PETUALANGAN PUTRA ALAM SEMESTA

PETUALANGAN PUTRA ALAM SEMESTA
Kesederhanaan


__ADS_3

Yu Ming melirik sekilas kearah Ji Lian Hua, dia tahu apa yang sedang di pikirkan dan sedang di rasakan oleh gadis itu.


Dia sendiri juga bukan nya tidak merasakan hal yang sama, dia juga merasa berat untuk berpisah.


Tapi dia tahu, dia tidak bisa terlepas dari takdir bertemu dan berpisah itu.


Semua sudah di takdirkan, sudah di atur, dua tidak bisa menghindari itu.


Kini ada masalah seperti ini, itu akan mempercepat proses kepulangannya.


Setelah pulang dia tentu akan kembali ke sisi istrinya, dia tidak mungkin bisa bertemu dengan Ji Lian Hua lagi.


Hubungan mereka mau atau tidak mau harus berakhir, sejak dia kembali ke kahyangan, untuk meneruskan menjalankan kehidupan sebelumnya.


Yu Ming merangkul pundak Ji Lian Hua dengan lembut, dan menariknya kedalam pelukannya dan berkata,


"Hua er dalam waktu kita yang tidak banyak ini, aku ingin memanfaatkan dengan sebaik baiknya waktu yang ada.."


"Bila kamu tidak berkeberatan menikah lah dengan ku.."


"Kamu jadilah istri ku, meski aku tidak bisa menjanjikan kamu untuk bersama selamanya.."


"Tapi bila kamu bersedia, aku akan memanfaatkan sisa waktu ku yang ada untuk membahagiakan kamu.."


Ji Lian Hua membalas ucapan Yu Ming dengan sebuah ciuman panjang dan mesra,


Mencurahkan segenap perasaan nya yang dia pendam dan tidak berani dia ungkapkan.


Selama Yu Ming tidak buka mulut,.meski dia sangat menginginkan hal itu.


Sesaat mereka berdua larut dalam kemesraan, kemesraan itu baru berhenti.


Saat mereka mendengar paman Luo berbicara dengan bawahannya, bahwa kini mereka sudah mulai bisa berlayar dengan normal di laut bebas.


Kapal mereka sudah keluar dari daerah gugusan batu karang.


Dengan sikap malu malu, Ji Lian Hua dengan wajah bersemu merah, melepaskan rangkulannya tangan nya di belakang leher Yu Ming .


Dia sedikit mundur, menjaga jarak dari Yu Ming dengan kepala tertunduk dalam dalam.


Yu Ming menunduk sedikit ke bawah berusaha menatap wajah Ji Lian Hua, ingin mendapatkan jawabannya.


Tapi karena Ji Lian Hua terus tertunduk, tidak memberinya jawaban.


Yu Ming akhirnya berkata,

__ADS_1


"Hua er bagaimana jawaban mu, ? bersediakah kamu menjadi istri ku di kehidupan kita saat ini..?"


Ji Lian Hua tersenyum malu, dan mengangguk pelan, dengan kepala tertunduk.


Yu Ming mencoba memastikan dengan menyentuh lembut dagu Ji Lian Hua dan mengangkat nya, menghadap keatas.


Sekali lagi Yu Ming menatap Ji Lian Hua dalam dalam dan berkata,


"Bagaimana Hua er..? apa kamu bersedia menjadi..?"


Belum selesai ucapan Yu Ming , Ji Lian Hua sudah melengos lalu membalikkan badannya.


Berlari meninggalkan Yu Ming menuju bagian belakang kapal sana.


Sambil berlari pergi, Ji Lian Hua berkata,


"Dasar bodoh, apa jawaban tadi belum juga cukup..?"


Selesai berkata orang nya sudah menghilang dari hadapan Yu Ming .


Yu Ming segera berlari menyusulnya dan berkata,


"Heiii,.. Hua er tunggu aku.."


Ji Lian Hua tidak menggubris panggilan Yu Ming meski dia sebenarnya mendengarkan nya dengan jelas.


Karena tempat itu, di gunakan sebagai tempat penyimpanan Peti peti kosong yang sebelumnya memuat ransum perbekalan mereka.


Tapi karena ransum sudah habis, peti peti ini tidak lagi berguna, makanya di susun di tempat ini.


