
Di tempat lain nya, Yu Ming setelah tiba di tepi sungai, dia segera mencopot seluruh pakaiannya.
Mencucinya sendiri hingga bersih, lalu menjemurnya di atas batu besar di tepi sungai.
Setelah itu Yu Ming baru masuk kedalam sungai menyelam membersihkan diri dari kotoran lumpur, yang melekat di rambut dan seluruh bagian di tubuhnya.
Saat mandi Yu Ming baru menemukan beberapa ekor lintah melekat di tubuhnya.
Dengan hati hati Yu Ming mencopot satu persatu lintah itu dari tubuhnya.
Membuang lintah lintah itu jauh jauh, setelah itu Yu Ming baru kembali melanjutkan mandinya.
Yu Ming selesai mandi tidak langsung meninggalkan sungai, dia memilih duduk di atas bebatuan, sambil berendam di dalam sungai.
Dia mengenang satu persatu kejadian kehidupannya, baik di masa lampau maupun saat ini.
Semua nya bisa dia ingat dengan sangat jelas.
Yu Ming tidak sama dengan orang awam lainnya, yang begitu menitis ke dunia, mereka langsung kehilangan semua ingatan masa lampau mereka.
Bahkan sejalan dengan usia, mereka juga akan kehilangan ingatan tentang masa kecil mereka.
Tapi Yu Ming jelas berbeda, semua ingatan masa lalunya dan masa kehidupan lampau nya.
Semua dia ingat dengan jelas, tidak ada sedikitpun yang dia lupakan.
Semua ini terjadi karena, saat dia akan melewati pintu reinkarnasi ke alam manusia.
Meng Po yang merasa bersalah dengan nya, tidak memberinya air penghapus ingatan, untuk dia minum.
Yu Ming melewati begitu saja pintu reinkarnasi ke dunia, yang di jaga oleh Meng Po.
Sehingga dia kini ingat sepenuhnya, siapa dirinya di.masa lalu dan mengapa dia terlahir ke alam ini.
Bahkan dia juga ingat semua kemampuannya, dia juga tahu persis mengapa kekuatannya tidak bisa dia pergunakan.
Semua itu Yu Ming tahu dengan sangat jelas.
Jadi meski Yu Ming penampilan nya terlihat seperti anak berusia 8 tahun, tapi sebenarnya dia pemikirannya sudah sama persis dengan orang dewasa, yang memilki pikiran matang.
Yu Ming duduk berendam seorang diri sambil tersenyum sedih dan berkata,
"Tidak ku sangka, kehidupan ku yang tadinya cemerlang.."
"Dalam sekejab berubah menjadi seperti ini.."
"Aku masih sempat berpikir dan berharap, lahir kedunia ini, aku bisa sedikit menunjukkan sinar kecemerlangan ku buat dunia ini.."
"Tapi ternyata aku hanya menjadi lelucon bahan tertawaan belaka.."
"Kenyataan nya, aku hanya lah manusia recehan tak berguna buat dunia ini.."
__ADS_1
"Ada ataupun tiada sama saja, tidak akan membawa pengaruh apapun juga.."
Ucap Yu Ming sambil tersenyum sedih.
Beberapa saat kemudian Yu Ming yang tenggelam dalam lamunannya sendiri, menghela nafas panjang dan berkata,
"Tapi ya sudahlah, jalani saja takdir ini, kemanapun dia mau membawanya.."
"Tidak ada gunanya di sesalkan.."
Gumam Yu Ming pelan seorang diri.
Lalu dia segera menenggelamkan kepalanya masuk sepenuhnya kedalam air.
Dia mencoba mencari kesegaran dan ketenangan pikirannya, di bawah air sana.
Setelah puas berendam di mana matahari mulai semakin terik sinarnya, Yu Ming lalu menoleh kearah pakaiannya yang hampir kering.
"Pakaian ku sudah hampir kering, lebih baik aku pergi bantu ibu dan nenek.."
"Setidaknya masih ada mereka yang menyayangi dan memperhatikan ku ."
"Aku harus membalas kebaikan mereka dengan seluruh kemampuan ku ."
Ucap Yu Ming penuh tekad.
