
"Yu Ming ke ke kapan kita baru bisa bertemu kembali.."
Tanya Yang Ni dengan wajah sedih.
Yu Ming menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak tahu, tapi bila berjodoh kita pasti akan bertemu kembali.."
"Jaga diri mu, hiduplah dengan bahagia.."
"Aku pergi dulu.."
Selesai berkata Yu Ming langsung menghilang, dari hadapan Yang Ni.
Saat muncul lagi dia sudah berada di angkasa, menunggang seekor Naga Panca Warna bergerak cepat menembus awan meninggalkan tempat itu.
Yang Ni dan kedua orang tuanya sampai melongo melihat kepergian Yu Ming yang menunggangi seekor Naga.
Pendekar Yang yang paling dulu sadar segera berkata pelan,
"Bodohnya aku, masih bicara kapal yang akan mengantarnya ke pulau matahari terbit.."
"Dengan mahluk itu, jangankan pulau itu, kahyangan sekalipun bukan halangan baginya.."
"Mungkinkah dia bukan berasal dari dunia kita..?"
ucap Pendekar Yang ragu.
Yang Ni mengangguk pelan dan berkata,
"Mungkin saja, makanya hatinya bisa begitu sempurna.."
Sementara Yu Ming sedang bergerak cepat menuju kota Ji.
Di tempat lain jauh di Utara sana, Ji Lian Hua yang sedang berpikir keras di dalam kemah nya.
Di kejutkan oleh seorang prajuritnya yang masuk kedalam kemahnya tanpa permisi dalam keadaan bersimbah darah .
"Lapor Yang Mulia putri,.."
"Kita sedang di serang secara mendadak oleh suku Bei Di.."
Ucap prajurit itu sambil berlutut dia memberikan laporannya.
Ji Lian Hua terlihat kaget, dia segera bangkit berdiri dari kursinya dan berkata dengan suara cemas.
"Apa yang terjadi ?"
"Maaf tuan putri kami telah berusaha.."
__ADS_1
"Tapi kedatangan mereka terlalu mendadak.."
"Selain itu mereka juga datang menyerang dengan menunggangi burung besar yang ganas.."
"Kami sudah berusaha tapi kami bukan lawan mereka.."
"Aku khawatir kawan kawan tidak bisa menahan lebih lama lagi.."
"Aku harap tuan putri bisa segera mengungsi ketempat aman.."
"Sebelum semuanya menjadi terlambat.."
"Tidak akan..!"
Jawab Ji Lian Hua tegas.
Setelah itu gadis gagah berani itu, langsung mengenakan seragam militer nya dengan cepat, menyambar pedang Langit nya yang tergantung tidak jauh darinya.
Dengan pedang Langit di tangan, gadis itu segera bergegas keluar dari dalam kemahnya.
Begitu keluar dari dalam kemahnya, Ji Lian Hua langsung bisa melihat di kejauhan sana.
Pasukan nya sedang berlindung di balik tameng, sambil membalas menyerang dengan anak panah mereka.
Tapi panah anak buah mereka tidak ada yang berhasil mencapai sasaran.
Sebaliknya pasukan Bei Di yang datang menunggang burung besar bersayap kelelawar, berparuh lancip panjang, seperti paruh burung bangau.
Melihat hal itu, Ji Lian Hua segera melesat ke Udara melepaskan Tebasan Pedang cahaya biru menghujani burung burung aneh dan penunggang nya..
Setiap burung yang di langgar oleh cahaya biru serangan Ji Lian Hua.
Burung itu akan meluncur jatuh kebawah menjadi patung es beku.
Saat terbanting keatas tanah, burung dan penunggang nya yang membeku langsung hancur berserakan di atas tanah.
Hal itu terjadi berulang ulang, tidak membuat anggota suku Bei Di, yang tidak takut mati itu menyerah.
Sebaliknya mereka malah semakin berani dan menggila, dengan merubah target berbelok arah mengejar kearah Ji Lian Hua.
Mereka terlihat melepaskan anak panah berhamburan memenuhi udara, datang menyerang kearah Ji Lian Hua seperti hujan yang jatuh dari Langit.
