PETUALANGAN PUTRA ALAM SEMESTA

PETUALANGAN PUTRA ALAM SEMESTA
Wilayah ujung selatan


__ADS_3

Setelah kakek dan cucunya pergi meninggalkan kapal, Yu Ming menghela nafas panjang.


Tanpa berkata apa-apa, agar tidak mempersulit keadaan, Seteliti mereka cukup jauh, Yu Ming


kembali menghela nafas panjang.


Sesaat kemudian Yu Ming baru berkata,


"Paman Luo bila sudah siap, kita bisa langsung berangkat .."


Paman Luo segera menjawab cepat dengan penuh semangat.


",Baik,..siap tuan muda.."


Selesai menjawab ke Yu Ming , paman Luo segera sibuk mengatur anak buah kapalnya.


Tidak lama kemudian kapal pun mulai bergerak meninggalkan dermaga.


Yu Ming seorang diri berdiri terpaku di anjungan kapal, Yu Ming terus menatap kearah laut lepas sambil menghela nafas panjang.


"Hua er kapan kita bisa bertemu kembali..?"


"Jamu ada di mana sayang..?"


"Tahukah kamu,..aku sangat merindukanmu..?"


Selesai bergumam sendiri, dengan kepala tertunduk, Yu Ming berjalan pelan meninggalkan anjungan kapal.


Dia dengan langkah tidak bersemangat kembali masuk kedalam bilik kapal.


Sampai di dalam kamar, tidak ada yang dia lakukan selain duduk bermeditasi.


Memulihkan kondisi, sekaligus terus berusaha menghimpun Chi untuk meningkatkan kekuatan nya.


Hari hari berlalu dengan cepat, tidak terasa satu tahun telah berlalu semenjak perpisahannya dengan Ji Lian Hua dan Naga Panca Warna tempo hari.


Pagi itu Yu Ming kembali mendapatkan kabar dari paman Luo bahwa mereka sudah mulai memasuki kawasan laut paling selatan dari dunia.


Sehingga Yu Ming keluar dari dalam kamar, pergi ke bagian atas dek kapal untuk melihat lihat keadaan.


Dari atas dek kapal paling tinggi, sejauh mata memandang Yu Ming kembali melihat di depan sana, adalah hamparan es beku dan deretan gunung dan bukit es beku


Selain itu tidak ada hal lainnya, ini adalah salah satu tempat terakhir yang wajib di kunjungi nya.


Untuk menyelesaikan seluruh tahapan misinya hingga komplit semua nya.


Melihat pemandangan di depan sana, Yu Ming segera berkata,


"Paman Luo, sebaiknya biarkan aku melanjutkan perjalanan seorang diri dengan perahu kecil saja.."


"Itu akan mempermudah perjalanan, paman dan yang lainnya lebih baik menunggu di sini saja.."


"Siap tuan muda,.. itu bukan masalah.."

__ADS_1


"Aku akan meminta orang menyiapkan perahunya sekarang juga.."


"Harap di tunggu sebentar.."


Ucap paman Luo cepat.


Yu Ming mengangguk pelan.


Lalu dia kembali menatap kearah depan sana.


Tidak butuh waktu lama, paman Luo sudah kembali dan berkata,


"Tuan muda Wu Ming perahu sudah siap.."


"Silahkan di periksa.."


Yu Ming tersenyum menepuk pundak paman Luo dan berkata,


"Terimakasih banyak paman.."


"Aku pergi dulu.."


Selesai berkata Yu Ming pun melangkah pergi menuruni anak tangga, menuju bagian bawah dek kapal.


Paman Luo segera berkata,


"Hati hati di jalan tuan muda..!"


"Cepat pergi cepat kembali..!'


Setelah itu Yu Ming pun melompat keluar dari kapal, dan mendarat ringan di atas perahu kecil yang sudah siap sedia.


Sesaat kemudian perahu kecil itu perlahan lahan mulai bergerak meninggalkan kapal utama.


Perahu kecil itu terus bergerak cepat menuju kearah selatan.


Perahu terus bergerak mendekati wilayah hamparan es.


Yu Ming akhirnya berhasil mendarat diatas salah satu hamparan es tebal.


Setelah mengamankan posisi perahu, dengan menaikkan nya keatas daratan es beku, .memasang tiang pancang dan mengikat tali perahu dengan benar.


