
Sekali ini Si kerbau benar benar kehilangan kesadaran diri, dia tidak sanggup lagi mempertahankan kesadarannya.
Guncangan tendangan itu terlalu kuat dan dahsyat, dia tidak sanggup menahannya.
Setelah si kerbau roboh, Yu Ming langsung di sambut oleh Patukan tangan si ular dan serangan tendangan kaki dari si kuda yang cepat kuat dan tangkas.
Yu Ming beberapa kali terdorong mundur oleh kerasnya tendangan kaki kuda si nomor 7
Setiap Yu Ming terpental mundur, si nomor enam dengan tangan membentuk Patukan ular berbisa selalu datang menyerang Yu Ming dari arah belakang.
Dalam satu kesempatan, saat Yu Ming menghindari serangan Patukan ular si nomor enam.
Dia melompat berjungkir balik melewati atas kepala si nomor enam.
Saat terbang melewati atas kepala si nomor 6, Yu Ming memberikan satu serangan Tebasan Pedang Xuan Yuan Petir Pemusnah.
Si ular yang punggung nya tersambar serangan Yu Ming , Dia langsung terpental kedepan jatuh meringkuk kejang kejang diatas tanah, sebelum kehilangan kesadarannya.
Baru saja Yu Ming sepasang kakinya mendarat di atas tanah.
Sepasang kaki si nomor tujuh yang di lapisi tapak besi, segera datang memberikan tendangan beruntun kuat.
Yu Ming menggunakan kedua lengannya untuk menahan serangan tendangan kuat itu.
Tubuhnya terpental mundur dengan sepasang kaki menyeret diatas tanah.
Si nomor tujuh belum puas, dia segera berlari cepat dan kembali memberikan tendangan cepat.
Dengan tubuh melayang di udara.
Kedua kakinya secara bergantian melakukan tendangan kuat mengejar Yu Ming .
Yu Ming sekali ini tidak lagi mencoba menghindar ataupun mencoba untuk menangkis serangan kaki si kuda.
Yu Ming setelah memperhatikan dengan baik arah gerak sepasang telapak kaki si kuda yang menyerangnya.
Yu Ming menggunakan ujung telunjuk kiri nya, untuk menusuk jalan darah, yang terletak di tengah tengah telapak kaki si kuda.
"Cussss..!"
"Cussss...!"
"Arggghhh...!"
Si kuda berteriak kesakitan saat sepasang telapak kakinya, di bagian titik jalan darah Zhong Yang di tembus oleh jari tangan Yu Ming .
__ADS_1
Dia melompat lompat mundur, sambil berteriak kesakitan, sebelum akhirnya dia jatuh meringkuk diatas tanah tidak mampu bangkit lagi.
Setelah membereskan lawannya, kini Yu Ming memantau jalannya pertandingan Ji Lian Hua.
Di arena pertarungan Ji Lian Hua, dia sudah berhasil menusuk mati si muka anjing , si kambing.
Kini dia sedang sibuk menghadapi si ayam yang pergerakannya aneh dan cepat.
Sepasang kaki si ayam yang menyambar nyambar cepat mengandalkan kuku dan Taji nya, sangatlah berbahaya dan sulit di baca arah pergerakan nya.
Sedangkan si kera yang datang dengan serangan jurus monyetnya yang berlompatan lincah dan banyak memberikan serangan dari bawah sambil bergulingan.
Itu juga menyulitkan Ji Lian Hua yang harus membagi konsentrasinya menghadapi serangan atas dan bawah secara sekaligus.
Ji Lian Hua yang terus terdesak mundur oleh serangan kedua lawannya.
Dia akhirnya memilih menghentakkan Chi melindungi dirinya.
Cahaya hijau memancar dari kubah energi yang Ji Lian Hua gunakan untuk menahan serangan si monyet dan si ayam.
Setelah serangan kedua mahluk aneh itu tertahan, Ji Lian Hua segera melepaskan ribuan energi pedangnya melesat menerjang kearah kedua lawannya.
Energi pedang yang melesat cepat, dalam jarak dekat, tidak mampu di hindari ataupun bisa di tangkis oleh kedua mahluk itu.
