
Xiong Yi segera datang menengahi, membantu putra dan isteri nya berdiri.
Lalu dia berkata,
"Kalian berdua bangunlah, jangan terus duduk di sana.."
"Ayo kita duduk bersama di sana.."
"Kita dengarkan bersama cerita pengalaman putra kita selama 10 tahun ini diluar sana.."
"Ayo..."
Ucap Xiong Yi sambil membimbing istri nya dan Yu Ming untuk ikut duduk bergabung bersama yang lainnya.
Setelah semua nya duduk, Xiong Yi pun melambaikan tangannya memanggil putranya Xiong Ai mendekat.
Kemudian dia berkata,
"Ai er berilah hormat pada kakak mu.."
Xiong Ai dengan patuh segera maju memberi hormat kepada Yu Ming.
Dia ingin berlutut, tapi Yu Ming menahannya sambil tersenyum lembut penuh kebahagiaan.
Yu Ming menarik Xiong Ai kedalam pelukannya dan berkata,
"Tidak perlu adik ku, kita adalah kakak beradik, tak perlu seperti itu.."
"Kemarilah mari kita duduk bersama sama.."
Ucap Yu Ming secara tulus menggandeng adiknya untuk duduk di sebelahnya.
Duduk ditengah tengah diantara ayah ibunya.
Bersama Xiong Ai, Yu Ming jadi teringat dengan kedua saudaranya Yu Long dan Yu Lek di kahyangan. LEGENDA PUTRA KAISAR LANGIT.
Dia tidak mengerti bagaimana nasib keduanya saat ini, yang pasti dia selalu berdoa agar keduanya ada di jalan kebenaran hidup sehat dan berbahagia.
Alasannya masih memberi Yu Long hidup cuma satu, Yu Ming ingin memberi adiknya itu kesempatan bertobat dan menyadari kekeliruannya.
Bila tidak dengan dosanya yang sudah segitu banyak, termasuk membuat ayah mertua nya meninggal, membuat Hua Sien Ce mengalami musibah.
Hukuman seribu kematian sekalipun tidak pantas untuk nya, tidak bisa menutupi dosa dosa nya yang kelewatan.
Setelah berkumpul kembali dalam suasana haru dan bahagia.
Yu Ming pun memenuhi harapan ayah ibunya.
Dia menceritakan dengan pelan satu persatu pengalaman nya selama meninggalkan Susi kedua orang tua nya.
Tidak ada satupun cerita yang dia lewatkan, semua dia ceritakan kembali dengan lengkap.
Setelah menyelesaikan cerita nya, Yu Ming menatap kearah Ibunya dan berkata,
"Ibu mana nenek Lan..?"
"Mengapa nenek Lan tidak hadir bersama kita..?"
Siau Cui begitu ditanyakan hal itu, seketika kembali bercucuran air mata.
"Ibu apa yang terjadi..?"
__ADS_1
Tanya Yu Ming heran.
Siau Cui sambil menutupi mulutnya menahan tangis, dia berkata,
"Ming Er ikutlah dengan ibu.."
"Ibu akan mengantar mu pergi menemui nenek mu.."
Yu Ming mengangguk dengan heran, dia segera berdiri dari duduknya.
Kemudian Mengikuti ibunya meninggalkan ruangan tersebut.
Siau Cui tanpa berkata-kata, dia terus melangkah menuju rumah kediaman nya.
Saat tiba di depan rumah mereka, Siao Cui berkata,
"Ming Er ini rumah tempat tinggal baru kita.."
"Meski tidak seluas dan semewah kediaman kita dulu, tapi setidaknya di sini kita tidak akan kena hujan dan panas.."
Yu Ming tersenyum dan berkata,
"Ibu tenang saja, kini Ming Er sudah kembali,.."
"Ming Er akan bekerja keras mengumpulkan uang, agar suatu hari Ming Er bisa buatkan istana untuk ayah ibu dan adik.."
Siau Cui tersenyum lembut dan berkata,
"Ibu tidak harapkan itu, asal kita sekeluarga bisa berkumpul dan hidup bersama dengan bahagia.."
"Itu sudah lebih dari cukup.."
"Ayo Ming Er kita masuk kedalam untuk temui nenek mu."
