
Sebaliknya di dalam tenda sana, Yu Ming yang duduk berhadapan dengan ayah nya.
Dia mendengarkan dengan sangat serius, penjelasan dari ayah nya.
Setelah ayah nya selesai menjelaskan semua nya, Yu Ming diam sejenak.
Dia berpikir dan menimbang ucapan dari ayahnya, akhirnya Yu Ming sambil menghela nafas panjang, dia berkata,
"Bagaimana menurut ayah..?"
"Apa kita menuruti permintaan mereka, atau kita melawan hingga titik terakhir.."
"Bila melawan, kalau memang kita bisa ganti kerajaan dan dinasti.."
"Bila kalah, kedua belah pihak tidak ada yang untung, menang jadi arang, kalah jadi abu..?"
"Satu hal perlu ayah ketahui, saat ini sebenarnya Zhao Ge ibukota mereka juga dalam masalah.."
"Pasukan ku sudah mengurung kota Zhao Ge dan Ji Fa ada di dalam kota tersebut.."
"Satu perintah dari ku, kota itu akan rata dengan tanah, Zhao Ge tiada, Ji Fa pun tiada.."
"Mereka di sini hidup pun percuma, seluruh permainan catur tamat.."
Ucap Yu Ming menjelaskan dengan serius.
Xiong Yi menatap putranya dengan penuh kagum dan berkata,
"Putra ku, ayah sudah tua.."
"Ayah sebenarnya harapan nya sederhana, asal kamu dan adik mu hidup dalam keadaan sehat sejahtera dan senantiasa bahagia.."
"Keluarga kecil kita bisa selalu berkumpul bersama, itu sudah lebih dari cukup.."
Ucap Xiong Yi sambil menepuk pundak putranya dengan lembut.
Yu Ming tersenyum pahit dan berkata,
"Baiklah ayah, aku sudah tahu, apa yang harus di lakukan.."
"Aku akan pergi menemui Jiang Je Ya, dan membicarakan lagi semuanya.."
Xiong Yi mengangguk pelan dan berkata,
"Terimakasih putra ku, kamu memang putra ayah yang paling membanggakan.."
Yu Ming mengangguk, dia menepuk punggung tangan ayahnya dengan lembut, sambil tersenyum.
tanpa berkata-kata, Yu Ming segera meninggalkan tenda, pergi menemui Jiang Je Ya.
Sementara itu di luar sana, selagi Yu Ming sedang berdiskusi dengan ayahnya.
Di luar sana juga terlihat ada pembicaraan serius, antara Jiang Je Ya dan kedua pembantunya, Yang Jian dan Li Jing.
Setelah Jiang Je Ya menceritakan situasi yang di hadapi oleh Zhao Ge.
Yang Jian dan Li Jing saling pandang, mereka berdua terlihat tidak terkejut dengan berita tersebut.
Mereka berdua malah saling tersenyum penuh arti, Li Jing bahkan berkata pelan,
"Kelihatan nya kemampuan dan kecerdasan pangeran kecil tidak semua nya hilang.."
Yang Jian tidak berkata apa-apa, dia hanya mengangguk dan tersenyum penuh misteri.
__ADS_1
Jiang Je Ya yang penasaran dan bingung melihat sikap kedua pembantunya.
Dia akhirnya buka suara,
"Jendral Li, Jendral Yang, sebenarnya siapa pemuda itu ? kalian sepertinya sangat mengenal baik dengan nya..?"
Li Jing saling bertatapan dengan Yang Jian, saat mendapatkan anggukan persetujuan dari Yang Jian.
Li Jing sambil menahan senyum, berjalan menghampiri Jiang Je Ya, lalu dia berbisik pada Jiang Je Ya,
"Apa perdana menteri pernah dengar tentang Zhe You, Hua Sien Ku, Yu Di dan Wang Mu Niang Niang..?"
Sepasang mata Jiang Je Ya sedikit membelalak, dia menoleh kearah Li Jing dan berkata,
"Apa dia masih ada hubungan dengan mereka?"
Li Jing hanya menanggapinya dengan senyum misteri, lalu dia kembali berkata dengan suara pelan,
"Apa perdana menteri pernah dengar pangeran mahkota kahyangan, yang turun kedunia membasmi iblis dan Siluman..?"
"Hahhh maksud mu..?"
Ucap Jiang Je Ya sambil menatap kaget ke arah Li Jing dengan tatapan mata tak percaya.
"Kamu tidak sedang bercanda dengan orang tua yang berjantung lemah ini kan..?"
