PETUALANGAN PUTRA ALAM SEMESTA

PETUALANGAN PUTRA ALAM SEMESTA
PENDUDUK YANG TERLUKA


__ADS_3

Yu Ming sambil tersenyum berkata,


"Bukan cuma satu, enam ibu mau .?"


Siau Cui buru buru menggoyangkan tangan nya dan berkata,


"Ahh tidak,.. tidak.. tidak..!"


"Kalau yang itu mending tidak usah.."


Keduanya pun sama sama tertawa, lalu mereka bersama sama beriringan berjalan menuju dapur, yang terletak di halaman belakang tempat tinggal mereka.


Di dapur Yu Ming langsung membantu menyalakan api yang terletak di bawah tungku.


Yu Ming mengambil.dan memasukkan kayu bakar di bawah tungku, setelah api di nyalakan.


Yu Ming harus menggunakan sebuah tabung bambu kecil untuk membantu meniup niup api di bawah sana agar menyala dan membesar.


Alhasil saat api menyala, wajahnya jadi penuh dengan abu gosong.


Coreng moreng, sehingga wajahnya yang putih bersih dan tampan, kini tidak lagi terlihat jelas.


Ibu Siao Cui yang melihat hal itu langsung tertawa dan berkata,


"Tuh kan ibu sudah suruh jangan bantu, kini lihat wajah mu..?"


"Hi..hi..hi..!"


"Sudah sana, kamu cuci muka, cuci sayur dan cuci beras saja sekalian..."


Yu Ming mengangguk, lalu dia langsung pergi cuci tangan hingga bersih, kemudian mencuci sayuran, mencuci beras.


Membantu menanak nasi dan membantu potong sayuran dan bawang.


Karena terlalu sibuk, dia bahkan lupa mengurus wajahnya.


Siao Cui juga tidak memperhatikan putranya lagi, karena dia mulai sibuk menaruh ikan ke wadah pengukus.


Sambil mengiris bawang, Yu Ming bertanya santai,


"Ibu Nenek kapan meninggal,?"


Siao Cui terdiam sejenak, dia kemudian mengambil wadah penutup.


Untuk menutupi wadah pengukus, yang sudah ada ikan yang lengkap dengan bumbu halus nya, tinggal di tutupi saja.


Sebelum proses mengungkus ikan di mulai.


Setelah menutup wadah pengukus ikan, Siao Cui menjawab pelan.


"Tahun keempat setelah kepergian mu.."


Yu Ming yang masih penasaran melanjutkan bertanya,


"Bagaimana ceritanya nenek yang selalu sehat bisa meninggal ?"


"Apa nenek sakit..?"


Siao Cui menggelengkan kepalanya sambil menghapus dua butir air matanya yang runtuh.


Melihat hal ini Yu Ming pun menghentikan kegiatannya memotong wortel.


Dua menatap kearah ibunya dengan semakin penasaran.


Sesaat kemudian Siao Cui menghela nafas panjang dan berkata,


"Sudahlah yang berlalu biarlah berlalu.."


"Yang penting nenek sudah tenang sekarang.."

__ADS_1


"Kamu juga sudah kembali dengan selamat, kita sekeluarga bisa kembali berkumpul lagi.."


"Itu yang paling penting.."


Ucap Siao Cui sambil tersenyum pahit.


Yu Ming yang cerdas tentunya menangkap ada sesuatu yang tidak beres.


Baik sikap ibu maupun ayahnya, mereka sepertinya menyimpan suatu rahasia besar.


Semua nya pasti saling berkaitan,


"Mereka tak ingin bercerita, aku tidak akan memaksa.."


"Aku bisa cari tahu dari penduduk yang lainnya, mereka pasti tahu.."


Gumam Yu Ming dalam hati.


Lalu dia kembali melanjutkan lagi pekerjaan nya, memotong wortel tanpa banyak bicara.


Tiba-tiba pintu belakang dapur terbuka dari luar.


"Brakkkk..!"


Ternyata yang muncul adalah Xiong Ai dengan wajah pucat.


"Ibu..! ayah meminta mu ke balai desa sekarang..!"


Siao Cui menatap heran kearah putra keduanya dan berkata,


"Kamu kenapa begitu tergesa gesa.."


"Bukannya ibu tadi juga baru pulang dari sana.."


"Ini ibu juga lagi sibuk, menyiapkan makan malam kita.."


Xiong Ai menggeleng cepat dan berkata,


"Ini situasi darurat Bu..!"


"Di sana ada beberapa orang yang terluka..!"


