
Semua berjalan aman, Yu Ming melanjutkan pekerjaannya menyapu halaman depan, seperti kemaren siang.
Tapi saat Yu Ming memasuki menyapu halaman samping, si gendut terlihat mendatangi Yu Ming dengan wajah merah padam.
Dia membawa sebuah rotan besar di tangan kanan, sedangkan tangan kiri membawa celana nya yang robek sebesar kepala..
Begitu melihat kedatangan nya, dengan ekspresi gusar sambil membawa kedua benda itu di tangan.
Yu Ming segera menyadari petaka sedang menghampirinya.
Yu Ming berpura-pura tenang, seolah tidak tahu apa apa.
Dia hanya berhenti menyapu dan berpura-pura menatap kearah si gendut dengan wajah heran.
Begitu tiba di hadapan Yu Ming, si gendut langsung berteriak dengan histeris seperti seekor singa marah.
"Hei bangsat,..! kau apa kan celana ku..!?'
"Cepat jawab..!'
"Wuttttttt..!"
Rotan langsung di sabet kan kearah Yu Ming, tanpa belas kasihan sedikitpun .
"Takkkkk..!"
Yu Ming menangkisnya dengan tongkat sapu di tangannya, sambil berkata.
"Kakak apa yang terjadi..?"
"Ada masalah apa, bisa di bicarakan baik baik, tak perlu main kasar seperti ini, seperti hewan liar saja.."
Ucap Yu Ming dengan wajah tanpa dosa.
Si gendut menunjuk rotan nya kearah Yu Ming, hingga gemetaran saking marahnya.
Mendengar Yu Ming masih berani mengatai nya hewan liar.
Akhirnya dia sudah kehilangan kontrol dirinya, sambil berteriak histeris.
"Kau...kau...bangsat bajingan,..!"
"Berani kamu mengatai ku hewan liar..!"
"Lihat bagaimana aku menghajar mu..!"
"Wuutttt..! Wuutttt..! Wuutttt..!"
"Wuutttt..! Wuutttt..! Wuutttt..!"
"Wuutttt..! Wuutttt..! Wuutttt..!"
Si gendut benar benar menyerang Yu Ming tanpa ampun.
Sambil menyerang, dia tidak berhenti memaki maki Yu Ming dengan penuh emosional.
"Dasar bangsat,..! kurang ajar,! berani membuat aku malu di depan umum, rasakan ini...!"
"Wuutttt..! Wuutttt..! Wuutttt..!"
__ADS_1
"Wuutttt..! Wuutttt..! Wuutttt..!"
Sambil mengoceh si gendut menggunakan rotan di tangannya, terus menyerang Yu Ming secara membabi buta.
Hal ini sangat lah menguras tenaga, bila serangannya tidak mengenai sasaran.
Tidak butuh waktu lama, si gendut sudah mandi keringat, dengan nafas Senin Kemis hampir putus.
Wajahnya terlihat pucat pasi, tidak tahu karena marah, atau karena letih, hanya si gendut sendiri yang tahu.
Sebaliknya Yu Ming yang berlari menghindar kesana kemari, berlindung di antara pepohonan, dia terlihat baik baik saja.
Justru Yu Ming di dalam hati tersenyum puas, tapi di luar dia berpura pura ketakutan.
Sekaligus berpura-pura tidak mengerti, mengapa dirinya di serang oleh si gendut.
Padahal dari ucapan si gendut yang marah marah, dia sudah menangkap. Bahwa si gendut tadi saat latihan bersama dengan murid murid Thian Cien Pai yang lain.
Dia mendapat malu dan jadi bahan tertawaan semua orang, karena celananya robek sebesar kepala manusia.
Bukan hanya itu saja, dia malah kena teguran gurunya, agar perbanyak berlatih, kurangi makan, agar tubuhnya kempes.
Sehingga pakaian dan celananya bisa lebih awet, saat berlatih pun tubuh nya, bisa lebih ringan.
Teguran gurunya ini, tentu membuat nya semakin malu marah dan kesal.
Kini semuanya dia tumpahkan ke Yu Ming, yang dia anggap sebagai biang kerok, semua kekacauan memalukan yang dia alami.
Si gendut akhir membungkukkan badannya, tidak kuat berdiri tegap lagi.
Dia memegangi bagian bawah perutnya, yang terasa sakit dan kram, karena terlalu lelah.
Sepasang lututnya juga terlihat gemetaran, hampir tidak kuat menopang berat tubuhnya.
