Legenda Pendekar Pedang

Legenda Pendekar Pedang
Legenda tiga kaisar naga IV


__ADS_3

Selama bertahun-tahun anak bayi itu sudah tumbuh menjadi pemuda tampan berumur sepuluh tahun, mempunyai rambut putih dengan wajah tampan layaknya malaikat.


Selama bertahun-tahun pula, pemuda itu tidak pernah keluar dari kediaman patriak sekte itu hingga membuat lima gadis yang menyelamatkannya tidak mengetahui jika dia masih berada di dalam sekte.


Kelima gadis itu hidup seperti biasanya, berlatih dan terus berlatih hingga mencapai tingkat tertinggi di sekte tersebut. Namun, terdapat sebuah kesedihan yang terus-menerus menghantui gadis berambut biru sepanjang hidupnya.


Kini gadis berambut biru itu sudah berumur 20thn, mempunyai paras cantik dan anggun seperti bidadari surga yang lemah lembut. Setiap harinya dia akan pergi ke sungai sendirian untuk mengenang bayi kecil yang sempat di temui nya saat itu.


Gadis itu duduk di pinggiran sungai, merangkul kedua lututnya sambil memandang aliran air di depannya dengan mata berkaca-kaca," 'Maaaf' "


Setelah puas menjerit dan menangis gadis itu akan pergi dari tempat itu setelah malam hari dan kembali ke tempat itu setiap sore, seperti itulah rotasi kehidupannya selama bertahun-tahun.


Sedangkan Ranzel yang hidup di dalam kediaman ibu angkatnya yang merupakan patriak dari sekte yang di tinggalinya, dia terus menatap keluar dari kamarnya untuk melihat bintang-bintang.


Secara kebetulan dari kejauhan dia melihat seorang gadis cantik berambut biru sedang berjalan sendirian, ia terus menatap gadis itu sambil bertanya-tanya dengan dirinya untuk apa gadis itu keluar malam-malam.


Matanya yang memancarkan cahaya kebiruan menatap lekat gadis cantik yang berada cukup jauh dari tempatnya, cahaya bulan yang begitu terang menyentuh kulit gadis itu hingga terlihat bersinar.


Mulut Ranzel terkatup-katup, matanya masih terus memandangi gadis di hadapannya,"Cantik sekali, apakah aku pernah bertemu dengannya ?? kenapa dia terlihat tidak asing ??"


Setelah cukup lama memandangi gadis itu, perlahan mata Ranzel kesulitan untuk melihatnya karena gadis itu sudah berjalan jauh dari jangkauan matanya.


Sedangkan ia merasa begitu tidak puas hanya dengan melihatnya dari kejauhan, tapi yang menjadi pikiran Ranzel saat ini adalah kenapa dia merasa kenal dengan gadis yang kini sudah berlalu dari pandangannya.


Ranzel mengeluarkan nafas panjang sebelum berbaring di tempat tidurnya, ia memandangi langit-langit kamar untuk mengingat siapa gadis itu dan kenapa ada perasaan istimewa jika dia melihat wajahnya walaupun dari kejauhan.


"Siapa dia ?? apakah aku mengenalnya atau ini hanya sekedar perasaan suka yang biasa di alami anak remaja pada umumnya. Tapi, ini sedikit berbeda karena aku merasa dia sangat istimewa,"


Semalam Ranzel terus memikirkan gadis itu hingga lupa untuk tidur dan terbangun di siang hari saat matahari sudah mencapai puncaknya. Dia bergegas keluar kamar dan berjalan ke sebuah tempat luas yang di tumbuhi satu pohon besar di tengahnya.


Tempat itu adalah sebuah lapangan latihan di dalam ruangan, dengan diameter cukup lebar. Di bawah pohon rindang terlihat seorang perempuan cantik bertubuh kecil sedang duduk memegangi sebilah pedang di tangannya.


"Apa yang membuat mu begitu terlambat untuk latihan ?? apakah kau tau hukuman jika terlambat, kau akan ibu bunuh jika tidak mampu menahan semua serangan ibu,"Kata gadis itu dengan nada dingin terdengar sangat mengerikan.

__ADS_1


"Benarkah ? apa yang harus aku takuti saat berhadapan dengan seorang perempuan cantik berumur lima puluh tahun,"Ejek Ranzel.


"Anak kurang ajar ! kau sudah berani melawan ibu dan lagi umur ku masih berada di empat puluh tahun, kau akan menerima serangan mematikan karena sudah mengolok-olok ibu,"


"Sungguh ?....


Mata Ranzel terbelalak melihat ibu angkatnya sudah berada di belakang dirinya dan bersiap menyerang, namun Ranzel dengan cepat melompat ke depan membuat pedang itu sedikit mengenai punggungnya.


"Ibu, apakah kau ingin membunuhku, kenapa kau begitu kasar ? aku hanya bercanda,"Ucap Ranzel sambil meringis kesakitan.