"Ayah perlu ibu membantu merawat luka mereka..!"


"Ayah dan paman paman semua, sedang bersiap siap pergi ke Desa Dan Yang menuntut keadilan.."


Siao Cui terlihat sangat kaget mendengar cerita putranya.


Dia segera memadamkan api tungku dengan menyiramkan air, secara sembarang.


Setelah itu tanpa melepaskan celemek dapur yang masih menempel di badan.


Dia segera bergegas mengikuti Xiong Ai menuju balai desa.


Yu Ming juga ikut menyusul dengan wajah coreng moreng, tangan masih memegang pisau dapur, dan masih mengenakan baju celemek dapur sama seperti ibunya.


Dalam perjalanan Siao Cui sambil melangkah cepat berkata,


"Apa yang sebenarnya terjadi..?"


Xiong Ai sambil merendengi langkah ibunya dia berkata,


"Beberapa paman pulang dari kebun memanen jagung ."


"Saat lewat di mulut Desa Dan Yang, sekelompok pasukan keamanan, merebut hasil panen mereka.."


"Saat mereka protes terjadi cekcok mulut, yang berakibat mereka dihajar hingga mengalami luka yang cukup parah."


Ucap Xiong Ai memberi penjelasan singkat.

__ADS_1


Siao Cui sambil berdecak kesal berkata,


"Haisss,.. si Tan Siaw itu makin hari makin kelewatan.."


"Bahkan hasil panen mau di rebut nya, ini suruh kita bagaimana mau lanjutin hidup..!"


"Ini sungguh kelewatan menindas orang,..!"


"Apa dia mau paksa kita sampai kejalan buntu, baru puas..!?'


Ucap Siao Cui melampiaskan unek unek hatinya.


Yu Ming tidak berkata apapun, tapi dia mendengarkan semua nya.


Sedikit sedikit dia merangkai sendiri dengan kecerdasannya.


Saat tiba di depan halaman balai desa, Siao Cui langsung di sambut oleh Isak tangis, dan pengaduan dari keluarga penduduk yang terluka.


Melihat Siao Cui sedang berusaha menenangkan mereka.


Yu Ming segera bergegas masuk kedalam balai desa, di bagian samping pintu masuk.


Yu Ming melihat Siao Li meringkuk lesu di sana, teringat kemampuan Siao Li.


Yu Ming segera berjongkok dan berkata,


"Siao Li ikut aku, aku membutuhkan bantuan mu.."


Siao Li yang melihat Yu Ming, kini mulai kembali berbicara dengan nya.


Dengan hati riang, dia segera melompat berdiri, menatap Yu Ming dengan penuh semangat.


Yu Ming tersenyum lembut membelai kepala nya dan berkata,


"Maaf aku sedikit sibuk tadi, setelah bertemu keluarga ku sehingga melupakan mu, .."


"Ayo kamu bantu kakak, kita kedalam sama sama.."


Siao Li mengangguk cepat, lalu dia segera melompat masuk kedalam pelukan Yu Ming.


Yu Ming sambil tersenyum, dia segera bergegas masuk kedalam balai desa, sambil menggendong Siao Li di tangan kiri, tangan kanan masih pegang golok dapur.


Didalam balai desa terlihat banyak orang berdiri mengerumuni ayahnya yang sedang berbicara.


Yu Ming segera menerobos kepungan menghampiri ayahnya.


Begitu berhadapan Yu Ming langsung menyela ayahnya,


"Ayah di mana yang terluka, Ming Er ngerti sedikit ilmu pengobatan.."


"Biarkan Ming er memeriksanya.."


Xiong Yi terpaksa menghentikan pidatonya sejenak, dia menatap kearah Yu Ming dan berkata,


"Mereka ada di dalam sana kamu masuklah kedalam.."


Yu Ming mengangguk, lalu dia segera kembali menerobos kepungan orang.


Kemudian dia mencoba masuk keruangan yang ayahnya maksud.


Begitu masuk kedalam, Yu Ming segera menemukan ada lima orang yang terbaring di atas meja, dengan tubuh berlumuran darah.


Selain itu juga ada beberapa wanita, yang terlihat sedang berusaha membersihkan luka yang mereka derita.


Yu Ming masuk kedalam dan berkata,


"Aku Yu Ming, putra pertama Xiong Yi, aku mengerti sedikit ilmu pengobatan luka luar.."


"Harap kalian semua tinggalkan ruangan, serahkan pasien pasien ini pada ku, sisanya biar saya yang urus.."

__ADS_1


__ADS_2