
Setelah pasukan bayaran mundur, kini hanya tersisa pasukan utama, yang sedang bertempur sengit melawan pasukan Yu Ming.
Sedangkan pasukan besar mereka, di luar kota An, saat ini mereka masih terkurung api, di luar reruntuhan kota.
Mereka belum bisa masuk, untuk memberikan bantuan.
Pasukan Yu Ming sebagian mengurung ketat ketua sekte halilintar, sebagian mengepung ketua sekte tapak besi.
Sebagian lagi mengepung ke 6 gadis Thian Cien Pai
Sisanya mereka mengurung pasukan utama, yang hanya tersisa tidak sampai 10.000 personil.
Yu Ming menyeret Jendral Huang dan tubuh Panglima Li Cheng, ke tempat yang agak tinggi.
Dari sana Yu Ming berteriak,
"Pasukan Zhou menyerahlah, Lihat Panglima kalian sudah tertangkap, begitu pula Jendral ini..!"
"Bila tidak, kalian semua pasti akan tewas, begitupula dengan mereka berdua..!"
Bentakan Yu Ming segera membuat perlawanan pasukan utama berhenti .
Ketua sekte halilintar dan ketua sekte tapak besi, yang melihat arah angin kurang baik.
Mereka berdua setelah berhasil memukul mundur para pengepungnya.
Mereka segera melompat pergi dari sana, menghilang dalam Kegelapan malam.
Kini hanya tersisa 6 gadis Thian Cien Pai, yang masih melakukan perlawanan di bawah kepungan pasukan tiga jendral bawahan Yu Ming.
Kepungan pasukan Chu, yang berdatangan tiada putus, di sertai dengan tembakan anak panah.
Membuat ke 6 gadis itu sulit berkembang ilmu pedang mereka.
Mereka terlihat kelelahan dengan luka di sekujur tubuh mereka.
Punggung paha dan lengan, terlihat ada beberapa batang anak panah yang menancap di sana.
Hal ini membuat pergerakan mereka menjadi terganggu dan semakin kepayahan.
Yu Ming menyerahkan Jendral Huang dan Panglima Li Cheng, untuk di ikat dan di urus oleh komandan pasukan nya.
Dia sendiri menghampiri arena pengepungan, ke 6 murid Thian Cien Pai.
"Kakak kakak sekalian menyerahlah, jangan keras kepala, tubuh kalian tidak berdosa.."
"Tak perlu alami siksaan seperti ini.."
Ucap Yu Ming sengaja menganggu konsentrasi mereka dari luar kepungan.
Benar saja, begitu mendengar suara ejekan Yu Ming, emosi mereka langsung membuat pergerakan pertahanan mereka buyar.
Yu Ming memberi kode ke jendral Xiang, agar gunakan tali.
__ADS_1
Jendral Xiang paham, dia segera turunkan perintah ke komandan pengepungan, untuk mengaturnya.
Sesaat kemudian, tali mulai berseliweran di udara, dari satu sisi jatuh ke sisi lain.
Kemudian di sambut oleh rekan mereka di sisi lain .
Sambil berlarian berlompatan kesana kemari, pasukan Chu.
Membuat keenam gadis itu, terpisahkan dari formasi pertahanan mereka.
Meski mereka berkali kali memutuskan tali yang ingin mengurung mereka.
Tapi tali itu terus berdatangan tiada henti, mereka akhirnya kuwalahan.
Terjebak terlilit tali, hingga sulit mengerakkan tangan dan pedang mereka .
Energi pedang tidak bisa mereka mainkan, karena sudah terlalu lelah dan terkuras tenaganya.
Akhirnya mereka satu persatu di jatuhkan terguling diatas lantai, dengan tubuh terikat tali hingga ke kaki.
Mereka tergeletak tak berkutik di atas tanah.
Mereka melotot kearah Yu Ming dengan tatapan mata marah, penuh kebencian.
Tapi Yu Ming tidak mau meladeni mereka, setelah situasi di dalam kota An berhasil dia menangkan.
Kini Yu Ming beralih ke situasi di luar kota sana.
Saat Yu Ming dan ketiga jendral bawahannya, memimpin pasukan mereka keluar dari dalam reruntuhan kota.
Mereka hanya bisa bergerombol bingung di luar sana, karena sebagian besar pimpinan utama mereka menjadi tawanan.