Ji Lian Hua terpaksa menghentikan langkahnya, karena dia sudah menemui jalan buntu.


Di tempat yang sepi dan hening ini, Ji Lian Hua berdiri memunggungi peti, menghadapi kearah Yu Ming yang datang menyusulnya dengan senyuman nya yang paling manis dan memikat.


Dia berdiri di sana dengan tubuh sedikit bergoyang goyang, dia menatap Yu Ming dengan tatapan mesra penuh arti.


Bibir bawahnya dia gigit erat dengan gigi atasnya yang berderet rapi.


Untuk mengurangi rasa canggung dan malunya, atas kondisi yang baru pertama kali baginya.


Yu Ming melihat Ji Lian Hua diam di sana menantinya.


Dia segera mempercepat langkahnya menghampiri Ji Lian Hua.


Yu Ming kemudian merangkul lembut pinggang Ji Lian Hua yang langsing, dengan sepasang pinggul yang bulat menantang.

__ADS_1


Yu Ming menarik Ji Lian Hua agar lebih merapat ke dirinya.


Lalu Yu Ming berkata pelan,


"Hua er, apa kamu tidak akan menyesal, kita hidup bersama sebagai suami istri yang mungkin waktunya hanya singkat..?"


Ji Lian Hua membalas menatap Yu Ming dengan serius dan berkata,


"Aku akan lebih menyesal lagi, bila aku tidak pernah bisa hidup bersama mu, menjadi istri mu, kekasih mu, teman hidup mu, dan sahabat mu, meski itu hanya sedetik aku tetap tidak bisa menyesalinya.."


"Aku ingin menikmati nya dan menjadikan nya sebagai momen terindah dalam hidupku.."


Selesai berkata, Ji Lian Hua kembali melingkari sepasang tangannya di belakang leher Yu Ming .


Dengan posisi kaki sedikit berjinjit, Ji Lian Hua kembali melanjutkan luapan perasaan nya, lewat bibir beradu bibir yang mewakilinya mengungkapkan seluruh makna perasaan di dalam hati nya


Yu Ming juga menanggapinya dengan sangat baik, mereka berdua segera larut dalam kehangatan dan kemesraan di bagian paling belakang kapal.


Beberapa waktu kemudian Yu Ming terlihat menggandeng tangan Ji Lian Hua meninggalkan bagian belakang perahu.


Yu Ming mengajak Ji Lian Hua kembali ke bagian dek atas kapal, di sana dengan di saksikan oleh Paman Luo dan anak buah kapalnya.


Yu Ming mengajak Ji Lian Hua, untuk melakukan proses sembahyang langit dan bumi dengan cara yang sangat sederhana.


Sangat berbeda jauh dari kebiasaan, terutama untuk pernikahan seorang putri kerajaan terhormat seperti Ji Lian Hua.


Saat hendak memulai upacara sembahyang, Yu Ming berkata,


"Hua er, maafkan aku.."


"Aku tahu ini sangat merugikan mu, di mana kita hanya bisa menikah dengan cara yang sangat sederhana ini."


"Di mana aku, hanya bisa menikahi mu, seorang putri yang mulia, berkedudukan tinggi, dengan cara pernikahan yang sangat sederhana ini.."


"Aku benar benar merasa tidak enak hati dan bersalah padamu.."


Ji Lian Hua tersenyum lembut, dua menggenggam kedua tangan Yu Ming dengan mesra dan berkata,


"Aku tidak perduli dengan segala peradatan itu, aku hanya perduli kita bisa hidup bersama.."


"Aku bisa menjadi istrimu, kamu bisa menjadi suamiku.."


"Bagi ku itu sudah cukup, aku sudah sangat berbahagia.."


Yu Ming mengangguk penuh semangat dan dua terus menatap Ji Lian Hua dengan tatapan mata penuh haru .

__ADS_1


Yu Ming dan Ji Lian Hua segera melaksanakan pernikahan dengan cara sederhana dengan paman Luo,semua anak buah kapal, lautan luas, bumi, langit dan matahari, mereka semuanya yang menjadi saksi momen hari berbahagia Yu Ming dan Ji Lian Hua.


Pernikahan sederhana, tidak bisa menutupi kebahagiaan di hati sepasang insan yang saling mencintai dan mengasihi dengan setulus hati itu


__ADS_2