Selesai berpakaian, Yu Ming segera berlari kembali ke areal lahan kebun jagung, di mana kedua orang tuanya berada.
"Putra kalian telah membuat putra kami hampir kehilangan nyawa..!"
"Kalian harus bertanggung jawab, putra kalian yang terlalu di manja itu harus di hukum dengan berat..!"
Teriak sepasang suami istri itu sahut menyahut, sambil menunjuk nunjuk kearah wajah Siao Cui dan bibi Lan.
Siau Cui langsung menepis tangan mereka, yang menunjuk hingga hampir mengenai wajahnya.
Bila tidak di tahan oleh Bibi Lan, mungkin Siao Cui sudah menyerang mereka.
Karena tertahan oleh tarikan bibi Lan, Siao Cui akhirnya hanya berkata dengan keras,
"Jangan asal buka mulut, buka mata dan telinga kalian.."
"Siapa memanjakan siapa? semua orang di desa juga tahu, putra mu yang kontet itu, adalah biang kerok di desa ini.."
"Kalian lah yang jadi orang tua bisa melahirkan, tidak bisa mengajarinya dengan baik.."
"Sehingga dia jadi seperti itu, sekarang kamu mau salahkan putra ku,.. mana ada aturan seperti itu..'
Ucap Siao Cui tidak mau kalah.
Ibunya Si kontet Tan Si terlihat sangat berang dengan ucapan Siao Cui.
__ADS_1
Setelah Siao Cui selesai berkata, dengan senyum sinis dia berkata,
"Dasar pendatang tidak tahu malu."
"Hanya si goblok Xiong Yi yang mau menikahi wanita pembawa sial dan tidak bisa melahirkan anak seperti kamu ini."
"Lihat akibatnya, jadi terbaring sial kan, ayah tewas jabatan hilang.."
"Dahulu kami menahan diri, karena ayah mertua mu punya kuasa.."
"Kini dia sudah mati, anaknya juga cacat, aku mau lihat sekarang,, siapa yang akan membela mu lagi..!?"
Bentak ibunya si kontet Tan Si, yang sifat ibu nya dan anak nya setali tiga uang.
Siao Cui terlihat melotot sampai dadanya sesak, hingga sulit bernafas, saking mendongkol nya mendengar ucapan ibunya Tan Si yang jutek luar biasa.
Akhirnya setelah rada tenang, Siao Cui baru berkata,
"Meski mertua ku gugur, suami ku cedera, tapi mereka berkorban demi keamanan desa.."
"Di bandingkan kamu yang cuma punya laki pengecut, bersembunyi saat musuh tiba.."
"Sehat pun percuma, siapa yang lebih tak berguna, biar penduduk desa saja yang menilainya.."
"Tak perlu jauh jauh, si kontet itulah maha karya kalian berdua.."
Ucap Siao Cui tidak mau kalah.
Sehingga para penduduk yang mulai berkeliling di sana, menyaksikan keramaian.
Mereka pada tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.
"Kau ..! Kau...wanita ******...! tidak tahu malu...!"
"Aku tidak level bicara dengan mu.."
"Masalah ini tidak akan selesai, aku akan membawanya ke ketua Tan Siaw, biar ketua Tan Siaw yang putuskan..!"
Ucap Ibu nya si kontet sambil mendengus kesal.
Lalu dia langsung menarik lengan suaminya, menerobos kepungan penduduk, mereka berdua segera pergi meninggalkan tempat tersebut.
Setelah mereka pergi, penduduk yang datang untuk menyaksikan keramaian, mereka satu persatu mulai meninggalkan tempat tersebut.
Setelah mereka semua nya pergi, Yu Ming baru berjalan pelan menghampiri ibunya dan berkata,
"Maafkan Ming Er Bu, Ming Er memang hanya bisa mendatangkan masalah dan kerepotan di manapun Ming Er berada ."
Siao Cui dengan mata sedikit berkaca kaca, mengulur kan tangan nya, membelai kepala Yu Ming dengan lembut.
Lalu menarik Yu Ming kedalam dekapannya dan berkata,
__ADS_1
"Anak bodoh, kamu tidak boleh berpikiran seperti itu.."