen Kian terlihat semakin marah."Diam Lang'er !! Ayah tidak bicara denganmu."Yen Kian menatap Fang Ling dengan raut wajah ramah, berbeda saat tadi dia marah."Nah, anak muda. Siapa namamu, lalu dari mana asal dan siapa keluarga mu."
Fang Ling menggaruk kepala dengan raut wajah bingung, ia tidak menyangka jika Yen Kian memiliki pribadi tidak mau kalah di umurnya yang kemungkinan berada di 200Thn. Pria tua itu terlihat sedikit muda karena efek tenaga dalam, seharusnya di umur seperti sekarang ia sudah menjelajahi empat alam.
Seorang kultivator dan manusia biasa bukan hanya di bedakan oleh kemampuan fisik ataupun kemampuan bertarung. Manusia biasa memiliki umur yang berbeda-beda, jika tidak ada kejadian atau penyakit mereka akan hidup paling tidak sampai 70 hingga 90 tahun.
Tetapi tidak sedikit juga manusia biasa yang mati di umur lebih dari 100 tahun, sedangkan manusia kultivator bisa hidup jauh lebih lama dari manusia biasa di kisaran 400 sampai 500 tahun.
Manusia kultivator di gadang-gadang abadi, namun kenyatannya tidak. Terdapat perbedaan waktu di empat alam dan dunia Surgawi, di mana di kedua tempat itu waktu berjalan jauh lebih lambat sehingga membuat manusia kultivator terlihat abadi yang padahal dia juga bisa mati akibat umur.
Sebelum menjawab pertanyaan Yen Kian, Fang Ling terlebih dahulu menatap Yen Siulan di samping barulah kemudian ia yakin untuk bercerita.
"Tuan, namaku Fang Ling..Tidak jelas siapa sebenarnya aku, bahkan aku sendiri tidak tau siapa diriku."
Yen Chun mengangguk."Benar..! Ling'er sangat misterius, sampai sekarang aku masih bingung dari mana datangnya kekuatan mu."
Yen Kian menjadi marah."Diam Chu'er, ayah tidak bicara denganmu !!"Yen Kian kembali menatap Fang Ling dengan raut ramah."Lalu bagaiman dengan orang tuamu ??
Fang Ling menghela nafas pelan."Semenjak ayah dan ibuku melempar ku ke dalam ngarai, aku sudah tidak tau keadaan mereka sejak saat itu."
Perasaan kagum kepada Fang Ling yang tegar dalam menghadapi masalah, terpancar jelas di wajah semua orang di tempat tersebut, namun nampaknya hanya Yen Siulan yang merasa miris mendengar cerita Fang Ling.
Yen Siulan menatap Fang Ling.'Di umur yang masih sangat muda, ternyata Gege sudah menanggung beban seperti ini. Sangat berbeda denganku yang terlahir dari keluarga terpandang, serta di kelilingi banyak orang.'
Yen Kian kembali melontarkan pertanyaan."Lalu kenapa kamu tidak mengunjungi mereka ? Bukankah tadi kamu bilang sudah lama tidak bertemu mereka ??"
Fang Ling menunduk. kepalan tangannya menggenggam kuat."Aku mau, hanya saja rasa marah dan dendam ini begitu kuat. Karena itulah aku tidak pergi bertemu mereka, juga karena keselamatan mereka dari orang sepertiku."
Yen Kian mengangguk mengerti."Ya, kurasa wajar kamu merasa seperti itu. Lalu di mana kamu tinggal ?"
"Di kediaman paviliun harimau putih. Sudah satu hari ku habiskan di rumah tersebut."
Yen Chun nampak terkejut."Paviliun harimau putih ? Ling'er, kamu tinggal di sana ?!
Fang Ling menatap Yen Chun di hadapannya, lalu mengangguk membenarkan bahwa dirinya memang tinggal di paviliun harimau putih.
__ADS_1
Wajah Yen Chun menjadi pucat."Kamu tidak takut ? Bukankah di sana sangat angker, bahkan aku sendiri tidak berani menoleh ke arah jalan menuju paviliun harimau putih."
Yen Kian Kembali marah."Chu'er ! Ayah bilang juga apa, sekali lagi kamu bicara hak bicaramu ayah cabut selama satu tahun !!
Adik kedua Yen Chun yang merupakan perempuan cantik berwajah kasar dengan nama Yen Erlina mengusap wajah."Ya ampun ayah. Kak Chu hanya bertanya, lagian ada banyak orang di sini mau menanyakan banyak hal tentang pria tampan itu."Yen Erlina menatap Fang Ling seraya bermain mata, sementara Fang Ling hanya tersenyum canggung tanpa menoleh ke arah gadis tersebut.
"Nak, sekarang ceritakan saja apa yang terjadi sebelum kamu ada di sekte ini."Yen Kian tidak mau kalah dengan menanyakan sesuatu kepada Fang Ling.
Yen Chun menggeplak meja."Ling'er ! Kamu belum menjawab pertanyaan ku sebelumnya, jangan dengarkan pria tua egois itu !!
Yen Kian ikutan menggeplak meja namun lebih kuat."Apa maksud dari sikap mu Chu'er ! Apa kau sudah tidak sabar menunggu ayah mati lalu mengambil semua harta keluarga ini ?!
Sangking kesal Yen Chun di buat hampir menangis. Iapun akhirnya terpaksa mengalah, dengan alasan tidak mampu berdebat dengan sang ayah yang selalu benar meski salah.
Yen Kian mendengus kesal."Huu ! Dasar cengeng, setelah puluhan tahun ternyata sifat cengeng mu masih tetap terjaga."Yen Kian kembali menatap Fang Ling, lagi-lagi dengan raut ramah."Nah nak, apa yang membuatmu datang kemari ?
Fang Ling tersenyum canggung."Ak-aku, duh apa ya.."Fang Ling melirik Yen Siulan, sebab tidak tau harus berbuat apa.
Sama seperti Fang Ling, Yen Siulan juga tidak tau harus mulai dari mana untuk memperkenalkan kepada keluarganya jika Fang Ling adalah pasangannya.
Sebenarnya Yen Chun tau apa yang ingin di katakan Yen Siulan, namun karena takut di marah oleh Yen Kian iapun tetap tutup mulut.
Di luar dugaan ibu Yen Siulan serta semua paman dan seorang bibinya juga mengerti maksud kedatangan Fang Ling dan Yen Siulan, hanya Yen Kian yang terlihat masih belum mengerti dengan keadaan.
Yen Kian menatap Fang Ling dan Yen Siulan yang sangat serasi secara bergiliran."Kalian tidak sedang ingin berkebun di sini kan ?
Semua orang melongo dengan mulut terbuka lebar, mereka sangat ingin membantu Yen Kian mencerna situasi namun mereka mengurungkan niat tersebut kecuali Yen Chun yang sudah terlihat sangat kesal.
"Siapa yang mau berkebun ayah, jika kita kekurangan tukang kebun kenapa ayah tidak mendaftarkan diri saja."Yen Chun mengupil dengan jari kelingking.
Yen kian menatap Yen Chun."Ha ? Memangnya kita kekurangan tukang kebun ??
Semua orang kehabisan kata-kata, sulit sekali rasanya membantu Yen Kian mencerna situasi.
Karena merasa sudah tidak ada pilihan lain selain berbicara, akhirnya secara tidak langsung Yen Siulan dan Fang Ling berkata dengan kompak.
__ADS_1
"Ka-Kami berdua sudah berpasangan"