Yu Ming baru melanjutkan perjalanan nya, dengan berlompatan ringan di atas hamparan es beku yang tiada pangkal dan ujungnya.


Yu Ming terus bergerak kedepan mengikuti petunjuk dari penglihatan roh gaib kedua.


Melakukan perjalanan tanpa Naga Panca Warna lebih lambat dan lebih melelahkan.


Setelah hampir setengah bulan bergerak melintasi hamparan daratan es beku yang memilki cuaca dingin ekstrim.


Yu Ming pagi itu akhirnya tiba di depan sebuah gunung es yang menjulang tinggi hingga menembus awan.


Gunung es itu adalah gunung es liar yang belum terjamah manusia, sehingga belum ada jalan setapak ataupun bekas jalan yang bisa di lewati manusia biasa.

__ADS_1


Seluruh permukaan dari bawah keatas adalah dinding es beku licin dan curam.


Untuk bisa naik ke puncak dan melewati gunung tinggi ini, Yu Ming harus mengandalkan ilmu ringan tubuhnya.


Sesaat memandang keatas, Yu Ming pun mulai melanjutkan perjalanan dengan mencoba melakukan pendakian pada dinding tebing yang licin dan curam.


Dengan ilmu ringan tubuhnya, Yu Ming masih berhasil berlompatan ringan naik keatas sedikit demi sedikit.


Untuk bagian yang tidak ada pijakan nya sama sekali, Yu Ming terpaksa membuat lubang sebagai tempat pijakan dan tempat bergelantungan .


Yu Ming melakukan pendakian dengan sabar sambil mengatur nafas.


Yu Ming tidak mau mengandalkan Chi terbang keatas, cara itu terlalu beresiko dan sangat menguras tenaga.


Hanya dengan cara ini yang paling tepat meski lambat tapi aman.


Kalaupun ada longsor dengan adanya tempat berpijak dan berpegangan Yu Ming tidak perlu khawatir .


Begitupula apabila ada angin kencang tiba tiba datang, Yu Ming juga tetap bisa bertahan, dengan menempelkan dirinya di dinding tebing seperti seekor cecak.


Berbeda lagi bila Yu Ming terbang keatas mengandalkan Chi, cara ini pasti jauh lebih cepat menghemat waktu.


Tapi sekali angin kencang datang, Yu Ming pasti akan tersapu angin, di bawa tidak tahu kemana.


Sebelum nantinya di jatuhkan kedalam jurang tidak berdasar..


Makanya meski sulit dan lambat, Yu Ming tetap memilih jalan paling aman dan konvensional ini.


Setelah cukup lama bersusah payah, Yu Ming akhirnya berhasil melewati berbagai rintangan dan tiba dengan selamat di puncak gunung es itu.


Setelah tiba di puncak gunung, selanjutnya yang harus Yu Ming lakukan adalah melintasi bagian puncak gunung yang cukup luas.


Lalu bergerak menuruni gunung es dari sisi berlawanan secara hati hati.


Menuruni puncak gunung es, tidak kalah sulit dari memanjat naik keatas.


Di sini Yu Ming juga harus berhati-hati, sedikit saja salah, dia pasti akan langsung tergelincir jatuh kedalam jurang tidak berdasar.


Yu Ming menyusuri nya setapak demi setapak, sambil terkadang berlompatan ringan di atas permukaan tonjolan dinding batu es yang menonjol keluar.


Sebelum kemudian berpindah melompat ke tonjolan yang lainnya.


Karena Yu Ming berlompatan menggunakan ilmu ringan tubuh, hal ini membuat dia mampu meminimalisir longsor nya gunung es dari atas sana.


Sesekali tetap ada longsor, tapi itu bukan karena Yu Ming , itu karena kondisi cuaca alam yang ada saat itu.


Ditengah tengah perjalanan, karena cuaca gelap Yu Ming terpaksa menghentikan perjalanan nya.


Yu Ming mencari suatu tonjolan batu yang bisa di gunakan untuk duduk beristirahat.


Di sana Yu Ming duduk bermeditasi menunggu hari pagi tiba, sambil mengumpulkan kekuatan nya.


Tiada hari yang tidak Yu Ming lewatkan dengan bermeditasi, setiap dia memiliki waktu luang.

__ADS_1


Dia pasti akan menghabiskan waktu nya dengan bermeditasi.


__ADS_2