PETUALANGAN PUTRA ALAM SEMESTA

PETUALANGAN PUTRA ALAM SEMESTA
JENDRAL LI TEK


__ADS_3

Ji Lian Hua dalam seragam militer yang berlepotan darah musuh bercampur dengan darahnya sendiri.


Terlihat terduduk lesu di dalam kemahnya Na Cha, Yang Jian dan Li Cing, yang duduk berhadapan dengan nya, juga terlihat dalam keadaan yang tidak berbeda jauh dengan Ji Lian Hua.


Mereka juga sudah mencoba membantu dengan kekuatan dewanya, untuk membuka kepungan.


Tapi pihak lawan memiliki jimat formasi yang bisa melemahkan kekuatan hawa dewa mereka.


Sehingga mereka saat berada di mulut celah, mereka tidak mampu mengeluarkan kemampuan terbaik mereka.


Tidak bisa mengerahkan Chi dewa, mereka sama saja seperti manusia tak berguna biasa


Mereka bertiga tidak bisa terbang, tidak bisa memanggil dan menggunakan pusaka dewa mereka.


Bahkan mereka tidak bisa menyerang lawan dengan serangan energi jarak jauh.


Mereka hanya bisa bertarung secara normal, dengan senjata biasa tanpa kesaktian.


Kondisi ini membuat kehadiran mereka tidak bisa membantu banyak.


Tapi mereka juga sudah berjuang maksimal ikut berdarah darah bersama Ji Lian Hua.


Ji Lian Hua menghela nafas panjang lalu dia menoleh kearah Yang Jian dan berkata,


"Paman Yang apa kamu punya strategi lain, untuk mengeluarkan pasukan kita dari sini..?"


Yang Jian menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Maaf tuan putri, selama jimat yang berada di kanan kiri tebing terjal itu tidak di hilangkan.."


"Aku dan mereka berdua sekali ini tidak bisa membantu banyak.."


"Kini harapan kita satu satunya adalah Yu Ming bisa segera tiba, membantu kita keluar dari situasi ini.."


Ji Lian Hua tersenyum tawar dan berkata,


"Kita mungkin tidak bisa menunggu selama itu.."


"Meski kita sanggup, perbekalan kita juga tidak akan sanggup.."


Na Cha segera menyahut dari samping.


"Benar itu paman Yang..."


"Kita tidak bisa menunggu Yu Ming, Yu Ming terlalu banyak wanita yang harus di urus.."


"Dia mana ada..."


"Plakkkk...!"


"Aduhhhh...!"

__ADS_1


"Ayah kamu..!"


Teriak Na Cha kaget dan kesal, karena ucapan nya belum selesai, kepalanya sudah terkena tempeleng dari Li Cing.


"Tutup mulut busuk mu..!"


"Kamu tidak bicara tidak ada yang anggap kamu bisu..!"


Bentak Li Cing sambil mendelik menegur putranya.


Setelah itu dia buru-buru memberi hormat kearah Ji Lian Hua dan berkata,


"Maaf tuan putri, mulut putra ketiga ku ini suka ngawur kalau bicara, tolong jangan di dengar dan di masukkan kedalam hati."


Ji Lian Hua tersenyum tawar dan berkata,


"Tidak apa apa jendral Li, aku mengerti.."


Na Cha di samping sana, terlihat sedang memegangi kepala belakangnya sambil mendumel pelan.


Tapi dia tidak berani membantah ayahnya yang galak dan keras itu.


Ji Lian Hua meski di luar berkata seperti itu, dan terlihat bersikap tenang dan baik baik saja.


Tapi di dalam hati nya, dia juga tidak bisa membantah kebenaran ucapan Na Cha.


Di dalam hati Ji Lian Hua berkata,


Ji Lian Hua sesaat kemudian lanjut berkata,


"Baiklah sampai di sini saja dulu, nanti baru aku akan pikirkan lagi caranya.."


"Aku ada sedikit lelah mau beristirahat.."


"Kalian sebaiknya kembali ke kemah masing-masing, untuk merawat luka dan beristirahat.."


Yang Jian memberi hormat duluan baru di susul oleh Li Cing dan putranya Na Cha.


