
Yu Ming pura pura batuk kecil, lalu dia minum seteguk teh hangat, yang dia ambil dari teko kecil di hadapannya.
Setelah minum seteguk teh hangat, Yu Ming baru menoleh kearah Ji Lian Hua dan berkata,
"Hua Er, kamu saja yang pesan apa yang kamu suka.."
"Kakek ikut saja.."
Ji Lian Hua mengangguk, dia segera menyebutkan sejumlah masakan yang Yu Ming dan dirinya suka.
Pelayan itu mencatatnya dengan gembira dan terlihat sangat bersemangat, karena sebelum pesan makanan.
Ji Lian Hua sudah memberikan sejumlah uang, untuk pembayaran di muka ke pelayan itu.
Pelayan itu tidak menyangka akan bertemu dengan tamu seperti ini.
Meski cuma berdua, tapi makanan yang di pesan nya, melebihi makanan pesanan sebuah sekte besar yang dalam acara pertemuan besar.
Sampai booking satu restoran, tapi pembayaran uang mukanya masih lebih kecil dari Ji Lian Hua.
Mana pake nawar dan minta potong harga, pelayan yang melayani Ji Lian Hua saat ini.
Dia bahkan pesimis setelah capek melayani orang orang besar itu nanti, dia dan teman-temannya belum tentu dapat uang tip dari pelanggan besar tersebut.
Bila boleh memilih, dia lebih baik hari ini stand by melayani kakek dan cucu di hadapannya ini.
Kerja sedikit tapi tip nya lumayan.
Setelah selesai mencatat pesanan Ji Lian Hua, si pelayan buru buru menyetorkan uang DP di muka Ji Lian Hua, ke kasir.
Setelah itu dia dengan penuh semangat langsung pergi ke dapur meminta bagian dapur prioritas melayani pesanan Ji Lian Hua lebih dulu.
Bagian dapur tidak berkeberatan, karena memang sesuai pesanan dari sekte Pedang Tanpa Tanding.
Mereka baru akan menyelenggarakan acara nya siang nanti.
Bila saat ini masakan mereka di siapkan, nanti saat acara baru di keluarkan, masakan akan jadi dingin dan tidak enak lagi.
Dia tetap saja akan kena komplain dari pihak panitia penyelenggara.
Jadi saat ini paling tepat memang melayani pesanan dari Ji Lian Hua lebih dulu.
Tidak perlu menunggu lama, satu persatu masakan yang Ji Lian Hua pesan, mulai keluar mengisi meja mereka.
Wangi aroma masakan pesanan Ji Lian Hua yang bikin perut berteriak langsung memenuhi ruangan.
Meski acara sendiri belum di mulai, tapi beberapa meja sudah ada yang menempati.
Mereka sudah memesan makanan pembuka, sambil menunggu acara di mulai.
Tapi mereka yang sudah hadir duluan, dan menjadi tamu utama di restoran tersebut.
Makanan pembuka pesanan mereka tidak di keluar keluar kan, meski sudah memesan cukup lama.
Kini yang keluar malah masakan yang di pesan oleh sebuah meja kecil, yang merupakan tamu bebas, bukan tamu utama seperti mereka.
Hal ini tentu saja mulai memicu terjadinya keributan.
__ADS_1
Mereka mulai saling berbisik bisik sendiri.
Akhirnya seorang pemuda bertubuh tinggi besar, beralis hitam tebal.
Pemuda itu dengan wajah menahan gusar, menggebrak meja.
"Brakkkk..!"
"Pelayan...!"
"Pelayan,..! mana pelayan..!?"
"Cepat kemari !"
Teriak pemuda itu tidak sabar,.sambil bangkit berdiri dan melambaikan tangannya kearah pelayan yang baru saja habis mengantar masakan ke meja Ji Lian Hua.
Melihat ada tamu yang memanggilnya, pelayan yang sedianya melayani di meja Ji Lian Hua.
Dengan wajah takut takut, dia segera bergegas pergi menghampiri pemuda bertubuh tinggi besar itu.
Saat tiba di hadapan pemuda itu, pelayan itu dengan wajah memasang senyum yang agak di paksakan, dia segera berkata,
"Ya tuan pendekar,.. apa ada yang bisa kami bantu..?"