Dia hanya besar kepala, karena posisinya sebagai senior di perguruan saja.
Selain itu, dia juga menang posisi, karena Yu Ming adalah budak dari perguruan mereka.
Dia boleh melakukan apa saja ke Yu Ming sesuka hati, karena Yu Ming dan gurunya terikat janji atas kekalahan nya tempo hari.
Setelah mengetahui rahasia ini, Yu Ming kini tidak lagi takut dengan si gendut.
Dia malah berniat ingin mengerjainya balik, agar si gendut jangan pernah berani menindas dirinya lagi.
Yu Ming sambil pura pura bodoh, menghampiri si gendut dan berkata,
"Kakak kamu baik baik saja..?"
"Sudahlah kamu jangan emosi lagi, nanti kamu benar benar jadi babi yang tidak bisa bernafas.."
Mendengar ucapan Yu Ming, yang menghinanya, emosinya kembali tersulut.
Dia segera mengangkat wajahnya, yang terlihat beringas, lalu tanpa memperdulikan keadaan nya yang sudah payah.
Dia kembali mengejar dan menyerang Yu Ming.
"Wuutttt..! Wuutttt..! Wuutttt..!"
"Wuutttt..! Wuutttt..! Wuutttt..!"
__ADS_1
Tapi serangan nya tetap tidak ada yang mengenai sasaran, malah kaki nya tersangkut oleh kaki Yu Ming, yang sengaja di ulurkan untuk menjegal nya.
"Aihhhhh..!"
Jerit si gendut kaget, saat tubuhnya yang tambun, rebah kedepan dengan wajah jatuh terlebih dahulu, mendarat ke bawah.
Di saat bersamaan Yu Ming menendang tumpukan pupuk kotoran hewan, untuk penyubur tanaman.
Tepat bergeser, ke tempat di mana wajah si gendut mendarat.
"Blebbbb ..!"
Wajah si gendut tepat mendarat diatas tumpukan pupuk kotoran hewan.
Si gendut langsung gelagapan, karena mulutnya yang terbuka, secara tidak sengaja kemasukan kotoran hewan .
Dia menjadi tersedak kotoran hewan, dan mengalami muntah muntah, hingga perut'nya semakin kram.
Akhirnya karena terlalu letih dan stress, si gendut merasa pandangan matanya berkunang kunang, lalu semua menjadi gelap total.
Si gendut tergeletak pingsan di atas tanah, dalam keadaan diam tidak bergerak.
Keadaan nya terlihat mengenaskan, wajah rambut dan pakaian atas nya, berlepotan kotoran.
Yu Ming yang melihat hal itu, sambil tersenyum puas, dia segera berlari dari sana.
Sambil berlari menuju lapangan tempat murid murid wanita junior junior si gendut sedang berlatih.
Yu Ming sengaja berteriak teriak untuk menarik perhatian orang.
"Tolong...! Tolong...! siapapun cepat tolong kakak gendut..!"
"Dia tersedak kotoran...!"
"Tolong..tolong...! kakak gendut tersedak kotoran..!"
"Kakak gendut mati tersedak kotoran...!"
Suara Yu Ming segera terdengar hingga ke ruangan tengah, yang menjadi pusat murid murid wanita Thian Cien Pai bagian dalam berlatih meditasi.
Di sana juga hadir Thian Cien Sen Ni dan Ji Lian Hua.
Sedangkan di bagian luar gedung, adalah murid murid bagian luar sedang berlatih jurus jurus pedang Thian Cien Pai.
Suara teriakan Yu Ming, yang heboh sambil berlari kesana kemari.
Segera menimbulkan kepanikan murid murid wanita di bagian luar yang sedang berlatih.
Thian Cien Sen Ni terpaksa menghentikan Siu Lian nya, dia melesat keluar dari dalam ruangan, di susul oleh Ji Lian Hua dan murid murid senior bagian dalamnya.
Setelah tiba di luar, dengan gerakan sangat cepat, Thian Cien Sen Ni sudah muncul di samping Yu Ming.
Mencengkram tengkuk Yu Ming, sehingga Yu Ming langsung di lumpuhkan.
Yu Ming tidak bisa berlari kesana kemari lagi.
"Cepat katakan apa yang terjadi..!?"
Bentak Thian Cien Sen Ni dengan suara sedingin es.
__ADS_1
Yu Ming berpura pura bodoh dan panik, buru buru berkata,
"Kakak gendut, dia.. dia..mati tersedak kotoran,..cepat tolong nyawanya..!"