Ji Lian Hua yang di kurung oleh anak panah, dia terpaksa memutar pedang langitnya, berubah menjadi gulungan sinar biru, yang membentuk dinding perisai, untuk menahan serangan anak panah yang datang.
Seberapa lama Ji Lian Hua dan pasukannya mampu bertahan, itu yang menjadi masalah.
Karena musuh yang berdatangan tidak pernah putus seperti gelombang air yang semakin lama semakin besar.
Siap menelan semua nya, untungnya di saat saat kritis, Yang Jian Na Cha dan Li Cing tiba.
__ADS_1
Mereka bertiga segera bergerak maju, menghalau penunggang burung besar yang sedang mengelilingi Ji Lian Hua, sambil menghujani dirinya dengan anak panah yang tidak ada putusnya.
Yang Jian langsung menyerang dengan ayunan tombak cagak tiganya yang mengeluarkan cahaya emas membelah burung burung raksasa itu.
Sinar laser di keningnya juga membantunya menjatuhkan burung burung besar yang jumlahnya sangat banyak seperti tiada habis habis nya.
Selagi Yang Jian sedang sibuk, Li Cing juga sudah mengeluarkan dua batang tongkat emasnya.
Bergerak dengan angin menderu deru menghantam dan memporak porandakan burung burung besar itu.
Di sisi lainnya, Na Cha juga terlihat terus menerus menggunakan tombaknya yang bisa menyemburkan api menjatuhkan burung burung yang beterbangan di udara.
Na Cha yang mengandalkan roda angin api di kakinya, dia bisa terbang bebas kemana dia suka mengejar dan menghabisi burung burung besar itu.
Sambil menyerang dengan tombak semburan api nya, Na Cha juga menggunakan gelang emas besarnya untuk mencoba menjatuhkan burung burung yang terbang di hadapannya.
Penunggang burung besar, kini mulai mengarahkan serangan anak panah mereka mengincar Yang Jian, Li Cing dan Na Cha.
Tapi serangan mereka kurang berhasil, karena baik Yang Jian, Li Cing maupun Na Cha.
Mereka bertiga memiliki hawa pelindung dewa yang tidak bisa di tembus oleh serangan anak panah.
Setelah terus mengalami kegagalan, sedang korban di pihak mereka terus berjatuhan.
Pimpinan penunggang burung besar itu, segera melepaskan kode ke udara, untuk meminta bala bantuan.
Tidak butuh waktu lama, terlihat tujuh orang penunggang harimau bersayap, terbang mendekati arena pertempuran Yang Jian, Li Cing dan Na Cha.
Begitu mereka bertujuh tiba, mereka masing masing segera mengacungkan sebatang tongkat dengan bagian ujung di pasangi dengan batu kristal cahaya merah.
Batu itu masing masing memiliki kekuatan magis sebagai segel khusus yang bisa mengunci hawa dewa Yang Jian, Li Cing dan Na Cha.
Begitu mereka maju mengepung dengan segel batu kristal merah..
Satu persatu dari ketiga dewa itu pun.
Mulai berjatuhan kebawah, mereka tidak lagi mampu mempertahankan posisi terbang mereka.
Melihat hal itu, ketujuh penunggang harimau bersayap langsung meluncur turun kebawah.
Mengandalkan harimau mereka untuk menyerang Yang Jian, Li Cing dan Na Cha.
Sedangkan mereka di sela sela ketiga dewa itu, di buat pontang panting oleh serangan cakar cakar harimau terbang, yang mereka kendarai.
Mereka juga menggunakan panah Cross bow yang bisa di operasikan dengan satu tangan, mereka menghujani ketiga dewa yang sedang kerepotan itu dengan serangan anak panah .
Kondisi Ji Lian Hua di arena pertempuran lain juga terlihat kurang baik.
Dia sedang memimpin pasukan nya bergerak mundur, karena pasukan Bei Di, kini selain melakukan serangan dari udara dengan menunggang burung besar .
__ADS_1
Mereka kini juga melakukan serangan darat, dengan menunggangi hewan badak bercula dua.
Penunggang nya sendiri menggunakan senjata kapak besar.