Tanya Jiang Je Ya mengulanginya lagi, karena dia masih sulit percaya.
Li Jing hanya menanggapinya dengan senyum, tidak berusaha menjawabnya.
Melihat hal tersebut, Yang Jian pun berkata,
"Bila kurang yakin, boleh pergi tanya ke Thian Cun.."
Dia kemudian terlihat berkomat kamit sendiri, sambil berhitung dengan ujung jarinya sendiri.
Sesaat kemudian wajah Jiang Je Ya terlihat pias, keningnya penuh dengan keringat.
Dia menatap kearah kedua pembantunya, mereka berdua menganggukkan kepalanya dengan kompak sambil tersenyum.
Bila tidak sedang menjadi pusat perhatian semua bawahan dari kejauhan sana.
Mau rasanya Jiang Je Ya menjatuhkan diri berlutut, saat melihat Yu Ming sedang berjalan menghampirinya.
Dengan susah payah Jiang Je Ya berusaha menahan goncangan hatinya .
Dia lalu menghapus keringat yang membasahi kening nya.
Setelah itu sambil tersenyum senormal mungkin.
Dia berjalan kedepan untuk menyambut kedatangan Yu Ming .
Setelah saling berhadap hadapan, Jiang Je Ya menjura dengan penuh hormat dan berkata,
"Maaf bila sikap Jiang Shang, sebenarnya terlalu memaksa.."
"Bagaimana pangeran Yu Ming, apa anda sudah punya keputusan nya..?"
Melihat perubahan sikap mendadak dari Jiang Je Ya, Yu Ming menatap kearah Yang Jian.
Yang Jian memilih melihat kearah lain, Yu Ming berpindah ke Li Jing, Li Jing berpura-pura melihat keatas dan berkata,
"Aiss kenapa matahari ini begitu terik.."
__ADS_1
Yu Ming segera menyadarinya, pasti kedua orang itu sudah membocorkan identitasnya ke Jiang Je Ya.
Makanya sikap perdana menteri itu, tiba tiba berubah.
Yu Ming tersenyum pahit dalam hati kemudian dia berkata,
"Aku sudah putuskan,.. aku akan ganti kerajaan dan dinasti baru.."
Mendengar keputusan yang Yu Ming ucapkan, Jiang Je Ya langsung tersedak dan batuk batuk.
Dia terlihat serba salah, tidak tahu mau berkata apa.
Melihat hal ini Yu Ming pun tersenyum dan menepuk nepuk punggung dan pundak Jiang Je Ya.
Membantunya melegakan pernafasan.
Ucapan ku belum selesai, mengapa perdana menteri begitu terburu buru,
"Aku tadi hanya bercanda saja ."
"Ayah ku setuju memberikan Chang An dan tunduk dengan Kaisar Ji Fa.."
"Kedepannya Chu adalah bagian dari kerajaan Zhou..."
Ucap Yu Ming sambil tersenyum.
Mendengar ucapan Yu Ming batuk Jiang Je Ya seketika lenyap, dia menghela nafas lega.
Sesaat kemudian Jiang Je Ya berkata,
"Pangeran kecil sungguh pandai bercanda, orang tua ini hampir mati tersedak karena nya.."
"Baiklah,.. kita putuskan begitu saja.."
"Salam pada ayah mu, kami semua pamit permisi dulu.."
Ucap Jiang Je Ya cepat.
Lalu dia membalikkan badannya, melangkah pergi dari sana, sambil memberi kode agar pasukan nya bergerak mundur meninggalkan Dan Yang.
Yu Ming tersenyum nakal dan berkata,
"Hati hati di jalan kakek Jiang, jangan tersedak lagi.."
Jiang Je Ya yang sudah berjalan pergi, dia menoleh kembali, sambil menggelengkan kepalanya.
Sambil tersenyum, dia menggunakan telunjuknya melakukan gerakan, seperti seorang guru mengingatkan muridnya yang nakal,
Yu Ming membalasnya dengan senyum lebar dan berkata,
"Jaga diri mu kek.."
Jiang Je Ya tersenyum dan mengangguk, lalu dia melanjutkan langkahnya meninggalkan tempat tersebut.
Tiba tiba dari bagian tengah barisan pasukan Jiang Je Ya, melesat keluar Thian Cien Sen Ni.
Dengan pedang terhunus nenek itu berteriak ,
"Bocah busuk Yu Ming, serahkan nyawa mu..!"
"Singgg...!"
Seberkas cahaya biru membentuk garis melengkung langsung menerjang kearah Yu Ming.
__ADS_1