Tidak mendengarkan perkataan anak angkatnya, perempuan cantik itu melesat cepat dan Kembali menebas perut Ranzel hingga membuatnya tersungkur ke tanah dengan perut mengeluarkan darah.


"Jika sedang bertarung jangan mengeluarkan sepatah katapun, author tidak menyukai itu !! " Bentak perempuan itu sambil memasukkan kembali pedang yang di pegangannya ke dalam sarung.


Tak


Saat pedang itu masuk ke dalam sarung ke seluruhan-nya, Ranzel memegang kaki ibu angkatnya dan menarik dengan kuat hingga membuat perempuan cantik itu tersungkur ke tanah.


Ranzel segara membuka pedang itu dari sarungnya dan segera menodongkan senjata itu ke arah perempuan cantik di bawahnya,"Ibu, aku masih belum kalah... Jadi, jangan meremehkan ku,"


Dengan wajah di penuhi debu wanita cantik itu terlihat kesal sambil mengepal kuat kedua tangannya, ia segera menyerang Ranzel bertubi-tubi hingga membuatnya berjalan mundur.


pertarungan sengit keduanya tidak terelakkan, dengan kemampuan pengendalian pedang yang sempurna Ranzel mampu mengimbangi gerakan ibu angkatnya yang kuat dan cepat.


Di saat ibunya akan memukul sekuat tenaga, Ranzel langsung menahan serangan itu dengan pedang, namun karena pukulan yang sangat kuat itu Ranzel terpental menabrak tembok hingga membuatnya pingsan.


Di dalam kamarnya Ranzel kembali terbangun di malam hari, langsung saja pandangannya berubah dingin saat merasakan kehadiran seseorang yang tidak di kenalnya. Langsung saja Ranzel turun dari kasur dan berjalan ke arah jendela untuk memperhatikan keadaan sekitar, karena merasa ada yang sedang menerobos masuk sekte.


Secara samar-samar Ranzel melihat seseorang sedang berjalan mengendap-endap di atap gerbang, dia sangat terkejut ketika melihat gadis berambut biru yang di kenalnya berjalan seorang diri tidak jauh dari orang misterius itu bersembunyi.


Tidak mau sesuatu terjadi kepada gadis itu, Ranzel terpaksa melanggar janji ibunya untuk tidak keluar dari kediaman. Dengan tergesa-gesa ia mengambil pedangnya yang di simpan di bawah tempat tidur dan menggunakan penutup wajah berwarna hitam.


Untuk pertama kalinya Ranzel melangkahkan kaki keluar kediaman, ia langsung berlari dari atap ke atap lain tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Dari kejauhan dirinya melihat gadis biru sedang di serang oleh orang misterius yang menggunakan jubah hitam layaknya seorang ninja.

__ADS_1


Nampak pertarungan kedua belah pihak tidak menguntungkan bagi gadis berambut biru, karena tidak memiliki pedang untuk bertarung hingga akhirnya ia di lumpuhkan dengan mudah.


Di saat hampir terbunuh gadis itu melihat punggung seorang pria yang menyelamatkannya, secara samar-samar walaupun tidak jelas dirinya merasakan sesuatu yang familiar dengan pemuda itu.


Tidak memerlukan waktu lama, Ranzel segera membunuh penyusup itu dengan memenggal kepalanya. Dengan pakaian yang di penuhi darah, ia berjalan menghampiri gadis berambut biru dan membantunya berdiri.


"Kau tidak apa-apa ? Tanya Ranzel sambil menatap lekat gadis di hadapannya.


Gadis itu sontak terdiam seribu bahasa, matanya meneteskan air mata saat menatap sepasang mata biru di hadapannya. Walaupun sudah tidak pernah bertemu selama bertahun-tahun, ia ingat dengan jelas pemuda tampan di hadapannya adalah bayi yang di selamatkan nya saat itu.


Gadis berambut biru itu menggerakkan kedua tangannya untuk melakukan beberapa gerakan isyarat,"Kau adalah bayi yang aku selamatkan, apakah kau mengenalku ??


Dengan wajah bingung Ranzel memperhatikan pergerakan tangan gadis di hadapannya. Ia tidak mengerti apa yang di katakan gadis itu, tapi dirinya mengetahui jika gadis itu bisu.


Walaupun begitu Ranzel merasa itu bukanlah hal penting, ia tetap menyukai gadis itu dengan tulus bahkan perasaan itu berkembang semakin besar.


"Segeralah pulang,"ucap Ranzel singkat


Ranzel melompat ke atas atap dan bergerak ke arah berbeda agar gadis itu tidak curiga jika dia tinggal di sekte tersebut.


Sedangakan gadis itu hanya menatapnya sambil menangis karena Ranzel tidak mengerti apa yang dirinya maksud. Setelah Ranzel menghilang di dalam kegelapan, ia berjalan pulang sambil terus berharap agar dapat kembali bertemu dengan Ranzel.



Mampir juga ke novel teman aku, judulnya :


•Legenda dewa pohenix


•Legenda dewa kematian


•Pendekar pedang immortal


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2