Legenda Pendekar Pedang

Legenda Pendekar Pedang
Hutan rindang VI


__ADS_3

Suasana menjadi hening sesaat karena Fang Ling sudah mengetahui permasalahan Ah Bai walaupun dia tidak mengatakannya.


Melihat kaki Ah Bai yang lecet karena tidak menggunakan alas kaki membuat wajah Fang Ling menjadi gusar, diapun menyentuh satu persatu telapak kaki Ah Bai dan membuat sebuah alas kaki berwarna merah dari elemen api.


"Apakah kau suka ? Fang Ling kembali menatap Ah Bai.


Ah Bai mengagguk dan tersenyum,"Aku menyukainya, terimakasi," diapun mengeluarkan sebuah mahkota yang terbuat dari anyaman bunga dari balik pakaiannya dan menaruh mahkota itu di atas kepala Fang Ling.


"Sangat bagus dan wangi, apakah ini kau yang membuatnya ? Tanya Fang Ling sambil memegang kedua tangan Ah Bai dengan posisi yang berjongkok dan satu lutut menyentuh tanah.


"Iya... aku membuatnya saat berjalan-jalan di hutan untuk mencari hewan buruan,"Kata Ah Bai polos sambil tersenyum karena merasa senang Fang Ling menyukai mahkota buatannya.


Fang Ling seketika terkejut dan memegang kedua pundak Ah Bai cukup kuat hingga membuatnya meringis kesakitan,"Untuk apa kau ke hutan ? lalu kenapa kau mencari hewan buruan ?! apakah Shun Jing yang menyuruh mu ??


Melihat Fang Ling yang marah membuat Ah Bai ketakutan, tidak hanya itu, ia juga merasa bersalah karena tidak sengaja mengatakan tujuannya masuk ke dalam hutan sendirian.


Ah Bai pun hanya dapat menundukkan kepala tidak tau mau mengatakan apa mengenai hal itu, dan lagi dia takut jika Fang'Ling memarahinya.


Mengerti dengan perasaan Ah Bai, Fang Ling akhirnya tidak jadi marah dan kembali berdiri,"Tunggulah sebentar di sini, aku akan cepat kembali dan menyelesaikan masalah kalian,"


Belum sempat mengatakan sesuatu kepada Fang Ling, pemuda itu menghilang dari pandangannya, membuat Ah Bai kembali kesepian, namun dia memilih duduk di tempat itu hingga Fang Ling kembali.


Berselang beberapa lama kini Fang Ling berada di dalam tengah-tengah hutan rindang, diapun langsung menciptakan busur panah untuk melumpuhkan jika ada hewan buruan.


Untuk mencari hewan buruan Fang Ling berjalan mengendap-endap masuk lebih dalam ke hutan, di sana dia dapat dengan jelas merasakan bahkan mendengar langkah-langkah hewan.


Terdengar terdapat banyak macam hewan, tapi kini perhatian Fang Ling tertuju pada seekor ayam hutan yang terlihat sangat gemuk, saat akan memanah Fang Ling kembali melihat ada beberapa ekor ayam hutan di tempat yang sama dengan ayam hutan yang pertama kali di temui nya.


Dengan perasaan riang karena mendapatkan banyak hasil buruan di satu tempat, Fang Ling melumpuhkan semua ayam hutan yang ada di tempat itu.


Setelah semuanya sudah di lumpuhkan Fang Ling memungut semua ayam hutan itu dan memasukan sebagian ke dalam cincin dimensi.


Agar tidak membuat teman-temannya curiga, Fang Ling sengaja menenteng sepuluh ekor ayam hutan dan berlari cepat ke tempat Ah Bai.


Sedangkan di tengah-tengah hutan Ah Bai mulai bosan karena sudah menunggu Fang Ling selama hampir satu jam, tiba-tiba mata Ah Bai di tutupi sesuatu yang terasa sangat hangat.


"Coba tebak ini siapa ? Fang Ling berbicara menggunakan nada aneh untuk mengelabuhi Ah Bai.

__ADS_1


Walaupun matanya sedang tertutup Ah Bai masih memiliki penciuman yang sangat tajam, membuatnya dengan muda dapat menebak jika itu adalah Fang Ling.


Karena Ah Bai berhasil menebak dengan benar, Fang Ling melepaskan tangannya yang menutup kedua mata Ah Bai, diapun memperlihatkan hewan buruannya kepada Ah Bai.


"Lihatlah aku mendapat banyak hewan buruan, bagaimana jika kita kembali ke tempat teman-teman yang lain ?


Melihat Fang Ling tersenyum cerah karena berhasil mendapatkan banyak hewan buruan, Ah Bai juga ikut tersenyum sambil mengangguk pelan.


"Ayo aku juga sudah lapar,"Ujar Ah'Bai sambil mengusap perutnya yang keroncongan.


Fang Ling berjongkok membelakangi Ah Bai dan menyuruhnya untuk naik ke atas punggung, Setelah Ah Bai sudah naik, Fang Ling berlari cepat takut jika Wang Yihan sudah menunggu lama.