Pemuda itu dengan mata melotot marah berkata dengan suara yang berat kasar dan keras.
"Hei pelayan bangsat cucu kura kura ! Sebaiknya kamu jelaskan dengan benar..!"
"Bila tidak ingin kepala mu ku buat jadi begini. !"
Tinju pelayan itu menghantam dinding batu di sebelahnya hingga retak retak dan melesak kedalam.
Pelayan yang ketakutan itu terlihat semakin pucat ketakutan, saking takutnya dia bahkan tidak bisa menjawab dengan benar.
Dia hanya bisa menganggukkan kepalanya dan berkata dengan suara gagap.
"Ba..baik tuan pendekar.."
Pemuda itu kembali melotot kearah pelayan itu dan berkata,
"Cucu kura kura lekas katakan,! kenapa kamu yang datang lebih dulu,! kami yang pesan lebih dulu,! kami pula yang booking restoran ini..!"
"Tapi tamu sampingan yang datang belakangan, malah kalian layani lebih dulu..!"
"Apa maksud semua ini..hah...!?"
"Cepat jawab..!"
Pelayan itu segera membungkukkan tubuhnya dan berkata dengan suara takut takut.
"Ampun tuan pendekar, ini bukan salah kami.."
"Kami hanya menjalankan tugas sesuai pesan dari pihak panitia penyelenggara ."
"Bahwa menu masakan baru boleh di keluarkan, bila sudah ada kode dari panitia penyelenggara.."
Pemuda itu jelas tahu hal itu, tapi yang dia permasalahkan bukan menu utamanya. Melainkan menu pembukaan nya,
__ADS_1
Dia segera berkata,
"Ya itu aku tahu, itu yang akan di keluarkan nanti adalah menu utamanya..!"
"Sekarang yang kami minta adalah menu pembukaannya, mana menu pembuka nya..!?"
Pelayan yang terjepit dalam situasi serba salah itu, karena tidak punya pilihan lain, dia segera berkata dengan jujur.
"Maaf tuan pendekar,.. pihak panitia penyelenggara hanya memesan menu utama,."
"Di mana saat acara berlangsung baru boleh di keluarkan masakannya.."
"Itulah pesan nya, kami tidak berani melanggar nya, sedangkan menu pembuka untuk tuan pendekar, mereka tidak pesan.."
"Bila kami hidangkan, kami bukan hanya mengalami resiko tekor, tidak di bayar.."
"Kami malah akan menuai kemarahan dari pihak penyelenggara.."
"Harap tuan pendekar sebagai orang besar, berhati besar, bisa memaklumi kesulitan kami.."
Ucap pelayan itu takut takut.
Pemuda itu masih belum mau sudah, karena dia terlanjur gengsi untuk mundur.
Dia segera berkata,
"Bila tidak ada,..!Mengapa tidak kamu katakan dari awal..!?"
"Biar kami pesan dan bayar sendiri .! mengapa kamu diamkan biarkan kami menunggu..!?"
"Apa kamu pikir kamu tidak bisa membayarnya..!?"
Pelayan itu dengan tubuh gemetaran dan kepala tertunduk, tidak berani menjawabnya.
Dia hanya bisa diam saja.
"Jawab aku..! jangan diam saja bangsat..!?'
Pelayan itu dengan suara gugup segera berkata,
"Ehh anu...anu...kami...kami tidak tahu tuan bersedia bayar sendiri.."
"Bila tuan mau bayar sendiri, tentu kami akan segera siapkan, tapi apa boleh kami minta DP nya dulu..!?"
Ucap pelayan itu takut takut.
Pemuda yang kasar itu, aslinya memang tubuh besar saja, Dia seorang Tong kosong nyaring bunyinya.
Di dalam kantong dia memang tidak punya uang nya, di mintai DP, dia mana ada uang untuk bayar.
Untuk menutupi gengsinya, dia langsung menutupinya dengan suara galak.
"Ehh cucu kura kura..! berani kamu minta DP dengan ku, ! kamu pikir aku akan kabur setelah makan..!?"
"Pergi ke nenek mu sana..!"
"Ini rasakan..!"
__ADS_1