Diantaranya ada papan Xiong Ba kakeknya juga ada papan. bibi Lan neneknya.
Yu Ming segera menjatuhkan diri berlutut dengan kepala tertunduk airmata bercucuran jatuh membasahi lantai.
Yu Ming segera membenturkan dahinya tiga kali diatas lantai dan berkata,
"Nenek Lan maafkan Ming Er yang tidak berbakti.."
"Ming Er bahkan tidak bisa melihat nenek untuk yang terakhir kalinya.."
"Maafkan Ming Er nek.."
Ucap Yu Ming sambil menangis sedih didepan papan sembahyang nenek Lan.
Siau Cui setelah menghapus airmatanya, dia membantu menyalakan tiga batang dupa.
Setelah itu dia menyerahkan nya kepada Yu Ming dan berkata,
"Sembahyang lah dulu untuk arwah para leluhur ayah mu.."
Yu Ming mengangguk patuh dia segera menyembahyangi arah para leluhur ayah nya.
Sambil menunggu Yu Ming sembahyang, Siau Cui sudah membantu menyala kan 3 batang dupa berikutnya.
Saat dia menerima dupa dari Yu Ming untuk membantunya di tancapkan di tempat dupa.
Siau Cui langsung menyerahkan tiga batang dupa lain nya dan berkata,
__ADS_1
"Ming Er ini untuk sembahyang kakek mu Xiong Ba.."
Yu Ming menerimanya tanpa banyak cakap, dia kembali melakukan sembahyang dengan khidmat.
Setelah selesai Siau Cui kembali menyerahkan tiga batang dupa baru dan berkata,
"Ming Er ini untuk nenek Lan.."
Yu Ming mengangguk lalu dia kembali mengulang menyembahyangi nenek Lan, dengan membenturkan keningnya diatas lantai sebanyak tiga kali, sambil memanjatkan doa untuk ketenangan arwah neneknya beristirahat di bawah sana .
Setelah selesai Siau Cui mengajak Yu Ming keluar dari ruangan kecil tersebut, lalu dia mulai memperkenalkan ruangan ruangan di dalam rumah tersebut ke Yu Ming.
Terakhir dia menunjuk ke sebuah ruangan yang terletak di sisi kanan kamar utama.
"Ming Er kamar di sebelah kanan ini milik mu.."
"Yang tengah ini kamar ayah ibu.."
"Samping kiri kamar kami, kamar adik mu Xiong Ai.."
"Kamu masuklah untuk melihat lihat keadaan kamar mu, bila kurang cocok kamu boleh membenahinya sendiri.."
"Kamu bersantailah, ibu mau pergi siapkan makan malam kita semua nanti.."
Yu Ming mengangguk pelan dan berkata,
"Tak perlu melihat lagi, Yu Ming sudah puas.."
"Biarlah Ming Er bantu bantu ibu di dapur.."
Mendengar usulan putranya, Siau Cui langsung menggoyangkan tangan nya kedepan dan berkata cepat,
"Tak usah,.. tak usah,.. anak laki kok ikut ke dapur.."
"Lebih baik kamu pergi ke balai desa, atau pergi keliling keliling desa."
"Mencari udara segar, daripada ikut pengab di dapur."
Yu Ming tersenyum dan berkata,
"Ibu Ming Er tidak berpantang itu, Ming Er hanya ingin membantu dan mengobrol dengan Ibu.."
"Tidakkah ibu kangen dan ingin mengobrol dengan Ming Er..?"
Siau Cui menahan senyum dan menggelengkan kepalanya,
"Ya sudah terserah kamu, ibu bicara tidak bisa menang dari mu.."
"Tapi awas kalau nanti kamu mengeluh ini itu di dapur.."
"Ibu pasti tidak segan segan menghajar mu dengan kayu bakar.."
Ucap Siau Cui bercanda dengan putranya.
Yu Ming tersenyum dan berkata,
"Kita lihat saja nanti, siapa tahu ibu malah betah ditemani Ming Er.."
"Besok besok berebut dengan ayah.."
Siau Cui sambil menahan senyum berkata,
__ADS_1
"Dasar paling pintar klo bicara.."
"Tapi heran kenapa kamu tidak bawa pulang satu cewek Thian Cien Pai untuk di kenalkan ke rumah..?"