Setelah itu mereka bertiga segera mengundurkan diri dari sana.


Saat keluar dari tenda, Na Cha langsung habis di omeli oleh ayahnya.


Dia hanya tertunduk diam, tidak berkata kata meski hatinya ada sedikit kesal dan kurang puas, tapi dia masih tidak berani melawan ayahnya sendiri.


Setelah semua nya pergi, Ji Lian Hua segera melepaskan baju seragam perangnya.


Membersihkan diri, merawat beberapa luka di tubuhnya.


Setelah berpakaian rapi kembali, dia pun mencoba untuk membuka buku strategi membaca baca untuk mencari inspirasi.


Tapi dia gagal fokus, karena bayangan wajah Yu Ming, Yang Ni, Min Min, terus silih berganti muncul di hadapannya.

__ADS_1


Akhirnya Ji Lian Hua meletakkan buku militer yang sedang di baca nya.


Dia kemudian mengeluarkan sebuah patung giok ukir halus yang imut imut dari saku bajunya.


Dia kemudian meletakkan nya di atas meja dan berkata pelan,


"Yu Ming ke ke,.. di mana kamu sekarang..?"


"Adalah kamu masih ingat dengan Hua er..?"


"Maaf Yu Ming ke ke, meski Hua er sebenarnya juga ingin menemani di sisi mu, berpetualang dengan bebas.."


"Sayangnya beban dan tanggung jawab Hua er sebagai seorang putri.."


"Membuat Hua er tidaklah seleluasa mereka menemani Yu Ming ke ke.."


"Dalam hal ini, Hua er jelas kalah dari mereka.."


Ucap Ji Lian Hua sambil menghela nafas sedih, kecewa, atas ketidak berdayaan nya, untuk mengejar impian masalah pribadinya.


Ji Lian Hua terus mengelus ngelus patung giok, yang sengaja dia pesan khusus dari ahli ukir, agar di buatkan secara khusus sebuah patung prototipe yang sangat mirip dengan Yu Ming .


Semua perasaan dan keluh kesahnya, sering Ji Lian Hua curahkan ke patung tersebut.


Hanya patung itulah yang selalu menjadi teman setia yang setiap saat siap mendengarkan semua keluh kesahnya.


Ucapan Na Cha yang tanpa sengaja, justru semakin melukai hati Ji Lian Hua.


Ji Lian Hua saat ini merasa sakit di hatinya jauh lebih parah dari pada luka luka yang ada di tubuhnya.


Meski berusaha tampil tegar di depan semua orang, termasuk di depan Yu Ming dia berpura-pura tidak ada masalah.


Tapi hati nya sebenarnya tidak rela Yu Ming berdekatan dengan gadis lain selain dirinya.


Apalagi saat dia mendengar ucapan Yang Ni tempo hari di penginapan.


Seolah olah dia dan Yu Ming punya hubungan khusus, hatinya menjadi penasaran dan panas di buatnya.


Tapi demi menjaga sikap dan martabat seorang putri, dia terpaksa berpura pura seolah olah tidak masalah dengan hal itu.


Dia mencoba untuk terlihat tegar berlapang dada, tidak menanggapinya dengan pikiran picik


Tapi semua itu hanya pura pura saja, antara hati pikiran dan perbuatan tidak lah sinkron.


Di tempat lain nya, Li Tek yang memimpin 50.000 pasukan, dia memilih berkemah cukup jauh dari lembah tengkorak, di mana Ji Lian Hua dan pasukannya sedang di kepung.


Li Tek memilih menempatkan pasukannya bersembunyi di sebuah hutan lebat yang terletak di balik lereng Gunung Hitam.


Gunung ini bila di seberangi menggunakan jalan kecil, akan langsung menembus ke jantung lokasi pasukan Huo Shu, yang sedang melakukan pengepungan.


Li Tek berani memilih lokasi ini, dan menempatkan pasukannya di sana.

__ADS_1


Karena dia terlebih dulu sudah mengirim anak buahnya, untuk pergi menggali informasi di sekitar lokasi lembah tengkorak.


__ADS_2