Mereka berdua masih berusaha berjuang untuk bangkit berdiri, tapi karena sudah melampaui batas kemampuan mereka.
Kedua orang itu akhirnya kembali jatuh tergeletak tak bergerak, dengan nyawa terbang meninggalkan raga untuk selamanya.
Setelah menghabisi dua pengeroyok terakhirnya, Ji Lian Hua segera mengambil posisi duduk bersila.
Yu Ming tidak bisa membantu banyak, karena Chi Dewa nya masih terbelenggu.
Energi Hei Pai Shi Phi dan Chi dari pedang Xuan Yuan hanya bisa di gunakan untuk menyerang dan bertahan, tidak bisa di salurkan membantu Ji Lian Hua.
Yu Ming dengan sabar menunggu hingga Ji Lian Hua selesai bermeditasi.
Mereka berdua baru berjalan beriringan meninggalkan kota pelabuhan.
Dengan bertanya tanya kepada penduduk setempat, Yu Ming dan Ji Lian Hua akhirnya tiba di depan halaman rumah kediaman gubernur Lu yang megah.
Saat tiba di depan pintu rumah gubernur Lu yang di jaga oleh 4 orang prajurit bersenjata.
Ji Lian Hua segera menghampiri mereka, tanpa banyak bicara,
Ji Lian Hua langsung menunjuk kan plakat tanda pengenalnya.
__ADS_1
Begitu melihat plakat itu, prajurit jaga langsung menjatuhkan diri bersujud di depan Ji Lian Hua.
"Tak perlu peradatan,.. berdirilah.."
"Siapa yang akan mengantar ku menemui gubernur kalian..?"
Salah satu prajurit pengawal segera berkata,
"Mari Yang Mulia, biar hamba yang antar Yang Mulia kedalam sana.."
Ji Lian Hua mengangguk pelan dia segera melangkah mengikuti prajurit itu masuk kedalam gedung.
Yu Ming mengikuti Ji Lian Hua dari belakang tanpa bersuara, dia hanya mengawasi saja situasi sekeliling nya.
Setelah melewati beberapa lapis pasukan penjaga keamanan di dalam gedung.
Akhirnya mereka tiba di sebuah taman mewah, di mana terlihat seorang pria yang mengenakan topi pejabat.
Tapi dia tidak berbaju, hanya mengenakan celana saja, memamerkan gajih di tubuhnya yang putih bersih.
Pria itu kedua matanya terlihat tertutup rapat oleh kain hitam, yang ujungnya di ikat di belakang kepala nya .
Pria itu sambil tertawa-tawa gembira dia berlari kesana kemari berusaha menangkap beberapa gadis cantik yang berpakaian tipis tembus pandang.
Gadis gadis itu sambil tertawa cekikikan mereka melayani permainan yang diinginkan oleh pria itu.
Mereka sedang asyik melakukan permainan kucing menangkap tikus .
Prajurit pengawal yang mengantar Ji Lian Hua ingin bersuara, tapi Ji Lian Hua memberinya kode agar diam dan mundur dari sana.
Pria yang tidak menyadari Ji Lian Hua hadir disana, dia langsung berlari pergi menangkap kearah Ji Lian Hua saat mendengar suara langkah kaki halus di depan nya.
Sedangkan para gadis yang menemani pria itu bermain, mereka semua berdiri diam tidak berani bergerak.
Mereka sadar Ji Lian Hua danYu Ming pasti bukan orang sembarangan .
Mereka bisa masuk kemari diantar oleh prajurit penjaga dengan penuh hormat, tentu mereka punya latar belakang yang tidak mudah.
Di tambah lagi ketenangan mereka saat berhadapan dengan gubernur Lu, bila mereka bukan orang penting.
Mereka tentu tidak akan berani begitu lancang datang mengganggu acara baik, gubernur Lu yang sedang bersenang senang dengan para selir dan gundik kesayangannya.
Gubernur Lu terpaksa harus menghentikan langkahnya, saat dia mau menangkap Ji Lian Hua.
Tapi tenggorokan nya tertahan oleh sarung pedang Ji Lian Hua yang runcing.
__ADS_1