Tidak membutuhkan waktu lama kini Fang Ling sudah berada di jalan tempat dirinya dan Wang Yihan berpisah, namun ia tidak menemukan siapapun di tempat itu walaupun sudah mencari.


"Apakah kak Wang sudah duluan kembali ke tempat istirahat,"Batin Fang Ling, diapun hendak berjalan kembali namun dari jalur di sisi kanan terlihat Wang Yihan berjalan keluar hutan.


Cukup lama memperhatikan Wang Yihan terlihat sekujur tubuhnya penuh luka, bahkan dia berjalan dengan bantuan tongkat, wajahnya di penuhi dengan sisa sengatan lebah.


Melihat keadaan Wang Yihan yang kacau Fang Ling hampir tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa, diapun bertanya apa yang terjadi ketika pemuda itu berada di hadapannya.


"Kak Wang, sepertinya kau baru saja bergulat dengan seekor beruang, apakah kau menang ? Fang'Ling mencoba untuk menghibur Wang'Yihan walaupun dirinya tau jika pemuda itu tidak di serang seekor beruang.


Fang Ling memberikan sepuluh ayam hutan hasil buruannya kepada Wang Yihan, dengan alasan tidak bisa membawanya karena sedang menggendong Ah Bai yang kini menjadi sedikit lebih besar.


Walaupun sempat merasa bingung akhirnya Wang Yihan mau membawa hewan buruan itu dan berjalan kembali bersama Fang Ling.


Sesaat setelah sampai teman-teman yang lain terlihat sangat senang begitu melihat Wang Yihan membawa banyak ayam hutan, merekapun langsung menyambut baik kedatangan Wang Yihan.


Saat Wang Yihan ingin menepis perkataan jika bukan dia yang menangkap semua ayam hutan itu melainkan Fang Ling, justru Fang Ling hanya tersenyum sambil memberi isyarat kepada Wang Yihan untuk tetap diam.


Terlihat Xiao Bai dan Xiao Qing merasa begitu aneh saat melihat Shun Jing dan Yen Siulan seolah menjauhi Fang'Ling hanya karena Ah Bai selalu dekat dengannya.


Tapi merasa semua itu bukan sesuatu yang biak untuk mencampuri urusan orang lain, Xiao Bai dan Xiao Qing memilih untuk tetap diam walaupun mereka sangat ingin menegur Shun Jing dan Yen Siulan.


Nyatanya Fang Ling tidak mempermasalahkan hal itu, dia menurunkan Ah Bai dari gendongnya, setelah itu Fang Ling mengeluarkan pedang hydra dari udara kosong tanpa sepengetahuan teman-temannya.


Fang Ling berjalan ke arah Shun Jing yang terlihat sedang duduk di sebelah Yen Siulan, keduanya juga sama-sama sedang memanggang ayam hutan.

__ADS_1


"Jing'er ini pedang mu, lain kali, sebaiknya kau bertarung menggunakan elemen mu ketimbang pedang hydra... sebaiknya kau menggunakannya dalam keadaan terdesak,"Fang Ling menyodorkan pedang Hydra kepada Shun Jing dan tidak lupa untuk tersenyum.


Shun Jing mengambil pedang hydra tanpa melihat atau berterimakasih kepada Fang Ling, diapun kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Oh ada satu lagi.... setelah kau menyelesaikan tahap seleksi, aku akan mengantar mu pulang kembali rumah keluarga mu," kata Fang Ling.


Sontak perkataan Fang Ling membuat suasana menjadi hening, semua orang yang tidak terlibat hanya bisa berdoa untuk keselamatan Fang Ling.


Mendengar perkataan Fang Ling, Shun Jing tidak berkata apa-apa, dia hanya berdiri dan berjalan meninggalkan tempat itu dengan di ikuti Yen Siulan karena mereka satu kelompok.


Terlihat di wajah Yen Siulan keraguan untuk memilih tetap tinggal atau mengikuti Shun Jing, akhirnya mau tidak mau Yen Siulan mengikuti Shun Jing karena takut terjadi sesuatu padanya.


"Adik Fang kau sudah gila ?! apakah kau tidak memikirkan keselamatan mereka, hari sudah malam akan banyak hewan buas yang keluar,"Wang Yihan berdiri dengan wajah bengkaknya.


Namun belum sempat Wang Yihan bertidak lebih jauh karena merasa perbuatan Fang Ling terlalu kasar, Yue'Liang menghentikannya karena tau jika Fang Ling tidak melakukan itu kedua gadis tersebut tidak akan berpikir dewasa.


"Ternyata benar,Ulat membutuhkan waktu untuk menjadi kupu-kupu,"



Jangan lupa tiga hal :


1.Vote


2.Like


3.Komen


Pemaksaan, siapa saja yang tidak mau akan di bantai Fang Ling


Mampir juga ke novel teman aku, judulnya :


•Legenda dewa pohenix


•Legenda dewa kematian


•Pendekar pedang abadi

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2