Yu Ming segera berkata dengan suara keras,
"Pimpinan kalian sudah menyerah, percuma kalian bertahan..!"
"Menyerahlah..!"
"Peperangan sudah selesai, tak perlu di lanjut lagi..!"
"Aku akan jamin keselamatan kalian bila menyerah..!"
Teriak Yu Ming sambil memberi kode ke jendral Xiang.
Jendral Xiang segera memberi kode ke komandan bawahannya.
Tak lama kemudian terlihat tubuh Jendral Li Cheng yang terikat tak berdaya,. di kerek menggantung di bagian atas tiang gantungan .
Melihat hal ini, sisa pasukan gabungan yang jauh lebih besar dari pasukan Yu Ming.
Mereka pada melemparkan senjata mereka, menyerah tanpa syarat.
Setelah kemenangan telak tersebut, 3 bulan kemudian, di reruntuhan kota An.
__ADS_1
Kembali di bangun benteng baru yang jauh lebih besar dan kuat.
Bahkan bentengnya jauh lebih tinggi dan kokoh daripada sebelumnya.
Semua ini berkat kerja sama antara pasukan Chu, dengan pasukan gabungan yang kini menyerah di bawah Yu Ming .
Pasukan gabungan sebagian besar memilih bergabung ke Chu, karena mereka takut di hukum, bila memutuskan kembali ke Zhao Ge, dalam kondisi kalah perang dengan sangat memalukan.
Jumlah jauh lebih banyak, persenjataan jauh lebih lengkap, dan jauh lebih kuat, persediaan makanan melimpah.
Tapi mereka malah kalah telak, menghadapi pasukan Chu di kota An yang lebih mirip reruntuhan kosong, ketimbang kota dengan benteng pertahanan kuat.
Kemenangan ini, membuat posisi Yu Ming jadi kuat kembali, persediaan pasukan cukup, perbekalan cukup, persenjataan cukup, benteng kota sudah di renovasi.
Bahkan kini Yu Ming memilki cukup banyak persenjataan alat berat.
Hal ini membuat para bangsawan di Zhao Ge, tidak lagi berani sembarangan menggerakkan pasukan menyerang kota An.
Kota An perlahan lahan kembali ramai penduduknya, keadaan mulai stabil.
Desa desa sekitar lahan perkebunan dan pertanian mulai di bangun.
Kota Dan Yang setelah terlepas dari krisis perang, mulai bisa bernafas lega.
Mereka mulai bisa kembali memberikan support yang di perlukan oleh kota An.
Setelah kekalahan besar itu, dengan kerugian yang tidak kecil. Para bangsawan, keluarga aristokrat, anggota dewan , dan menteri.
Mereka kini memilih menutup mata, atas perkembangan Kota An.
Beberapa di antara mereka sempat berunding cara, untuk merebut kota An.
Tapi pembicaraan mereka selalu mentok, karena senjata berat yang ada di kota An saat ini sangat banyak.
Mereka khawatir sebelum pasukan mereka tiba, mereka sudah di hancurkan oleh senjata berat pertahanan kota An.
Di tempat lain, di ruangan utama Thian Cien Pai, Thian Cien Sen Ni terlihat merah padam wajahnya.
Sepasang mata nya terlihat berapi-api, melihat kondisi ke 6 murid utamanya, yang sengaja di kirim kembali oleh Yu Ming .
Thian Cien Sen Ni tidak bisa melampiaskan kemarahannya, karena ke 6 muridnya di kembalikan lewat penduduk desa.
Pasukan Chu yang di utus oleh Yu Ming, untuk mengantarkan mereka kembali ke Thian Cien Pai .
Mereka di wajibkan mengantarkan kereta itu, untuk di serahkan ke penduduk desa di kaki gunung Feng Huang Shan.
Kemudian penduduk desa di beri imbalan uang, untuk mengantarkan kereta itu ke Thian Cien Pai .
Jadi pasukan Chu, tak perlu berhadapan langsung dengan kemarahan Thian Cien Pai .
Thian Cien Sen Ni tentu saja sangat marah,
Karena ke 6 muridnya meski pulang dengan tandu mewah.
__ADS_1
Tapi mereka berenam ditempatkan di dalam kerangkeng babi, dengan mulut tersumpal kain, sepasang kaki tangan terikat.
Lebih parah lagi, mereka masing masing, lehernya dikalungi tulisan tinta emas, salam hormat nenek peot ketua Thian Cien Pai .